Share

Bab 7 - Tatapan aneh

Author: Gilva Afnida
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-11 18:00:59

Pramuniaga tadi membimbing Freya ke kamar fitting yang luas atas perintah dari Citra.

Setelah Freya melepas pakaiannya, si pramuniaga membantunya memakaikan gaun merah itu ke tubuh Freya. Kain sutra menyentuh kulit Freya dengan sensasi yang lembut dan sejuk. Saat pramuniaga menutup resleting di punggung, Freya merasakan gaun itu menyesuaikan bentuk tubuhnya dengan sempurna—tidak terlalu ketat, namun cukup untuk membuat dia merasa percaya diri.

Freya menatap ke arah cermin dan mulutnya terbuka terkejut. Di cermin dia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Karena gaun itu, bahunya terlihat tegak dengan rambut hitam tergelincir ke satu sisi. Warna gaun itu nampak kontras dengan kulitnya yang putih, tapi justru membuat wajahnya nampak menyala. Ketika dia bergerak sedikit, helai kain di belakang melayang-layang seperti ombak merah dan kilau sutra membuatnya tampak seolah bersinar dari dalam.

“Gaun ini luar biasa,” bisik Freya, menyentuh pipinya sendiri seolah tidak percaya.

Pramuniaga membantunya untuk keluar dari ruang fitting menuju ke ruang tunggu-tempat dimana Arya dan Citra sudah menunggunya di sana.

Freya berdiri canggung dihadapan Arya dan Citra yang menatapnya bak juri sedang menilai penampilannya.

"Kamu sangat berjodoh dengan gaun merah itu," kata Citra, matanya berbinar senang. "Gaun itu membuatmu jadi terlihat lebih dewasa dan juga mahal."

"Terima kasih." Freya berkilat senang. Tapi kilat itu meredup saat dia menggeser pandangannya ke arah Arya.

Arya hanya diam, memandang Freya dari atas ke bawah, balik lagi ke atas, berhenti cukup lama di bagian tengah gaun. Lalu sepasang matanya terangkat bertemu dengan mata Freya. Sorot mata Arya menggelap. Sekilas Freya melihat kilatan aneh yang belum pernah Freya ketahui itu apa.

Kemudian Arya memejamkan kedua matanya sekejap dan saat membuka mata, kilatan aneh itu sudah menghilang. Berganti dengan sorot mata yang datar tanpa ekspresi. Arya berdeham pelan kemudian langsung keluar ruangan tanpa mengatakan apa-apa.

Citra juga kebingungan. Dia juga mengikuti Arya keluar yang membuat Freya merasa aneh.

Tadi itu maksudnya apa? pikir Freya gelisah.

Setelah menunggu selama beberapa saat, Arya masuk lagi bersama Citra. Pramuniaga tadi dibisiki oleh Citra lalu mereka mengambil sebuah gaun selutut dengan lengan balon berwarna hitam dari deretan rak. Citra menampilkan gaun itu ke arah Arya.

Arya manggut-manggut sambil mengusap dagunya. "Baik, Tante. Yang ini aja, lebih bagus," ucapnya.

"Tapi... bukannya gaun ini terlihat lebih bagus?" Freya memberi pendapat. Dia merasa Arya salah ambil pilihan. Harusnya Arya membeli gaun merah itu dibanding gaun hitam yang lebih sederhana.

"Gak. Gaun yang tadi lebih aman," kata Arya.

"Maksudnya?"

"Kita mau menghadiri acara pesta outdoor dan di luar cuaca sedang berangin. Kamu mau masuk angin selama pakai gaun terbuka itu?"

"Oh." Mulut Freya mem-beo. "Jadi kamu beli gaun untukku ya?"

Arya memijat pangkal hidungnya. "Kalau gak beliin buat kamu, terus buat siapa lagi? Aku gitu?"

"Hehe..." Freya menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. "Maaf, habisnya kamu gak ngasih tahu tadi."

