로그인“Jadi, ada masalah apa? Kau bisa mengatakannya sekarang,” ucap Angel sambil mengunyah steik yang dipesannya. Saat ini, mereka sudah berada di kantin universitas.
“Kau sadar tidak, jika kau itu tidak kembali ke kelas, saat dosen baru kita--?” “Masuk ke kelas kemudian memperkenalkan dirinya?” potong Angel dengan cepat sehingga membuat Levy menganggukkan kepala dengan wajah seriusnya. “100% persen sadar, Levy. Aku masih terlalu muda untuk kehilangan fungsi ingatanku.” "Lalu kenapa kau tidak muncul? Apa kau tahu akibat dari kecerobohanmu tadi?” “Apa?” “Kursimu dosen itu pindahkan ke ...,” Levy menjeda kalimatnya. Matanya melirik ke kanan kiri, memastikan jika tidak ada penguping di dekat sini. Bagaimana pun, dosen baru itu sudah pasti berhasil mencuri perhatian beberapa mahasiswi. “Ke lapangan basket, Angel." “Whatt the--?!” Angel tersentak luar biasa sampai-sampai pekikannya membuat beberapa mahasiswa menoleh ke arahnya. “kau serius?" Levy mengangguk dengan wajah mengerucut. "Bagaimana bisa dosen itu melakukannya? Apa dia sudah tidak waras!?” " Makanya sudah aku peringatkan untuk tidak macam-macam tapi kau bebal." Angel mendesah frustrasi. Tidak lupa seberapa jauh jarak kelas dengan lapangan basket apalagi lift tidak beroperasi. "Tadinya kursi itu cuma dipindahkan ke luar kelas saja. Tapi karena kau tidak datang sampai kelas selesai, dosen itu pun memindahkannya." Levy menatap Angel khawatir meski sebenarnya dia menyetujui sikap seenaknya Angel tadi diadili. Namun, tetap saja tindakan dosen muda bernama Jim itu kejam sekali. "Aku mengaku salah. Tapi kenapa hukumannya harus model langka begini?" Angel lagi-lagi mendesah frustrasi. Apalagi saat dia teringat sesuatu. Benda paling berharga miliknya yang tidak boleh disentuh siapa pun. “Oiya, buku gambarku masih tetap di kelas ‘kan?" “Sudah tidak ada karena dosen itu juga membawanya." “Ya Tuhan ....” Kali ini Angel menelungkupkan wajahnya ke meja. Benar-benar dibuat tak habis pikir karena buku gambarnya pun diusik. Dia sama sekali tak masalah jika kursinya di buang sampai ke sudut kota ini sekalipun. Tapi buku gambar itu ... “Apa dosen itu mengatakan sesuatu?” Levy mengangguk, “Dia menyuruhmu untuk menemuinya di ruangannya.” “Ah ... malas. Biasanya perintah seperti ini adalah akal-akalan pria kurang ajar." Levy nyaris tersedak mendengarnya. Sebentar dia menepuk pundak sahabatnya lantas berkata, “Tenang saja. Dosen baru kita masih muda dan tampan. Kau pasti tidak menyesal saat bertemu dan melihat betapa kerennya dia." Angel dan Levy saling berpandangan. Sampai akhirnya, Angel memilih bangkit dari tempat duduknya dan Levy yang melihatnya pun bersorak girang. “Semangat, Angelina ….!" Angel hanya mengangguk pelan sembari menunjukkan senyum terpaksa. Mau tidak mau dia harus menemui dosen tidak waras itu kemudian minta maaf. Demi mendapatkan kembali buku gambar miliknya, apapun akan dia lakukan termasuk menendang bokong dosen itu jika berani macam-macam. Namun, semua itu lagi-lagi menjadi wacana karena tiba-tiba saja dia mendapat panggilan kerja. Yang mau tidak mau membuatnya meninggalkan universitas dan disinilah dia berada sekarang. Berkutat dengan bermacam peralatan masak karena akan ada tamu spesial yang datang. Kata pemilik restoran, jika masakannya sesuai dan pas dengan selera mereka, maka akan ada pesanan dalam jumlah besar. “Angel, ada pelanggan yang mencari mu." Suara seorang pria berusia 27 tahun yang selama ini menjadi teman dekat Angel, membuat Angel meninggalkan adonan kue nya. "Tuan yang ingin mengadakan pesta itu sudah datang?" Dia adalah Mike. Pemilik restoran sekaligus pria yang menaruh hati pada gadis itu. "Bukan." “Lalu siapa, Mike?” Angel melepaskan sarung tangannya, “tumben ada yang mencariku?” “Entahlah,” jawab Mike seraya mengangkat bahu, “tidak apa-apa. Temui saja dulu. Siapa tau penting.” “Benar tidak apa-apa?" Sekali pun Mike sangat baik, tentu Angel tahu batasan. Dia selalu memosisikan dirinya seperti pelayan yang lain. “Tidak apa-apa, Angelina. Lagi pula aku bos nya. Jadi tenang saja," ucap Mike sebelum melanjutkan. “oiya, dia duduk di kursi