เข้าสู่ระบบ“Habisi dia!” Liza Brown yang berdiri di belakang suaminya ikut menyemangati beberapa pengawal itu.
Wanita itu terlihat tidak sabar melihat menantu laki-lakinya itu terbunuh.
Sementara Mikael dengan santai malah menoleh ke arah istrinya, “Jenna, keluargamu sampai berbuat seperti ini hanya karena ingin menyingkirkan aku?”
“Apa … kau yakin kau tidak akan menyesal?” lanjut Mikael.
Bibir Jenna bergetar.
Tiba-tiba saja sebuah keraguan muncul di dalam hatinya.
Memang dia tidak pernah mencintai suaminya itu. Bahkan, dia senang saat Mikael kecelakaan sampai akhirnya tidak sadarkan diri.
Dia juga ingin segera bercerai dari Mikael dan menikah dengan lelaki impiannya, Jack Rolland. Tapi, belakangan perubahan Mikael membuatnya terkejut dan merasa aneh. Dia seperti sedikit memiliki ketidakrelaan melihat Mikael tidak tertarik kepadanya lagi.
Bobby yang telah muak menghadapi menantu laki-lakinya yang tidak berguna itu berteriak, “Jenna, kau tak perlu mendengarkan dia. Pengawal, cepat hajar dia.”
Enam pengawal itu pun mulai menyerang Mikael yang tak memiliki satu senjata pun.
Tiga di antara pengawal itu berniat memukul perut dan dada Mikael, tapi ketiganya berhasil dilumpuhkan oleh Mikael hanya dalam beberapa detik saja.
Bobby ternganga, seolah tak percaya melihat bahwa para pengawal yang dia anggap handal dan kuat itu malah dengan mudah bisa dikalahkan oleh Mikael yang selalu dianggapnya sebagai menantu pecundang.
Liza di sisi lain langsung menarik tangan Jenna dan mengajak putrinya itu untuk bergerak ke bagian pintu.
Ketiga pengawal tersisa saling lempar pandang, terlihat agak terkejut tapi mereka dengan segera melakukan serangan balik pada Mikael.
Namun, lagi-lagi serangan tersebut tidak berarti apa-apa bagi Mikael. Walaupun mereka menggunakan beberapa senjata sekaligus, Mikael bisa dengan begitu mudahnya melumpuhkan mereka semua hingga keenam pengawal itu tergeletak di lantai tak berdaya.
Wajah Bobby memucat.
“Sialan! Kau … bagaimana bisa kau mengalahkan mereka?”
Liza yang semula angkuh juga telah gemetar ketakutan sambil memeluk putrinya.
“Kau bahkan baru saja bangun dari koma hari ini. Bagaimana mungkin sekarang kau bisa sekuat itu? Apa kau … menggunakan obat terlarang? Awas saja, aku akan menghubungi polisi untuk menangkapmu.” Bobby dengan cepat mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Tapi, Mikael jauh lebih cepat daripada dia. Secepat kilat, Mikael berhasil mengambil ponsel itu dari tangan Bobby.
Bobby membeku dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
“Kau … apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” ucap Bobby.
Mikael tersenyum tipis, “Kau sudah tahu jawabannya.”
Bobby menggelengkan kepala.
“Omong-omong, jika ada polisi yang datang ke sini … bukan aku yang akan tertangkap tapi kau yang telah melakukan perencanaan pembunuhan terhadapku.”
Bobby merasa tubuhnya seketika menjadi lemas. Dia menatap menantu laki-lakinya yang benar-benar terlihat jauh berbeda daripada yang biasanya.
Mikael yang dulu tidak mungkin berani melakukan hal ini kepadanya. Tapi, Mikael yang sekarang ini berdiri di depannya seolah-olah tak takut akan hal apapun.
Pria ini seperti bukan pria pecundang yang selama ini dia kenal. Pria ini seperti orang baru yang tidak sedikitpun memiliki ketakutan di dalam dirinya.
“Tuan Brown, kenapa kau harus repot-repot melakukan semua ini? Kau ingin aku menceraikan putrimu, aku sudah setuju. Mengapa kau harus mencoba untuk membunuhku?” Mikael menaikkan alis kanan sambil masih memainkan ponsel milik Bobby.
Bobby tidak menanggapi dan hanya mencoba untuk menenangkan diri karena terlalu terkejut.
