Beranda / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 162. Pelakunya Hilang

Share

Bab 162. Pelakunya Hilang

Penulis: Zhang A Yu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 07:42:03

Terakhir, jenderal Shang mengikat tali gaun Shen Liu Zi, lalu pandangannya terangkat dan seketika bertemu dengan pandangan wanita itu.

Pipi Shen Liu Zi masih bersemu kemerahan.

Jenderal Shang seolah tak melihatnya langsung saja bertanya, “Bisakah kamu menjelaskan seluruh kejadiannya?”

Mata Shen Liu Zi berkedip singkat, sebelum mulutnya bersuara rendah. “Peserta perburuan lain bilang, di wilayah yang ku masuki ada rusa besar.”

“Tepatnya wilayah terlarang,” sambung jenderal Shang, “bender
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 166. Bongkahan Es Dilelehkan

    Kereta-kereta kuda beserta puluhan prajurit berbaris rapi bak kawanan semut membelah jalur bersalju. Dan di tengah perjalanan, yang masih jauh dari kata dekat, hujan disertai badai turun tanpa berkompromi. Pemimpin jalan—jenderal Shang, mengangkat tangan mengisyaratkan pemberhentian. “Berhenti!” Kereta-kereta kuda berhenti melaju nyaris serentak, diikuti seluruh pasukan, yang meninggalkan suara hentakan—langkah berakhir secara kompak. Kuda hitam jenderal Shang mendengus, uap tipis mengepul di depannya. Jenderal Shang memacu pelan kuda menuju kereta sang Kaisar. Di depannya, dia melaporkan, “Yang Mulia! Perjalanan harus ditunda, karena hujan badai. Ada kemungkinan besar jalan di depan tertutup salju, bahkan lebih parahnya pohon-pohon tumbang.” Kaisar menjawab lugas di balik gerbong kereta. “Aku mengikuti pengaturan mu, Jenderal!” Maka berikutnya, jenderal Shang mengumumkan, “Hujan badai tidak bisa ditembus, semua orang berhenti di tempat!” Pasukan menyahut serentak. “Si

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 165. Terlalu Lemah

    Pintu tenda tersibak kasar. Angin dingin dari luar ikut menerobos masuk bersama langkah jenderal Shang yang tergesa, napasnya masih tersisa sisa kekhawatiran dari laporan Yu Li barusan. Dari dalam tenda, Shen Liu Zi yang sedang berdiri membelakangi pintu menoleh pelan. Tangannya tengah mengaitkan tali mantel, gerakannya agak lambat, seolah tubuhnya tidak sekuat biasanya. Begitu wanita itu berbalik, jenderal Shang sudah lebih dulu mendekat tanpa menunggu apa pun. Telapak tangannya langsung terangkat menyentuh kening Shen Liu Zi. Panas. Benar-benar panas. Alis pria itu mengerut seketika. Tampang dingin yang biasanya tak tergoyahkan meluruh begitu saja, digantikan kecemasan yang jelas terpancar. “Apa pagi tadi semenyakitkan itu sampai kamu demam?” tanyanya pelan, suaranya lebih lembut daripada yang dia perkirakan sendiri. Pipi Shen Liu Zi langsung bersemburat jingga mendengar pertanyaan itu. Dengan malu-malu dia menggeleng lemah. “Bukan begitu, mungkin hanya karena udara

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 164. Menyentuh Kelopak Mawar

    Bibir jenderal Shang menyentuh lembut, ringan seperti helaan angin pagi yang dingin tapi perlahan menghangat. Detak jantung Shen Liu Zi berpacu cepat. Namun, anehnya dia tidak merasa ingin menolak, malahan merasa ada kehangatan yang perlahan merayap di dalam dadanya—hangat menenangkan. Setiap gerakan bibir jenderal Shang sangat perlahan, penuh kehati-hatian, seolah Shen Liu Zi adalah sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Tangannya yang bertumpu di sisi tubuh wanita itu tetap menjaga jarak, tidak menekan, tidak mengekang. Napas Shen Liu Zi bergetar kecil. Tangannya tanpa sadar terangkat, mencengkeram ujung lengan baju jenderal Shang, bukan untuk mendorong, melainkan seakan takut pria itu menjauh terlalu cepat. Beberapa detik—atau mungkin lebih lama—mereka tenggelam dalam keheningan yang hanya diisi detak jantung masing-masing. Tidak ada kata, tidak ada desakan. Lantas, ketika jenderal Shang perlahan menarik diri, dahinya masih menyentuh kening Shen Liu Zi. Napas mereka b

