Share

Bab 71 - Aksa deman

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2026-01-20 17:01:37

Pukul tujuh pagi, Freya baru saja selesai mengenakan blus terracotta dan rok selutut berwarna hitam. Dia mengecek ponsel. Sudah seharusnya pengasuh Aksa yang bernama Ria, datang untuk menemani Aksa.

Namun hingga setengah jam menunggu, Ria tak kunjung datang dan belum memberi kabar.

Saat dia hendak menelepon Ria, sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel. Itu dari Ria.

[Bu Freya, maaf, sepertinya saya akan datang telat. Di jalan saya terjebak macet dan gak bisa maju ataupun mundu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 190 - Tamat

    Taman belakang yang biasanya hanya hijau kini dipenuhi dengan berbagai jenis bunga hingga taman menjadi warna-warni. Di tengah taman, ada sebuah tenda kecil dari kain putih yang cantik, dan di sana telah berdiri Aksa dengan senyuman lebar.Dan di samping Aksa, berdiri Arya. Dia mengenakan baju kasual yang rapi. Wajahnya berseri dan sedang memegang satu buket besar bunga mawar merah di tangannya."Kejutan!" teriak Aksa sambil berlari kecil memeluk pinggang Freya.Arya melangkah mendekat, matanya menatap Freya dengan binar cinta yang dalam. Dia mengecup kening Freya cukup lama. "Maaf ya karena aku nggak menjemputmu tadi. Aku cuman ingin memastikan semuanya siap untuk menyambutmu kembali ke rumah."Rasa kesal Freya menguap seketika, digantikan oleh air mata haru yang mengalir deras. Freya pun mencium pipi Arya singkat.Aksa mendongak, mengerucutkan bibir sambil berkacak pinggang. "Ih, Ayah curang! Aku juga mau dicium Ibu!" protesnya dengan suara cempreng.Freya tertawa kecil, rasa haru d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 189 - Kejutan untuk Freya

    Dua hari berlalu dengan rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi Arya bekerja dan setiap sore hingga malam dia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Freya. Dia tidak ingin Freya merasa kesepian saat menjalani perawatan di rumah sakit.Di satu sore, Arya baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah kakeknya. Wajahnya tampak letih, namun dia tetap tersenyum saat melihat sosok kecil berlari ke arahnya. Hatinya masih ada perasaan bersalah saat mengingat dirinya pernah mengabaikan perhatian bocah kecil itu."Ayah!" teriak Aksa sambil memeluk kaki Arya.Arya berjongkok, menggendong putra kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Hai, jagoan Ayah. Udah mandi?"Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Arya dengan tatapan menyelidik. "Ayah... Ibu kapan pulangnya?" tanya Aksa dengan suara lirih. "Ibu udah lama banget di luar kota. Aku kangen. Biasanya kalau Ibu pergi kerja jauh, malam-malam Ibu selalu telepon, tapi sekarang Ibu jarang angkat teleponku."Hati Arya mencelos mendengar pertanyaan

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 188 - Freya siuman

    Setelah berganti dengan kemeja yang baru saja dibawakan oleh salah satu suruhan Dikta, Arya menghela napas panjang. Dia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah yang lebih tegar.Begitu dia kembali ke depan ruang IGD, Dikta langsung berdiri. "Arya, dokter baru aja keluar tadi. Dia bilang operasinya lancar. Guntingnya nggak mengenai organ vital, meski pendarahannya cukup banyak. Sekarang mereka sedang memindahkan Freya ke ruang pemulihan."Mendengar itu, kekuatan di kaki Arya seolah tersedot habis. Dia terduduk di kursi dengan penuh rasa syukur.Langkah kaki Arya terasa berat saat dia menyusuri koridor rumah sakit menuju bangsal rawat inap. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Freya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya masih pucat dengan deru napas yang teratur.Arya mendekat dengan perlahan dan menarik kursi di samping ranjang untuk duduk di sana. Dengan gerakan yang hati-hati, dia meraih tangan Freya yang terbebas dari infus, lalu menggenggamnya dengan kedua tanga

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 187 - Mengingat semuanya

    Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jernih. Arya teringat di sebuah kamar tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tepi ranjang, menatap Freya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk bercak darah di atas sprei putih.Dalam ingatan itu, Arya mengingat rasa bersalah yang menghimpit dadanya saat dia mengatakan semua kebohongannya tentang hubungan intim bersama Freya demi mengikat Freya."Sprei itu... darah itu..." gumam Arya tanpa sadar, air matanya jatuh menetes mengenai pipi pucat Freya.Arya teringat betapa egoisnya dia dulu. Dia mengingat dengan jelas wajah ketakutan Freya saat dia membohonginya tentang malam itu.Dia merasa sangat kecil dan hina. Saat amnesia, dia bersikap sombong, dingin, dan penuh curiga pada Freya. Dia bahkan sempat menuduh Freya selingkuh dengan Dikta, padahal wanita yang dia tuduh itu sekarang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dari Aditya. Arya merasa tidak layak mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari seseorang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 186 - Tusukan Gunting