Sedangkan Jenna yang ketakutannya sudah mulai sedikit agak mereda akhirnya angkat suara, “Mike, kalau kau memang setuju bercerai denganku, mengapa kau harus mengajukan sebuah syarat?”
“Syarat?”
“Kau meminta jam tangan tua yang sudah tidak berguna itu.”
“Itu milikku. Ayahmu menyitanya hanya karena aku melakukan sebuah kesalahan dulu. Sekarang … aku akan segera bercerai darimu, mengapa dia masih menyimpan barang yang bukan miliknya?” balas Mikael dingin.
Jenna tertawa mengejek yang dia maksudkan agar Mikael tidak mempermasalahkan barang itu, “Ayolah, Mike. Itu bukan barang yang berharga mahal. Tidak seharusnya kau sampai seperti ini hanya demi mendapatkan barang itu.”
Mikael mendengus.
Jika jam tangan tua itu memang hanyalah jam biasa, dia pasti juga tidak akan melakukan hal semacam ini.
Masalahnya adalah jam tangan tua itu milik anggota keluarganya dan itu juga merupakan salah satu barang yang bisa menghubungkannya dengan keluarganya.
Mikael Avery tidak bisa membiarkan Mikael Summer kehilangan benda yang begitu berarti baginya itu.
“Jenna, bukan urusanmu apakah benda itu adalah benda berharga atau tidak. Aku hanya ingin ayahmu mengembalikannya kepadaku,” Mikael berkata dengan nada dingin.
Jenna menelan ludah. “Bagaimana jika barang itu tidak bisa kau dapatkan lagi?”
Mikael mengerutkan kening, “Memang kenapa tidak bisa?”
Jenna terdiam dan kini melirik ayahnya yang tampak masih terlihat begitu kebingungan.
Mikael yang memperhatikan sikap kedua orang itu pun akhirnya memahami sebuah hal. “Ah, jadi jam tangan milikku tak ada di tanganmu, Tuan Brown?”
Bobby merasa nyawanya kini telah melayang.
Dengan cepat Mikael langsung menyentuh bahu ayah mertuanya itu. Bobby memekik kaget tapi tidak berani bergerak karena menurutnya menantu laki-lakinya saat ini terlihat begitu sangat berbahaya.
“Jadi, di mana jam tangan itu sekarang, Tuan Brown?”
Bobby membasahi bibir, terlihat begitu takut.
“Kau membuangnya atau bagaimana? Katakan padaku!” desak Mikael.
Liza yang sedari tadi tidak berani berbicara pun berteriak, “Hei, apa sih pentingnya jam tangan tua yang tidak ada nilainya itu?”
“Itu bukan urusanmu, Nyonya Brown.” Mikael menjawab dengan tatapan tajam ke arah ibu mertuanya itu.
“Ayo, Tuan Brown. Katakan apa yang sebenarnya terjadi sampai jam tangan tua milikku itu tak ada bersamamu lagi!” titah Mikael.
Bobby mulai bimbang. Dia melirik ke arah lantai di mana para pengawalnya yang tergeletak tidak berdaya dan bahkan dia tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak.
Bobby rasa nyawanya juga bisa saja hilang saat itu jika Mikael tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Jam tangan itu … aku lupa menaruhnya.”
Mikael mengerutkan, tampak tidak percaya.
“Aku tidak berbohong. Aku … memiliki banyak barang dan lagi pula jam tangan tua itu telah lama aku sita. Aku … tidak ingat menyimpannya di mana.” Bobby menjelaskan tanpa berani menatap kearah Mikael.
Mikael mengamati perubahan sikap Bobby yang jelas menunjukkan bahwa pria itu sedang berbohong.
Dia telah bertemu dengan begitu banyak orang seperti Bobby. Pengalaman mengajarkannya untuk selalu melihat sebuah masalah dari beberapa sudut.
Dan ketika dia melihat bagaimana reaksi Bobby, jelas memang barang itu tak ada di tangannya.
Pria itu tidak berbohong soal ketiadaan benda itu tapi dia menyembunyikan sebuah rahasia.
“Baiklah, kalau begitu jam tiga sore besok.”
Liza melongo.
Jenna yang juga tidak paham pun membuka mulutnya lagi, “Apa maksudnya jam tiga sore besok?”
Mikael dengan santai menoleh ke arah istrinya, “Aku akan tanda tangan surat cerai yang kau inginkan itu jika jam tangan tua itu bisa kembali ke tanganku sebelum jam tiga sore besok.”
