แชร์

5. Ide gila

ผู้เขียน: Dwrite
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-24 12:23:27

"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang.

Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali.

Apa aku melakukan kesalahan?

"Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur atau kamar sebentar. Kalau pun Bapak tiba-tiba pulang, harusnya, sih kedengeran."

Aku mangut-mangut.

"Mungkin dia ada urusan dadakan."

"Mungkin." Mirna ikut menduga-duga.

Setelah membiarkan keheningan berlalu begitu saja, aku baru teringat tentang sesuatu.

"Oh, iya. Motor saya udah dibawa Mang Tarman ke bengkel, kan?"

Sebelum pergi dengan Dara dan Kang Epen tadi, aku memang sempat memeriksa kondisi Blue. Kurasa tak terlalu parah dan masih bisa diperbaiki.

"Udah, Teh. Alhamdulillah katanya masih bisa dibenerin. Yang kena cuma body-nya."

"Alhamdulillah Gusti!"

"Oh, iya. Teteh mau dibikinin sesuatu?" tawar Mirna kemudian.

"Eh, nggak usah! Kalau pun mau saya bisa bikin sendiri. Jangan perlakuin saya kayak Zahra, ya. Bilangin ke Marni dan Simbok juga. Bisa dibilang di sini kita setara walaupun statusnya beda." Ada getir yang berusaha kutelan saat menjelaskan bahwa di sini aku bukan sebenar-benarnya majikan.

Mirna menatapku dengan sorot mata yang dalam. Entah dia kasihan atau iri aku tak mengerti.

"Ya udah, kalau gitu saya tidur duluan. Nggak apa-apa, kan?"

"Nggak apa-apa atuh. Santai aja. Biar saya yang nunggu sampe Kang Epen pulang."

Mirna mengangguk pelan, dan berlalu.

Kurebahkan diri di sofa, lalu meraih ponsel dari dalam saku piama. Sejenak menatap nama yang tertera di panggilan teratas kontakku, lalu memutuskan untuk menghubunginya lagi setelah beberapa hari hanya aktif bertukar pesan.

"Halo assalamuaikum." Suara lembut dengan logat khas Sunda pelosok terdengar dari seberang, setelah dering kelima.

"Wa-waalaikumsallam." Entah kenapa tiap mendengar suaranya selalu ada luka terbuka yang selalu berusaha kututup rapat dan enyahkan.

"Kumaha, Geulis? (Gimana, Cantik?)"

"Mak, Teteh udah transfer buat lunasin SPP-nya Suci sama bayar setoran bulanan. Semoga bulan depan kita bisa mulai fokus ke bunganya dan rumah bisa ketebua lagi. Kalau ada sisa, bisa Emak pake buat kebutuhan pokok. Jangan pikirin buat bayar ke Bi Ida, yang itu udah Teteh transfer."

Keheningan menyebar yang membuat jantungku berdegup kencang menunggu tanggapan. Entah kenapa aku selalu takut tiap kali Emak tiba-tiba terbungkam. Pasti ada perih yang coba dia telan sendirian.

"Ha-hatur nuhun pisan, Geulis." Sudah kuduga suaranya bergetar, beliau pasti mati-matian menahan tangis. "Emak nggak tahu lagi harus minta tolong sama siapa. Entah gimana nasib Emak, Bapak sama adik-adik kalau nggak ada kamu. Sampein salam sama si Kasep juga, ya. Bilangin makasih banyak."

Sebenarnya dia tak berperan banyak, Mak. Hanya saja uang yang dikirimkan memang sebagian Kang Epen yang berikan dengan jumlah cukup besar. Meski terkesan seperti menjual diri pada suami sendiri, tapi aku tak peduli selama itu bisa menutupi kebutuhan hidup juga utang-utang keluargaku.

Walaupun dengan segunung beban yang ditumpahkan Emak dan Bapak di atas pundak ini, tapi aku tak pernah menyesal. Bahkan dalam dua puluh delapan tahun hidup yang dijalani, satu hal yang paling kusyukuri adalah dilahirkan sebagai anak beliau.

"Iya, nanti Dina sampein." Kuseka air mata sejenak. Aku bahkan tak yakin kapan itu keluar. "Oh, iya. Bilangin ke Fira, besok bawa motor Teteh yang di sini. Kasian, biar dia nggak cape PP naik umum dan biar lebih irit ongkosnya juga. Dari Leuwi Panjang suruh dia naik Bis Arimbi aja, nanti Teteh jemput di terminal!"

