Home / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 173. Pengakuan Pengurus Kediaman Keluarga Gu

Share

Bab 173. Pengakuan Pengurus Kediaman Keluarga Gu

Author: Zhang A Yu
last update Last Updated: 2026-02-12 21:30:14

Mantel sudah di tangan Yu Li.

Tubuh gadis kecil itu tegang sekaku tiang, pandangannya lurus ke depan, tidak tahu kosong melompong atau terkesima.

Jauh di depannya, punggung Han tampak kian mengecil, semakin mengecil, sebelum akhirnya menghilang di balik persimpangan.

“Nona Yu Li!”

Yu Li berkedip.

Suara tua memanggilnya setengah berseru.

Yu Li secepatnya berbalik.

Kereta kediaman jenderal Shang siap beberapa langkah di depannya. Kusir tua yang mengendalikan, menatap Yu Li dengan kh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 173. Pengakuan Pengurus Kediaman Keluarga Gu

    Mantel sudah di tangan Yu Li. Tubuh gadis kecil itu tegang sekaku tiang, pandangannya lurus ke depan, tidak tahu kosong melompong atau terkesima. Jauh di depannya, punggung Han tampak kian mengecil, semakin mengecil, sebelum akhirnya menghilang di balik persimpangan. “Nona Yu Li!” Yu Li berkedip. Suara tua memanggilnya setengah berseru. Yu Li secepatnya berbalik. Kereta kediaman jenderal Shang siap beberapa langkah di depannya. Kusir tua yang mengendalikan, menatap Yu Li dengan khawatir. Namun, napasnya diembus lega ketika Yu Li mengayunkan langkah sambil tersenyum. Drap! Drap! Drap! Kereta berjalan cepat membelah hujan, yang kian membesar. Beberapa waktu berselang. Di kamar kecil milik Yu Li, lampu minyak telah dinyalakan lebih awal karena langit di luar semakin gelap oleh hujan deras. Suara rintik yang menghantam atap terdengar lebih jelas di ruangan sempit itu—teratur, menenangkan. Tirai kain tipis di sudut kamar masih sedikit bergoyang ketika Yu Li melangka

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 172. Kebetulan Melihat Han

    Di kediaman Jenderal Shang. Pagi semakin meninggi, tapi keheningan di kamar itu terasa seperti tak pernah berubah. Shen Liu Zi sudah duduk tegak di kursi dekat jendela, tubuhnya terbungkus jubah tipis berwarna putih gading, serta mantel bulu lynx. Rambutnya hanya disanggul sederhana tanpa hiasan apa pun. Wajahnya masih pucat, hanya saja lebih rapi dibanding semalam. Di permukaan meja kecil di hadapannya tersaji beberapa makanan; semangkuk bubur hangat khusus untuk orang sakit, sepiring kecil sayur hijau, tahu putih kukus, serta teko minuman hangat. Semua itu tertata rapi sekaligus sama sekali tidak menarik perhatiannya! Pandangan Shen Liu Zi melayang jauh ke luar jendela. Tatapannya kosong, seolah menembus dinding halaman, menembus langit pagi, menembus segala sesuatu. Hatinya terasa hampa seperti ada bagian besar dari dirinya yang tertinggal di balik gerbang kediaman semalam—bersama seseorang yang kini tidak dapat dijangkaunya. Yu Li berdiri di samping meja dengan wajah cemas

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 171. Masih Memanas

    Langit semakin gelap.Angin malam mulai berembus pelan, membawa hawa dingin yang merayap di sepanjang halaman kediaman. Lentera-lentera di serambi sudah dinyalakan, memantulkan cahaya temaram ke arah gerbang besar yang tertutup rapat.Di sana, Shen Liu Zi masih berada. Tubuhnya kini terduduk lemas bersandar pada daun gerbang kayu yang kokoh. Gaun hijau pucatnya kusut, rambut yang tadi tersanggul rapi mulai berantakan. Wajahnya sembab, matanya bengkak karena tangisan panjang yang tak kunjung reda.Tangannya yang semula memukul keras tanpa henti, kini hanya bergerak lemah.Tok tok. Pukulan itu nyaris tak bersuara lagi. Tenaganya habis, tetapi hatinya belum menyerah.“Buka gerbangnya,” suaranya serak, hampir tenggelam oleh hembusan angin malam, “aku ingin bertemu Jenderal.”Kalimat itu diulangnya berkali-kali, lirih dan rapuh, seperti gumaman orang yang kehilangan arah.Tidak ada jawaban, tidak ada langkah mendekat atau bahkan tanda-tanda pintu akan dibuka.Yu Li berdiri tak jauh dariny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 170. Tidak Pulang Meski Sudah Sore

