Beranda / Romansa / Jerat Cinta Pak Manajer Tampan / Bab 6 - Tak punya pilihan lain

Share

Bab 6 - Tak punya pilihan lain

Penulis: Gilva Afnida
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 23:48:55

Freya sudah tak punya pilihan lain selain menyetujui tawaran Arya. Di kertas itu sudah tertulis bahwa Freya sebagai pihak kedua akan menjadi kekasih palsu pihak pertama. Lalu di baris selanjutnya, pihak kedua harus menuruti semua perintah pihak pertama dan tidak boleh menolak. Semua poin itu akan berjalan selama sebulan lamanya.

Dengan berat hati Freya menandatangani. Ini semua demi nama baik dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Setelah itu, Freya diajak oleh Arya keluar dari gedung menuju ke suatu tempat yang Freya belum ketahui dimana. Dia hanya harus menuruti perintah Arya dan diam.

Begitu mobil berhenti, Freya melirik ke arah luar dari jendela mobil. Sebuah butik dua lantai bernuansa putih membuatnya terpukau takjub.

"I-itukan La Maison de Lumiere?" gumam Freya sedikit gugup saat melihat tulisan emas yang melengkung di papan nama kayu hitam pada sebuah butik termewah dan termahal di kota itu.

Arya keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Freya. Mendapat perlakuan begitu, Freya turun dari mobil dengan canggung.

"Kita mau ngapain ke sini, Pak?" tanyanya.

"Jangan panggil aku, Pak," desis Arya di telinga Freya. "Di sini kita sepasang kekasih. Jadi panggil aku dengan sebutan yang romantis."

Yang romantis? Freya menatap Arya tak percaya. Bagaimana bisa dia memanggil Arya dengan panggilan yang romantis sedang sikap Arya ke dirinya saja begitu kaku dan dingin.

"Ayo cepat masuk."

"Baik, Pak." Arya melotot ke arah Freya yang membuatnya segera membenahi ucapannya. "B-baik, Sayang."

Pintu kaca tebal membuka sendiri ketika dia dan Arya tiba, mengeluarkan angin dingin yang bercampur aroma bunga mawar dan kulit lembut. Nuansa elegan dan kemewahan bercampur menjadi satu, membuat hatinya menyesal karena mengenakan setelan pakaian yang begitu sederhana. Penampilannya sekarang begitu kontras dengan gaun-gaun indah yang berjejer di sepanjang dinding butik.

"Ya ampun, apa benar ini Arya?" Seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor terlihat datang dari anak tangga dan mendekati Arya dengan heboh.

"Halo, Tante Citra. Sudah lama kita gak ketemu ya." Arya hendak menjabat tangan wanita itu, tapi wanita itu malah langsung memeluk Arya begitu erat.

"Bukan lama lagi, tapi luama sekali," ujar Citra sedikit berlebihan. "Kamu kemana aja? Baru mengunjungi butik Tante setelah sepuluh tahun."

Arya berusaha mengendurkan pelukan. "Maaf, Tante. Aku sibuk kerja."

Citra memperhatikan Arya dengan mata berkaca-kaca. "Ya ampun, aku gak ngira kalau sekarang kamu udah jadi gagah dan setampan ini. Kamu mirip sekali dengan papamu waktu muda dulu."

"Makasih, Tante."

"Oh ya, gimana kabar kakek dan nenek? Apa mereka masih kerja?"

"Udah pensiun, Tante. Sekarang perusahaan diambil alih sama Om Wijaya."

"Sayang sekali..."

Duh! Kayaknya bakalan lama nih, keluh Freya dalam hatinya. Dia masih berdiri tak jauh dari posisi Arya dan Citra yang masih asyik saling bertukar kabar seputar keluarga masing-masing. Tapi karena diabaikan, dia pun merasa bosan.

Pembicaraan tak kunjung selesai, Freya berinisiatif untuk melihat-lihat sekeliling butik. Tak henti-hentinya Freya menatap takjub pada desain butik. Lantai butik terbuat dari marmer putih yang memantulkan bayangan. Rak-rak kayu hitam yang terawat dengan baik menampilkan gaun-gaun busana dari desainer terkenal. Gaun itu beraneka ragam, mulai dari yang berwarna merah anggur yang mendalam, emas keemasan, dan putih mutiara yang menyala.

Seorang pramuniaga dengan pakaian jas hitam yang rapi mendekatinya dengan senyum ramah.

“Selamat sore, Nona,” ucap pramuniaga dengan nada yang lembut. “Ada yang bisa saya bantu?"

Freya melirik ke arah Arya dan Citra yang masih mengobrol. Dia berpikir, mungkin tidak ada salahnya melihat-lihat gaun sebentar.

"Boleh saya lihat koleksi gaun terbaru dari butik ini?" tanya Freya dengan sopan.