Freya pun berbalik ke ruang fitting, mengganti gaun merah tadi dengan gaun pilihan Arya.

"Hmm... sayang sekali ya, Nona. Padahal gaun merah tadi terlihat memukau di tubuh anda," ujar pramuniaga merasa sayang dengan keputusan Arya.

"Yah, mau gimana lagi," ujar Freya mengendikkan bahunya. "Aku hanya nurut dengan si penyumbang dana."

Setelah mengganti gaun, Freya mengobrol sebentar dengan Citra sementara Arya membayar gaunnya.

Perjalanan mereka lanjutkan setelah pergi dari butik. Melihat jalanan yang terlihat asing, Freya pun bertanya pada Arya, "Sebenarnya kita mau kemana sih?"

"Ke salon dulu sebelum ke villa Setyowati."

Freya menoleh. "Ngapain ke salon?"

"Kamu kan belum dandan."

"Tapi kan aku bisa dandan sendiri."

Arya melirik tajam dari sudut matanya. "Gak. Takut jadi badut malahan."

Freya mengerucutkan bibirnya. Arya terlalu meremehkan dirinya yang pernah menang lomba merias se-kabupaten.

Sesampainya di salon, Freya hanya diam dan menurut. Atas dasar perintah dari Arya, di sana Freya didandani dengan tampilan riasan yang segar dan natural. Alisnya digambar tipis dan dibentuk sesuai dengan aslinya. Pipinya diberi sedikit taburan pewarna merah yang memberikan kesan sedang tersipu malu. Bulu mata diberi maskara agar terlihat lebih lentik. Bibirnya diberi polesan lipstik berwarna nude yang glossy dan tampak alami.

Setelah semua dirasa sudah siap dan selesai, Arya meluncurkan mobilnya lagi menuju ke sebuah villa yang jalannya berkelok-kelok dan sedikit curam.

Setengah jam kemudian. Pintu gerbang villa kayu besar terbuka lebar mengantar mobil milik Arya memasuki ke dalam halaman yang luas dan indah. Tanah berumput hijau yang rapi membentang sampai ke tebing yang menghadap laut, sementara pepohonan yang rindang menyebar di tepi jalan. Lampu hias berbentuk bintang terpasang di antara cabang pohon, menciptakan cahaya gemerlap yang menyinari area halaman pesta.

Di dalam halaman itu sudah terparkir banyak mobil mewah yang berjejer rapi. Freya yakin, pemilik dari mobil-mobil itu bukanlah orang yang sembarangan.

"Kita kesini untuk menghadiri acara perayaan anniversary kakek-nenekku," kata Arya setelah mereka keluar dari mobil. "Ingat, untuk saat ini kamu adalah kekasihku. Jadi bersikaplah selayaknya sepasang kekasih."

"Kenapa gak bilang dari tadi? Tahu gitu aku beli sesuatu dulu untuk kakek nenekmu sebelum ke sini," gerutu Freya.

"Gak usah repot-repot. Aku udah siapin yang spesial untuk kakek dan nenekku."

Mereka berdua berjalan, menginjakkan kaki di atas karpet merah yang dipasang dari ujung halaman ke teras villa. Gaun hitam lengan panjangnya terasa nyaman di udara malam yang berangin. Beruntung Arya tidak menyetujui keinginan Freya untuk pakai gaun merah yang terbuka tadi. Kalau tidak, pasti sekarang Freya menggigil karena kedinginan.

