Home / Romansa / Jerat Cinta Pak Manajer Tampan / Bab 4 - Harus mengakui

Share

Bab 4 - Harus mengakui

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2025-11-27 23:45:50

Freya tak menjawab ucapan Arya, dia masih berusaha mengambil ponselnya meski Arya terus menghalanginya.

"Gimana kalau aku aja yang angkat?" goda Arya dengan tersenyum jahil.

"Jangan!" jerit Freya panik. Kalau sampai Arya menjawab panggilan itu, Arya pasti akan membeberkan kejadian semalam pada Rio.

"Akui dulu kalau yang datang ke apartemenku semalam itu kamu."

Freya menggigit bibir bawahnya. Dia panik, merasa berat untuk mengakui perbuatannya semalam.

Ya Tuhan... Tadinya dia hanya ingin mengerjai Arya, tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya?

"Gimana? Masih gak mau ngaku? Ya udah aku angkat."

Freya kembali menjerit, tapi Arya seolah tuli. Dia sudah menekan tombol hijau dan panggilan sedang berlangsung.

"Halo? Sayang? Kamu gak apa-apa, Kan? Kok tiba-tiba teleponnya mati tadi?" Suara Rio yang berat menggema di telinga Freya. Membuat pelipis Freya keringat dingin.

Arya sudah mendekatkan ponsel ke arah bibir, hendak bersuara. Tapi dengan cepat Freya menutup mulut Arya dan menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk jangan.

"Saya bakal ngaku, tapi serahkan dulu ponselnya," bisik Freya di telinga Arya.

Akhirnya ponsel dikembalikan pada Freya.

Setelah mengatur napas, Freya menjawab panggilan dari Rio dengan suara lembut dan juga manja seperti biasa. Dia memunggungi Arya yang masih berdiri di belakangnya dengan melipat kedua tangan.

Saat panggilan sudah selesai, Freya sudah bersiap-siap hendak melarikan diri. Tapi Arya tak kalah cepat. Dia menarik kerah blus Freya dari belakang-membuat Freya hanya bisa lari di tempat.

.

.

.

Angin kencang yang berhembus melalui jendela menerpa wajah Freya yang sedang menatap ke arah luar. Dia terlihat menatap gedung-gedung pencakar langit yang berada jauh dari pandangannya, padahal otaknya dipenuhi kekhawatiran.

Di depannya, Arya masih berdiri tegak dengan melipat kedua tangan. Rambut ikalnya menari-nari seiring dengan pergerakan angin. Tapi tatapannya lurus ke arah Freya dengan mata menyipit.

Saat ini mereka berada di dalam gudang kantor yang letaknya di rooftop. Suasana sepi karena hanya ada barang-barang terbengkalai. Sengaja Freya mengajaknya ke sana, agar tak ada orang yang mendengar pengakuannya.

"Jadi semalam kamu mabuk. Terus niatnya mau ke apartemennya Rio, tapi malah salah masuk ke apartemenku?" Arya meringkas cerita Freya yang kemudian dijawab Freya dengan anggukan. "Terus habis itu pergi tanpa pamitan karena ingin lari dari tanggung jawab?" Freya mengangguk lagi.

"Eh? Kapan saya bilang begitu?" tanyanya saat menyadari kalau ucapan Arya salah.

"Kalau gak gitu, apa namanya? Kamu pergi tanpa pamitan. Itu lari dari tanggung jawab namanya."

"Tanggung jawab? Emang saya ngapain aja semalam? Bukannya..." Freya berusaha mengingat keadaannya tadi pagi-saat dia bangun dengan keadaan polos. Wajahnya memerah karena malu. "...harusnya kan bapak yang tanggung jawab."

"Kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab? Kamu gak ingat gimana liarnya kamu semalam?" cecar Arya dipenuhi amarah.

Freya menggeleng seperti orang bodoh.

Arya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut-denyut. "Aku gak mau tahu. Pokoknya kamu harus tanggung jawab."

"Gimana saya mau tanggung jawab kalau saya sendiri gak ingat kejadian semalam?" protes Freya.

Tanpa diduga, Arya memangkas jarak diantara mereka. Membuat Freya menjadi gugup. "B-bapak mau ngapain?"

