로그인Arya menarik tangan Freya, berjalan dengan langkah panjang, membuat Freya harus setengah berlari mengikutinya.
"Pelan-pelan dong, Pak." Mereka berhenti di depan pintu masuk bangunan villa. Arya menatap kesal ke arah Freya."Kok manggil pak lagi sih? Sudah kubilang kita di sini ini sepasang kekasih.""Aku gak mau manggil bapak 'sayang'," jawab Freya cuek. "Bikin aku geli."Bagi Freya, panggilan sayang hanya untuk Rio.Arya memijit pangkal hidungnya, terlihat lelah. "Ya udah, berhubung aku punya keturunan Jawa. Panggil aku mas aja. Terdengar lebih pas. Gimana?""Mas?""Iya. Udah ayo masuk." Arya hendak kembali menarik tangan Freya, tapi Freya mencegahnya."Eh, kita mau ngapain? Kasih tahu dulu dong. Daritadi bapak-eh..." Freya menggelengkan kepalanya. "Maksudku, dari tadi Mas gak ngasih tahu apa-apa. Bikin aku kayak orang oon."Arya menahan tawanya saat mendengar Freya memanggilnya 'Mas'. Terdengar otentik di telinganya."Kita mau ketemu kakek"Buat jalan sakitlah," jawab Arya."Kenapa gak pakai kursi roda aja?""Ribet.""Gak ribet kok. Kan bisa pinjam ke petugas.""Udah ah. Gini aja." Tepat setelah Arya berkata demikian, Freya melepas tangan Arya yang melingkar di lehernya lalu berjalan menjauh.Dengan berjalan mundur, Freya berkata, "Jalan sendiri aja ah, udah gede." Tak lupa dia berkata sambil menjulurkan lidahnya."Fre, aku ini beneran sakit loh.""Kamu jalan pakai kaki, bukan pakai..." Freya mengatakannya sambil menunjuk ke arah perut bawahnya Arya.Setelahnya Freya tertawa dan berjalan cepat, meninggalkan Arya."Hah, dasar," gumam Arya, berkacak pinggang. Samar, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Sesampainya di Jogja, Arya dan Freya langsung disambut oleh seorang sopir yang sudah Arya sewa untuk mengantar mereka pergi kemanapun selama di Jogja.Selama perjalanan, Freya memejamkan matanya karena mengantuk. Semalam dia mempersiapkan diri agar saat bertemu dengan klien di Jogja, dia bisa mengeluarkan kemampuannya se
Setelah perbincangan dengan Erlin, pikiran Freya menjadi terbuka. Hari-hari setelahnya, dia selalu berusaha menjauhi Erlin dan tidak berkontak dekat saat dirinya berada di kantor. Freya juga mengabaikan panggilan dari Rio. Dia benar-benar berusaha untuk melupakan dan move on.Saat Freya sedang lembur--mengurus persiapannya untuk ke Jogja bersama Arya besok, Freya berdiri di depan jendela kantor sembari menikmati segelas cokelat hangat yang baru saja dibuatnya.Menjalani hari-hari tanpa memikirkan Rio terasa berat baginya. Bagaimanapun Rio pernah menjadi pusat perhatiannya selama ini. Tiba-tiba menjauh dan mengetahui kebusukan hati Rio, membuat hatinya cukup sedih."Kamu udah kirim dokumen yang aku butuhin ke email?" tanya Arya mendekat."Udah," jawab Freya singkat."Udah pelajari dokumen investor yang aku kirim kemarin?""Udah.""Udah siapin barang apa aja yang mau dibawa besok?""Udah.""Udah siapin diri juga jadi ibu dari anak-anakku?""Ud... Eh?" Freya menoleh ke arah Arya dengan k
"Fre, kamu sama Rio mau putus?" Erlin terus membuntuti Freya hingga ke meja kerjanya.Freya yang baru saja datang, menaruh tas di atas kursi dengan sedikit kasar. "Kok kamu tahu?" "Rio yang ngasih tahu."Dada Freya berdenyut nyeri. Dia teringat akan ucapan Arya semalam bahwa Erlin cukup sering mendatangi apartemennya Rio. Entah apa yang mereka perbuat, tapi Freya tak dapat berpikir positif tentang hal itu."Rio cerita apa aja ke kamu?" tanyanya, berusaha bersikap biasa."Banyak, Freya." Erlin yang terlihat tak acuh itu mendaratkan bokongnya ditepian meja. "Semalam dia nangis tahu, bilang kalau kamu ngajakin putus. Sebenarnya ada apa sih? Kamu punya masalah apa sama dia?"Freya memainkan jari-jemarinya. "Gak ada. Aku cuma kepengen putus aja. Fokus sama kerjaan""Beneran? Bukan karena ada pihak ketiga?""Apa Rio yang ngasih tahu itu juga ke kamu?""Iyalah. Dia gak pernah menutup-nutupi apapun dariku," kata Erlin dengan pongah. "Kamu kan tahu sendiri kalau aku sama Rio udah sahabatan cu
