Home / Romansa / Jerat Cinta Pak Manajer Tampan / Bab 5 - Tawaran yang menyebalkan

Share

Bab 5 - Tawaran yang menyebalkan

Author: Gilva Afnida
last update Last Updated: 2025-11-27 23:47:30

Tentu saja yang dimaksud client oleh Freya adalah Arya.

Tepat di jam setengah enam sore. Freya menaati perintah Arya untuk datang ke apartemennya. Setelannya serba hitam. Mulai dari pakaian hingga topi yang dia kenakan.

Apartemen milik Rio berada satu gedung dengan apartemen milik Arya. Kalau tak berhati-hati, dia bisa terciduk oleh Rio.

Freya masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Rio. Gadis itu masih mencintainya.

Begitu taksi sudah mengantarnya di depan gedung, Freya mengenakan masker hitam dan juga kacamata hitam. Dia benar-benar seperti seonggok warna hitam yang bisa berjalan.

Langkahnya mengendap-endap saat memasuki gedung hingga lancar sampai di depan pintu seratus satu. Freya mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Pandangannya tetap awas ke seluruh penjuru. Sesekali dia membenarkan letak masker dan kacamatanya yang sedikit melorot.

Berulang kali mengetuk, tapi Arya tak membukakan pintu. Freya kesal hingga akhirnya menggedor pintu dengan kencang.

Pintu terbuka tapi hanya menampilkan kepala Arya yang menyembul sedikit dengan kedua matanya menyipit. "Siapa-"

"Ini saya," bisik Freya. "Cepat bukakan pintu."

Begitu pintu terbuka lebih lebar, Freya langsung masuk dan menutupnya dengan cepat. Dia baru bisa bernapas lega setelahnya.

"Kok lama banget sih bukain pintunya?" protes Freya sambil membuka masker, kaca mata dan juga bucket hat miliknya. Udara dingin dari ac segera menyambut wajahnya yang berkeringat.

"Aku kira kamu penguntit. Gak ekspek kalau kamu pakai baju serba hitam kayak gitu." Arya menatap penampilan Freya dari atas sampai ke bawah. "Outfitmu kayak mau pergi takziah."

"Apaan sih. Ini kan buat penyamaran," kata Freya sedikit kesal. "Bapak tahu sendiri kan kalau Rio itu kamarnya di lantai atas? Saya gak mau ketahuan."

"Segitu cintanya ya sama Rio? Sampai rela berbuat kayak gini?"

"Iya dong. Dia itu cowok teromantis yang pernah saya kenal. Beruntung saya punya pacar kayak dia." Ucapan Freya membuat Arya mual.

"Sudahlah, sebenarnya bapak mau saya ngapain kesini?" Freya merasa tak sabar. Semakin cepat urusan, semakin cepat dirinya pulang.

"Duduk dulu. Aku ambilin minum."

Dengan senang hati Freya duduk sambil memijat kakinya yang terasa kesal. Setelahnya, dia mengamati seluruh ruangan dan baru menyadari kalau apartemen milik Arya begitu sempit. Tipe kamar itu studio. Dimana semua ruangan menjadi satu tanpa adanya sekat. Di depan pintu ada kamar mandi dan juga dapur yang letaknya berseberangan. Maju sedikit ada dipan lengkap dengan kasurnya, sedang sofa yang dia duduki sekarang letaknya berada di paling sudut ruangan.

"Nih." Arya memberikan minuman kaleng yang dingin pada Freya sebelum duduk di sofa seberangnya.

"Terima kasih." Freya tak langsung meminumnya, melainkan mengamati tampilkan kaleng bagian depan. Ada perasaan was-was mengingat dirinya pernah dicekoki minuman alkohol dengan bentuk kaleng yang serupa.

"Tenang, gak ada racun kok," sahut Arya.

"Siapa juga yang ngira di dalamnya ada racun. Saya cuma baca komposisinya aja kok." Freya membuka minuman kaleng tersebut lalu menenggaknya hingga habis tak tersisa.

Rasanya segar, sedikit manis dan ada rasa buahnya. Freya lumayan suka dengan rasanya.

"Tujuanku bawa kamu ke sini karena ingin memberimu tawaran," ujar Arya tiba-tiba.

"Tawaran? Apa itu?"

Arya mengambil selembar kertas dari dalam laci nakas dan menaruhnya di atas meja yang menjadi pembatas di antara mereka.

"Tawaran untuk menjadi kekasih palsuku selama sebulan."

Kedua mata Freya membulat sempurna. "Apa? J-jangan konyol deh, Pak. Bukannya kata bapak saya disuruh kesini untuk bertanggung jawab?"

"ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab." Arya memajukan kursi, supaya jaraknya dengan Freya tidak terlalu jauh. "Kalau kamu mau nerima tawaran ini untuk menjadi kekasih palsuku selama sebulan, kesalahanmu yang 'memperkosa'ku itu bakal aku anggap gak ada."

Freya menatap lurus ke arah Arya, berusaha mencerna setiap ucapan Arya yang menurutnya seperti bercanda.

"Kalau saya gak mau, gimana?" tanya Freya.

"Aku bakal bocorin kelakuanmu ke semua orang, termasuk si Rio." Rahang Arya mengeras dan pandangannya tajam. Dia terlihat serius dengan ancamannya. "Biar semua orang tahu, betapa liarnya kamu memperkosa- hmmpt!"

Freya menutup mulut Arya dengan cepat. Dia sendiri tak sanggup saat mendengar kalau dirinyalah yang memperkosa Arya, bukan sebaliknya.

Apa dia begitu binal saat mabuk?

Entahlah. Freya sendiri tak mengingatnya.

"Oke, oke. Kalau saya nerima tawaran itu, untungnya buat saya apa?"

"Bukannya udah aku bilang, kalau kamu nerima tawaran itu, kelakuanmu kemarin malam bakal aku anggap gak ada alias aku bakal memaafkanmu."

"Hanya itu?" Freya menaikkan sebelah alisnya.

"Emang yang kamu mau apa?" Nada suara Arya mulai meninggi. "Tindakanmu kemarin itu termasuk kriminal tahu gak? Harusnya kamu bersyukur gak aku laporin tindakanmu semalam ke polisi."

Freya menurunkan kedua sudut bibirnya ke bawah lalu memainkan jari-jemarinya di atas meja. "Iyadeh, Pak."

"Ya udah, sekarang kamu tanda tangan di selembar kertas ini supaya kamu gak lari nanti." Arya menyerahkan selembar kertas tadi.

Freya membaca perjanjian yang tertera di kertas itu dengan mata seksama. "Dimana saya harus tanda tangan?"

Arya menunjuk sudut bawah di sebelah kanan lembar tersebut. "Di sini, kasih nama terangmu." Lalu menyerahkan pulpen.

Setelah tanda tangan hati Freya bergetar, Apa keputusannya sudah benar?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 89 - Bestie Aksa

    Momen emosional antara Arya dan Freya tiba-tiba terhenti oleh suara langkah kecil yang beradu dengan lantai marmer. Aksa muncul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk putih besar yang melilit tubuh kecilnya, membuat kepalanya terlihat makin mungil. Rambutnya masih basah dan berantakan, sementara wajahnya tampak segar setelah bermain air.Aksa memicingkan matanya saat melihat posisi Arlan yang berdiri sangat dekat dengan Freya. Dengan langkah mantap, ia berlari kecil dan menyelinap di antara keduanya, menggunakan tubuh mungilnya untuk memberi jarak."Ibu! Om Arya!" seru Aksa sambil berkacak pinggang, menatap keduanya bergantian.Freya tersentak dan sedikit menjauh, sementara Arya hanya bisa menaikkan alisnya, bingung sekaligus gemas."Ibu jangan dekat-dekat dulu sama Om Arya," ucap Aksa dengan nada serius."Lho, kenapa sayang? Ibu kan cuma lagi bicara sama Om Arya," tanya Freya sambil menahan tawa, mencoba merapikan handuk Aksa yang mulai melorot.Aksa menoleh ke arah Arya, lalu ke

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 88 - Ikatan darah

    "Halo.""Halo, Ibu..." Suara Freya hampir menghilang saat mendengar suara ibunya."Freya! Ya Tuhan, Fre, kamu di mana? Ibu baru aja melihat berita di televisi... Ibu gak percaya dengan apa yang mereka katakan. Mereka bilang kamu pengganggu rumah tangga orang?" Suara Dina terdengar penuh kecemasan dan kebingungan.Freya memejamkan mata, hatinya perih.Selama lima tahun ini, dia berhasil menjaga citra dirinya sebagai wanita mandiri yang tegar di mata ibunya. Dia selalu menyembunyikan luka di masa lalu sendirian selama ini."Ibu, tolong tenang dulu. Berita itu... gak semuanya benar. Aku gak pernah jadi selingkuhan siapa pun." Freya mencoba menjelaskan dengan suara yang stabil, meski air matanya mulai mengalir."Terus kenapa foto itu ada? Dan kenapa Aditya mengeluarkan pernyataan soal pertunangan? Ibu bahkan gak tahu kalau hubungan kalian udah sejauh itu. Apa yang terjadi selama ibu pergi, Freya?"Freya menoleh ke arah taman, dimana Arya sedang tertawa riang menemani Aksa bermain dan berl

