Share

Bab 226. Ritual Dimulai

Penulis: Zhang A Yu
last update Tanggal publikasi: 2026-03-12 08:00:30

Di sebuah ruangan gelap.

Dindingnya terbuat dari batu kasar yang dingin. Udara di dalamnya pengap dan lembap, seperti ruang bawah tanah yang jarang sekali disentuh sinar matahari.

Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah obor yang tertancap di dinding. Api kecilnya bergoyang pelan, membuat bayangan di ruangan itu bergerak-gerak seperti makhluk hidup.

Di dalam ruangan itu ada lima dipan bambu. Lebarnya sempit—tidak lebih dari setengah meter. Disusun berjajar dengan jarak yang tidak terl
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 307. Akhir.

    Dua tahun kemudian .... Musim semi telah datang dan pergi. Musim panas berganti dengan gugur. Lalu, musim dingin kembali menyelimuti ibu kota. Namun, di dalam kamar yang tenang itu, waktu seakan berhenti. Aroma obat-obatan memenuhi udara, tirai tipis bergoyang perlahan diterpa angin yang menyelinap dari sela jendela. Di atas ranjang, Shen Liu Zi berbaring tanpa banyak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Tangannya yang selama ini selalu hangat kini terasa begitu dingin. Di sisi ranjang, Jenderal Shang duduk tanpa pernah beranjak. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Shen Liu Zi, seolah sedikit saja dia melepaskan genggaman itu, wanita di hadapannya akan benar-benar menghilang. Sorot mata sang jenderal tak lagi setegas dahulu! Di dalamnya hanya tersisa kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang selama ini terus dipendam. Seorang tabib tua perlahan menarik kembali jarinya dari pergelangan tangan Shen Liu Zi. Ruangan menjadi sunyi. Tidak seorang pun berani meme

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 306. Berselimut Kehangatan

    Pada akhir musim gugur. Langit tampak kelabu. Angin dingin berembus perlahan melewati halaman kediaman Jenderal Shang, membawa dedaunan kuning yang berguguran dari pepohonan. Empat bulan sudah Shen Liu Zi tertidur. Empat bulan pula usia putranya, yang disusui Permaisuri Chun. Kini, kamar wanita itu terasa sunyi. Sinar matahari musim gugur yang redup masuk melalui jendela, menerpa wajah pucatnya. Keheningan menyelimuti ruangan. Suasananya begitu tenang seperti jauh dari hiruk pikuk duniawi. Seiring berjalannya waktu .... Jari telunjuk Shen Liu Zi bergerak kecil. Kemudian berhenti, tak meninggalkan perubahan berarti. Tak berselang lama .... Ujung jemarinya kembali bergetar. Dan kelopak matanya yang selama berbulan-bulan tidak pernah bergerak mulai berkedut samar. Sekali, dua kali. Lalu, kembali tenang. Di luar kamar, Chu Qiao duduk di pagar batu dekat pintu. Satu kakinya menjuntai santai, tangannya memegang sekantung kacang panggang. Meski terlihat malas-malasan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 305. Kesetiaan Jenderal Shang

    Jenderal Shang tidak rela Shen Liu Zi mati! Tabib yang menangani Shen Liu Zi melahirkan melakukan berbagai cara untuk menyadarkannya, bahkan tabib tabib lain juga didatangkan hanya demi membangunkan wanita itu. Di tengah suara tangisan bayi tak kunjung mereda, para tabib sibuk melakukan berbagai cara menyadarkan Shen Liu Zi. Hingga hari berikutnya, kabar ini pun sampai ke telinga Kaisar. Hatinya diliputi kecemasan, jadi dia mendatangi kediaman Jenderal Shang ditemani Permaisuri Chun. Kedatangan Kaisar membuat semua orang di sana membungkuk hormat tanpa melakukan satu pun pekerjaan, walau itu tabib dan Jenderal Shang sendiri. Ketika suara bayi memecah .... Permaisuri Chun berinisiatif membawanya ke ruangan lain untuk menyusuinya. Sementara di kamar Shen Liu Zi .... “Jangan mengorbankan siapapun,” suara Kaisar lirih tapi tegas. Jenderal Shang tertunduk. “Selain Jenderal Shang, silahkan tinggalkan kamar ini!” perintah Kaisar dingin tapi lantang. Semua orang yang ada di kamar—

