Share

Bab 8

Penulis: Mami ice bear
last update Tanggal publikasi: 2026-10-11 17:42:43
"Kamu nampar aku, Mas?" Laras memandangi wajah suaminya yang tampak tanpa beban.

"A-anu, Ras. Aku—"

"Aku cuma tanya, uangnya dari mana, kalo kamu mau beliin Rika sepatu. Bukannya Mas bilang simpanan di rekening tinggal sedikit?"

Fahri terdiam. Tapi bukannya karena tersentuh oleh ucapan sang istri melainkan karena telapak tangannya yang terasa panas.

"Kalo nanti mobilmu perlu ke bengkel lagi, gimana?" lanjut Laras.

​”Alaaahh… bisa diatur itu!" potong Fahri cepat dengan nada tidak saba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 12

    "Belum, Rika. Uang dari Mas Fahri cuma tiga puluh ribu. Cuma cukup buat beli setengah butir kelapa dan satu ikat kacang panjang. Bahan yang lain tidak cukup uangnya." ​Ibu mertua yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa langsung mendelik tajam. "Tiga puluh ribu? Kamu jangan bohong ya, Laras! Fahri tadi pagi telepon Ibu, katanya dia udah kasih kamu duit buat belanja bahan urap arisan!" ​"Mas Fahri emang kasih duit, Bu. Tapi ya jatah harian buat kita, nggak kasih duit tambahan buat arisan Ibu," sahut Laras lembut, matanya menatap lurus sang ibu mertua. "Kalau Ibu nggak percaya, Ibu bisa cek dompet di atas lemari es. Uangnya masih utuh, tuh!" ​"Halah! Kamu ini emang pinter banget cari alasan!" cibir Ibu mertua seraya meletakkan tas tangannya dengan kasar ke atas meja. "Fahri itu anak berbakti, mana mungkin dia boong sama ibunya sendiri! Kamu aja yang nggak mau repot bantu acara arisan keluar

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 11

    "Kamu masih tanya kenapa harus kamu? Seriusan kamu tanya begini, Ras?" cecar Fahri dengan mulut penuh makanan. "Ya iyalah, Mas. Aku serius!" tutur Laras sembari menatap lurus ke arah sang suami. "Kan Ibu juga bisa masak urap. Terus ada Rika yang bisa bantuin Ibu. Tapi kenapa harus repot-repot ke sini dan suruh aku masak? Kan malah jadi buang waktu." "Lagian, masak apa tadi, urap?" tanya Laras. "Bahan-bahannya emang udah ada? Kok, Ibu pake nyuruh aku segala." "Ya kamu beli di pasar kaget, lah! Pake duit belanja harian!" jawab Fahri santai. "Kelapa parut, sayur-sayuran, sama bumbu dapur kan murah. Jangan bikin malu aku di depan Ibu. Kayak seolah aku nggak pernah kasih kamu duit." "Duit belanja dari kamu hari ini kan cuma tiga puluh ribu, sama seperti hari biasanya," ujar Laras pelan. "Itu ya cuma cukup buat makan kita nanti malam, Mas. Kalo sama buat bikin urap, ya jelas nggak cukup, lah!" Fahri meletakkan sendoknya hingga berdentang keras di atas piring. "Laras! Kamu bisa ngga

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 10

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi udara menyapu wajah Fahri yang tampak lusuh. Pria itu keluar dari kamar tidur dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Sepanjang malam, Fahri hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dering peringatan bayangan terngiang di kepalanya, dadanya berdegup kencang karena membayangkan mobil kesayangannya didatangi tim penagih dan akan ditarik. Lalu bagaimana jika leasing mendatangi kantornya? Mau ditaruh mana muka laki-laki itu? Di sisi lain, Laras sudah berdiri di dekat kompor, menata dua piring nasi goreng tanpa telur—hanya berbumbu garam, bawang putih, dan irisan cabai rawit. "Kamu mau kopi, Mas?" tanya Laras tenang, suaranya halus seolah percekcokan hebat semalam tidak pernah terjadi. Fahri tak menjawab. Ia langsung menyambar ponsel yang tergeletak di meja dapur, lalu menekan tombol daya dengan jemari gemetar. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung memenuhi panel atas. Panggilan tak terjawab dari leasing, ti

