MasukTawa yang semula memenuhi lapangan perlahan mereda ketika Mikael tidak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk membalas ejekan. Dia tetap berdiri tegak di tempatnya, membiarkan ratusan pasang mata mengarah kepadanya.Sean menyipitkan mata. “Jadi benar kau takut?”Mikael mengangkat dagunya sedikit. “Saya tidak takut perang, Wakil Jenderal Henley.”“Lalu kenapa kau keberatan, Summer?”Mikael menarik napas sebelum menjawab. “Karena kami belum resmi menjadi prajurit Kerajaan Arans.”Beberapa peserta langsung saling berpandangan.Mikael melanjutkan, “Kami memang mengikuti seluruh rangkaian seleksi. Kami juga bersedia mengikuti perintah selama tes berlangsung. Tapi secara teknis, kami belum mengenakan seragam sebagai prajurit Arans.”Sean tidak menyela dan membiarkan Mikael terus berbicara.“Artinya, kami masih warga sipil,” lanjut Mikael. “Dan sebagai warga sipil, kami seharusnya dilindungi oleh kerajaan, bukan dikirim ke wilayah perang, Wakil Jenderal Henley.”Lapangan mendadak sunyi sek
Malam menyelimuti Istana Kerajaan Arans ketika Sean Henley masih berada di dalam ruang kendali bersama dengan beberapa ahli IT terbaik di kerajaan itu. Dia mendampingi mereka untuk membuat sistemnya berjalan dengan lancar untuk esok hari. Setelah selesai dia bergegas menuju ke kediaman raja lagi.Penjaga segera membuka pintu besar ketika melihat Wakil Jenderal Henley datang. Di dalam ruangan, Raja Philip masih duduk membaca laporan dari berbagai wilayah. Pria berambut keemasan itu mengangkat kepala dan tersenyum tipis.“Masih bekerja selarut ini, Sean?”“Ada sesuatu yang harus saya laporkan, Yang Mulia.”Sean meletakkan rancangan tes di atas meja. Raja Philip membacanya perlahan, mulai dari tujuan operasi, pembagian regu, hingga lokasi konflik yang akan digunakan sebagai medan ujian.Ruangan menjadi sunyi beberapa saat.“Jadi babak ketujuh bukan lagi simulasi?” ujar sang raja.“Benar. Mereka akan mendampingi pasukan Arans di Valen di bawah pengawasan prajurit kelas satu.”Raja Philip
Howard masih menatap Sean seolah berharap pria itu sedang bercanda.Ruangan kembali sunyi. Bahkan Kevin yang biasanya paling banyak bicara memilih menunggu jawaban dari Wakil Jenderal Henley.Sean menarik napas pelan sebelum merapikan peta di atas meja.“Aku setuju dengan usulan Gian.”Kalimat itu jatuh begitu tenang, tetapi dampaknya terasa seperti batu yang menghantam permukaan danau.Kevin spontan menepuk meja dengan ekspresi cerah. “Ha! Aku tahu itu.”Jay menahan senyum, lalu menoleh ke arah Gian. Prajurit ahli pengintaian itu hanya mengangguk kecil, seolah keputusan itu memang sudah diperkirakan sejak awal.Sebaliknya, Howard langsung berdiri. “Sean, coba pikirkan lagi.”Nada suaranya jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Bukan lagi perdebatan biasa, melainkan kekhawatiran seorang prajurit senior yang pernah kehilangan banyak anak buah di medan perang.“Mereka masih calon prajurit,” lanjut Howard. “Belum semua pernah menghunus pedang di pertempuran sungguhan.”Sean menatapnya ta
Keheningan masih menyelimuti ruang rapat Divisi Kelas Satu.Sepuluh pasang mata tertuju pada peta pegunungan yang terbentang di atas meja, sementara Sean tetap berdiri di ujung ruangan dengan kedua tangan bertumpu pada permukaan kayu.“Baik,” ucap Sean akhirnya. “Siapa pun boleh mengusulkan ide. Jangan pikirkan pangkat atau senioritas, karena hari ini kita mencari tes terbaik, bukan pendapat yang paling aman.”Kevin mengangkat tangan lebih dulu, “Kalau tujuannya menemukan prajurit terbaik, menurutku kita harus memperpanjang durasi ujian, Sean.”Sean mengangguk pelan, memberi isyarat agar Kevin melanjutkan, “Babak ketujuh dibuat selama satu hari penuh. Peserta dibagi menjadi kelompok kecil, lalu mereka harus bertahan hidup di pegunungan tanpa logistik dari kerajaan.”Beberapa prajurit mengangguk setuju.Kevin menambahkan, “Mereka harus mencari makanan sendiri, membuat tempat berlindung, dan mencapai titik akhir dengan anggota kelompok yang masih lengkap.”Ruangan kembali hening. Sean b
