Beranda / Romansa / Jerat Cinta Sang Mantan / Bab 2 Cinta Pertama Yang Gagal

Share

Bab 2 Cinta Pertama Yang Gagal

Penulis: BidadariAngel
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 13:47:53

"Ini si sethan mana sih? Capek banget harus bawa-bawa nih brownies kemana-mana," oceh Meghan sambil mengikuti langkah Gilsha yang sedang mencari keberadaan Ethan.

Dibelakangnya ada Meghan yang membawa brownies coklat kesukaan Ethan, Anna dan Elsa membawa paper bag berisi hoddie hitam dan sepatu baru untuk Ethan. Ketiganya bak sedang mengantar 'seserahan' kepada sang mempelai.

Gilsha tidak memperdulikan ocehan Meghan dan tetap menyusuri gedung sekolah untuk mencari keberadaan Ethan.

Dan akhirnya ia menemukan lelaki itu di lapangan sekolah sedang main bola basket bersama kedua temannya Naveen dan Kavi. Hal itu mengobarkan kembali semangat dalam diri Gilsha.

"Ayo, girls," ajak Gilsha dengan girang yang disambut desahan lesu oleh ketiganya.

Mereka pun melangkah ke arah Ethan. Dan itu menarik atensi semua orang. Sebab mereka tahu jika keduanya tengah dekat dan pernah menjadi bahan perbincangan karena kontrasnya perbedaan diantara mereka.

"Eh, ayang Memeg," kata Naveen yang pertama kali sadar dengan kehadiran keempat gadistersebut.

Sontak Kavi dan Ethan menghentikan kegiatan mereka. Gilsha menautkan kedua tangannya, merasa gugup padahal tadi ia sangat bersemangat.

"Ethan," ucap Gilsha yang membuat si empu nama menatapnya.

"Iya. Ada apa, Gils?" tanya Ethan heran dan tatapan Gilsha yang kali ini berbeda. Serta ketiga sahabat Gilsha yang terlihat aneh dengan segala tentengan mereka.

Semua mata di lapangan tertuju pada mereka. Sorak-sorai anak-anak yang tadinya sibuk mengobrol berganti dengan bisik-bisik penasaran. Gilsha menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang sejak semalam ia bangun di dalam dirinya.

“Gue mau ngomong sesuatu. Penting.”

Ethan mengerutkan dahi, tapi tetap mendekat. “Sekarang?”

Gilsha mengangguk. “Iya. Sekarang.” Ia memberi isyarat pada Meghan, Anna, dan Elsa untuk menyerahkan “seserahan” mereka.

Brownies, hoodie, dan sepatu itu kini ada di tangan Gilsha. “Ini… buat lo,” ucapnya sambil mengulurkan semua paper bag tadi.

Ethan memandang bingung. “Buat gue? Ada apa ini, Gils? Gue nggak lagi ulang tahun loh”

Suara Gilsha bergetar, tapi ia memaksa tetap tersenyum. “Ethan… gue suka sama lo.”

Semua orang terkesiap bahkan Meghan, Anna, dan Elsa. Walaupun tahu ini akan terjadi namun tidak menyangka jika Gilsha benar-benar akan melakukannya. Naveen dan Kavi menutup mulutnya tidak percaya, inikah yang dinamakan cegil.

"Apa? Maksudnya?" tanya Ethan dengan raut kebingungan.

Gilsha menatap Ethan dibalik kacamatanya. "Iya, gue suka sama lo. Bukan sebagai teman atau apapun itu. Tapi sebagai perempuan yang jatuh cinta sama lo,” lanjutnya, suara bergetar tapi cukup keras untuk terdengar oleh semua orang di lapangan.

Hening.

Bahkan bola basket yang tadi memantul di lantai kini tergeletak diam di dekat kaki Kavi. Semua pandangan tertuju pada Ethan, menunggu responnya. Namun tak lama kemudian terdengar suara tawa dari seluruh siswa lain. Tawa itu datang dari sudut lapangan, dimulai oleh beberapa anak yang memang terkenal suka mengomentari segala hal, lalu merambat ke hampir seluruh penonton.