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 304. Di Hari Melahirkan

    Kota Kekaisaran menyambut kepulangan Jenderal Shang dan pasukannya.Beberapa bulan berlalu, hari Shen Liu Zi melahirkan pun tiba. Malam itu, langit ibu kota diselimuti awan tipis.Di kediaman Jenderal Shang, lampu-lampu lentera menyala terang sejak sore. Pelayan keluar masuk tanpa henti. Suasananya begitu tegang.Dari dalam kamar utama, suara Shen Liu Zi yang menahan sakit terdengar beberapa kali.Di luar pintu, jenderal Shang berdiri membeku. Kedua tangannya terkepal di belakang punggung. Matanya terpejam. Namun, siapa pun bisa melihat ketegangan yang menyelimuti seluruh tubuh pria itu.Di medan perang, menghadapi puluhan ribu musuh sekalipun, Jenderal Shang tak pernah menunjukkan wajah seperti sekarang, tetapi malam ini jelas berbeda.Di balik pintu .... "Tarik napas lagi, Nyonya Shen!” suara Chu Qiao terdengar dari dalam."Bagus! Sekali lagi!" sambung tabib.Tak lama kemudian terdengar erangan kesakitan Shen Liu Zi.Jantung Jenderal Shang langsung terasa diremas, tangannya mengep

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 303. Mereka Juga Pulang

    Satu bulan berlalu dalam sekejap.Karena belum menerima titah pemanggilan kembali dari Kaisar, Jenderal Shang beserta pasukannya tetap menetap di markas kota Xudu. Perang bisa disebut telah berakhir sepenuhnya, tetapi wilayah Xudu merupakan yang paling menerima banyak kerugian. Ekonomi belum stabil, kelaparan masih merajalela. Anak-anak terserang penyakit, orang tua mati satu persatu.Jenderal Shang beserta pasukannya berusaha memulihkan wilayah itu.Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang luas.Puluhan prajurit Kekaisaran menggulung lengan baju mereka. Sebagian ada yang membajak tanah, sebagian lagi memperbaiki saluran air, ada pula yang membantu memanggul karung bibit.Pemandangan itu membuat para penduduk beberapa kali tersenyum tak percaya.Di tengah ladang, Jenderal Shang sendiri sedang berdiri tanpa baju zirah.Pria itu hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku. Sepasang tangannya memegang cangkul. Ayunan ca

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 302. Mengintip

    Di balik tumpukan jerami besar tak jauh dari area belakang perkemahan, Shen Liu Zi dan Jenderal Shang berjongkok seperti pencuri ayam. Api kecil menyala redup di depan mereka. Potongan burung pegar panggang yang tadi susah payah dimasak Jenderal Shang kini justru sedang mereka makan diam-diam sambil mengintip ke arah lain. Shen Liu Zi menggigit daging burung panggang di tangannya sebelum berbisik pelan, “Cepat lihat, cepat lihat, Ruo He mulai bicara.” Di sebelahnya, Jenderal Shang masih memegang tusukan kayu berisi potongan daging. Tatapan pria itu lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun. Beberapa langkah dari sana, Ruo He berdiri kaku seperti tiang kayu. Di hadapannya berdiri seorang gadis cantik, masih muda, berpakaian tipis berwarna pucat. Wajahnya terlihat polos dengan mata bulat jernih yang tampak terlalu lugu untuk berada di lingkungan militer seperti ini. Usianya mungkin baru enam belas tahun lebih sedikit. Angin malam meniup lembut rambut panjang gadis itu.

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 119. Ke Kamar Mandi Jenderal

    Lalu, pada malam hari itu. Kepala Xun muncul di ujung jalan setapak dengan langkah yang jelas lebih cepat dari biasanya. Sangat tidak biasa! Dia yang biasanya berjalan tenang, punggungnya lurus, ekspresi dingin seolah apa pun di dunia ini tak mampu mengusiknya. Namun kali ini, alisnya berke

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 116. Sangat Cemburu

    Brak! Gerbang kediaman jenderal Shang tertutup dengan suara keras. Shang Xiwu terhenti tepat di depan daun gerbang yang kini memisahkan dirinya dari dunia dalam. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menegang. Napasnya naik-turun cepat, tapi tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kepala Xun,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 114. Shen Liu Bei Juga Diincar

    Sore merayap turun perlahan, cahaya matahari merunduk di antara atap-atap rumah dan gerbang toko yang mulai ditutup setengah. Bayangan orang dan bangunan memanjang di jalanan pusat kota, menyatu bersama debu yang terangkat oleh roda kereta. Sebuah kereta kuda melintas—tidak cepat, tidak pula lamb

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 125. Jenderal Shang Entah Kerasukan Apa

    Pernikahan keluarga kaya selalu meriah, tamu-tamu yang datang tak ada satupun dari kelas bawah. Semuanya menengah keatas! Setelah prosesi pernikahan selesai, para tamu dipersilahkan menikmati berbagai jenis sajian. Dan untuk tamu-tamu dari kalangan pejabat, telah disediakan dua ruangan khusus.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status