    Mendengar itu, rahang Arya mengeras. Kepalan tangannya sudah bersiap hendak menghantam wajah Aditya, namun dia menahan diri sejenak, menatap Aditya dengan kebencian yang mendalam."Kamu salah besar kalau mengira kata-kata provokatifmu membuat amarahku terpancing," ucap Arya tepat di depan wajah Aditya. "Kamu masuk ke kantorku, mengancam istriku dan merasa bisa melenggang bebas? Kamu harus ingat kalau di sini, akulah yang memegang kendali."Arya kemudian memalingkan sedikit wajahnya ke arah Freya tanpa melepas Aditya. "Freya, telepon keamanan sekarang. Dan hubungi polisi. Katakan ada orang yang berbuat onar di sini."Aditya mencoba memberontak, namun kekuatan fisik Arya jauh di atasnya. Arya mengunci pergerakan Aditya dengan menekan lengannya ke tenggorokan pria itu, memastikan Aditya tidak bisa berkutik sedikit pun.Tak lama dari itu, dua petugas keamanan gedung yang dipanggil Freya akhirnya datang. Keduanya berlari masuk dengan napas terengah-engah dan terkejut saat melihat Arya seda

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 185 - Pemegang kendali

    Sambil menghela napas panjang, Freya menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Pikirannya masih kacau karena pertemuan dengan Aditya tadi, membuatnya melakukan banyak kesalahan pada laporan hingga Arya menyuruhnya mengulang berkali-kali. Kantor kini mulai sepi, menyisakan lampu-lampu temaram di sudut ruangan.Rasa takut dan rindu pada Aksa membuatnya ingin bertemu. Sebelum kembali fokus mengerjakan revisi yang seolah tak ada habisnya, Freya meraih ponsel dan segera melakukan video call ke nomor Bi Inah untuk melihat wajah Aksa.Begitu panggilan tersambung, wajah polos Aksa muncul di layar dengan senyum lebar."Ibu! Kok belum pulang?" tanya Aksa dengan suara cerianya."Iya, Sayang. Ibu masih ada kerjaan sedikit lagi. Aksa udah makan?" tanya Freya."Udah! Tadi disuapin Bi Inah. Ibu lembur sama Ayah ya?" Mendengar itu, hati Freya sedikit mencelos. Dia melirik ke ruang kerjanya Arya dan memang terlihat lampu masih menyala. "Ah, iya, Ibu lembur sama Ayah.""Kalau gitu, Ibu cepat pulang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 57 - Ancaman Zea lagi

    "Jogja, Bu. Pak Baskoro punya banyak lahan dan proyek pariwisata berkelanjutan di sana. Beliau ingin aku memimpin tim di sana. Kita bisa pulang ke kota kelahiran Ayah. Kita bisa cari rumah yang tenang, dan yang pasti... jauh dari perusahaan Bintara."Mendengar kata "Jogja", air mata Dina perl

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 56 - Harapan Ibu

    Pagi yang cerah kembali datang. Di ruang rapat, Pak Baskoro duduk di kursi utama dengan wajah yang selalu tenang namun penuh wibawa. Freya berdiri di depan, mengenakan kemeja formal yang kontras dengan wajahnya yang masih sedikit pucat. Di sampingnya, Bintang memberikan dukungan moral dengan anggu

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 55 - Tidak ingin tahu

    Arya berdehem, berusaha menutupi kegugupan Freya. "Ah, itu sedang dalam tahap revisi akhir oleh saya. Bu Freya sedang fokus pada kurasi vendor hari ini. Silahkan lanjut ke poin berikutnya."Freya melirik Arya sekilas. Ada rasa terima kasih yang tipis, namun segera tertutup oleh rasa benci.

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 54 - Kemungkinan hamil

    Freya terpaku. Pindah ke luar kota berarti meninggalkan karier yang ia bangun dengan susah payah, meninggalkan proyek Pesona Bahari, dan yang terpenting meninggalkan Arya tanpa kata perpisahan yang layak.Namun, di sisi lain, tawaran Ibunya terdengar seperti sebuah pelarian yang sangat ia butuhkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status