Mag-log in“Sampai kapan, kau akan bersembunyi seperti ini, Angelina?”
Angel menutup mulutnya tak percaya. Dia pun segera menghambur ke dalam pelukan pelanggan yang ternyata berjenis kelamin pria dan tentu saja dia kenali sejak balita. “Kakak ... kapan datang? Ya Tuhan ... aku sangat rindu sampai rasanya tidak bisa bernapas.” Angel menahan diri untuk tak menangis sekarang. Bisa-bisa penyamarannya sebagai gadis miskin terbongkar jika seseorang sampai melihat sosok pria yang dipeluknya saat ini adalah Davio William--sang penguasa. Beruntungnya saudara lelakinya yang anti perempuan itu memakai pakaian yang cukup merakyat. Tidak berkelas seperti biasa atau orang-orang di sini akan menjadikan Dave sebagai pusat perhatian. Angel tersungut saat melepaskan diri dari pelukan Dave. Sebenarnya, dia masih ingin memeluk tubuh tegap kakaknya itu lebih lama demi mengurangi sedikit rasa sesaknya karena kerinduan. Tapi, apa daya? Tempat dan drama publik menjadi penghalang dan bisa jadi malapetaka untuk penyamarannya. “Kau ini kebiasaan sekali. Padahal Kakak hanya pergi sebentar,” elak Dave dengan wajah jenaka yang sama sekali tak menarik dilihat. Pria dingin itu, sama sekali tak cocok untuk melawak. “Jangan lupa. Kakak meninggalkan kami lumayan lama.” Angel mengerucutkan bibir. Dia paling kesal saat Dave sibuk dan meninggalkannya seperti ini. Ya, meskipun dia tahu jika saat ini Dave sedang mempersiapkan sebuah misi yang harus di perjuangkan sampai di titik akhir. Tetap saja, dia tidak ingin Dave pergi. Dave tergelak. Melihat Angel yang berekspresi seperti anak kecil begini tentu saja membuatnya senang. Sifat Angel yang manja dan suka membuatnya kerepotan seperti menghadapi bayi, memang sering kali dia rindui. Sayang, Angel yang berada di hadapannya saat ini begitu berbeda dari pada Angel yang dia kenal 5 tahun terakhir dan hal itu, menjadi penyesalan terbesarnya sampai saat ini. Tangan Dave merogoh saku jaketnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. “Satu minggu lamanya, Angel. Mana mungkin Kakak lupa," Dave mengalah dan setelahnya dia pun melanjutkan, "lalu setelah Kakak pulang, kenapa harus ada hadiah seperti ini yang menungguku di depan pintu rumah?” Dave menunjuk amplop putih yang dia letakkan di tengah-tengah meja lewat tatapan matanya. “Ini apa, Kak?” Angel yang tidak tahu menahu tentang amplop putih itu, pun melemparkan sebuah pertanyaan yang sukses membuat Dave gemas. Wajah polos inilah yang sering kali membuatnya kesal dan karena kepolosan ini juga, hidup Angel menderita sampai sekarang. “Surat teguran dari salah satu dosen di kampusmu. Di dalam surat teguran itu tertulis jika kau meninggalkan kelas. Kenapa bisa begitu, Angel? Apa karena pekerjaan ini kau membolos kuliah?" Dave menatap Angel lekat sehingga membuat Angel mengatupkan bibirnya rapat. Berpura-pura tidak tahu masalah apa yang tengah Angel hadapi sekarang padahal semua ini termasuk dalam rencananya. Dia ingin melihat langsung bagaimana reaksi Angel setelah bertemu dengan Jim yang tak lain adalah dosen pemberi surat teguran di depannya. Sebenarnya dia belum tau pasti apakah Angel sudah bertemu dengan Jim atau tidak. Namun, melihat bagaimana sikap Angel sekarang, rasanya pertemuan itu belum terjadi di antara mereka. Pikirnya, apa yang akan terjadi saat pertemuan Angel dan Jim itu terjadi? Apalagi setelah 5 tahun mereka tak saling berkomunikasi dan benar-benar terpisah satu sama lain. Apakah Angel mau menerima kenyataan jika selama beberapa bulan ke depan dia harus berinteraksi dengan Jim sebagai dosennya? "Ataukah kau ada masalah lain?" Dave kembali mengajukan pertanyaan begitu Angel masih mengatupkan bibirnya rapat--memancing rasa penasarannya. Bagaimana pun, Jim itu adalah satu-satunya manusia yang paling Angel benci di muka bumi ini. Rasanya, Angel akan mengalami frustrasi begitu mendapati kenyataan jika Jim akan menghantui kehidupannya mulai saat ini. Namun, mau tidak mau Angel harus berani menghadapi. Sudah saatnya