LOGINKereta melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya! Udara senja yang semula hangat, kini terbelah oleh derap kaki kuda, juga oleh gemeretak roda yang kini tak lagi sekadar berderak, melainkan mengaum, menghantam batu demi batu tanpa ragu. Debu terangkat tinggi, menutup sebagian pandangan, menjadikan jalanan seperti kabut perang yang terbentuk mendadak di jantung kota. Serangan masih datang bertubi-tubi! Dari atap, bayangan melompat, senjata terhunus, tubuh-tubuh itu meluncur turun dengan niat membunuh yang telanjang. Dari belakang, langkah ringan menyusul cepat, jarak dipangkas dengan teknik yang jelas terlatih. Dari samping, kilatan baja muncul dari sela kerumunan, begitu dekat hingga napas mereka nyaris menyentuh sisi kereta. Kereta seolah hidup! Setiap kali bahaya mendekat, jalurnya berubah setengah tapak—cukup untuk membuat sabetan meleset, cukup untuk membuat panah hanya menyayat udara. Chu Qiao mengendalikan laju secara kejam tapi indah, memanfaatkan
Sore merayap turun perlahan, cahaya matahari merunduk di antara atap-atap rumah dan gerbang toko yang mulai ditutup setengah. Bayangan orang dan bangunan memanjang di jalanan pusat kota, menyatu bersama debu yang terangkat oleh roda kereta. Sebuah kereta kuda melintas—tidak cepat, tidak pula lambat. Lajunya wajar, nyaris membosankan, seperti ratusan kereta lain yang keluar-masuk kota setiap hari. Kusirnya duduk malas di depan. Pakaiannya sederhana, polos, tanpa hiasan mencolok. Topi bundar menutupi sebagian besar wajahnya, menurunkan bayangan ke dahi hingga mata nyaris tak terlihat jelas. Dari luar, tak ada yang akan menyangka bahwa kusir itu seorang wanita—Chu Qiao. Tangannya memegang kendali dengan mantap. Setiap tarikan tali kekang presisi, setiap ayunan cambuk hanya sekadar isyarat. Kuda melangkah patuh, seakan sudah lama mengenal orang di atas punggung kereta itu. Di dalam kereta, Shen Liu Bei duduk bersandar, tubuhnya sedikit condong untuk menjaga keseimbangan. Tongkatny
Cekalan itu membuat Shen Liu Zi membeku. “...” Tangan wanita itu tertahan, pergelangan yang ramping terkurung dalam genggaman panas yang tidak terkontrol. Jantung Shen Liu Zi berdegup keras, kepalanya kosong sesaat. Dia menunduk, menatap wajah jenderal Shang dengan napas tertahan khawatir. Tidak tahu pasti seberapa lama, yang jelas genggaman tangan jenderal Shang mendadak mengendur. Jari-jarinya meluncur turun, terlepas begitu saja, seolah refleks yang lahir dari mimpi buruk singkat. Kelopak mata yang tadi sempat terbuka tapi kosong, kini bergetar samar, lalu kembali terpejam. Napasnya tetap berat, tetapi iramanya perlahan menjadi lebih teratur. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Shen Liu Zi berdiri kaku beberapa saat, baru menyadari bahwa napasnya sendiri memburu. Dia mengangkat tangannya yang sempat dicekal, menekannya ke dada, mencoba menenangkan degup jantung yang belum reda. Wajah jenderal Shang kini terlihat berbeda. Tidak dingin, tidak keras seperti biasanya. Rau
Jenderal Shang sudah berdiri di depan gerbang kediamannya yang tertutup rapat. Wajahnya tanpa ekspresi, punggungnya tegak tidak seperti orang yang baru saja bertarung dengan maut. 'Siapa yang tidak jatuh hati pada wanita semenarik dia?' Ucapan Miao Feng kembali bergema, jelas, tenang, seolah belum lama terucap. Pandangan jenderal Shang lurus ke depan, menembus daun pintu kayu yang tertutup rapat. Ekspresinya tidak berubah, tapi matanya sedikit mengeras, seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin dia akui. Seiring berjalannya waktu, tangan pria itu terangkat. Handle gerbang didorong. Kayu gerbang berderit seiring gerbangnya bergerak. Suaranya pelan, panjang, memecah keheningan siang. Saat celah terbuka, angin dari dalam halaman menyapu keluar. Kelopak-kelopak bunga persik beterbangan, berwarna merah muda pucat, jatuh satu per satu, seolah sengaja menyambut langkahnya. Musim gugur baru saja menyentuh halaman itu—tidak dingin, tidak hangat, hanya cukup untuk m
Pintu tenda dibuka seorang prajurit.Cahaya api unggun menyusup masuk, menari di dinding kain tenda, dan saat itulah prajurit tadi membeku.Jenderal Shang sudah membuka mata! “Je—Jenderal?” suara prajurit itu nyaris tercekat, seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya.Kelopak mata jenderal Shang Que mengerjap sekali lagi. Tenggorokannya bergerak, kering, nyeri, tapi hidup.Prajurit itu tak menunggu sedetik pun lagi. Dia berbalik cepat, hampir tersandung kain tenda, lalu berlari keluar sambil berteriak sekuat tenaga. “JENDERAL SUDAH SIUMAN!”“JENDERAL SHANG SUDAH SIUMAN!”Seruannya menyambar perkemahan seperti api disiram angin.Prajurit-prajurit yang duduk mengelilingi api unggun langsung berdiri serempak. Ada yang sampai menjatuhkan ikan panggang, ada yang menepuk dada sendiri karena lega, ada pula yang menunduk diam-diam, menarik napas panjang seolah baru sekarang berani bernapas sepenuhnya.
Malam turun muram di pesisir sungai Yundai.Air sungai berkilat kelam, arusnya masih deras meski amukan siang telah berlalu. Obor-obor menyala di sepanjang tepian, cahaya jingganya terpantul pecah di permukaan air yang beriak liar.“Jenderal Shang!”“Jenderal Shang Que!”Seruan demi seruan menggema, dipatahkan oleh gemuruh air serta desir angin lembah yang dingin menusuk tulang.Komandan Hutong Bai berjalan di barisan depan, sepatu botnya terendam setengah lumpur. Tangannya menggenggam obor kuat-kuat, sorot matanya menyisir setiap lekuk arus, setiap bayangan gelap yang tersangkut di bebatuan.“Periksa bagian hilir!” perintahnya tegas, “jangan lewatkan semak, batu besar, atau kayu tumbang!”“Siap!”Di sisi lain, komandan Miao Feng berdiri di atas batu besar, matanya menatap sungai dengan rahang mengeras. Api obor di tangannya bergetar tertiup angin, seperti perasaannya yang terus ditahan agar tak runtuh.“Aru







