Cinta Sejati Pak Ferran

Cinta Sejati Pak Ferran

By:  LIlianUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
29views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Semua orang tahu bahwa Wendy Sanders adalah pembantu di Keluarga Carter, tepatnya pelayan pribadi Aiden Carter. Sejak kecil hingga dewasa, dia selalu berada di sisi Aiden untuk menangani semua urusannya. Hingga suatu hari, Aiden berkata dengan dingin, “Kamu cuma pembantu rendahan. Enyah dari pandanganku!” Wendy benar-benar menghilang. Aiden begitu percaya diri, mengira Wendy yang selalu patuh itu pasti akan kembali. Jadi, dia sama sekali tidak menghiraukannya. ··· Saat mereka bertemu lagi, Wendy telah menjadi sekretaris lawan bisnis Aiden. Dia berciuman mesra dengan pria lain, membuat Aiden seketika diselubungi rasa cemburu yang membutakan akal. “Wendy… pulanglah. Kembali ke sisiku, ya?” Di malam hujan itu, Aiden berlutut di tanah sambil memohon dengan suara teramat hina. Ferran Hayes menarik pinggang ramping Wendy ke dalam pelukannya untuk menegaskan kepemilikan. “Aiden Carter, siapa dirimu sampai berani memanggil namanya langsung?” ··· Semua orang mengira Wendy hanyalah mainan sementara Ferran yang kapan saja bisa ditendang jauh. Sampai sebuah video tersebar. Pewaris Grup Hayes yang selalu tampak dingin dan tak tersentuh itu tengah menggendong perempuan mungil itu dengan lembut sambil membujuknya dengan suara rendah, “Sayang, sini… Gigit sini…” ··· Ferran tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Namun, Wendy adalah pengecualiannya. Tak seorang pun tahu bahwa pada detik pertama dia melihat Wendy, kepalanya sudah dipenuhi puluhan bayangan yang tak pantas diucapkan. Ferran berkata, “Bunga statice melambangkan kebahagiaan. Ketika kamu datang padaku, aku akan melakukan apa pun untuk mengejarmu. Sebab, kebahagiaanku adalah dirimu, Wendy.”

View More

Chapter 1

Bab 1

“Bunga statice melambangkan kebahagiaan. Ketika kamu datang padaku, aku akan melakukan apa pun untuk mengejarmu. Sebab, kebahagiaanku adalah dirimu, Wendy!” ujar Ferran.

“Jangan nakal…”

“Uhm….”

Pipi gadis tampak merah bak langit senja. Peluh tipis bermunculan di keningnya bagaikan butiran embun.

Bibir mungil si pria terangkat membentuk lengkungan memikat, sementara tubuhnya menempel lebih dekat.

“Suka?”

Suara laki-laki rendah, serak, dan penuh godaan. Jari-jemarinya yang panjang mencengkeram pinggang ramping sang gadis.

Siapa itu?

Wendy membuka mata yang buram oleh kabut mimpi. Sang pria menunduk dan memandangnya dari atas. Cahaya lampu di belakang kepala pria membentuk lingkar cahaya sehingga wajahnya samar tak terlihat jelas.

Beberapa detik berlalu.

Sang gadis mulai sadar. Wajah pria pun menjadi lebih jelas.

Kontur wajah tegas, alis tajam, mata gelap, hidung mancung, bibir tipis sedikit melengkung.

Dia… dia adalah…

Tit! Tit! Tit!

Wendy terbangun dengan kaget. Seketika dia menyadari dekor di sekelilingnya, kamar rumah sakit. Kenapa bisa bermimpi seperti itu?

Kenapa dia bisa bermimpi pria itu? Apa karena pria itu sudah pulang?

Di televisi, sebuah berita heboh sedang menjadi sorotan di dunia politik dan bisnis.

Pewaris Grup Hayes alias Ferran Hayes sudah pulang negeri dan resmi menjabat sebagai CEO.

Wendy memperhatikan berita ini bukan karena tertarik, melainkan karena Grup Hayes adalah saingan utama Grup Carter. Ferran dan Aiden pun bagaikan api dan air yang tidak pernah akur.

Wendy bekerja di Grup Carter, wajar sekali dirinya memerhatikan gerak-gerik saingan bisnis.

Akan tetapi, kenapa dia bisa bermimpi tentang pria itu bersamanya…

“Wendy, teleponmu berdering.”

Suara lembut Nyonya Martha memecah lamunannya.

“Nek, saya angkat telepon dulu.”

Saat melihat nama penelepon, alis Wendy mengernyit. Dia berjalan menjauh untuk mengangkat telepon.

“Antar tiga kotak kondom ke Hotel Imperial, kamar 606.”

Suara pria di seberang tegas, dingin, dan tak memberi ruang penolakan. Di sela suaranya, terdengar tawa manja seorang wanita.

Wendy terdiam sesaat, lalu perlahan berkata, “Tuan Aiden, apakah boleh lain kali saja? Saya sedang merawat nenek saya.”

Tangan sang wanita melingkari dada telanjang Aiden. Suaranya manja dan menusuk telinga. “Tuan Aiden, sepertinya dia nggak mau antar.”

