LOGINPerubahan ekspresi Ayu sedikit mengejutkan Chandra. Ayu juga tidak tahu dirinya mendapat keberanian dari mana. Tanpa ragu, dia menghambur ke dalam pelukan Chandra dan memeluk pria itu erat-erat. Napasnya pun tersengal oleh emosi yang membuncah.“Masih ada waktu 200 tahun lagi, Pak. Bukankah sebaiknya kita cari kegiatan untuk isi waktu?”Chandra langsung diam tercengang. Apa yang sedang terjadi?Beberapa detik kemudian, Chandra baru tersadar. Dia spontan mendorong Ayu menjauh darinya dan duduk di kursi terdekat. Setelah itu, dia mengeluarkan sebatang rokok yang dia bawa dari Bumi. Dia menyalakan rokok itu dan menghisapnya, sambil menatap Ayu dengan ekspresi serius.Saat ini, Ayu berdiri di samping. Dia sudah menurunkan gaunnya. Wajah cantiknya memerah, matanya tidak berani menatap Chandra secara langsung.“Jangan begini,” kata Chandra dengan serius.“Ka-kamu nggak suka aku?” Ayu serentak mengangkat wajahnya untuk melihat Chandra.Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspr
Seratus tahun bukanlah waktu yang lama, bukan pula waktu yang singkat. Bagi seorang prajurit, seratus tahun hanyalah sekejap mata. Bagi orang biasa, seratus tahun adalah seumur hidup.Kali ini, Chandra tinggal di Istana Abadi selama 105 tahun. Dia menekan kekuatan kutukan di dalam tubuhnya selama lebih dari seratus tahun. Sedangkan Ayu tetap berada di piring terbang untuk mengendalikan piring terbang itu.Untungnya, piring terbang itu sepenuhnya otomatis. Setelah menetapkan tujuan, piring terbang itu akan terbang secara otomatis, tanpa memerlukan pengawasan terus-menerus. Hanya butuh pengecekan sesekali terhadap lintasannya.Selama Chandra pergi, Ayu juga memanfaatkan waktu dengan berlatih. Dia bisa berlatih hingga ke Alam Ajaib, itu menunjukkan kalau dia memiliki potensi yang cukup besar. Namun, kurangnya bimbingan, teknik ajaib dan latar belakang yang kuat mengakibatkan kecepatan latihannya sangat lambat.Selama seratus tahun ini, Ayu terus menantikan kedatangan Chandra. Dia sudah be
Meskipun pohon besar itu tidak hancur, pohon itu mulai layu dengan cepat. Dalam sekejap mata, pohon itu berubah dari pohon yang subur menjadi pohon mati.“Kalau bisa bunuh, berarti pasti bisa kasih kehidupan baru,” gumam Chandra dalam hati.Namun, pemahaman Chandra tentang Jurus Reinkarnasi Kutukan masih sangat kurang. Pemahamannya tentang Prasasti Kutukan boleh dibilang masih nol. Dia tidak mungkin bisa menghidupkan kembali pohon yang sudah mati. Namun, Chandra merasa jika dia bisa menguasai Jurus Kutukan hingga maksimal, semua ini tidak akan menjadi masalah. Kutukan mencakup segala hal. Jika dilatih sampai puncak, apa pun mungkin terjadi.“Tingkat kekuatanku saat ini terlalu lemah. Aku setidaknya harus mencapai tingkat Dewara baru bisa benar-benar pahami kemampuan mahasakti yang tak terkalahkan ini,” gumam Chandra.Chandra memiliki terlalu banyak kemampuan. Dia juga memiliki banyak benda pusaka. Ada Tugu Langit Tanpa Batas, Sumber Lima Elemen, Pengubah Lima Elemen, seni pedang Leluhu
Chandra terlalu meremehkan kekuatan kutukan 400.000 orang. Kekuatan kutukan gabungan dari 400.000 orang itu sangat menakutkan. Sekarang, dia sendiri kewalahan menghadapi kekuatan tersebut.Tubuh Chandra telah dipenuhi luka. Di bawah pengaruh sifat penghancur dari kutukan itu, kondisi mentalnya pun ikut memburuk. Keteguhannya mulai kabur. Kepalanya terasa pusing, seolah ada orang yang memukulnya dengan benda yang berat.Chandra mengerahkan kekuatan di dalam dirinya. Dia memaksa dirinya untuk tetap sadar. Kemudian, dia mengaktifkan Segel Kerajaan untuk menekan kekuatan kutukan di dalam tubuhnya.Medan magnet yang mengelilingi tubuh Chandra juga sangat menakutkan. Para prajurit yang kekuatan kutukannya telah terserap langsung berdiri dan mundur, menjauh dari Chandra. Namun, mereka tidak pergi terlalu jauh, melainkan mengamati dari kejauhan.“Nggak apa-apa, kan?”“Raja Naga sudah serap kekuatan kutukan di dalam tubuh kita. Dia nggak akan kenapa-kenapa, kan?”“Seharusnya nggak apa-apa. Aku