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 163. Dini Hari

    Menjelang dini hari, napas Shen Liu Zi tiba-tiba tersentak! Tubuhnya bergerak kecil, seolah baru saja terlepas dari jerat mimpi yang menyesakkan. Keningnya basah oleh keringat tipis, bulu matanya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya kelopak itu terbuka perlahan. Ruangan tenda masih remang. Lampu minyak di sudut meja telah meredup, menyisakan cahaya kekuningan yang samar. Shen Liu Zi menatap langit-langit kain di atas kepalanya dengan pandangan kosong sesaat. Jantungnya masih berdetak cepat, seperti habis berlari jauh. Baru ketika napasnya mulai lebih teratur, dia menyadari ada sesuatu yang hangat melingkupi tangannya. Alisnya berkerut tipis. Perlahan, wanita itu menoleh ke sisi tubuhnya. Di sana, tepat di tepi ranjang, jenderal Shang tertidur dalam posisi duduk. Tubuh pria itu sedikit membungkuk, kepalanya bersandar di sisi tempat tidur dekat pinggang Shen Liu Zi. Wajah tegasnya terlihat lebih lunak dalam keadaan lelap, tanpa kewaspadaan seperti biasanya. Melihat tan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 162. Pelakunya Hilang

    Terakhir, jenderal Shang mengikat tali gaun Shen Liu Zi, lalu pandangannya terangkat dan seketika bertemu dengan pandangan wanita itu. Pipi Shen Liu Zi masih bersemu kemerahan. Jenderal Shang seolah tak melihatnya langsung saja bertanya, “Bisakah kamu menjelaskan seluruh kejadiannya?” Mata Shen Liu Zi berkedip singkat, sebelum mulutnya bersuara rendah. “Peserta perburuan lain bilang, di wilayah yang ku masuki ada rusa besar.” “Tepatnya wilayah terlarang,” sambung jenderal Shang, “bendera merah di sana sudah ditukar ke bendera kuning.” Shen Liu Zi membelalak. “Ah! Pantas siang itu ada sekelompok serigala menyerang.” Jenderal Shang bergeming, tatapannya tak berpaling dari Shen Liu Zi. “Tapi sebelum sekelompok serigala itu menyerang, ada wanita berpakaian pelayan seperti Yu Li, bahkan dandanannya juga sama, menyerang ku dengan teknik bela diri yang mustahil dikuasai pelayan biasa.” “Masih ingat wajahnya?” tanya jenderal Shang, dibalas anggukan kecil Shen Liu Zi. Jendera

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 161. Kedekatan Kali ini Sangat Berbeda

    Tirai tenda jenderal Shang tersibak begitu cepat. Belum sempat Shen Liu Zi menapakkan kaki dengan benar di lantai kayu, sebuah bayangan kecil sudah berlari ke arahnya. “Nyonya!” Yu Li menerjang maju tanpa peduli aturan, tanpa peduli ada jenderal Shang berdiri di belakang. Gadis kecil itu langsung memeluk pinggang Shen Liu Zi erat-erat, seolah takut wanita di hadapannya akan kembali menghilang jika dia melepas pelukannya sedikit saja. “Nyonya benar-benar kembali,” suaranya bergetar, nyaris pecah,“aku hampir mati ketakutan!” Shen Liu Zi tertegun sesaat, lalu senyum hangat perlahan terukir di bibirnya. Tangannya terangkat membalas pelukan Yu Li, mengusap punggung gadis itu lembut. “Aku baik-baik saja, Yu Li,” katanya pelan, ”lihat, aku sudah pulang.” Yu Li mengangkat wajahnya. Matanya merah dan basah, jelas sekali dia menangis sepanjang waktu. “mereka bilang, Nyonya tidak ditemukan dimanapun—” Kata-katanya terputus saat pandangannya jatuh pada balutan kain di lengan Shen Liu Zi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status