    Shen Liu Zi tersentak kaget. “J–jenderal!” desisnya tertahan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Seolah barusan tidak melakukan apapun, jenderal Shang berkata, “Daging yang tadi lebih enak.” Shen Liu Zi tidak tahu harus berkata apa. “...” Rasanya, dia ingin menghilang dalam sekejap mata! Tawa kecil lolos dari bibir jenderal Shang, sebelum pria itu lanjut makan dagingnya, dan secara bersamaan dia mengambilkan mangkuk kosong lain—diberi satu centong kecil nasi serta tumpukan lauk termasuk daging yang sama; untuk Shen Liu Zi sendiri. “Kamu harus makan juga,” minta jenderal Shang. Selang beberapa saat. Tangan mereka nyaris serentak menyuap nasi beserta lauk pauk ke mulut masing-masing. Tanpa mereka sadari—di antara sekelompok prajurit yang masih sibuk makan, ada komandan Miao Feng yang sesekali melempar pandangannya ke arah Shen Liu Zi. Wanita yang disukainya secara diam-diam itu akhirnya menemukan kebahagiaan yang dikejar! Tidak tahu harus senang atau cemburu—komandan Miao F

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 169. Makan Siang Jenderal Shang

    Pada saat bersamaan, jenderal Shang berseru ke arah barisan prajurit yang tengah antre. “Semuanya! Ada makan enak dari Nona Hui!” Seolah hanya menunggu aba-aba, para prajurit yang tadinya berdiri tertib langsung saling menoleh dengan mata berbinar. “Dari Nona Hui?” “Benarkah ada makanan enak lagi?” Beberapa dari mereka spontan keluar dari barisan, melangkah cepat mendekati jenderal Shang—atau lebih tepatnya mendekati wanita yang berdiri di hadapannya. Nona Hui terkejut melihat kerumunan mendadak bergerak ke arahnya. Senyumnya berubah kaku, kedua tangannya menggenggam ujung lengan baju sendiri, tidak tahu harus berkata apa. “Jenderal! Di mana makanannya?” “Ada daging tidak, Jenderal?” “Rasanya seenak masakan istana, yah?” “Wah! Kita makan enak lagi!” Pertanyaan demi pertanyaan bersahut-sahutan, diselingi tawa riang dan saling dorong ringan antar prajurit yang tak sabar ingin mencicipi. Jenderal Shang tetap tenang di tengah keributan itu. Lalu, tanpa banyak bicara, dia menyer

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 168. Tidak Merasa Berdosa

    Di dalam paviliun naga emas, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lantai berkilau memantulkan cahaya pagi yang menembus celah jendela tinggi, sayangnya suasana di ruangan itu sama sekali tidak hangat. Kasim Feng berdiri membisu di sudut ruangan, kepalanya menunduk tapi tidak terlalu dalam. Di tengah aula, jenderal Shang berlutut. Punggungnya tegak lurus, kedua tangannya diletakkan rapi di atas lutut, kepalanya sedikit menunduk—bukan dalam ketakutan, melainkan dalam sikap hormat yang kaku dan terlatih. Lututnya menempel pada lantai ubin yang dingin, tetapi raut wajahnya tetap datar seperti batu. Di depannya, Kaisar berjalan mondar-mandir. Jubah naga emasnya berayun setiap kali langkahnya berputar. Tangan kanannya sesekali mengepal, lalu terlepas lagi. Wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan yang tak mampu dia sembunyikan. Beberapa kali dia membuka mulut seolah hendak berbicara, tapi kembali menutupnya. Langkahnya semakin cepat, lalu semakin lambat, berputar-putar seperti orang y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status