Sean masih menatap lencana emas yang berada di tangan Raja Philip.Ruangan itu begitu sunyi hingga suara embusan napas terdengar jelas. Bahkan Neil Roth pun belum mengucapkan sepatah kata sejak tawaran itu keluar dari mulut sang raja.Mikael Avery memang sudah pergi agak lama. Tapi, selama ini sang raja tidak pernah sekalipun menyinggung soal itu. Philip melangkah satu langkah mendekat.“Bagaimana jawabanmu, Wakil Jenderal Henley?”Sean menundukkan kepala sejenak. Bukan karena ragu menerima perintah, melainkan karena dia memahami arti lencana itu lebih baik daripada siapa pun di ruangan ini.Jabatan Jenderal Perang bukan sekadar pangkat.Itu adalah simbol orang yang memimpin seluruh angkatan bersenjata Kerajaan Arans.Sean akhirnya mengangkat kepalanya.“Saya menerima perintah untuk mengganti tes ketujuh, Yang Mulia.”Philip mengangguk pelan.“Tetapi…” Sean menarik napas. “Saya menolak tawaran menjadi Jenderal Perang.”Ruangan seketika membeku.Neil membelalak lebih dulu.“Apa?”"Wa
Ruang kerja Raja kembali tenggelam dalam keheningan.Sean Henley memandang Raja Philip selama beberapa detik.“Yang Mulia… apakah maksud Anda benar-benar ingin mengganti tes ketujuh secara total?” tanyanya hati-hati.Philip terdiam. Tatapannya tampak tenang, seolah pertanyaan itu sudah dipikirkannya jauh sebelum hari ini. Justru diamnya membuat Sean semakin yakin bahwa sang raja tidak sedang bercanda.Sean menarik napas pelan. “Kalau saya boleh menyampaikan pendapat, waktunya terlalu dekat, Yang Mulia”Neil melirik Sean tanpa berkata apa pun.Sean melanjutkan, “Babak keenam hampir selesai. Para komandan sudah menerima jadwal, logistik juga disiapkan berdasarkan rancangan awal. Jika tes terakhir diubah sekarang, seluruh divisi harus bekerja ulang.”“Itu berarti tidak mungkin?” tanya Philip.“Bukan tidak mungkin,” jawab Sean cepat. “Tetapi risikonya besar, Yang Mulia. Kesalahan kecil bisa membuat ujian menjadi tidak adil bagi para peserta.”Ruangan pun kembali sunyi.Neil Roth menutup
“Ayah, apa kau … yakin ini tidak akan menimbulkan masalah?” Jenna bertanya dengan nada khawatir saat dia melihat ayahnya meminta istrinya untuk menaruh racun di makanan. Bobby mendecakkan lidah, “Tidak akan. Orang hanya akan berpikir kalau dia overdosis obat. Dia baru saja keluar dari rumah sakit,
“Ten-tentu saja.”Begitu Jonah setuju, Mikael segera berganti pakaian dan membereskan beberapa barang-barangnya. Jonah tertegun dan berkedip beberapa kali saat melihat bagaimana Mikael bertindak. Di tengah perjalanan, Jonah berulang kali melirik ke arah Mikael dengan dahi mengerut. “Ada apa?” Mik
Meskipun Mikael ingin segera mencari tahu soal itu, dia tentu tidak bisa melakukannya saat itu juga. Dia masih harus menyesuaikan diri dengan tubuh barunya dan mempelajari area baru di sekitarnya.Dia tidak tahu waktu saat itu dan tidak tahu apa yang telah terjadi ataupun sedang terjadi di dunia. D
Mikael Avery merasa kepalanya begitu sakit, sedang sekujur tubuhnya juga terasa kaku. Ditambah lagi, matanya pun terasa berat untuk dibuka.“Dokter, apa dia sudah mati?” suara dingin terdengar olehnya.‘Suara siapa ini?’ Mikael hanya bisa berkata dalam hati.Dikarenakan dia belum bisa memberikan rea







