เข้าสู่ระบบ"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan.
Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat kehilangan kontak dengan semua orang yang berhubungan dengan Zahra karena tak tahu nomor Mirna untuk menanyakan tentang perkembangan Dara sepeninggal Mamanya. Selama enam bulan aku juga tak berani menanyakan, mengingat kondisi Kang Epen yang kuperhatikan dari kejauhan sangat kacau dan berantakan, tanpa diduga lelaki yang mulanya sulit dijangkau dan hanya sesekali berpapasan dengan senyum tipis itu ada di hadapan sekarang dengan tingkahnya yang membingungkan. "Tepatnya Andina, Kang. Kalau Andi doang berasa saya lanang. Hehe." Aku nyengir untuk mencairkan suasana. Tapi, sialnya dia tak tertawa. Wajahnya masih sedatar sebelumnya. "Terserah. Yang pasti seminggu dari sekarang kita menikah!" "Hah?" Hanya kata itu yang mampu keluar. Aku ngang ngong ngang ngong karena bingung dan heran ada orang ngajak kawin kayak ngajak beli seblak. Enteng banget muncungnya. "Kamu kenal saya, kan?" Kalimat itu ditekankan seolah-olah dia tak menerima bantahan. "Kita beberapa kali berpapasan atau bahkan bertemu secara langsung dengan perantara Zahra. Oh iya, di pemakamannya juga saya yang memberimu tisu saat menangis meraung-raung seperti orang kerasukan." Melihat respons-ku yang demikian, dia mulai menjelaskan. Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal. "I-iya tahu. Kenal, sih. Tapi kayaknya kita nggak sedeket itu sampe bisa buat akang mendadak ngajak nikah." Dia mendengkus. "Bukan saya yang ngajak." Lah, ngelem nih orang. "Tapi, Zahra yang minta!" Aku terdiam. "Kamu nggak punya pacar, kan? Ayah-ibu masih lengkap? Sehat jasmani dan rohani? Nggak penyakitan, apalagi penyakit kelamin, kan?" Kemudian dia memberondongku dengan serentetan pertanyaan. Segala macem jasmani-rohani dipertanyakan. Nggak rohalus sekalian?! "Punten, bentar! Akang sehat, kan?" Aku memastikan kalau lelaki di hadapan tidak sedang kesurupan. "Nggak usah basa-basi dan tanya keadaan saya. Setelah kepergiaan Zahra kamu bahkan nggak akan bisa membayangkan sekacau apa hidup saya sekarang. Jadi, akhiri saja omong kosong ini. Intinya kamu mau atau enggak?" Aku tertegun sejenak, lalu menelan ludah yang terasa kering di tenggorokan. Setelah berhasil mencerna setiap informasi dari apa yang terjadi, baru aku mulai melanjutkan. "Bentar! Walaupun akang kasep dan kaya, tapi saya tetep harus memastikan dulu alasannya apa? Kenapa? Terus, kok saya?" Dengan grasak-grusuk, Kang Epen mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. "Baca!" Dengan tidak sopan dia menempelkan selembar kertas itu ke mukaku. "Saya aja nggak ngerti kenapa harus kamu!" Aku berdecak, lalu memutar bola mata sejenak dan mulai membaca isinya. Suasana hatiku langsung berubah seketika kala membaca bait demi bait goresan tangan yang dibubuhkan. Pandangaku mengabur, aku tak sanggup melanjutkan sampai tiba di bagian, "Dina udah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri. Perjalanannya dari kecil sampai dewasa sangat berat. Jadi, aku harap kamu bisa memperlakukannya dengan lebih baik." Ternyata ini memang tulisan Zahra, dan semuanya benar-benar menggambarkan curahan perasaannya. Tak menyangka ternyata ada sosok yang begitu peduli padaku. Kami bahkan tak berasal dari darah yang sama, dan memiliki ikatan persaudaraan. Tapi, yang dia lakukan lebih dari yang mampu kuterima dari saudara apalagi sosok yang yang selama ini kusebut dengan keluarga. Tiba-tiba aku teringat permintaan Zahra untuk bertemu di hari terakhirnya yang belum sempat terlaksana, karena hari itu kebetulan bertepatan dengan konflik besar keluarga yang berakhir dengan pertengkaran hebat antara aku dan orangtua, khusus Bapak. Penyesalan itu rasanya tak bisa terbendung karena besoknya kudengar kabar bahwa Zahra telah tiada. "Ja-jadi beneran Zahra yang minta?" Suaraku terdengar parau. Bahkan entah sejak kapan air mata sudah mengalir turun saat mengedipkan mata. Kang Epen membuang buka. "Ya. Cukup jawab ya atau tidak. Saya nggak akan memaksa." Aku tersenyum getir. Lamaran macam apa ini? Dia bahkan tak mau menatapku. Kutarik napas dalam, lalu meyakinkan diri bahwa pilihan yang kuambil sudah benar. Ini adalah jalan keluar dari jerat luka yang sudah membelenggu sejak lama, ini adalah satu-satunya solusi dari segala permasalahan yang berkian tahun menimpaku dan keluarga. "Saya mau." Dia bergeming. Untuk sesaat keheningan mengudara. "Tapi, pernikahan ini nggak akan berjalan seperti yang kamu bayangkan." "Saya tahu." "Setelah menikah kita pisah kamar, nggak ada yang boleh masuk ke kamar saya bila tak diminta. Kita akan menghabiskan malam pertama di hotel. Setelahnya kita bisa fokus dengan kesibukan masing-masing. Seperti yang sudah kamu tahu saya bukan pria baik-baik mungkin sampai saat ini. Pasca kepergian Zahra saya bahkan tak