Chandra memandang sekelilingnya, memperhatikan para prajurit yang sedang berlatih keras dengan bertanding satu sama lain. Kemudian, dia melambaikan tangan kepada mereka sambil berkata, “Terima kasih atas kerja keras kalian.”“Tidak sama sekali.” Sebuah jawaban yang jelas dan dengan suara lantang membahana.Ada rasa bersalah di dalam hati Chandra ketika melihat wajah-wajah yang familiar tapi juga terasa asing ini. Dialah yang telah mengurung 400.000 orang tersebut di Istana Abadi, membuat mereka terus berlatih tanpa henti sepanjang waktu.Chandra sendiri adalah seorang prajurit. Dia juga tahu kalau berlatih itu sangat membosankan dan monoton. Meskipun Chandra memang tidak pernah membatasi ruang gerak mereka. Mereka boleh berkeliaran bebas di Istana Abadi. Bagaimanapun juga, Istana Abadi tetaplah sebuah dunia tertutup yang terisolasi dari dunia luar. Seiring waktu, kehidupan di dalam Istana Abadi menjadi sangat membosankan. Hal itu yang akan menyebabkan mereka kehilangan percaya diri dal
Chandra tidak tertarik untuk menjadi tetua Pavilion Pil. Karena tujuan utamanya pergi ke Pavilion Pil adalah untuk menemukan Pil Leluhur Agung. Tardas sempat mengatakan kalau Pil Leluhur Agung berada di Pavilion Pil. Namun, dia tidak yakin kalau Pavilion Pil ini adalah tempat yang dicarinya. Oleh karena itu, dia ingin mencari tahu dengan cara mengikuti seleksi murid Pavilion Pil. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya. Lagi pula, Chandra tidak terlalu menginginkan kekuasaan. Karena dia lebih menyukai kebebasan tanpa batas yang dimilikinya saat ini.Danya mulai bertanya tentang latar belakang Chandra, “Tuan Chandra, kamu pasti memiliki latar belakang yang luar biasa. Gurumu pastinya adalah seseorang yang sangat terkenal di Dunia Tawang. Bolehkah aku bertanya siapa gurumu? Apa mungkin aku pernah bertemu dengannya?”Danya menatap Chandra sambil terus tersenyum. Namun, Chandra membalasnya hanya dengan senyuman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimanapun juga, dia tidak b
"Bagus," jawab pria bertopeng, suaranya terdengar serak."Hahahaha. Naga Hitam, Gunung Langit akan menjadi kuburanmu! Mau sehebat apa pun, kamu nggak akan bisa melarikan diri!" Suara tawa terdengar memenuhi udara.Chandra tidak tahu bahwa para pesilat dari 28 negara telah berkumpul di Gunung Langit. N
Setelah menelepon Paul, Chandra menunggu di depan kompleks rumah.Sekitar setengah jam kemudian, Paul pun tiba di depan kompleks perumahan Nova. Paul membuka kaca jendela, lalu melambaikan tangan sambil berteriak, "Kak Chandra, sini masuk."Begitu duduk di kursi penumpang, Chandra melihat Senny yang d
Pesta ulang tahun Nenek Sanjaya malah menjadi ajang Nova untuk unjuk gigi.Bahkan Nenek Sanjaya yang tadinya kesal pun ikut memuji-muji Nova.Ketika tengah makan, tiba-tiba Andri menerima sebuah telepon dan berteriak, "Ah!"Semua orang terkejut mendengar teriakan Andri.Nenek Sinjaya merasa sikap Andri
Sebenarnya Sandra juga ketakutan, dia meringkuk dan menutupi tubuhnya.Dandi menarik Sandra dan langsung memeluknya. Sandra ingin memberontak, tetapi sekujur tubuhnya masih terasa lemas. Dia sama sekali tidak punya tenaga.Sandra tak bisa berbuat apa-apa selain mendekap di dalam pelukan Dandi."Hahaha,