Wajah Aiden seketika memuram. Dia mencengkram tangan nakal itu sambil memaki di telepon, “Dasar pembantu nggak tahu diri! Aku mau barang itu sampai di hadapanku dalam waktu setengah jam. Kalau nggak, angkat kakimu dari Grup Carter!”

“Tuan Aiden berwibawa sekali, jantan sekali…”

Ada pula suara-suara tak pantas didengar. Beberapa detik kemudian, telepon terputus.

Nyonya Martha dirawat di kamar paling ujung sehingga kelihatan kondisi luar bangunan. Hujan deras mengguyur, dahan-dahan pohon bergoyang tertiup angin.

Ini bukan pertama kalinya Aiden memerintah Wendy seenaknya. Wendy pun sudah sangat terbiasa.

Dia menyimpan ponsel, lalu kembali ke sisi nenek.

“Wendy, rumah sakit menagih biaya pengobatan lagi? Nenek bisa pulang saja…”

Nyonya Martha memandang cucunya yang tampak lelah itu dengan penuh iba.

Semua ini gara-gara kesehatannya yang tidak mendukung sehingga cucunya terpaksa harus bolak-balik rumah sakit dan kantor.

“Bukan, Nek. Bukan pihak rumah sakit yang telepon aku, tapi Tuan Aiden. Beliau minta saya mengantarkan barang.”

Wendy merapikan selimut Nyonya Martha sambil tersenyum.

Dia bukan hanya sekretaris CEO Grup Carter, tapi juga pembantu Keluarga Carter. Sejak kecil, dia tumbuh bersama Aiden, menangani semua urusannya.

“Wendy, jangan selalu memikirkan Tuan Aiden. Kalau ada lelaki baik yang mengejarmu, cobalah buka hati. Jangan sampai mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk Tuan Aiden.”

Nyonya Martha tahu betul orang macam apa Aiden itu. Dia hanya berharap cucunya bisa hidup bahagia.

Wendy menenangkan neneknya dengan suara lembut, “Nenek, aku tahu, nggak usah khawatir. Saya pergi sebentar, Nenek istirahat dulu.”

“Luar masih hujan deras. Biar nenek minta izin pada Tuan Aiden untuk tunda dulu.”

Nyonya Martha khawatir akan keselamatan cucunya di tengah hujan badai.

“Nggak apa-apa, Nek.”

Nyonya Martha menggenggam erat tangan cucunya, wajah mengerut sedih.

“Wendy, nenek tahu kondisi kesehatan sendiri. Jangan buang-buang uang. Jangan terus bergantung pada Keluarga Carter. Nenek cuma ingin kamu hidup bahagia. Kalau pun nenek pergi, nenek rela.”

Kalau bukan karena dirinya, Wendy sudah bisa meninggalkan Keluarga Carter tanpa harus menderita begitu banyak ketidakadilan.

Wendy tahu maksud neneknya. Dia pun bertingkah manja. “Nenek jangan bilang begitu. Nenek masih harus lihat Wendy menikah dan harus gendong cicit.”

Nyonya Martha tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Wendy pasti akan jadi pengantin tercantik. Semoga nenek bisa menyaksikannya.”

Wendy mengangguk sembari tersenyum. “Nenek pasti bisa menyaksikannya langsung.”

Nikah memang bukan hal mudah baginya. Namun jika nikah bisa membuat neneknya senang, dia akan cari cara.

Di luar, hujan bagaikan tirai tebal. Angin menderu.

Meski memakai payung, Wendy yang baru beberapa langkah keluar dari rumah sakit sudah basah kuyup. Dia juga tidak bisa melihat jelas jalan di depan.

Jalanan sepi. Sesekali ada mobil melaju dan memercikkan air ke badannya seolah-olah sedang menertawakan keterpurukannya.

Wendy basah kuyup, sangat menyedihkan.

Hampir semua toko tutup di tengah hujan malam itu.

Wendy berkeliling beberapa tempat sebelum akhirnya menemukan apotek yang buka dan membeli barang yang dipesan Aiden.

Kasir menatapnya yang basah kuyup sambil bertanya, “Apakah butuh barang lain lagi, Kak?”

Siapa pula yang di hujan deras gini, keluar untuk beli barang ini. Bahkan beli tiga kotak. Anak muda zaman sekarang sungguh tak bisa jaga diri.

“Ini saja, terima kasih.”

Setelah bayar, Wendy keluar dari toko dan berjalan di tengah hujan lagi.

Angin menerpa wajahnya. Dia menarik jaket yang sudah basah total. Sekujur tubuhnya makin menggigil. Dia tahu betapa menyedihkannya dirinya sekarang, tapi hidup tetap harus berlanjut. Dia tidak bisa mengeluh.

Dia berdiri di tepi jalan raya ingin mencari taksi. Namun, itu jelas bukan hal mudah di tengah hujan badai begitu. Apalagi tubuhnya basah kuyup, tidak mungkin ada taksi yang ingin mengantarnya.

