MasukShen Liu Zi melangkah keluar dari tenda dengan bungkusan kertas minyak di tangan. Hangatnya daging burung pegar panggang masih terasa menembus lapisan kertas tipis itu, menghangatkan telapak tangannya di tengah dinginnya musim dingin siang ini. Baru beberapa langkah keluar mencari Jenderal Shang, langkahnya perlahan melambat, karena di hadapannya banyak prajurit berbaris mengantre di depan dapur lapangan. Satu per satu maju menerima semangkuk bubur encer yang bahkan dari jauh pun tampak nyaris tanpa isi. Ada yang berdiri tegap, tubuh masih kuat. Ada pula yang berjalan tertatih dengan perban melilit lengan, bahu, bahkan kepala. Hebatnya tidak satu pun dari mereka mengeluh, melainkan sebaliknya—beberapa prajurit yang sudah menerima bagian mereka duduk di tanah, mengangkat mangkuk, lalu makan lahap seakan-akan yang dimakan mereka adalah makanan terlezat di dunia. “Cepat makan, nanti dingin!” “Ah, hari ini rasanya lebih enak!” “Kalau bisa nambah, aku sudah nambah tiga man
Langkah kaki tergesa terdengar mendekat.Shen Liu Zi menoleh dengan sikap waspada nya. Langkah yang didengar semakin cepat, semakin dekat dan—“Nyonya Que!” seruan Jenderal Shang pecah di keheningan.Shen Liu Zi belum sempat menoleh sepenuhnya ketika sosok tinggi itu sudah tiba di hadapannya.Napasnya sedikit memburu. Di tangannya tergenggam lentera yang cahayanya bergetar hebat, seolah mengikuti kegelisahan pemiliknya.Tanpa sepatah kata pun, pria itu langsung meletakkan lentera di tanah. Lalu, menarik Shen Liu Zi ke dalam pelukan erat-erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika dilepas sedikit saja.Tubuh Shen Liu Zi sempat kaku sesaat. Perlahan, dia bisa merasakan detak jantung di dada sang Jenderal—cepat, tidak teratur, penuh kekhawatiran yang tak sempat diucapkan.Tangan wanita itu secara naluriah terangkat membalas pelukan Jenderal lebih tenang, lebih ringan seakan-akan justru dialah yang
Tanpa menunggu satu patah kata pun, Yu Li berlalu pergi ke arah pinggiran markas. Han hampir mengejarnya, ketika Jenderal Shang seketika menahan pundak pria itu. “Biarkan dia sendiri dulu,” ujar Jenderal Shang. Di sisi lain. Shen Liu Zi perlahan membuka matanya. Aroma obat sekaligus udara dingin seketika menyergap indera penciumannya. Membuat kesadaran wanita itu secepatnya terkumpul, lalu dia merasakan rasa perih bagai terbakar di bagian kakinya yang terluka. Shen Liu Zi tak berani melihat, tetapi dia perlahan duduk. Pandangannya mengedar, matanya secara tidak sengaja menangkap satu set baju zirah Jenderal Shang. Di luar sayup-sayup keramaian pagi sampai ke telinganya. Dia pelan tapi pasti menyibak selimut, bahkan lebih pelan lagi coba menapakkan kakinya dan ketika akan berdiri— “Ah!” pekik wanita itu, bertepatan dengan seonggok tanga
Di dalam tenda utama, suasana kembali tenggelam dalam sunyi yang berat. Hanya suara napas pelan dan gelegak halus air hangat di dalam mangkuk yang terdengar samar. Jenderal Shang duduk di sisi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk. Di tangannya, sehelai kain bersih telah dicelupkan ke air hangat yang mulai memerah oleh sisa darah sekaligus obat. Perlahan, dia mengangkat kain itu. Gerakannya hati-hati—terlalu hati-hati untuk seorang pria yang dikenal dingin di medan perang. Ujung kain menyentuh dahi Shen Liu Zi. Dia mengusap pelan. Mengangkat keringat yang mengering, membersihkan sisa debu serta rasa sakit yang masih menempel di kulit wanita itu. Wajah Shen Liu Zi pucat, nyaris tak berwarna. Bibirnya kering, napasnya tipis tapi untungnya teratur. Jenderal Shang tidak terburu-buru. Setiap usapan terasa seperti dia menimbang sesuatu di dalam diam—sesuatu yang tidak bisa diucapka