Mata Jenna melebar, “Dan bagaimana jika barang itu tetap tak bisa ditemukan? Apa kau tidak akan mau tanda tangan surat cerai itu, Mikael?”
Mikael terdiam cukup lama.Diana masih berdiri di hadapannya, sementara Jake memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh curiga.Akhirnya Mikael mengembuskan napas.Mikael menatap mereka bergantian, “Diana, kau... tidak mengenali kakakmu sendiri?”Diana membeku.Jake langsung mengernyit, “Jangan bercanda.”“Aku tidak bercanda.”Mikael duduk di atas peti kayu tua yang berada di dekatnya. “Aku tahu cerita ini terdengar gila. Bahkan kalau aku berada di posisi kalian, mungkin aku juga tidak akan mempercayainya.”Dia menatap kedua orang di depannya, “Setelah aku dibunuh pengawal-pengawal suruhan raja, aku...”“...terbangun di tubuh Mikael Summer.”Diana menahan napas.Tidak ada yang berbicara.Mikael kemudian menceritakan semuanya.Tentang kematiannya. Tentang bagaimana dia membuka mata dan mendapati dirinya berada di tubuh seorang pemuda bernama Mikael Summer. Tentang enam babak seleksi yang harus dia lalui, hingga akhirnya dia bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu menjadi bag
Mikael tidak menjawab pertanyaan Diana.Dia justru berjalan mendekati pintu kamar lalu menempelkan telinga pada permukaannya. Tidak terdengar langkah kaki ataupun suara percakapan dari luar.“Kita harus segera keluar dari istana.”Diana masih memandangnya dengan penuh tanda tanya.“Mikael, aku bertanya bagaimana kau bisa tahu tentang Moonvale.”“Ya, aku tahu.”“Itu bukan jawaban.”“Aku akan menjelaskannya nanti, Diana.”Diana mengerutkan kening, “Kapan?”“Setelah kita keluar dari sini.”Jake yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara, “Untuk pertama kalinya aku setuju dengannya.”Diana menoleh.Jake mengangkat bahu, “Kalau penjaga menemukan kita di kamar ini, kurasa kita tidak akan punya kesempatan untuk membahas apa pun.”Diana terdiam. Mau tidak mau, perkataan Jake masuk akal.Mikael membuka pintu kamar sedikit dan mengintip ke luar. Setelah memastikan lorong kosong, dia memberi isyarat kepada mereka, “Sekarang.”Diana segera mengambil mantel tipis yang tergantung di dekat tempat
Mikael hanya tersenyum tipis.Dia tidak menjawab pertanyaan Jake. Pemuda itu justru berjalan menuju pintu dan memeriksa lorong di luar sebelum kembali menoleh. “Kita tidak punya banyak waktu.”Jake mengerutkan kening, “Maksudmu?”“Diana masih ada di istana.”Nama itu langsung membuat ekspresi Jake berubah. Jake tidak bertanya lagi. Dia segera mengikuti Mikael keluar dari bangunan kosong itu.Keduanya bergerak melalui jalur belakang istana, memilih lorong yang jarang dilewati para prajurit. Mikael beberapa kali berhenti untuk memastikan keadaan aman sebelum melanjutkan perjalanan.Jake berjalan di belakangnya sambil memperhatikan setiap sudut. Dia masih belum sepenuhnya percaya kepada pemuda ini.Namun setelah dibebaskan dari Penjara A, Jake tahu bahwa Mikael bukan orang biasa. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di belakang kediaman keluarga Avery.Mikael berhenti di dekat sebuah bangunan kecil yang hampir tertutup tanaman merambat. Jake memandang tempat itu dengan heran.“Ini apa?”