"Sini tanganmu," bisik Arya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 190 - Tamat

    Taman belakang yang biasanya hanya hijau kini dipenuhi dengan berbagai jenis bunga hingga taman menjadi warna-warni. Di tengah taman, ada sebuah tenda kecil dari kain putih yang cantik, dan di sana telah berdiri Aksa dengan senyuman lebar.Dan di samping Aksa, berdiri Arya. Dia mengenakan baju kasual yang rapi. Wajahnya berseri dan sedang memegang satu buket besar bunga mawar merah di tangannya."Kejutan!" teriak Aksa sambil berlari kecil memeluk pinggang Freya.Arya melangkah mendekat, matanya menatap Freya dengan binar cinta yang dalam. Dia mengecup kening Freya cukup lama. "Maaf ya karena aku nggak menjemputmu tadi. Aku cuman ingin memastikan semuanya siap untuk menyambutmu kembali ke rumah."Rasa kesal Freya menguap seketika, digantikan oleh air mata haru yang mengalir deras. Freya pun mencium pipi Arya singkat.Aksa mendongak, mengerucutkan bibir sambil berkacak pinggang. "Ih, Ayah curang! Aku juga mau dicium Ibu!" protesnya dengan suara cempreng.Freya tertawa kecil, rasa haru d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 189 - Kejutan untuk Freya

    Dua hari berlalu dengan rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi Arya bekerja dan setiap sore hingga malam dia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Freya. Dia tidak ingin Freya merasa kesepian saat menjalani perawatan di rumah sakit.Di satu sore, Arya baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah kakeknya. Wajahnya tampak letih, namun dia tetap tersenyum saat melihat sosok kecil berlari ke arahnya. Hatinya masih ada perasaan bersalah saat mengingat dirinya pernah mengabaikan perhatian bocah kecil itu."Ayah!" teriak Aksa sambil memeluk kaki Arya.Arya berjongkok, menggendong putra kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Hai, jagoan Ayah. Udah mandi?"Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Arya dengan tatapan menyelidik. "Ayah... Ibu kapan pulangnya?" tanya Aksa dengan suara lirih. "Ibu udah lama banget di luar kota. Aku kangen. Biasanya kalau Ibu pergi kerja jauh, malam-malam Ibu selalu telepon, tapi sekarang Ibu jarang angkat teleponku."Hati Arya mencelos mendengar pertanyaan

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 188 - Freya siuman

    Setelah berganti dengan kemeja yang baru saja dibawakan oleh salah satu suruhan Dikta, Arya menghela napas panjang. Dia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah yang lebih tegar.Begitu dia kembali ke depan ruang IGD, Dikta langsung berdiri. "Arya, dokter baru aja keluar tadi. Dia bilang operasinya lancar. Guntingnya nggak mengenai organ vital, meski pendarahannya cukup banyak. Sekarang mereka sedang memindahkan Freya ke ruang pemulihan."Mendengar itu, kekuatan di kaki Arya seolah tersedot habis. Dia terduduk di kursi dengan penuh rasa syukur.Langkah kaki Arya terasa berat saat dia menyusuri koridor rumah sakit menuju bangsal rawat inap. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Freya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya masih pucat dengan deru napas yang teratur.Arya mendekat dengan perlahan dan menarik kursi di samping ranjang untuk duduk di sana. Dengan gerakan yang hati-hati, dia meraih tangan Freya yang terbebas dari infus, lalu menggenggamnya dengan kedua tanga

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 187 - Mengingat semuanya

    Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jernih. Arya teringat di sebuah kamar tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tepi ranjang, menatap Freya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk bercak darah di atas sprei putih.Dalam ingatan itu, Arya mengingat rasa bersalah yang menghimpit dadanya saat dia mengatakan semua kebohongannya tentang hubungan intim bersama Freya demi mengikat Freya."Sprei itu... darah itu..." gumam Arya tanpa sadar, air matanya jatuh menetes mengenai pipi pucat Freya.Arya teringat betapa egoisnya dia dulu. Dia mengingat dengan jelas wajah ketakutan Freya saat dia membohonginya tentang malam itu.Dia merasa sangat kecil dan hina. Saat amnesia, dia bersikap sombong, dingin, dan penuh curiga pada Freya. Dia bahkan sempat menuduh Freya selingkuh dengan Dikta, padahal wanita yang dia tuduh itu sekarang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dari Aditya. Arya merasa tidak layak mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari seseorang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 186 - Tusukan Gunting