"Masya-Allah, Teh ...." Suara Emak kembali tercekat di tenggorokan. "Nggak tahu lagi Em--"

Suara bel menginterupsi percakapam kami, diiringi suara seseorang yang mengetuk pintu tak sabar.

Siapa yang bertamu malam-malam? Kalau emang itu Kang Epen, ngapain dia ngetuk pintu di rumah sendiri?

"Bentar, ya, Mak. Nanti Teteh sambung lagi."

Setelah mematikan sambungan telepon, aku langsung buru-buru berlari memburu pintu, dan cukup terkejut melihat siapa yang datang.

"Lu siapa?" tanya seorang wanita seksi yang memapah Kang Epen yang sepertinya mabuk.

"Saya?" Aku menunjuk diri.

"Is--" Dia memutar bola mata sejenak, lalu memindahkan Kang Epen padaku.

"Udah pasti pembantu. Nih, majikan lo! Nyusahin!"

Nyaris saja aku terjatuh, saat tubuh Kang Epen yang jelas jauh lebih tinggi dan besar menghadang. Namun, beruntung aku masih bisa menahannya.

"Hmm, mon maaf, kalau boleh tahu Tetehnya siapa, ya?"

"Pake nanya lagi, gue gebetannyalah. Kita kenalan di Bar, tukeran nomber.

Tapi, sebelum ngamar dia malah mabok berat terus panggil-panggil nama Zahra. Siapa yang nggak kesel coba?"

"Oh, kirain teh si Teteh Night Butterfly. Soalnya pakeannya--"

"Apa lu bilang?!" Wanita berambut kecokelatan itu berkacak pinggang.

"Nggak jadi." Aku hanya bisa nyengir, dan bergegas memapah Kang Epen menuju ke kamar.

"Hei!"

"Ya?"

Wanita itu melempar dompet Kang Epen.

"Gue dapet alamatnya dari sini. Karena di dompetnya cuma ada 200rebu, bilangin suruh transfer sisanya kalau udah sadar. Soalnya dia udah sempet gr*pe-gr*pe tadi, belum lagi gue yang anterin pulang dan nyetir tadi."

Aku mencoba mencerna sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Oke." Kembali kutatap wanita itu dari atas ke bawah. "Dibilang Kupu-kupu malam gamau, tapi udah digr*pe-gr*pe minta bayar," sambungku pelan.

"Apa lu bilang?!" Matanya yang dihiasi soflens biru melotot ke arahku.

"Ng, nggak, Teh. Nanti saya bilangin."

Setelah memastikan wanita itu pergi, dengan susah payah aku memapah Kang Epen yang sepertinya benar-benar tak sadar menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamarnya, sementara kamar Dara terletak di atas. Kenapa harus kamarku? Karena tentu saja dia bisa ngamuk kalau aku dengan lancang masuk ke dalam kamar yang dilarang itu. Entah ada apa di dalam sana. Mungkin barang terlarang? Seperti seperangkat alat jagal? Lagipula siapa yang benar-benar bisa menebak isi pikiran dari si Kejam.

"Haaah!"

Kulempar tubuh lelaki itu ke ranjang. Tak peduli meski hanya 3/4 tubuhnya yang menyentuh kasur, sementara kaki panjangnya menjuntai.

Sejenak aku memerhatikan Kang Epen yang terkapar di pembaringan. Dia benar-benar sudah terlelap sekarang.

Ternyata aku tak bisa mencegah dia bertindak lebih. Selama tak ada celah yang bisa kumasuki, sudah pasti Kang Epen tak akan mau mendengarkan.

Inilah salah satu hal yang kutakutkan saat Zahra meminta sesuatu yang mustahil dipertahankan dari diri suaminya yang memang pernah dikenal b*jingan.

Melihat Kang Epen dalam keadaan demikian, dan pasti tak mungkin bisa melakukan perlawanan. Tiba-tiba sebuah ide gila terbersit begitu saja, yang kupikir bisa mengakhiri beban berat yang Zahra pinta untuk aku lanjutkan.

"Apa saya bekep aja dia pake bantal, ya? Terus kuasai semua hartanya biar bisa jadi janda muda kaya raya. Buahaha."