Mikael menatap Sean tanpa menghindari tatapan sang Wakil Jenderal.“Saya hanya sedang melindungi diri sendiri, Wakil Jenderal Henley.”Beberapa orang kembali berbisik.Namun Sean tidak menunjukkan perubahan apa pun. Dia hanya menatap Mikael selama beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan kepada seluruh barisan.“Kalau begitu, kau boleh melindungi dirimu sendiri.” Nada suaranya datar.“Tapi tes ketujuh tetap dilanjutkan.”Mikael terdiam.Sean kembali naik ke panggung dan memberikan beberapa instruksi kepada para prajurit kelas satu. Tidak ada perdebatan lagi. Tidak ada usaha untuk membujuk Mikael agar kembali masuk ke dalam barisan.Keputusan Raja sudah dibuat. Tes terakhir akan tetap berlangsung.Para calon prajurit yang masih bertahan segera diarahkan menuju tempat persiapan. Sebagian tampak tegang, sebagian lain justru bersemangat karena merasa memiliki kesempatan untuk membuktikan diri.Tidak seorang pun berani memberikan komentar setelah melihat sikap Sean. Bahkan Kevin, Jay,
Tawa yang semula memenuhi lapangan perlahan mereda ketika Mikael tidak menunjukkan sedikit pun keinginan untuk membalas ejekan. Dia tetap berdiri tegak di tempatnya, membiarkan ratusan pasang mata mengarah kepadanya.Sean menyipitkan mata. “Jadi benar kau takut?”Mikael mengangkat dagunya sedikit. “Saya tidak takut perang, Wakil Jenderal Henley.”“Lalu kenapa kau keberatan, Summer?”Mikael menarik napas sebelum menjawab. “Karena kami belum resmi menjadi prajurit Kerajaan Arans.”Beberapa peserta langsung saling berpandangan.Mikael melanjutkan, “Kami memang mengikuti seluruh rangkaian seleksi. Kami juga bersedia mengikuti perintah selama tes berlangsung. Tapi secara teknis, kami belum mengenakan seragam sebagai prajurit Arans.”Sean tidak menyela dan membiarkan Mikael terus berbicara.“Artinya, kami masih warga sipil,” lanjut Mikael. “Dan sebagai warga sipil, kami seharusnya dilindungi oleh kerajaan, bukan dikirim ke wilayah perang, Wakil Jenderal Henley.”Lapangan mendadak sunyi sek
Malam menyelimuti Istana Kerajaan Arans ketika Sean Henley masih berada di dalam ruang kendali bersama dengan beberapa ahli IT terbaik di kerajaan itu. Dia mendampingi mereka untuk membuat sistemnya berjalan dengan lancar untuk esok hari. Setelah selesai dia bergegas menuju ke kediaman raja lagi.Penjaga segera membuka pintu besar ketika melihat Wakil Jenderal Henley datang. Di dalam ruangan, Raja Philip masih duduk membaca laporan dari berbagai wilayah. Pria berambut keemasan itu mengangkat kepala dan tersenyum tipis.“Masih bekerja selarut ini, Sean?”“Ada sesuatu yang harus saya laporkan, Yang Mulia.”Sean meletakkan rancangan tes di atas meja. Raja Philip membacanya perlahan, mulai dari tujuan operasi, pembagian regu, hingga lokasi konflik yang akan digunakan sebagai medan ujian.Ruangan menjadi sunyi beberapa saat.“Jadi babak ketujuh bukan lagi simulasi?” ujar sang raja.“Benar. Mereka akan mendampingi pasukan Arans di Valen di bawah pengawasan prajurit kelas satu.”Raja Philip
Mikael tidak menjawab pertanyaan istrinya dan malah tersenyum misterius. Pria itu menoleh ke arah mertua laki-lakinya, “Tuan Brown, sebaiknya kau segera mencari jam tangan tua milikku itu. Kalau tidak, kau … mungkin tidak akan berani membayangkan apa yang bisa aku lakukan.”Setelah berkata demikian
“Ayah, apa kau … yakin ini tidak akan menimbulkan masalah?” Jenna bertanya dengan nada khawatir saat dia melihat ayahnya meminta istrinya untuk menaruh racun di makanan. Bobby mendecakkan lidah, “Tidak akan. Orang hanya akan berpikir kalau dia overdosis obat. Dia baru saja keluar dari rumah sakit,
“Ten-tentu saja.”Begitu Jonah setuju, Mikael segera berganti pakaian dan membereskan beberapa barang-barangnya. Jonah tertegun dan berkedip beberapa kali saat melihat bagaimana Mikael bertindak. Di tengah perjalanan, Jonah berulang kali melirik ke arah Mikael dengan dahi mengerut. “Ada apa?” Mik
Meskipun Mikael ingin segera mencari tahu soal itu, dia tentu tidak bisa melakukannya saat itu juga. Dia masih harus menyesuaikan diri dengan tubuh barunya dan mempelajari area baru di sekitarnya.Dia tidak tahu waktu saat itu dan tidak tahu apa yang telah terjadi ataupun sedang terjadi di dunia. D







