MasukFreya tidak memedulikan seruan itu. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut. Dia harus sampai ke mobil sebelum Arya berhasil meraih tangannya. Di ujung jalan setapak, dia sudah melihat mobil taksi yang memang dia suruh untuk menunggunya.
"Jalan, Pak! Sekarang!" seru Freya begitu dia berhasil masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.Saat sopir melihat raut wajah Freya yang panik, dia langsung paham dan menginjak gas. Mobil meluncur cepat meninggalkan area pemakaman.Melalui kaFreya menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air matanya yang terus ingin tumpah. Dia mengusap punggung tangan Arya dengan ibu jarinya, lalu dengan gemetar, menyentuh pipi Arya yang pucat."Mas, kamu tahu... Aksa merindukanmu," bisik Freya dengan suara serak. "Aksa sudah tahu kalau kamu adalah ayahnya. Dia sangat senang, Mas."Freya mengusap dahi Arya, menyisir rambut pria itu di sela perban menggunakan tangannya. "Mas, Aditya sudah dipenjara, begitupun dengan Zea. Kakekmu bahkan sudah mengizinkan kami di sini. Enggak ada lagi yang menghalangi kita. Jadi, tolong... jangan menyerah sekarang. Bangunlah dan peluk Aksa."Setelah itu hening beberapa saat. Tak lama, Aksa kembali masuk."Ibu, lihat deh, Kakek buyut kasih aku robot baru." Aksa memamerkan robot besar berwarna kuning di hadapan Freya. "Kalau aku tekan tombol di sini, robotnya bisa berubah jadi mobil."Dengan antusias, Aksa menekan tombol di bagian belakang robot dan dalam sekejap, robot itu langsung berubah menjadi mobil s
Mata Dikta bergeser ke arah Freya dan menatapnya cukup lama. "Aku cuman iseng aja sih.""Iseng?" Alis Freya naik sebelah."Jujur, aku iri sama Arya karena bisa punya wanita setia sepertimu di sisinya. Seumur hidupku, belum pernah ada wanita yang begitu padaku. Yah, aku ingin merasakannya sesekali," bisik Dikta.Freya tersenyum sinis. Dia mengalihkan matanya ke arah depan, mengabaikan tatapan Dikta yang nampak berbahaya. "Kamu salah besar kalau kesetiaan bisa didapatkan hanya dengan meniru penampilan.""Aku tahu," sahut Dikta dengan cepat. Dia kembali duduk tegap lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Makanya aku bilang, aku cuman iseng, Kan? Jangan terlalu dianggap serius."Freya tidak membalas. Tangannya memegang erat tangan Aksa yang berada dalam genggamannya. Pemandangan jalanan di luar yang awalnya terasa indah, kini menjadi terasa gersang.Entah mengapa sikap Dikta membuat Freya teringat akan obsesi Aditya yang terasa mengerikan baginya.Akankah sikap itu akan terulang
Seharian Freya sudah mempersiapkan semua kebutuhannya sendiri dengan Aksa untuk dibawa ke Singapura. Perjalanan kali ini, dia tidak akan tahu seberapa lama disana. Namun Freya sudah memantapkan hatinya untuk menyusul Arya dan merawat pria itu sebelum semuanya berganti menjadi sebuah penyesalan."Kita mau pindah, Bu?" tanya Aksa begitu masuk ke dalam kamar. Tatapan matanya tertuju pada dua koper besar yang sudah diisi oleh ibunya berbagai macam baju dan kebutuhan lainnya.Freya tersenyum tipis lalu menarik tangan Aksa, mengajaknya untuk duduk. "Iya, Sayang. Kita... mau ke Singapura.""Singapura?" Mata Aksa berbinar-binar. "Kita mau jenguk Om Arya, Kah?"Freya mengangguk. "Kamu senang mau ketemu Om Arya?""Senang, Bu. Aku udah kangen banget sama Om Arya, pengen ngobrol banyak sama dia." Aksa nampak antusias sambil membayangkan perbincangan antara dirinya dengan Arya nantinya. "Tapi, Bu, kita akan balik ke sini lagi, Kan?""Ibu belum tahu, Sayang."Tatapan antusias Aksa langsung berubah
Hanya dalam hitungan jam, narasi di media sosial berubah total. Netizen yang tadinya menghujat, kini berbalik menghujat Zea. Zea dicap sebagai wanita terobsesi yang mencoba menghancurkan kisah cinta orang lain, sementara Freya dipuja karena kesabarannya menghadapi wanita perusak tersebut.Sebelum Bambang beranjak dari sofa, dia memanggil Hendra untuk memberi Freya sebuah amplop tebal berwarna hitam kepada Freya."Ini bukan sekadar uang," ujar Bambang dengan nada tenang. "Di dalamnya terdapat sertifikat tanah dan aset properti di Jakarta yang telah aku balik nama atas nama Aksa. Juga, ada surat pengakuan perwalian yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk aku, yang boleh memisahkan Aksa darimu tanpa izinmu."Freya menatap dokumen-dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Pak, saya-""Tolong terima... kalau kamu menolak pemberianku, itu berarti kamu belum mau memaafkanku," kata Bambang. "Aku melakukan banyak kesalahan di masa lalu, Freya. Aku terlalu mementingkan perusaha
Dengan cepat Freya mematikan panggilan lalu jarinya mencari tahu soal beritanya di sosial media.Hanya dalam hitungan menit, Freya dapat menemukan video-video antara dirinya dengan Zea tadi malam. Berita itu mulai membanjiri media sosial dengan berbagai caption yang berlebihan.[Nyonya sosialita Z mabuk berat di jalan, labrak wanita yang menjadi selingkuhan suaminya!][Skandal perebutan kekuasaan? Sebut-sebut nama pengusaha besar!][Drama nyata di jalanan Jogja, lebih seru dari sinetron!]Dampak dari video viral itu menyebar dengan cepat. Membuat reputasi Zea hancur. Pasalnya, publik yang selama ini melihat Zea sebagai sosok wanita karir yang elegan di majalah mode, terkejut melihat sisi liarnya. Citranya sebagai wanita terhormat runtuh seketika.Adapaun sorotan pada Keluarga Bintara. Nama Arya ikut terseret karena Zea terus meneriakkan namanya. Namun, netizen mulai bersimpati pada Freya karena sikapnya yang tenang menghadapi wanita mabuk yang sedang mengamuk.Bukti dari video tersebu
Setelah keluar dari rumah sakit, Freya segera mencegat taksi untuk mengantarkannya pulang. Pada awal perjalanan, semuanya berjalan tenang dan lancar. Tapi saat perjalanan baru mencapai setengah, ketenangan itu pecah oleh suara decitan ban yang memekakkan telinga. Taksi yang dinaiki Freya berhenti mendadak, membuat tubuhnya maju hingga kepalanya terpentok sandaran kursi di depannya. "Aduh!" rintihnya, meringis kesakitan di bagian kening.Sebuah mobil mewah ternyata telah memotong jalur taksi Freya secara kasar, memaksa sang sopir menginjak rem mendadaj."Mbak enggak apa-apa, Kan?" tanya sopir taksi dengan panik.Freya belum sempat menjawab ketika dia melihat sosok wanita keluar dari mobil di depannya. Itu Zea. Namun, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Rambutnya berantakan, riasannya luntur, dan langkahnya sempoyongan saat dia mulai memukul-mukul kaca jendela taksi Freya dengan brutal."Keluar kamu, Freya! Keluar!" teriak Zea histeris."Mbak, apa Mbak kenal dengan wanita itu?"