paling ujung.” “Baiklah, Pak Bos! Terima kasih banyak." Disertai rasa penasaran luar biasa, Angelina meninggalkan dapur seraya meremas tangannya. Membuka pintu pembatas antara ruang dapur dan resto depan dengan jantung berdegup kencang. Selama ini tidak ada seorang pun yang menemuinya. Baik dari keluarga terlebih teman-teman kampus yang tentu tidak tahu pekerjaanya. Pelanggan restoran yang menyukai masakannya pun sebatas menitip pesan. Tentu pertemuan dengan orang asing kali ini, amat membuatnya was-was. Manik mata Angel mengarah ke satu-satunya meja yang berada di pojok ruangan. Beruntung restoran tidak begitu ramai jadi sudah bisa ditebak, jika pria itulah yang mencarinya. "Permisi, Tuan. Apa benar Anda yang mencari saya? Ada yang bisa saya bantu?” Angel to the point. Untuk berbasa-basi pun hanya akan membuang-buang waktu. Pria itu mendongak. Manik matanya yang tajam, tentu saja membuat Angel nyaris jantungan. “Sampai kapan kau akan bersembunyi seperti ini, Angelina?” "Ka--"Angel sesekali mengusap pipinya yang basah. Rasa sesak yang menggerogoti dadanya karena pertemuannya dengan Jim tadi, masih begitu membekas sehingga membuatnya sulit untuk menghentikan laju air mata yang berjatuhan.Sekalipun dia sudah melarikan tatapannya ke arah jalanan kota London yang ramai, bayangan wajah Jim tetap saja sulit untuk dia enyahkan dari pikirannya. Pria itu seperti virus mematikan yang merenggut kinerja otaknya sehingga sulit untuk dia kendalikan."Ada apa, Angel? Kenapa kau menangis seperti ini?"Suara Mike yang terdengar memecah kesunyian, sontak saja membuat Angel mengalihkan tatapannya dari tepian jalan.Saat ini, dia memang tengah berada di perjalanan pulang dengan Mike yang setia mengantarnya. Dia terpaksa meninggalkan universitas karena perasaannya yang terlanjur kacau. Dia tidak mau terus-menerus berada di sana sedangkan ada Jim yang akan menontonnya seperti opera."Tidak ada apa-apa, Mike. Aku hanya merasa buruk." Angel terpaksa berbohong karena tidak mungk
Bibir Angel mengetat seiring langkahnya menaiki tangga. Tidak hanya telapak tangannya yang terasa panas karena bergesekan dengan lengan kursi tetapi, kedua pipinya pun sampai memerah--begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Sedari beberapa menit yang lalu, sekuat tenaga dia mencoba untuk tak menjatuhkan riak air mata yang sudah membentuk genangan. Walaupun dadanya terasa sesak, pun dunianya seolah hancur seketika saat monster paling menakutkan dalam hidupnya itu muncul begitu saja di depan mata, dia harus menunjukkan pada dunia jika dirinya bukan lagi Angelina yang lemah. Selama 5 tahun terakhir, dia sudah mencoba berdamai dengan semuanya. Belajar melupakan rasa sakitnya pun terbiasa dengan kehidupan barunya. Tapi sekarang? Semuanya kembali ke titik awal. Begitu saja mengingatkannya pada rasa sakit dan juga kecewa. "Apa mereka pikir, mempertemukanku dengan Jim akan membawa perubahan yang lebih baik?" Angel membatin pedih. Dia tau, pertemuannya dengan Jim pastilah pertemuan yan
Tangan Angel terkepal kuat dengan keringat dingin yang membasahi pori-pori kulitnya. Ingin rasanya dia menganggap semua ini mimpi. Tapi mungkinkah? Sedangkan Jim begitu nyata?Tidak hanya Angel, Jim pun kehilangan kata-kata begitu wajah yang teramat dia rindukan benar berada di depannya.Angelina ...Saudara perempuannya yang menghilang selama 5 tahun terakhir dan tidak pernah dia kabarnya ...? gadis polos yang sudah dia tinggalkan setelah dia hisap madunya ...?"Angel?"Suara Jim terdengar lagi sehingga menyadarkan Angel dari rasa sakit yang mulai menyayat hati.Tidak! Dia tidak boleh lari walaupun dia ingin. Dia harus membuktikan pada Jim jika dirinya bukan lagi Angelina si bodoh itu. Angelina yang rela menyerahkan segalanya hanya demi omong kosong bernama cinta.Cinta?Bahkan semboyan itu, sudah lama mati dalam hidupnya setelah pria itu menyakitinya begitu dalam."Angel kau--?" Jim melangkah mendekat dan Angel malah mundur selangkah. Angel tau, apa maksud dari tatapan itu. Dia men