dia mencukupkan persembunyiannya selama 5 tahun terakhir dan membalas perbuatan Jim setimpal dengan rasa sakit yang Angel alami selama ini. Kerja samanya, Daddynya dan juga Paman Luke, harus mendapat nilai sempurna dan membuat Jim menyesal atas perbuatan bejatnya. Selain itu rencana ini bertujuan membuat hidup Angel tak lagi berada dalam bayang-bayang ketakutan serta kecewa. “Oh, dari dosen baru itu ya?” jawab Angel malas sembari menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Dia menatap malas ke arah amplop itu sebelum melemparkan tatapannya ke arah Dave lagi untuk memberikan penjelasan, sekaligus melakukan pembelaan agar tak kena marah. “Iya aku memang meninggalkan kelas karena aku pergi ke toilet, Kak tetapi dosen itu tidak mau memberiku dispensasi dan malah memindahkan kursiku ke luar kelas dengan seenaknya. Tepatnya ke lapangan basket yang berada di lantai bawah." Angel mengadu dengan raut wajah memelas sama seperti kronologi kejadian yang Levy ceritakan. Berharap Dave prihatin dan tidak memperpanjang masalah. "Oke dosen pengganti itu masih muda. Tapi sepertinya, dosen itu sudah tidak waras. Bisa-bisanya dia memberi hukuman dengan cara tidak berperikemanusiaan seperti ini? Padahal dosen itu tau, aku ini mahasiswi." Nyaris saja Dave terbahak begitu mendengar perkataan Angel tadi. Ternyata dugaannya benar. Angel belum bertemu dengan Jim, begitu pun sebaliknya. Lantas, bagaimana jika keduanya bertemu nanti? Apalagi situasinya sudah rumit seperti ini? "Tapi kau tidak meminta maaf dan malah seenaknya pulang, Angelina. Alasan dosen itu memberimu surat peringatan tertulis jelas di sana." Kali ini Dave mendukung Jim dan tegurannya, justru membuat Angel nyengir kuda--menunjukkan deretan giginya putihnya. Pertanda jika Angel memang sengaja melakukannya dan lagi-lagi merasa tak berdosa. “Soal itu ... aku tidak sengaja, Kak. Restoran ramai dan kebetulan salah satu temanku tidak masuk bekerja. Jadi, aku menggantikan tempatnya." “Ya Tuhan, Angelina ... sampai kapan kau akan bekerja seperti ini? Kakak mohon jangan lupakan siapa dirimu dan identitas keluargamu. Jangankan untuk mencukupi hidupmu, untuk mencukupi kebutuhan anak Freya kelak, yang dimiliki keluarga kita lebih dari cukup." "Sstts ... jangan keras-keras, Kak." Dave celingak-celinguk tidak jelas begitu Angel memperingatkan. Nama Freya memang begitu rentan untuk disebutkan mengingat status Angel yang masih tertulis lajang. "Maaf," lirih Dave tertahan. "tapi tanpa bekerja di restoran ini pun, kau tidak akan pernah kekurangan apa pun, Angelina. Bahkan sampai anak cucumu kelak." Sejujurnya, Dave sudah lelah membujuk Angel untuk meninggalkan pekerjaannya. Angel yang keras kepala tidak pernah mau mendengarkan dan akhirnya, dia harus mengaku kalah, entah yang ke berapa kalinya "Tidak akan, Kak," jawab Angel menggeleng pelan. Tangannya yang tiba-tiba saja bergetar kecil, mengundang tangan Dave untuk segera menggenggam. “Kakak masih ingat 'kan? Jika aku ini ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi gadis remaja yang bebas? Bebas pergi ke mana pun, melakukan apa pun yang aku mau dan menikmati hidupku tanpa batasan apa-apa?" lirih Angel dengan sorot mata sendu. Dia akui, dirinya memanglah gadis manja yang suka sekali merepotkan orang lain bahkan tidak pernah bisa melakukan apa-apa sendiri. Akan tetapi, sejak tragedi itu terjadi dirinya mulai belajar untuk mandiri. Melakukan apa pun sendiri dan tak mau bergantung pada orang lain. Dirinya bukan lagi Angelina yang 5 tahun lalu dijuluki sebagai gadis manja yang merepotkan bak benalu. Dia juga bukan Angelina yang selalu tak peduli meski disia-siakan oleh seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Menutup telinga dan tetap membuka hati adalah salah satu kebodohannya. Berharap cintanya terbalas meski pada kenyataannya, ketulusannya sudah di khianati dengan begitu kejam. Namun, terlepas dari semua kisah kelam itu, dia mensyukuri sesuatu jika dirinya berharga dan dirinya