yakin bisa kembali jatuh cinta. Asal kamu tahu saja, sampai detik ini saya belum benar-benar bisa mengikhlaskan Zahra." Aku terdiam lama. Sebenarnya penjelasan itu terlalu panjang dan agak menyesakkan dada bila dilakukan seorang pria yang hendak mempersunting calon istrinya. Setelah berhasil menetralisir perasaan, kuembuskan napas panjang. Persetan dengan cinta, aku hanya ingin hidup lebih baik dari sebelumnya. "Saya ngerti dan udah siap dengan segala risikonya." "Baguslah." "Saya nerima juga karena tahu ini permintaan terakhir Zahra. Jadi, nggak usah ngerasa si paling berkuasa mengendalikan perasaan setiap wanita." "Saya hanya mengantisipasi, siapa tahu suatu saat nanti kamu baper dan menuntut untuk dicintai." "Tenang aja, masalah hati nomber sekian di kamus saya. Tapi kalau tentang warisan yang Zahra janjikan di suratnya ... bolehkan saya pertanyakan?" "Sudah diduga, pantas saja dari awal saya ragu dan memilih menunda sampai setengah tahun untuk mengatakannya." Dia menatapku sinis seolah-olah hanya aku yang paling matre di sini. "Ya, keputusan saya kembalikan lagi kepada akang. Kalau misal mau dibatalkan silakan. Paling hidup Anda nggak tentang, bawa wasiat itu berat, Kang. Lebih berat daripada rindunya si Dahlan." "Kenapa jadi kamu yang mengintimidasi? Ah, sudahlah. Hubungi orang tuamu, dan minta mereka datang lebih awal sebelum pernikahan kita. Masalah warisan kita bahas lagi setelah pernikahan disahkan, bersama lawyer nanti." "Siaaap." ***Derai tawa mengiringi langkah mungil seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang tengah menggocek bola. Di pelataran luas yang telah disulap menjadi lapangan, Evan bermain dengan sopir dan tukang kebunnya. Kebahagian sederhana yang dirasa membawa roda pada wajah tampan yang sering kali terlihat muram bila tengah berhadapan dengan ayahnya. "Oper sini, Pa--" Seketika suara Evan tercekat di tenggorokan saat bola yang hendak dioper sopir padanya malah berhenti di depan mobil yang baru saja parkir. Sebuah sepatu mengkilat keluar dari dalamnya. Pria tampan berusia awal 40-an dengan setelan necis itu membungkuk meraih bola. Di menatap satu per satu dari mereka dan berhenti pada Evan yang langsung menunduk tak berani menatapnya. "Jadi kau sengaja melewatkan les Bahasa Inggrismu hanya untuk bermain-main dengan para kacung ini?" Kepala Evan yang sudah menunduk semakin merunduk, tubuhnya gemetar hebat saat berucap. "A-Aku hanya mi-minta 1 jam dari 15 jam waktu yang kuhabiskan
Di sebuah rumah sakit swasta daerah Samarinda, Kalimantan, Ferdy Gunawan menunggu di luar ruang persalinan dengan gelisah. Detak jantungnya semakin cepat ketika dokter datang membawakan kabar. Istrinya, Monica Indah Nasution, akan segera melahirkan di usia kandungan yang belum genap sembilan bulan. Anak mereka harus lahir secara prematur melalui operasi caesar.Di dalam ruang bersalin, Monica berjuang melalui kontraksi dan kelelahan luar biasa. Namun, kilatan kebahagiaan masih tetap menyala di matanya setiap kali ia berpandangan dengan Ferdy. Tak bisa dipungkiri bahwa momen ini sudah mereka nanti bertahun-tahun lamanya, dan keajaiban terjadi di usia Monica yang ke 35 tahun saat dokter mengatakan bahwa program bayi tabung yang sudah mereka jalani selama 5 tahun terakhir akhirnya berhasil. Ini adalah buat dari perjuangan dan pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya.Ketika waktu melahirkan tiba, dokter yang hadir mencatat ketidakberesan. Terjadi komplikasi yang membahayakan ny
"Istrimu tadi sempat nanya. Katanya apa masih ada kemungkinan hamil setelah vasektomi?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya, kujawab apa adanya. Kalau nggak ada teknologi dan kemampuan dokter manapun yang bisa menandingin kuasa Tuhan." "Katamu prosedur ini paling efektif untuk mencegah kehamilan?!" "Efektif bukan berarti bisa mencegah 100% Evandi Sebastian Gunawan. Kadang otak pintarmu tak bekerja kalau berkaitan dengan hal-hal yang kau hindari. Sama halnya dengan IUD, Spiral, k*ndom, bahkan steril. Risiko untuk kebobolan akan selalu ada. Karena fungsi KB, kontrasepsi, dll itu hanya untuk mencegah, bukan menyalahi kodrat manusia untuk berekproduksi, kecuali kalau memang ada gangguan di dalam organ. Understand?" Percakapan dengan dokter Fransiska di ruang pemeriksaan kala itu terus berputar-putar di kepala Evan. Sejak setengah jam yang lalu dia masih berdiri di tempatnya memerhatikan Syafira dan Tami yang membawa barang-barang Dina keluar dari kediamannya. Evan cukup mengerti b
Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"
Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak
Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan
Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m
"Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata
"Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih