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 87 - Menebus kesalahan masa lalu

    Freya terdiam cukup lama. Dia menatap tangannya yang digenggam Arya. Akhirnya, dia menggeleng perlahan. "Enggak, Mas. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai atasan. Selain itu, seperti yang udah aku bilang, aku hanya merasa sangat berhutang budi pada papanya. Kalau bukan karena Pak Baskoro yang menyelamatkanku, aku gak tahu apa aku bisa mencapai di posisiku yang sekarang. Pak Baskoro memberiku tempat kerja dan tempat tinggal di Jogja. Tanpa Pak Baskoro, aku, ibuku dan Aksa mungkin gak akan punya kehidupan yang baik seperti sekarang."Freya menyeka air matanya. "Itulah sebabnya aku gak bisa begitu aja membantah ucapan Mas Adit. Aku merasa harus membayar hutang budi. Aku merasa seperti mengkhianati orang yang udah memberikan nyawa kedua untukku."Mendengar penjelasan itu, sorot mata Arya berubah. Ada rasa bersalah yang besar karena dia tidak ada di saat Freya paling membutuhkannya, namun ada juga tekad baru yang menyala."Fre, aku tahu kalau ucapanku ini terdengar

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 86 - Pilihan yang mengikat

    Suara riuh di depan gerbang rumah Freya semakin menjadi-jadi. Suara lampu kilat kamera dan teriakan pertanyaan wartawan mulai membuat Aksa terbangun dan menangis ketakutan di kamarnya. Freya memeluk putranya erat-erat di pojok kamar, menutup telinga Aksa agar tidak mendengar cacian yang dilemparkan orang-orang di luar.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat membelah kerumunan. Sebuah mobil SUV hitam dengan kawalan dua motor besar menerobos masuk, memaksa wartawan minggir dengan paksa.Pintu gerbang terbuka sedikit dan beberapa pria berjas hitam segera membentuk barikade manusia. Dari dalam mobil, Arya keluar dengan wajah yang memancarkan amarah sekaligus kecemasan luar biasa. Dia tidak memedulikan kilatan kamera yang menyambar wajahnya, fokusnya hanya satu, pintu rumah Freya.Arya mendobrak masuk. "Freya! Aksa!"Freya muncul di ambang pintu kamar dengan mata sembap. "Mas, apa yang kamu lakukan? Kedatanganmu ke sini hanya akan membuat mereka semakin yakin k

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 85 - Skandal perselingkuhan

    Berita itu langsung meledak seperti bom waktu di tengah ketenangan. Hanya dalam hitungan jam setelah Zea mengirimkan foto-foto tersebut, jagat maya dan media nasional sudah dipenuhi oleh tajuk berita yang sensasional.Freya sudah pulang ke rumah, sedang duduk di ruang tamu, mencoba menenangkan diri dengan menyesap teh hangat, sementara Aksa sedang tidur siang di kamarnya.Tiba-tiba, ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosial dan pesan singkat masuk seperti air bah.Sebuah tautan berita dari portal gosip terbesar dikirimkan oleh salah satu staf kantornya dengan pesan: "Bu Freya, tolong lihat ini. Wartawan sudah mulai berkumpul di depan gerbang kantor!"Freya membuka tautan itu dan jantungnya seakan berhenti berdetak.SKANDAL PANAS: CEO Pilar Bintara Kepergok Bermalam dengan Manajer Furnitur di Jogja? Istri Sah Ditinggal di Hotel!"Di bawah tajuk itu, terpampang foto-foto dirinya yang sedang memapah Arya yang setengah sadar di lobi hotel. Foto

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 84 - Zea yang ambisius

    "Hari ini, kalian berdua adalah gangguan terbesar dalam hidupku. Aku lelah dengan drama ini. Aku lelah dengan rahasia, aku lelah dengan perebutan kekuasaan dan aku lelah menjadi wanita yang hanya bisa menunggu keputusan pria."Freya berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya lebar-lebar. "Keluar kalian. Sekarang juga," perintahnya dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah. "Aku butuh waktu untuk bicara dengan Aksa. Aku butuh waktu untuk memikirkan masa depan bisnisku tanpa gangguan emosional dari kalian. Jangan hubungi aku, jangan cari aku, sampai aku sendiri yang memutuskan untuk menemui kalian."Aditya tampak terpukul, bahunya merosot.Sementara Arya menatap Freya dengan rasa kagum yang bercampur dengan luka. Dia menyadari bahwa Freya yang dia temui sekarang bukan lagi Freya yang bisa dia kendalikan dengan kata-kata manis atau perlindungan semu.Tanpa sepatah kata pun, Aditya melangkah keluar terlebih dahulu setelah melempar ponsel ke arah Arya.Seda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status