bukan lagi gadis lemah yang akan membiarkan seseorang menginjak-injak harga dirinya karena bualan menjijikkan bernama cinta. Dirinya kuat dan siapa pun boleh membuktikannya. "Maka inilah saatnya, Kak. Aku mendapatkan kesempatan itu sekarang dan aku tidak mau menyia-nyiakannya. Freya akan bertambah semakin besar dan--" Suara Angel tertahan dan Davio memilih bungkam. Demi apa pun, masa lalu itu memang berhasil menghancurkan perasaan semua orang. Terlebih Angel yang berada di titik paling terendah antara bertahan atau menyerah dengan kehidupannya. Angel menatap Davio lagi dengan ketegaran yang dia punya sekarang. "Aku akan tetap bekerja di sini sampai kuliahku selesai dan—“ “Baiklah tapi kau harus berjanji jika hasil jerih payahmu ini akan kau nikmati sendiri. Untuk semua kebutuhanmu dan mereka berdua, tetap aku yang bertanggung jawab atasnya." Dave sekali lagi menekankan dan Angel tidak bisa mengelak. Dia sepenuhnya tau, Angel menepati janjinya atau tidak karena laporan tentang pengeluaran mereka, dia awasi setiap harinya. "Apapun yang terjadi, keadaanya akan tetap sama seperti tahun-tahun yang kita lalui selama ini. Jadi, jangan sekali-kali untuk melakukan semuanya sendiri." Angel hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa menolak atau pun tak menuruti perkataan kakaknya karena semua yang kakaknya katakan memang benar. Dia lemah, dan butuh Davio untuk selalu berada di sampingnya. "Oiya, Kakak mau memesan menu apa? Aku tidak bisa berlama-lama di sini atau temanku akan menyusul nanti." Angel sengaja mengalihkan topik pembicaraan yang sampai saat ini masih membuat jemarinya gemetar. "Aku ingin memesan beberapa menu dan sebaiknya dibungkus saja. Aku ingin piknik dengan Freya di taman belakang." Tenggorokan Angel seperti tercekat dahan kayu yang begitu besar. Tak tahan, dia pun mengusap punggung tangan kakaknya sembari berkata, "Terima kasih sudah menjadi ayah terhebat untuk putriku, Kak."Angel sesekali mengusap pipinya yang basah. Rasa sesak yang menggerogoti dadanya karena pertemuannya dengan Jim tadi, masih begitu membekas sehingga membuatnya sulit untuk menghentikan laju air mata yang berjatuhan.Sekalipun dia sudah melarikan tatapannya ke arah jalanan kota London yang ramai, bayangan wajah Jim tetap saja sulit untuk dia enyahkan dari pikirannya. Pria itu seperti virus mematikan yang merenggut kinerja otaknya sehingga sulit untuk dia kendalikan."Ada apa, Angel? Kenapa kau menangis seperti ini?"Suara Mike yang terdengar memecah kesunyian, sontak saja membuat Angel mengalihkan tatapannya dari tepian jalan.Saat ini, dia memang tengah berada di perjalanan pulang dengan Mike yang setia mengantarnya. Dia terpaksa meninggalkan universitas karena perasaannya yang terlanjur kacau. Dia tidak mau terus-menerus berada di sana sedangkan ada Jim yang akan menontonnya seperti opera."Tidak ada apa-apa, Mike. Aku hanya merasa buruk." Angel terpaksa berbohong karena tidak mungk
Bibir Angel mengetat seiring langkahnya menaiki tangga. Tidak hanya telapak tangannya yang terasa panas karena bergesekan dengan lengan kursi tetapi, kedua pipinya pun sampai memerah--begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Sedari beberapa menit yang lalu, sekuat tenaga dia mencoba untuk tak menjatuhkan riak air mata yang sudah membentuk genangan. Walaupun dadanya terasa sesak, pun dunianya seolah hancur seketika saat monster paling menakutkan dalam hidupnya itu muncul begitu saja di depan mata, dia harus menunjukkan pada dunia jika dirinya bukan lagi Angelina yang lemah. Selama 5 tahun terakhir, dia sudah mencoba berdamai dengan semuanya. Belajar melupakan rasa sakitnya pun terbiasa dengan kehidupan barunya. Tapi sekarang? Semuanya kembali ke titik awal. Begitu saja mengingatkannya pada rasa sakit dan juga kecewa. "Apa mereka pikir, mempertemukanku dengan Jim akan membawa perubahan yang lebih baik?" Angel membatin pedih. Dia tau, pertemuannya dengan Jim pastilah pertemuan yan