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lebih Buruk

    "Istrimu tadi sempat nanya. Katanya apa masih ada kemungkinan hamil setelah vasektomi?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya, kujawab apa adanya. Kalau nggak ada teknologi dan kemampuan dokter manapun yang bisa menandingin kuasa Tuhan." "Katamu prosedur ini paling efektif untuk mencegah kehamilan?!" "Efektif bukan berarti bisa mencegah 100% Evandi Sebastian Gunawan. Kadang otak pintarmu tak bekerja kalau berkaitan dengan hal-hal yang kau hindari. Sama halnya dengan IUD, Spiral, k*ndom, bahkan steril. Risiko untuk kebobolan akan selalu ada. Karena fungsi KB, kontrasepsi, dll itu hanya untuk mencegah, bukan menyalahi kodrat manusia untuk berekproduksi, kecuali kalau memang ada gangguan di dalam organ. Understand?" Percakapan dengan dokter Fransiska di ruang pemeriksaan kala itu terus berputar-putar di kepala Evan. Sejak setengah jam yang lalu dia masih berdiri di tempatnya memerhatikan Syafira dan Tami yang membawa barang-barang Dina keluar dari kediamannya. Evan cukup mengerti b

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Arti Sebuah Keluarga

    Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Meluapkan Perasaan

    Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Rapuh

    Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Nikmat Sesaat

    "Aku nggak bilang kamu nggak boleh bahagia. Aku cuma minta kamu jangan mengorbankan anak-anak demi kebahagiaan yang belum tentu." Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tami yang tadi berada di luar ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar pembicaraan kami. Aku mengusap wajah. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu mengerti. Terlalu lama menjadi orang yang harus kuat. Terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar. "Aku capek, tahu nggak?" Suaraku perlahan pecah. "Sejak dulu aku yang mikirin kalian." Aku menatap Syafira dan Tami bergantian. "Bahkan saat orangtua kita masih lengkap. Siapa yang mikirin uang sekolah? Siapa yang berhenti mengejar hidup sendiri supaya bisa bantu Emak? Siapa yang kerja sampai badan rasanya nggak punya tenaga lagi?" Air mataku mulai jatuh. "Kalian tahu kalau aku juga punya mimpi?" Tidak ada yang menjawab. "Tahu nggak aku per

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lupa Diri

    Kuparkirkan motor di halaman rumah di sebuah gang kawasan Bekasi Timur. Rumah yang dulu nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu sekarang sudah jauh berubah. Dindingnya telah dicat ulang, lantainya diganti, ruang tamunya memiliki perabot yang lebih layak, bahkan dapurnya sudah dilengkapi berbagai peralatan yang dulu hanya bisa kami lihat di televisi. Semua itu berasal dari sebagian uang warisan Zahra dan hasil investasi yang perlahan mulai memberiku kehidupan yang lebih baik. Namun, sore itu ada sesuatu yang membuatku berhenti beberapa detik sebelum masuk. Teras rumah tampak ramai. Beberapa anak muda duduk bergerombol sambil merokok dan menyeruput kopi kemasan. Musik dari salah satu ponsel terdengar samar, bercampur dengan tawa yang sesekali meledak tanpa peduli pada lingkungan sekitar. Aku mengenali beberapa wajah, tetapi sebagian besar sama sekali asing bagiku. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat tongkrongan? "Teteh!" Tami langsung ban

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   3. Ganti Rugi

    Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   2. Bayar Denda

    Begitu banyak hal tak terduga dalam hidupku. Salah satunya adalah pertemuanku kembali dengan Zahra setelah hilang kontak bertahun-tahun lamanya. Bermula dari kejadian tak terduga lima tahun lalu yang memaksa kami untuk saling bertukar cerita hingga berakhir dengan meluapkan emosi bersama. Selama li

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   1. Pelacur Berkedok Istri

    "Kita lakukan sekarang! Agar tak ada lagi drama berkepanjangan tentang nafkah batin yang tak terpenuhi juga gugur kewajiban saya dalam satu malam." Meski sudah tahu hal ini akan terjadi, ucapan si Tampan dengan wajah datar tetap berhasil menyentil hati mungilku yang malang. Ikrar yang terjalin

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   15. Privat Jet

    Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status