Freya ingin mundur. Tapi Arya dengan cepat menarik lengannya, membuat jarak mereka begitu dekat. Hingga Freya dapat merasakan hembusan napas yang begitu hangat menyapu seluruh wajahnya, dan dada bidang yang keras milik Arya yang begitu terasa di tangannya.

Niatnya untuk protes langsung terhenti begitu bibir tebal milik Arya mendekat ke arah bibirnya, membuat napasnya tercekat.

"Bukannya kamu bilang kamu lupa sama kejadian semalam? Biar aku ulangi reka adegan semalam supaya kamu ingat." Suara Arya yang begitu rendah dan perlakuannya yang intim membuat Freya bergidik.

"S-saya udah ingat," kata Freya panik sambil mendorong tubuh Arya hingga terpukul mundur. "Saya bakal tanggung jawab," ucapnya dengan lantang."

Arya tersenyum samar lalu membenahi rambut ikalnya yang berantakan. "Kalau kamu benar-benar niat untuk tanggung jawab, datang besok ke apartemenku jam enam sore."

"Apartemen bapak? Mau apa?" tanya Freya, alisnya naik sebelah.

"Gak usah banyak tanya. Pokoknya datang aja," ujar Arya. Kemudian dia membalikkan badan hendak keluar dari gudang. Tapi saat di depan pintu, dia menghentikan langkah. "Kalau besok kamu gak datang, video cctv saat kamu maksa masuk ke apartemenku akan kusebar ke seluruh karyawan di kantor."

Pintu ditutup dengan kencang saat Arya keluar dari gudang. Setelahnya, Freya baru bisa bernapas dengan lega. Dia menyenderkan punggung ke dinding gudang yang berdebu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar-debar. Entah kenapa, setiap berhadapan dengan Arya, debaran jantungnya tidak bisa dia kendalikan.

Bukan karena jatuh cinta, melainkan rasa takut dan tertekan akibat perasaan bersalah atas kelakuannya.

Akibat tekanan diluar nalar dari Arya, membuatnya terpaksa mengakui ingatannya.

Freya menggelengkan kepala, merasa menyesal karena mau-mau saja saat dicekoki minuman alkohol oleh temannya. Harusnya saat itu dia langsung mundur dari party saja, bukannya menuruti keinginan Erlin untuk minum-minum sampai mabuk tak terkendali.

Kalau dia tidak mabuk, pasti semalam dia sudah menghabiskan malam yang romantis bersama Rio. Bukan bersama lelaki kanebo kering seperti Arya.

Di depan pintu ruangan kerja, terlihat Erlin berdiri tegak di sana.

"Gimana meetingnya?" tanya Erlin begitu Freya mendekat.

"Oke-oke aja sih," jawab Freya sambil masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya, Erlin membuntuti.

"Kudengar ada manajer baru yang menjabat di timmu. Orang-orang bilang, dia ganteng banget. Aku jadi penasaran," kata Erlin penasaran.

"Ganteng darimana? Kalau nyebelin sih iya," gerutu Freya.

"Oh ya? Nanti deh biar aku buktiin sendiri." Erlin bersandar pada ujung meja, lalu teringat dengan kejadian semalam. "Semalam Rio nelpon, katanya kamu gak jadi mampir ke apartemennya ya?"

"Kemarin aku langsung pulang," jawab Freya berbohong. "Aku pusing karena mabuk berat habis kamu cekokin minuman." Freya memasang wajah bad mood yang membuat Erlin merasa bersalah.

"Maaf deh. Sebagai permintaan maaf, gimana kalau besok sore aku traktir kamu ke Restoran fine dining yang baru buka di Angola city? Kamu ajak Rio, aku ajak Fredy. Biar kita double date di sana."

Freya kembali excited dan berniat untuk meng-iyakan ajakan Erlin. Tapi dia teringat dengan ancaman Arya.