Tangan Angel terkepal kuat dengan keringat dingin yang membasahi pori-pori kulitnya. Ingin rasanya dia menganggap semua ini mimpi. Tapi mungkinkah? Sedangkan Jim begitu nyata?Tidak hanya Angel, Jim pun kehilangan kata-kata begitu wajah yang teramat dia rindukan benar berada di depannya.Angelina ...Saudara perempuannya yang menghilang selama 5 tahun terakhir dan tidak pernah dia kabarnya ...? gadis polos yang sudah dia tinggalkan setelah dia hisap madunya ...?"Angel?"Suara Jim terdengar lagi sehingga menyadarkan Angel dari rasa sakit yang mulai menyayat hati.Tidak! Dia tidak boleh lari walaupun dia ingin. Dia harus membuktikan pada Jim jika dirinya bukan lagi Angelina si bodoh itu. Angelina yang rela menyerahkan segalanya hanya demi omong kosong bernama cinta.Cinta?Bahkan semboyan itu, sudah lama mati dalam hidupnya setelah pria itu menyakitinya begitu dalam."Angel kau--?" Jim melangkah mendekat dan Angel malah mundur selangkah. Angel tau, apa maksud dari tatapan itu. Dia men
Angel berjalan tergesa.Hari ini, mau tidak mau dia harus menemui dosen itu kemudian meminta maaf atas kesalahannya kemarin. Selain karena surat peringatan yang sudah mendarat sempurna di atas meja kakaknya, buku gambar miliknya pun harus dia dapatkan kembali karena demi Tuhan, buku gambar itu sangatlah berarti.Yang membuatnya tak habis pikir sampai saat ini adalah? Bisa-bisanya dosen itu mengambil buku gambarnya juga? Apakah dosen itu berpikir jika di dalam buku gambarnya terdapat rahasia atau harta karun berharga?Dasar manusia menyebalkan! Awas saja jika terjadi sesuatu pada buku gambarku. Batin Angelina menahan kesal sembari melangkah cepat di sepanjang koridor yang mana, membuatnya menjadi pusat perhatian.Tadinya dia berpikir jika ada yang salah dengan penampilannya sehingga dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang sebelumnya bahkan tidak mengetahui keberadaanya. Akan tetapi, setelah dia mendengar celetukan seorang mahasiswi yang mengatakan jika maut sudah menunggunya, dia
Hari mulai gelap.Setelah menjelajahi area yang Jim tempati selama beberapa jam lamanya, Jim pun memutuskan untuk masuk ke restoran bernuansa klasik yang berada di seberang jalan untuk mengisi perutnya yang kembali keroncongan setelah dia isi dengan satu buah burger yang dia beli di sebuah kedai.Pertama kali melihat restoran itu, Jim langsung tertarik untuk melihat isi di dalamnya juga mencicipi menu yang tersedia di sana karena pengunjung restoran itu lumayan ramai. Biasanya, restoran yang ramai pengunjung begini makanannya enak dan pelayanannya sempurna.Sebuah kursi di dekat jendela pun, menjadi pilihannya. Lumayan, dari sini dia bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka.“Selamat datang di restoran kami, Tuan. Adakah yang ingin Anda pesan?"Suara seorang pelayan yang terdengar di sana, sontak saja membuat fokus Jim yang menatapi sekitar teralih kan. Terlebih pada lilin aroma yang ada di tengah-tengah meja. Tiba-tiba saja dia teringat pada Angelina yan
“Sampai kapan, kau akan bersembunyi seperti ini, Angelina?”Angel menutup mulutnya tak percaya. Dia pun segera menghambur ke dalam pelukan pelanggan yang ternyata berjenis kelamin pria dan tentu saja dia kenali sejak balita.“Kakak ... kapan datang? Ya Tuhan ... aku sangat rindu sampai rasanya tidak bisa bernapas.”Angel menahan diri untuk tak menangis sekarang. Bisa-bisa penyamarannya sebagai gadis miskin terbongkar jika seseorang sampai melihat sosok pria yang dipeluknya saat ini adalah Davio William--sang penguasa.Beruntungnya saudara lelakinya yang anti perempuan itu memakai pakaian yang cukup merakyat. Tidak berkelas seperti biasa atau orang-orang di sini akan menjadikan Dave sebagai pusat perhatian. Angel tersungut saat melepaskan diri dari pelukan Dave. Sebenarnya, dia masih ingin memeluk tubuh tegap kakaknya itu lebih lama demi mengurangi sedikit rasa sesaknya karena kerinduan. Tapi, apa daya? Tempat dan drama publik menjadi penghalang dan bisa jadi malapetaka untuk penyam