"Tentu, mari ikuti saya." Freya mengikuti pramuniaga menuju rak yang dihiasi lampu sorot lembut. Di sana ada berbagai jenis gaun dengan potongan sederhana tapi terlihat mewah berbahan dari kain sutra.

"Semua ini adalah gaun koleksi terbaru dari kami," tukas pramuniaga tadi.

Tatapan Freya bersilau melihat gaun-gaun indah itu sambil bergumam, "Ini pasti mahal sekali."

"Gak mahal kok," sahur sang pramuniaga. "Di butik kami sedang ada diskon untuk pelanggan baru."

"Oh ya?" Mata Freya berbinar-binar. "Kalau yang ini berapa?" Dia menunjuk gaun biru tua yang terlihat paling sederhana.

"Kalau gaun yang sedang anda pegang itu harganya enam belas juta setelah diskon."

Rahang Freya serasa ingin copot. Harga gaunnya setara dengan gaji bulanan Freya selama empat bulan.

Langkahnya memundur, merasa tak percaya diri dihadapan gaun yang mahal itu.

Saat berbalik, dia melihat sebuah gaun yang berdiri megah di atas piringan kaca. Gaun itu nampak indah. Berwarna merah seperti anggur merah tua, menggunakan kain sutra yang lembut dan berkilauan.

Gaun itu tanpa lengan, potongan baju menyoroti bahu dan lengan atas yang ramping, memberikan kesan elegan. Panjang gaun mencapai tanah, dengan helai kain yang melayang-layang lembut di belakang, tidak terlalu ketat namun cukup untuk menunjukkan lekukan tubuh tanpa terasa terlalu terbuka.

"Freya?" Lamunan Freya buyar begitu mendengar suara Arya. Dia menoleh, mendapati Arya sedang melangkah cepat ke arahnya. "Dari tadi aku nyariin, rupanya ada di sini?"

Freya tersenyum meringis. "Maaf, aku cuma mempersingkat waktu. Bukannya kita kesini karena ingin cari gaun? Sepertinya aku udah dapat."

"Sepertinya kekasihmu punya selera yang bagus," ujar Citra. "Gimana kalau biarkan dia mencobanya dulu?"

"A-apa? Aku yang...mencobanya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 151 - Membuka mata

    Freya menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air matanya yang terus ingin tumpah. Dia mengusap punggung tangan Arya dengan ibu jarinya, lalu dengan gemetar, menyentuh pipi Arya yang pucat."Mas, kamu tahu... Aksa merindukanmu," bisik Freya dengan suara serak. "Aksa sudah tahu kalau kamu adalah ayahnya. Dia sangat senang, Mas."Freya mengusap dahi Arya, menyisir rambut pria itu di sela perban menggunakan tangannya. "Mas, Aditya sudah dipenjara, begitupun dengan Zea. Kakekmu bahkan sudah mengizinkan kami di sini. Enggak ada lagi yang menghalangi kita. Jadi, tolong... jangan menyerah sekarang. Bangunlah dan peluk Aksa."Setelah itu hening beberapa saat. Tak lama, Aksa kembali masuk."Ibu, lihat deh, Kakek buyut kasih aku robot baru." Aksa memamerkan robot besar berwarna kuning di hadapan Freya. "Kalau aku tekan tombol di sini, robotnya bisa berubah jadi mobil."Dengan antusias, Aksa menekan tombol di bagian belakang robot dan dalam sekejap, robot itu langsung berubah menjadi mobil s

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 150 - Kesempatan datang

    Mata Dikta bergeser ke arah Freya dan menatapnya cukup lama. "Aku cuman iseng aja sih.""Iseng?" Alis Freya naik sebelah."Jujur, aku iri sama Arya karena bisa punya wanita setia sepertimu di sisinya. Seumur hidupku, belum pernah ada wanita yang begitu padaku. Yah, aku ingin merasakannya sesekali," bisik Dikta.Freya tersenyum sinis. Dia mengalihkan matanya ke arah depan, mengabaikan tatapan Dikta yang nampak berbahaya. "Kamu salah besar kalau kesetiaan bisa didapatkan hanya dengan meniru penampilan.""Aku tahu," sahut Dikta dengan cepat. Dia kembali duduk tegap lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Makanya aku bilang, aku cuman iseng, Kan? Jangan terlalu dianggap serius."Freya tidak membalas. Tangannya memegang erat tangan Aksa yang berada dalam genggamannya. Pemandangan jalanan di luar yang awalnya terasa indah, kini menjadi terasa gersang.Entah mengapa sikap Dikta membuat Freya teringat akan obsesi Aditya yang terasa mengerikan baginya.Akankah sikap itu akan terulang