    Mendengar itu, rahang Arya mengeras. Kepalan tangannya sudah bersiap hendak menghantam wajah Aditya, namun dia menahan diri sejenak, menatap Aditya dengan kebencian yang mendalam."Kamu salah besar kalau mengira kata-kata provokatifmu membuat amarahku terpancing," ucap Arya tepat di depan wajah Aditya. "Kamu masuk ke kantorku, mengancam istriku dan merasa bisa melenggang bebas? Kamu harus ingat kalau di sini, akulah yang memegang kendali."Arya kemudian memalingkan sedikit wajahnya ke arah Freya tanpa melepas Aditya. "Freya, telepon keamanan sekarang. Dan hubungi polisi. Katakan ada orang yang berbuat onar di sini."Aditya mencoba memberontak, namun kekuatan fisik Arya jauh di atasnya. Arya mengunci pergerakan Aditya dengan menekan lengannya ke tenggorokan pria itu, memastikan Aditya tidak bisa berkutik sedikit pun.Tak lama dari itu, dua petugas keamanan gedung yang dipanggil Freya akhirnya datang. Keduanya berlari masuk dengan napas terengah-engah dan terkejut saat melihat Arya seda

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 185 - Pemegang kendali

    Sambil menghela napas panjang, Freya menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Pikirannya masih kacau karena pertemuan dengan Aditya tadi, membuatnya melakukan banyak kesalahan pada laporan hingga Arya menyuruhnya mengulang berkali-kali. Kantor kini mulai sepi, menyisakan lampu-lampu temaram di sudut ruangan.Rasa takut dan rindu pada Aksa membuatnya ingin bertemu. Sebelum kembali fokus mengerjakan revisi yang seolah tak ada habisnya, Freya meraih ponsel dan segera melakukan video call ke nomor Bi Inah untuk melihat wajah Aksa.Begitu panggilan tersambung, wajah polos Aksa muncul di layar dengan senyum lebar."Ibu! Kok belum pulang?" tanya Aksa dengan suara cerianya."Iya, Sayang. Ibu masih ada kerjaan sedikit lagi. Aksa udah makan?" tanya Freya."Udah! Tadi disuapin Bi Inah. Ibu lembur sama Ayah ya?" Mendengar itu, hati Freya sedikit mencelos. Dia melirik ke ruang kerjanya Arya dan memang terlihat lampu masih menyala. "Ah, iya, Ibu lembur sama Ayah.""Kalau gitu, Ibu cepat pulang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 97 - Celoteh Aksa

    Freya memutar tubuhnya sedikit untuk menatap wajah Arya. Di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram, dia melihat kejujuran yang mentah di mata pria itu."Kadang aku terbangun di tengah malam dan merasa sangat marah pada diriku sendiri karena bayangan itu terasa begitu nyata," Arya mengusa

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 90 - Rumah impian

    Arya tersentak. Dia segera menangkap pergelangan tangan Freya sebelum wanita itu sempat berdiri. "Bukan... bukan itu maksudku, Fre. Tunggu."Arya menatap mata Freya, berusaha menunjukkan ketulusannya. "Maksudku, aku gak ingin membuatmu lelah setelah semua tekanan yang kamu alami hari ini. Aku

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 89 - Bestie Aksa

    Momen emosional antara Arya dan Freya tiba-tiba terhenti oleh suara langkah kecil yang beradu dengan lantai marmer. Aksa muncul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk putih besar yang melilit tubuh kecilnya, membuat kepalanya terlihat makin mungil. Rambutnya masih basah dan berantakan, sementar

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 88 - Ikatan darah

    "Halo.""Halo, Ibu..." Suara Freya hampir menghilang saat mendengar suara ibunya."Freya! Ya Tuhan, Fre, kamu di mana? Ibu baru aja melihat berita di televisi... Ibu gak percaya dengan apa yang mereka katakan. Mereka bilang kamu pengganggu rumah tangga orang?" Suara Dina terdengar penuh kecemasan d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status