Share

92. Hambar

Penulis: Dwrite
last update Tanggal publikasi: 2026-07-04 15:47:53

" ... I am Andina Julianti, thank you for the opportunity."

Tepuk tangan dari seisi kelas mengiringi berakhirnya pidatoku yang juga menandakan selesainya materi siang ini.

"Gila mantep speech you, Din." Entin yang memberikan applause paling heboh langsung

menghampiri.

Aku tersenyum bangga sambil mengedikkan bahu.

"Muehehe, soalnya weekend kemaren habis praktek langsung sama pengusaha beneran," akuku sambil tersipu malu.

Hal itu mengingatkan kembali pada acara privat party yang kuhadiri ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Arti Sebuah Keluarga

    Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Meluapkan Perasaan

    Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Rapuh

    Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Nikmat Sesaat

    "Aku nggak bilang kamu nggak boleh bahagia. Aku cuma minta kamu jangan mengorbankan anak-anak demi kebahagiaan yang belum tentu." Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tami yang tadi berada di luar ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar pembicaraan kami. Aku mengusap wajah. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu mengerti. Terlalu lama menjadi orang yang harus kuat. Terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar. "Aku capek, tahu nggak?" Suaraku perlahan pecah. "Sejak dulu aku yang mikirin kalian." Aku menatap Syafira dan Tami bergantian. "Bahkan saat orangtua kita masih lengkap. Siapa yang mikirin uang sekolah? Siapa yang berhenti mengejar hidup sendiri supaya bisa bantu Emak? Siapa yang kerja sampai badan rasanya nggak punya tenaga lagi?" Air mataku mulai jatuh. "Kalian tahu kalau aku juga punya mimpi?" Tidak ada yang menjawab. "Tahu nggak aku per

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lupa Diri

    Kuparkirkan motor di halaman rumah di sebuah gang kawasan Bekasi Timur. Rumah yang dulu nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu sekarang sudah jauh berubah. Dindingnya telah dicat ulang, lantainya diganti, ruang tamunya memiliki perabot yang lebih layak, bahkan dapurnya sudah dilengkapi berbagai peralatan yang dulu hanya bisa kami lihat di televisi. Semua itu berasal dari sebagian uang warisan Zahra dan hasil investasi yang perlahan mulai memberiku kehidupan yang lebih baik. Namun, sore itu ada sesuatu yang membuatku berhenti beberapa detik sebelum masuk. Teras rumah tampak ramai. Beberapa anak muda duduk bergerombol sambil merokok dan menyeruput kopi kemasan. Musik dari salah satu ponsel terdengar samar, bercampur dengan tawa yang sesekali meledak tanpa peduli pada lingkungan sekitar. Aku mengenali beberapa wajah, tetapi sebagian besar sama sekali asing bagiku. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat tongkrongan? "Teteh!" Tami langsung ban

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Pesan Zahra

    Kuempaskan tubuh ke atas ranjang, lalu membalikan badan yang semula telungkup menjadi terlentang menatap langit-langit kamar. Lamunanku terberai, membuka kembali memori kenangan yang tersimpan dalam kepala selama kurang lebih dia tahun kebersamaan dengan Dara dan Kang Epen.Sesuatu yang hangat mengalir dari sudut mata saat kubuka galeri di dalam ponsel. Momen kebersamaan kami abadi dalam bentuk digital, mulai dari momen wisuda Dara saat dia membacakan puisi Bahasa Inggris dengan tema 'Ibu', lalu liburan kami ke Disneyland Singapura setahun lalu, kemudian saat mereka ke Swiss beberapa minggu lalu, hingga momen puasa dan Lebaran pertama sebagai keluarga yang terasa begitu menggetarkan dada, disaat keluargku yang semula meremehkan kini balik menghormati. Bahkan kehadiran kami ditunggu-tunggu keluarga Wa Eti saat itu. Untuk apalagi kalau bukan untuk dimintai THR yang mereka harapkan paling besar.... aku mengenal seseorang yang tumbuh dengan luka. Kalian sama hanya saja hidup di dua

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   4. Buy one, get one

    "Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   3. Ganti Rugi

    Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   2. Bayar Denda

    Begitu banyak hal tak terduga dalam hidupku. Salah satunya adalah pertemuanku kembali dengan Zahra setelah hilang kontak bertahun-tahun lamanya. Bermula dari kejadian tak terduga lima tahun lalu yang memaksa kami untuk saling bertukar cerita hingga berakhir dengan meluapkan emosi bersama. Selama li

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   1. Pelacur Berkedok Istri

    "Kita lakukan sekarang! Agar tak ada lagi drama berkepanjangan tentang nafkah batin yang tak terpenuhi juga gugur kewajiban saya dalam satu malam." Meski sudah tahu hal ini akan terjadi, ucapan si Tampan dengan wajah datar tetap berhasil menyentil hati mungilku yang malang. Ikrar yang terjalin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status