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 149 - Menuju Singapura

    Seharian Freya sudah mempersiapkan semua kebutuhannya sendiri dengan Aksa untuk dibawa ke Singapura. Perjalanan kali ini, dia tidak akan tahu seberapa lama disana. Namun Freya sudah memantapkan hatinya untuk menyusul Arya dan merawat pria itu sebelum semuanya berganti menjadi sebuah penyesalan."Kita mau pindah, Bu?" tanya Aksa begitu masuk ke dalam kamar. Tatapan matanya tertuju pada dua koper besar yang sudah diisi oleh ibunya berbagai macam baju dan kebutuhan lainnya.Freya tersenyum tipis lalu menarik tangan Aksa, mengajaknya untuk duduk. "Iya, Sayang. Kita... mau ke Singapura.""Singapura?" Mata Aksa berbinar-binar. "Kita mau jenguk Om Arya, Kah?"Freya mengangguk. "Kamu senang mau ketemu Om Arya?""Senang, Bu. Aku udah kangen banget sama Om Arya, pengen ngobrol banyak sama dia." Aksa nampak antusias sambil membayangkan perbincangan antara dirinya dengan Arya nantinya. "Tapi, Bu, kita akan balik ke sini lagi, Kan?""Ibu belum tahu, Sayang."Tatapan antusias Aksa langsung berubah

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 148 - Memaafkan masa lalu

    Hanya dalam hitungan jam, narasi di media sosial berubah total. Netizen yang tadinya menghujat, kini berbalik menghujat Zea. Zea dicap sebagai wanita terobsesi yang mencoba menghancurkan kisah cinta orang lain, sementara Freya dipuja karena kesabarannya menghadapi wanita perusak tersebut.Sebelum Bambang beranjak dari sofa, dia memanggil Hendra untuk memberi Freya sebuah amplop tebal berwarna hitam kepada Freya."Ini bukan sekadar uang," ujar Bambang dengan nada tenang. "Di dalamnya terdapat sertifikat tanah dan aset properti di Jakarta yang telah aku balik nama atas nama Aksa. Juga, ada surat pengakuan perwalian yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk aku, yang boleh memisahkan Aksa darimu tanpa izinmu."Freya menatap dokumen-dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Pak, saya-""Tolong terima... kalau kamu menolak pemberianku, itu berarti kamu belum mau memaafkanku," kata Bambang. "Aku melakukan banyak kesalahan di masa lalu, Freya. Aku terlalu mementingkan perusaha

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 147 - Berbalik arah

    Dengan cepat Freya mematikan panggilan lalu jarinya mencari tahu soal beritanya di sosial media.Hanya dalam hitungan menit, Freya dapat menemukan video-video antara dirinya dengan Zea tadi malam. Berita itu mulai membanjiri media sosial dengan berbagai caption yang berlebihan.[Nyonya sosialita Z mabuk berat di jalan, labrak wanita yang menjadi selingkuhan suaminya!][Skandal perebutan kekuasaan? Sebut-sebut nama pengusaha besar!][Drama nyata di jalanan Jogja, lebih seru dari sinetron!]Dampak dari video viral itu menyebar dengan cepat. Membuat reputasi Zea hancur. Pasalnya, publik yang selama ini melihat Zea sebagai sosok wanita karir yang elegan di majalah mode, terkejut melihat sisi liarnya. Citranya sebagai wanita terhormat runtuh seketika.Adapaun sorotan pada Keluarga Bintara. Nama Arya ikut terseret karena Zea terus meneriakkan namanya. Namun, netizen mulai bersimpati pada Freya karena sikapnya yang tenang menghadapi wanita mabuk yang sedang mengamuk.Bukti dari video tersebu

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 146 - Dihadang Zea

    Setelah keluar dari rumah sakit, Freya segera mencegat taksi untuk mengantarkannya pulang. Pada awal perjalanan, semuanya berjalan tenang dan lancar. Tapi saat perjalanan baru mencapai setengah, ketenangan itu pecah oleh suara decitan ban yang memekakkan telinga. Taksi yang dinaiki Freya berhenti mendadak, membuat tubuhnya maju hingga kepalanya terpentok sandaran kursi di depannya. "Aduh!" rintihnya, meringis kesakitan di bagian kening.Sebuah mobil mewah ternyata telah memotong jalur taksi Freya secara kasar, memaksa sang sopir menginjak rem mendadaj."Mbak enggak apa-apa, Kan?" tanya sopir taksi dengan panik.Freya belum sempat menjawab ketika dia melihat sosok wanita keluar dari mobil di depannya. Itu Zea. Namun, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Rambutnya berantakan, riasannya luntur, dan langkahnya sempoyongan saat dia mulai memukul-mukul kaca jendela taksi Freya dengan brutal."Keluar kamu, Freya! Keluar!" teriak Zea histeris."Mbak, apa Mbak kenal dengan wanita itu?"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status