LOGINSungai Yinlu mengalir dari utara ke selatan, seolah menjadi seutas benang merah yang menghubungkan antar wilayah Dinasti Quan. Sungai ini juga melewati Gucheng yang merupakan sebuah kota kecil yang terletak di daerah perbatasan wilayah utara di mana ibu kota berada dan wilayah tengah dinasti.Siang itu Mo Yifei dan pelayannya Xiulan sedang berjalan-jalan untuk menyegarkan diri di area sekitar penginapan, yang letaknya tidak jauh dari aliran Sungai Yinlu.Karena tanpa sengaja menginjak lumpur, Nona Kedua Mo berjalan dengan langkah-langkah kecil yang canggung menuju tepi sungai untuk membersihkan sepatunya. Xiulan mengikuti dari belakang.“Nona, hati-hati.” Xiulan menopang satu tangannya agar ia tidak tergelincir oleh lumut yang tumbuh di atas bebatuan sungai.Mencapai tepi, Mo Yifei memperhatikan Xiulan yang segera berjongkok lalu mengambil air dari sungai dengan tangan, menyirami lumpur di ujung sepatunya.Matahari hampir berada di atas kepala. Meski begitu, udara tidaklah panas kare
Kabar pembatalan pernikahan segera tersebar ke kalangan keluarga biasa hingga beberapa kalangan terkemuka di ibu kota. Ini bukan karena keluarga Shen begitu populer. Hanya karena orang-orang sangat senang bergosip, menyebar kabar-kabar terbaru yang terjadi di ibu kota. Dari yang penting hingga yang tidak penting sekalipun kadang akan dibicarakan.Karena sebelumnya tersebar lebih dulu mengenai kondisi sang nyonya muda yang mandul, maka ketika kemudian mendengar tentang pembatalan pernikahan oleh keluarga Shen, orang-orang tidak banyak berkomentar lagi. Kediaman Marquis Wu juga tak luput dari percikan kabar itu.Nyonya Marquis menghela napas ketika mendengar cerita itu dari teman baiknya. “Gadis yang malang.” gumamnya.“Bagaimanapun, kita tidak bisa menyalahkan keluarga Shen karena membatalkan pernikahan begitu saja. Lagipula, keluarga mana yang menginginkan seorang menantu mandul untuk menjadi nyonya rumah di masa depan? Bukankah ini akan membawa bencana bagi keluarga?” jelas Nyonya
Kediaman JiangShen Ling sedang duduk di depan meja rias di kamar pengantin. Cermin tembaga di meja memantulkan sosoknya yang tengah menyisir rambut panjangnya dengan hati-hati.Matanya tampak linglung. Rona merah segera terlihat di wajahnya yang masih tanpa riasan. Sebuah senyum kecil yang tak tertahankan kemudian muncul di sudut bibirnya ketika ia menunduk.Meski kegiatan malam pertamanya telah berlalu, ketika teringat kembali bagaimana suaminya menyentuhnya semalam, ia tak kuasa untuk kembali merona.Ia tak pernah membayangkan bahwa pria yang dinikahinya ternyata begitu tampan dan memperlakukannya begitu mesra. Juga.. sangat pandai menyenangkannya.Wajahnya makin memerah.Jika keadaannya seperti ini, sama sekali tidak ada penyesalan ia menikah ke dalam keluarga ini. Membayangkan hari-hari kedepannya dengan suami tampannya, ia telah melupakan kecemburuan sebelumnya terhadap Zhu Niang saingannya.Di masa depan, ia bertekad akan memperlakukan suaminya dengan sangat baik, sehingga ia a
Perjalanan ke kuil memakan waktu kurang lebih tiga jam.Tumpukan kertas pembungkus makanan diletakkan di atas meja, sementara semua isinya telah dilahap habis oleh Li Yuan tanpa tersisa.Ia sangat puas dengan kualitas roti pipih dari kedai tadi. Jika ada kesempatan, ia akan kembali mengunjungi kedai sarapan itu di masa depan.Sepanjang perjalanan, Li Yuan tidak mengendurkan kewaspadaannya.Di dalam, ia hanya duduk bersedekap dengan punggung tegak. Sementara matanya tampak awas. Seolah telah siap menghadapi badai yang siap menyerbu kapan saja.Ia segera mengetahui bahwa mereka sedang melewati jalanan di pinggir hutan lewat suara gemerisik dedaunan yang tersapu oleh roda kereta.Kemudian jalanan segera terasa lebih berguncang. Li Yuan mengintip dari balik tirai jendela. Namun sulit untuk melihat keadaan sekitar dalam penerangan yang redup.Disela-sela derap langkah kuda yang berirama, sebuah suara berdebum pelan seolah sesuatu telah jatuh terdengar dari luar.Li Yuan bergerak cepat memb
Tanpa berbalik, Li Yuan hanya berhenti untuk mendengarkan.Sebuah hembusan napas panjang yang seolah dipaksakan terdengar dari belakang. Disusul oleh suara Nona Ketiga Wei berbicara dengan nada prihatin. “Nona Li, aku turut bersimpati atas kemalangan yang terjadi padamu.” “Kemalangan?” Li Yuan memutar tubuhnya lambat.Ada kilatan senyum tipis di mata Nona Ketiga Wei ketika tatapan mereka bertemu. Wanita itu memegang sapu tangan sutra di tangan, mengangkatnya menutupi mulut. “Beredar kabar di ibu kota yang mengatakan bahwa Nona Li sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk berbakti.”Tidak mampu berbakti?“Apa maksudnya?”Chuntao dengan tidak sabar menyela, “Tentu saja ini mengisyaratkan bahwa Nona Li tidak mampu melahirkan keturunan, yang dianggap tidak berbakti kepada mertua.”Mendengar kata-kata pelayannya yang kasar, Wei Mingshu hanya diam. Tidak berniat menegur.Alih-alih sebuah kilatan kepuasan dalam sorot matanya terlihat sangat jelas ketika memandang Li Yuan. Ia tak repot-repo
"Tunggu, tadi kau bilang Mingshu? Maksudmu, Mingshu putri Perdana Menteri?" Shen Min memastikan."Benar. Rong'er dan Mingshu bisa dikatakan tumbuh bersama dan sudah dekat sejak mereka masih kecil."Shen Min mencibir, "Tapi bagaimana mungkin kita bisa menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Perdana Menteri? Itu sesuatu yang tidak bisa kita jangkau. Bukannya kau hanya bermimpi!" Gu Shi mendesah pendek. "Suamiku pikir aku hanya bermimpi? Percayalah, aku juga masih mengira aku bermimpi. Sampai ketika Mingshu sendiri yang menyatakan niatnya padaku..."Di belakang paviliun, Li Yuan menegakkan kembali tubuhnya yang disandarkan pada pohon bambu. Ketidakpedulian terlihat di matanya saat ia melangkah pergi dari sana.Suara kratakan renyah terdengar ketika langkah demi langkahnya menjejak di atas tanah yang dipenuhi daun-daun bambu kering. Orang-orang yang tanpa sengaja lewat mungkin akan ketakutan saat mendengar suara-suara langkah itu di tengah kesunyian hutan di antara gemerisik daun b