Tenda utama dipenuhi aroma getir dari ramuan obat yang baru ditumbuk. Lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin malam, menciptakan bayang-bayang panjang di dinding kain. Tabib Xiong sudah menduduki kursi rendah di depan kaki Shen Liu Zi. Di sampingnya, sebuah mangkuk kecil berisi air hangat kemerahan, jarum tipis, serta serat tanaman yang telah dipilin rapi menjadi benang agak kasar tapi kuat. Jenderal Shang tidak beranjak. Dia duduk di tepi tempat tidur, satu tangannya menopang punggung Shen Liu Zi, satu lagi menggenggam tangan wanita itu erat di dalam pelukannya. “Mulai,” ucapnya singkat. Tabib Xiong mengangguk. Tangannya yang terlatih mendekat ke luka robekan di kaki Shen Liu Zi—luka yang masih basah, dagingnya terbuka jelas meski sudah ditaburi bubuk obat pereda nyeri. Perlahan, ujung jarum menyentuh kulit. Detik berik
Tangisan Shen Liu Zi pecah walau tubuhnya masih bergerak melawan musuh. Di tempatnya, dia menyaksikan sendiri Yu Li mulai dinodai! Amarah dalam dada Shen Liu Zi bagai mengaum. Serangannya ke lawan membabi buta. Terlebih saat dia melihat pipi Yu Li ditampar berkali-kali karena meronta, kakinya ditendang karena tak mau diam, kepalanya dipukul karena terus menggeleng, mulutnya dibekam karena menjerit. “AAAA!” teriak Shen Liu Zi parau tapi lantang. Kepala dua prajurit di depannya secara bersamaan berhasil ditebas. Satu prajurit lagi ditendang sekuat tenaga. Dua prajurit berikutnya ditusuk secara brutal. Sampai kemudian, tepat saat prajurit yang selesai menodai Yu Li perlahan bangkit untuk menaikkan celananya— Shen Liu Zi menarik rambutnya ke belakang, dan .... satu tebasan pedangnya berhasil memotong burung prajurit itu. “Aaaa!” teriaknya
Wush!Cambuk tombak itu menyapu udara tepat di depan wajahnya. Shen Liu Zi tidak mundur, justru menundukkan kepala dan memiringkan bahu, membiarkan ujung senjata itu meleset sejengkal dari hidungnya.Dalam satu gerakan cair, dia memacu kudanya berputar setengah lingkaran, memaksa dua pembunuh di si
Kaisar lihat punggung pejabat Song sampai bergetar. Jelas bukan karena kegugupan, tapi kemarahan luar biasa yang tertahan. Pejabat Song masih menunggu, begitu pula yang lain. Suasananya menegangkan! Kaisar dengan helaan nafas tenang, dengan tatapan tak sama sekali berempati, pun bertanya, “Keadi
“PEMENANG PERTANDINGAN MEMANAH ADALAH NYONYA SHEN LIU ZI!” Suara itu menggema sampai ke ujung, tapi justru bukan sorak yang terdengar pertama, melainkan keheningan kaget, yang memuakkan—seperti semua orang butuh waktu ekstra untuk memastikan mereka tidak salah dengar. Di tengah itu semua, panda
Pacuan kuda jenderal Shang melambat, lalu berhenti total di tengah jalur hutan bambu.Batang-batang bambu berdiri menjulang seperti tombak hijau yang menusuk langit, rapat dan hening, menenggelamkan dunia dalam kesunyian yang terlalu bersih untuk disebut nyaman.Jenderal Shang tidak turun dari pung