Beberapa menit berlalu tanpa hasil. Wendy melambai pada setiap mobil yang lewat karena tidak bisa melihat jelas apakah itu taksi atau mobil biasa. Hasilnya, semua mobil itu hanya menyisakan cipratan air kotor padanya.

Setelah melewati tikungan, Rian melihat ada wanita di tepi jalan.

“Tuan Ferran, ada perempuan melambai minta tumpangan,” lapor Rian.

Pria di kursi belakang perlahan membuka mata. Tatapannya gelap dan dingin.

“Rian, sejak kapan kamu punya rasa kasihan?”

“Maaf, Tuan.”

Rian mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana mungkin atasannya ini akan membantu orang asing, apalagi orang itu adalah perempuan.

Mobil Rolls Royce pun melaju. Air percikannya lagi-lagi membasahi tubuh Wendy.

Pada momen mobil berpapasan dengan Wendy, sorot mata Ferran sekilas menangkap wajah Wendy yang pucat di bawah lampu jalan. Dia terpana sesaat.

“Berhenti.”

Citt...

Rian memandangi Ferran yang turun mobil itu dengan heran, lalu buru-buru turun dan buka payung.

“Tuan Ferran, hati-hati.”

Awalnya Wendy sudah tidak berharap apa-apa. Begitu melihat mobil Rolls Royce berhenti, dia langsung berlari mendekat. Tak disangka, dia malah terpeleset jatuh ke genangan air.

Dia berdiri dengan susah payah. Kantong belanjanya sobek sehingga tiga kotak kondom pun terlempar ke lantai aspal.

Dia memungut kotak-kotak itu dengan segan. Ketika dia hendak mengambil kotak ketiga, sepasang sepatu kulit hitam yang mengilap berdiri tepat di depan wajahnya.

Dia mendongak. Pria situ sedang memandanginya dari atas.

Waktu seakan berhenti.

Wajah pucat Wendy ternodai air lumpur, tatapannya panik, sekujur tubuh basah kuyup, kemeja putih menempel pada kulit sehingga samar-samar menampakkan postur tubuhnya. Tatapan pria itu dingin tanpa emosi apa pun.

Air hujan menetes dari rambutnya, jatuh ke tangan Wendy seperti sentuhan yang menggetarkan.

Posturnya yang gagah membuat orang menciut. Dia adalah Ferran Hayes!

Wendy tersentak, buru-buru berdiri dan mundur setengah langkah.

Ferran memainkan kotak kondom di tangannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan samar.

“Nona Wendy, ini punyamu?”

Wendy cukup kaget mengetahui bahwa Ferran masih mengingatnya.

“Terima kasih, Tuan Ferran sudah memungutnya.”

Wendy menjulurkan tangan ingin mengambil kotak kondom tersebut.

Namun, Ferran langsung menarik kembali tangannya sambil berkata dengan diiringi senyuman, “Bagaimana kalau kotak ini buat aku saja?”

Wendy tertegun. Ferran ingin minta sekotak kondom darinya? Sebagai pewaris Grup Hayes, dia kekurangan uang untuk beli kondom?

Di Kota Haven hanya ada dua keluarga terkaya yang diakui masyarakat, yaitu Keluarga Hayes dan Keluarga Carter. Ferran adalah pewaris Keluarga Hayes, saingan utama Keluarga Carter. Kepribadiannya dingin dan cuek, cara kerjanya tegas dan keras.

Berkat Nyonya Elena Florensia, ibunya Aiden, Wendy berkesempatan untuk masuk SMA khusus para bangsawan agar bisa menangani semua urusan Aiden.

Jadi, Wendy, Aiden, dan Ferran adalah teman sekolah. Aiden dan Ferran tidak pernah akur sehingga Wendy pun jarang bicara dengan Ferran, sekalipun mereka adalah teman sekelas.

Setelah lulus SMA, Ferran lanjut kuliah di luar negeri. Konon, dia sempat bekerja di kantor cabang Grup Ferran di luar negeri dan baru pulang negeri akhir-akhir ini. Banyak media yang memberitakan hal ini.

Kepulangan Ferran jelas membawakan ancaman bagi Grup Carter.

Walau sama-sama adalah pewaris, penilaian orang-orang terhadap Ferran dan Aiden bagai langit dan lumpur.

Setelah bermimpi tentang Ferran, Wendy tidak menyangka benar-benar akan bertemu dengannya. Itu pun di tengah kondisi yang begitu terpuruk dan tengah membawa kondom.

“Kalau Tuan Ferran suka, ambil saja.” Wendy tampak tersipu.

Ferran tersenyum, memasukkan kondom ke dalam tas.

Di belakangnya, Rian terpaku.

Astaga, atasannya meminta kondom dari seorang wanita?

Selama bertahun-tahun ikut Ferran, bukan cuma tak pernah melihat Ferran membeli barang tersebut, dia bahkan tak pernah melihat ada perempuan di sekitar Ferran.

Apakah kondom itu punya makna istimewa? Sepertinya dia perlu mempelajari merek kondom tersebut dan menyetoknya, mungkin saja atasannya tiba-tiba butuh…

Ngomong-ngomong, sepertinya atasannya mulai mengincar perempuan?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status