Rio baru memaksa membuka dua kancing teratas baju Freya tepat disaat bel pintu apartemennya berbunyi berulang kali."Sialan! Siapa sih yang ganggu malam-malam gini?" desisnya kesal. Kemudian dia beranjak dari sofa untuk membuka pintu.Freya dapat bernapas lega lalu segera menutup kancing bajunya cepat-cepat."Siapa ya?" Suara Rio terdengar setelah membukakan pintu."Aku tetanggamu, tinggal di lantai bawah. Apa mobil warna merah hitam yang parkir di basement itu mobil kamu?" Freya terkejut mendengar suara itu. Dia pun menoleh ke arah pintu, mendapati Arya sedang berdiri di luar."Iya, kenapa?""Mobilnya kena baret karena gak sengaja kena spion mobilku tadi.""A*jir! Kok bisa? Padahal tuh mobil belum selesai cicilannya," gumam Rio, nampak frustasi. "Terus mobilnya ada dimana? Masih di bawah, Kan?""Iya, kamu cek aja dulu."Rio langsung keluar dari apartemennya dengan panik tanpa menutup pintu, meninggalkan Freya sendirian.Freya memanfaatkan hal itu dengan ikut bergegas keluar. "Ferya,
"Gak perlu, aku kesini cuma sebentar aja kok," kata Freya sambil melihat ke sekeliling Rio. "Mana tasku?"Seketika senyum Rio lenyap. Dia ikut duduk di sofa-berseberangan dengan Freya. "Fre, kamu lagi ada masalah apa sih? Apa aku pernah buat salah sama kamu? Kok sikapmu jadi beda kayak gini? Gak kayak biasanya kamu dingin ke aku."Freya menghela napasnya singkat. "Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Rio. Ini tentang hubungan kita. Sepertinya kita harus putus.""Putus?" Kening Rio mengerut dalam. "Tapi, kenapa? Bukannya kemarin hubungan kita masih baik-baik aja?""Aku lagi ada masalah yang gak bisa aku ceritakan sekarang ke kamu.""Apa soal pekerjaan yang bikin kamu sibuk akhir-akhir ini?" tebak, Rio. Freya pun mengangguk."Kurang lebih seperti itu.""Tapi aku gak ngerti. Apa hubungannya antara pekerjaan dengan status hubungan kita? Aku kan gak pernah keberatan soal kesibukanmu selama ini di kantor."Freya terdiam sambil memainkan jari jemarinya di atas pangkuan. Ingin dia menjerit
Freya baru ingat kalau dia telah meninggalkan tas hitamnya di mobil Rio. "Oh iya, aku lupa kalau tasku ketinggalan. Kapan aku bisa mengambilnya?""Gimana kalau nanti malam kamu datang ke apartemenku untuk ambil tasnya?"Freya menimang sejenak tawaran dari Rio. Tiba-tiba Arya memeluknya dari belakang, membuat Freya sedikit terkejut."Jangan datang," bisik Arya pelan. Napasnya berhembus hangat di leher Freya, membuat Freya merasa geli."Aku, belum tahu apa nanti malam bisa ke apartemenmu atau..." Suara Freya terhenti saat bibir Arya menyesap kuat di lehernya. Freya menggigit bibir bawahnya, menahan agar suara desahan tak keluar dari mulutnya."Atau apa, Sayang?" Rio bertanya, tak sabar."Atau... Emmh!" Suara desahan yang tertahan membuat Freya segera menutup mulutnya. Tangan Arya yang nakal sudah meremas-remas buah dadanya dan memainkan bagian puncaknya dengan lihai."Kamu kenapa, Sayang? Kok suaramu aneh?"Freya tak dapat berpikir dengan jernih lagi. "Itu... perutku sakit, Sayang. Aku