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 9

    Ponsel di tangan Fahri terus bergetar dengan dering yang kian nyaring, memantulkan nama agen penagih di layarnya. Jemari Fahri gemetar. Dengan gerakan panik dan kikuk, ia menekan tombol daya hingga layar itu mendadak mati total, memutuskan sambungan secara paksa. ​"Kenapa dimatiin, Mas?" tanya Laras pelan. "Bukannya makin bahaya kalo telepon dari pihak leasing nggak diangkat?" ​"Kamu tahu apa soal beginian, Ras?!" pangkas Fahri dengan napas memburu. Ia menarik kursi kayu dan mendaratkan tubuhnya dengan kasar. "Kalo diangkat malam-malam begini, mereka itu mau neror aku! Dan sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir!" ​Laras tidak menjawab. Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya tepat di hadapan Fahri. ​Fahri menyambar gelas itu, menenggaknya hingga tersisa separuh. Keringat dingin nampak membasahi pelipis dan dahi pria itu, memudarkan sisa-sisa wibawa yang sejak pagi ia pamerkan. ​"Pasti ada yang salah sama sistem bank," gumam Fahri pada dirinya sendiri,

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 8

    "Kamu nampar aku, Mas?" Laras memandangi wajah suaminya yang tampak tanpa beban. "A-anu, Ras. Aku—" "Aku cuma tanya, uangnya dari mana, kalo kamu mau beliin Rika sepatu. Bukannya Mas bilang simpanan di rekening tinggal sedikit?" Fahri terdiam. Tapi bukannya karena tersentuh oleh ucapan sang istri melainkan karena telapak tangannya yang terasa panas. "Kalo nanti mobilmu perlu ke bengkel lagi, gimana?" lanjut Laras. ​”Alaaahh… bisa diatur itu!" potong Fahri cepat dengan nada tidak sabar. "Mungkin jatah belanja kamu minggu depan dikurangi sedikit. Biar kamu makin pintar putar otak pas belanja di pasar kaget. Tiga puluh ribu sehari aja masih bisa makan tempe dan sayur bayam, kan?" ​Laras tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, memberikan reaksi pasif yang selalu membuat Fahri merasa menang dan memegang kendali penuh atas rumah tangga mereka. ​Fahri kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, berniat mengecek media sosial atau grup obrolan kantor sebelum tidur

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Kebahagiaan Ibu harga mati!

    ​Pukul delapan malam, suara deru sepeda motor Fahri terdengar berhenti di halaman. ​Laras membukakan pintu. Suaminya melangkah masuk membawa dua kantong plastik berlogo Sate Bar-bar Viral yang aromanya menyeruak gurih memenuhi seluruh ruangan. ​Fahri meletakkan kantong plastik itu di atas meja makan dengan wajah berbinar. "Untung antriannya nggak terlalu panjang. Ibu sama Rika pasti seneng banget." ​Laras mengamati isi kantong tersebut. Ada empat kotak sate di dalamnya. ​"Mas beli empat porsi?" tanya Laras. ​Fahri melirik Laras sekilas, lalu mengambil dua kotak pertama dan memasukkannya kembali ke kantong plastik terpisah. "Nggak. Ini tiga porsi buat Ibu, Rika, sama Mas. Mas mau makan di rumah Ibu sekalian ngobrol." ​Laras menatap kotak keempat yang tersisa di atas meja. "Yang satu lagi?" ​"Oh, ini porsi ekstra punya Rika, katanya mau dibawa buat teman kuliahnya besok," jawab Fahri santai, tanpa sedikit pun merasa canggung. Ia merapikan kantong plastik yang akan dibawany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status