"Sori, Er. Besok aku udah ada janji mau ketemu client."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 190 - Tamat

    Taman belakang yang biasanya hanya hijau kini dipenuhi dengan berbagai jenis bunga hingga taman menjadi warna-warni. Di tengah taman, ada sebuah tenda kecil dari kain putih yang cantik, dan di sana telah berdiri Aksa dengan senyuman lebar.Dan di samping Aksa, berdiri Arya. Dia mengenakan baju kasual yang rapi. Wajahnya berseri dan sedang memegang satu buket besar bunga mawar merah di tangannya."Kejutan!" teriak Aksa sambil berlari kecil memeluk pinggang Freya.Arya melangkah mendekat, matanya menatap Freya dengan binar cinta yang dalam. Dia mengecup kening Freya cukup lama. "Maaf ya karena aku nggak menjemputmu tadi. Aku cuman ingin memastikan semuanya siap untuk menyambutmu kembali ke rumah."Rasa kesal Freya menguap seketika, digantikan oleh air mata haru yang mengalir deras. Freya pun mencium pipi Arya singkat.Aksa mendongak, mengerucutkan bibir sambil berkacak pinggang. "Ih, Ayah curang! Aku juga mau dicium Ibu!" protesnya dengan suara cempreng.Freya tertawa kecil, rasa haru d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 189 - Kejutan untuk Freya

    Dua hari berlalu dengan rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi Arya bekerja dan setiap sore hingga malam dia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Freya. Dia tidak ingin Freya merasa kesepian saat menjalani perawatan di rumah sakit.Di satu sore, Arya baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah kakeknya. Wajahnya tampak letih, namun dia tetap tersenyum saat melihat sosok kecil berlari ke arahnya. Hatinya masih ada perasaan bersalah saat mengingat dirinya pernah mengabaikan perhatian bocah kecil itu."Ayah!" teriak Aksa sambil memeluk kaki Arya.Arya berjongkok, menggendong putra kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Hai, jagoan Ayah. Udah mandi?"Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Arya dengan tatapan menyelidik. "Ayah... Ibu kapan pulangnya?" tanya Aksa dengan suara lirih. "Ibu udah lama banget di luar kota. Aku kangen. Biasanya kalau Ibu pergi kerja jauh, malam-malam Ibu selalu telepon, tapi sekarang Ibu jarang angkat teleponku."Hati Arya mencelos mendengar pertanyaan

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 188 - Freya siuman

    Setelah berganti dengan kemeja yang baru saja dibawakan oleh salah satu suruhan Dikta, Arya menghela napas panjang. Dia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah yang lebih tegar.Begitu dia kembali ke depan ruang IGD, Dikta langsung berdiri. "Arya, dokter baru aja keluar tadi. Dia bilang operasinya lancar. Guntingnya nggak mengenai organ vital, meski pendarahannya cukup banyak. Sekarang mereka sedang memindahkan Freya ke ruang pemulihan."Mendengar itu, kekuatan di kaki Arya seolah tersedot habis. Dia terduduk di kursi dengan penuh rasa syukur.Langkah kaki Arya terasa berat saat dia menyusuri koridor rumah sakit menuju bangsal rawat inap. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Freya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya masih pucat dengan deru napas yang teratur.Arya mendekat dengan perlahan dan menarik kursi di samping ranjang untuk duduk di sana. Dengan gerakan yang hati-hati, dia meraih tangan Freya yang terbebas dari infus, lalu menggenggamnya dengan kedua tanga

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 187 - Mengingat semuanya

    Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jernih. Arya teringat di sebuah kamar tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tepi ranjang, menatap Freya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk bercak darah di atas sprei putih.Dalam ingatan itu, Arya mengingat rasa bersalah yang menghimpit dadanya saat dia mengatakan semua kebohongannya tentang hubungan intim bersama Freya demi mengikat Freya."Sprei itu... darah itu..." gumam Arya tanpa sadar, air matanya jatuh menetes mengenai pipi pucat Freya.Arya teringat betapa egoisnya dia dulu. Dia mengingat dengan jelas wajah ketakutan Freya saat dia membohonginya tentang malam itu.Dia merasa sangat kecil dan hina. Saat amnesia, dia bersikap sombong, dingin, dan penuh curiga pada Freya. Dia bahkan sempat menuduh Freya selingkuh dengan Dikta, padahal wanita yang dia tuduh itu sekarang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dari Aditya. Arya merasa tidak layak mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari seseorang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 186 - Tusukan Gunting