Angel berjalan tergesa.Hari ini, mau tidak mau dia harus menemui dosen itu kemudian meminta maaf atas kesalahannya kemarin. Selain karena surat peringatan yang sudah mendarat sempurna di atas meja kakaknya, buku gambar miliknya pun harus dia dapatkan kembali karena demi Tuhan, buku gambar itu sangatlah berarti.Yang membuatnya tak habis pikir sampai saat ini adalah? Bisa-bisanya dosen itu mengambil buku gambarnya juga? Apakah dosen itu berpikir jika di dalam buku gambarnya terdapat rahasia atau harta karun berharga?Dasar manusia menyebalkan! Awas saja jika terjadi sesuatu pada buku gambarku. Batin Angelina menahan kesal sembari melangkah cepat di sepanjang koridor yang mana, membuatnya menjadi pusat perhatian.Tadinya dia berpikir jika ada yang salah dengan penampilannya sehingga dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang sebelumnya bahkan tidak mengetahui keberadaanya. Akan tetapi, setelah dia mendengar celetukan seorang mahasiswi yang mengatakan jika maut sudah menunggunya, dia
Hari mulai gelap.Setelah menjelajahi area yang Jim tempati selama beberapa jam lamanya, Jim pun memutuskan untuk masuk ke restoran bernuansa klasik yang berada di seberang jalan untuk mengisi perutnya yang kembali keroncongan setelah dia isi dengan satu buah burger yang dia beli di sebuah kedai.Pertama kali melihat restoran itu, Jim langsung tertarik untuk melihat isi di dalamnya juga mencicipi menu yang tersedia di sana karena pengunjung restoran itu lumayan ramai. Biasanya, restoran yang ramai pengunjung begini makanannya enak dan pelayanannya sempurna.Sebuah kursi di dekat jendela pun, menjadi pilihannya. Lumayan, dari sini dia bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka.“Selamat datang di restoran kami, Tuan. Adakah yang ingin Anda pesan?"Suara seorang pelayan yang terdengar di sana, sontak saja membuat fokus Jim yang menatapi sekitar teralih kan. Terlebih pada lilin aroma yang ada di tengah-tengah meja. Tiba-tiba saja dia teringat pada Angelina yan
“Sampai kapan, kau akan bersembunyi seperti ini, Angelina?”Angel menutup mulutnya tak percaya. Dia pun segera menghambur ke dalam pelukan pelanggan yang ternyata berjenis kelamin pria dan tentu saja dia kenali sejak balita.“Kakak ... kapan datang? Ya Tuhan ... aku sangat rindu sampai rasanya tidak bisa bernapas.”Angel menahan diri untuk tak menangis sekarang. Bisa-bisa penyamarannya sebagai gadis miskin terbongkar jika seseorang sampai melihat sosok pria yang dipeluknya saat ini adalah Davio William--sang penguasa.Beruntungnya saudara lelakinya yang anti perempuan itu memakai pakaian yang cukup merakyat. Tidak berkelas seperti biasa atau orang-orang di sini akan menjadikan Dave sebagai pusat perhatian. Angel tersungut saat melepaskan diri dari pelukan Dave. Sebenarnya, dia masih ingin memeluk tubuh tegap kakaknya itu lebih lama demi mengurangi sedikit rasa sesaknya karena kerinduan. Tapi, apa daya? Tempat dan drama publik menjadi penghalang dan bisa jadi malapetaka untuk penyam
Jim menatap lurus ke depan. Tak peduli dengan kehebohan mahasiswi yang terjadi di sepanjang dia melangkahkan kaki melewati koridor universitas yang terkenal di negeri dengan julukan The Smoke ini. Dia baru masuk universitas sekali, dan siswi menyebalkan yang berani meninggalkan kelasnya, sudah mem
Perancis, 2 tahun yang lalu. Seorang pria dengan setelan jas mahalnya membuka kaca mobil yang berada di sampingnya kemudian melarikan tatapannya ke luar jendela. Tidak banyak perubahan yang terjadi di sana. Semuanya masih sama seperti yang terekam di memori masa kecilnya. Kedatangannya ke negara
Jim terbangun dengan napas memburu. Buliran keringat terlihat berbintik di sekitar dahi serta ujung hidungnya. Tangannya yang juga basah oleh keringat dingin pun meraba tempat di sampingnya yang sudah kosong tanpa penghuni. Sial! Bagaimana bisa dia seberengsek ini? Apa yang akan terjadi, jika kel
"Angel! Kenapa bisa telat sih!?” Wanita berambut panjang nan bergelombang yang terburu duduk dengan napas terputus-putus itu hanya nyengir kuda sembari mengipas wajahnya yang kepanasan. Berlarian dari gerbang menuju kelasnya bukan perkara mudah. Letaknya lumayan berjauhan apalagi dia harus naik t