    Mendengar itu, rahang Arya mengeras. Kepalan tangannya sudah bersiap hendak menghantam wajah Aditya, namun dia menahan diri sejenak, menatap Aditya dengan kebencian yang mendalam."Kamu salah besar kalau mengira kata-kata provokatifmu membuat amarahku terpancing," ucap Arya tepat di depan wajah Aditya. "Kamu masuk ke kantorku, mengancam istriku dan merasa bisa melenggang bebas? Kamu harus ingat kalau di sini, akulah yang memegang kendali."Arya kemudian memalingkan sedikit wajahnya ke arah Freya tanpa melepas Aditya. "Freya, telepon keamanan sekarang. Dan hubungi polisi. Katakan ada orang yang berbuat onar di sini."Aditya mencoba memberontak, namun kekuatan fisik Arya jauh di atasnya. Arya mengunci pergerakan Aditya dengan menekan lengannya ke tenggorokan pria itu, memastikan Aditya tidak bisa berkutik sedikit pun.Tak lama dari itu, dua petugas keamanan gedung yang dipanggil Freya akhirnya datang. Keduanya berlari masuk dengan napas terengah-engah dan terkejut saat melihat Arya seda

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 185 - Pemegang kendali

    Sambil menghela napas panjang, Freya menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Pikirannya masih kacau karena pertemuan dengan Aditya tadi, membuatnya melakukan banyak kesalahan pada laporan hingga Arya menyuruhnya mengulang berkali-kali. Kantor kini mulai sepi, menyisakan lampu-lampu temaram di sudut ruangan.Rasa takut dan rindu pada Aksa membuatnya ingin bertemu. Sebelum kembali fokus mengerjakan revisi yang seolah tak ada habisnya, Freya meraih ponsel dan segera melakukan video call ke nomor Bi Inah untuk melihat wajah Aksa.Begitu panggilan tersambung, wajah polos Aksa muncul di layar dengan senyum lebar."Ibu! Kok belum pulang?" tanya Aksa dengan suara cerianya."Iya, Sayang. Ibu masih ada kerjaan sedikit lagi. Aksa udah makan?" tanya Freya."Udah! Tadi disuapin Bi Inah. Ibu lembur sama Ayah ya?" Mendengar itu, hati Freya sedikit mencelos. Dia melirik ke ruang kerjanya Arya dan memang terlihat lampu masih menyala. "Ah, iya, Ibu lembur sama Ayah.""Kalau gitu, Ibu cepat pulang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 68 - Nenek meninggal

    Pak Baskoro terdiam sejenak. Dia menyandarkan punggung, menatap langit-langit ruangan."Hamil... di tengah proyek besar yang baru saja kita mulai di Jogja. Jujur saja, Freya, ini di luar perhitungan saya. Kehamilan berarti akan ada masa cuti, fokus yang terbagi, dan resiko kesehatan seperti y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 67 - Fisik melemah

    "Hamil?" Suara Dina terdengar gemetar, cangkir teh di tangannya nyaris terjatuh. Matanya menatap tajam ke arah perut Freya yang mulai tampak berbeda di balik daster longgarnya. "Freya... apa yang tadi kamu katakan?"Freya menunduk dalam, tangannya meremas ujung bajunya sendiri. "Maaf, Bu. Aku

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 66 - Setelah pindah

    Waktu peresmian proyek Pesona Bahari fase pertama tiba dengan kemegahan. Udara pagi dipenuhi aroma laut yang segar bercampur dengan wangi bunga lily putih dari ratusan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapi. Karpet merah tebal digelar, memandu para tamu dari area lobi terbuka menuju podiu

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 65 - Malam sebelum pelarian

    Pagi itu, suasana kantor terasa sibuk. Ruang rapat besar telah dipenuhi oleh jajaran direksi, tim teknis, dan para investor. Salah satu investor merupakan keluarga Atmadja yang beberapa hari lalu baru bergabung. Ini adalah rapat final sebelum seremonial pembukaan proyek Pesona Bahari fase pertama d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status