Gilsha terpaku. Matanya membulat, napasnya tercekat. Ia tidak mengerti apa yang lucu dari kata-katanya barusan. Ethan menoleh ke arah sumber tawa dengan wajah masam dan merah padam.

“Astaga, beneran? Si nerd nembak Ethan?” suara salah satu anak terdengar jelas di telinga Gilsha.

“Cinta lokasi, nih! Basket sama… buku pelajaran!” celetuk yang lain, membuat tawa pecah lagi.

Meghan, Anna, dan Elsa langsung melangkah maju, berdiri di sisi Gilsha untuk melindunginya dari tatapan dan bisik-bisik. Meghan bahkan melotot ke arah kumpulan anak yang paling berisik. “Becandanya nggak lucu, sumpah!” bentaknya.

Gilsha menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik rambut. Dadanya sesak, antara malu, sakit hati, dan marah. Ethan kembali menatapnya. Ekspresinya kali ini sulit dibaca.

"Gils, gue rasa lo salah paham deh dengan semuanya. Gue sama sekali nggak suka sama lo."

Gilsha merasa seluruh dunia runtuh di hadapannya. Suara Ethan terdengar begitu jelas, tapi otaknya seolah menolak untuk memprosesnya.

“Gue… salah paham?” suaranya serak, hampir berbisik.

Ethan menggeser pandangannya, seperti mencari kata-kata yang tepat. “Iya. Gue nganggep lo cuma temen, Gils. Gue nggak pernah ada pikiran lebih dari itu. Gue cuman mau bantuin Naveen buat deketin Meghan dengan gue berhasil nembus circle lo.”

Gilsha terpaku. Kakinya gemetar, seolah tak sanggup menopang tubuhnya. Semua keramaian di sekitarnya mendadak terdengar seperti gema jauh, tak nyata, kecuali suara tawa yang menusuk telinganya. "Kenapa… lo nggak bilang dari awal?” Gilsha memaksakan senyum, meski bibirnya bergetar.

Ethan menunduk, menghela napas. “Gue nggak nyangka lo bakal bener-bener… ya, gini. Gue pikir lo udah ngerti.”

Meghan langsung meraih tangan Gilsha. “Udah, Gils. Kita cabut,” ucapnya tegas, berusaha menariknya menjauh.

Tapi Gilsha tetap berdiri di tempat, menatap Ethan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Gue cuma mau jujur sama perasaan gue. Gue pikir itu hal yang baik.”

Ethan tak menjawab. Hanya diam. Akhirnya, Gilsha mengangguk pelan, mencoba menelan semua rasa pahit yang menyesakkan.

“Oke. Gue ngerti. Tapi please bilang ke gue kalau seenggaknya di hati lo ada rasa sayang buat gue meskipun itu cuman secuil."

Ethan mengusap kasar rambutnya. Lama-lama ia kesal dengan situasi ini yang dimana semua orang masih menertawakan dirinya.

"Nggak ada, Gils. Lo bahkan bukan tipe gue. Look at you, penampilan lo bahkan nggak mendekati standar tipe cewek impian gue. Gue nggak tau bagian mana sikap gue yang buat lo merasa gue suka sama lo."

"Hahahahh... kang ngalus kayak Ethan mau dipercaya. Dia emang gitu kali sama semua cewek. Yahh.. baper banget jadi cewek. Huuuu..." seru salah satu seorang siswa yang dibalas gelakan tawa oleh yang lainnya.

Gilsha merasa kepercayaan dirinya terjun bebas dan harga dirinya dilucuti dengan sadis di hadapan semua orang. Dan itu karena dirinya yang salah paham dengan segala bentuk perhatian dan perlakuan Ethan selama ini.

Ternyata ia hanya batu loncatan Ethan untuk membantu Naveen mendekati Meghan. Kenapa ia sangat naif dan bodoh?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 51 Jalan-jalan

    Gilsha mematut penampilannya didepan meja rias. Seperti rencana Kai dan Ethan tadi bahwasanya mereka akan jalan-jalan di sekitar desa menggunakan kereta api sore ini. Karena kata Ethan, udara mungkin akan agak sedikit dingin maka Gilsha memutuskan untuk memakai coat dan scraf hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Gilsha meraih tasnya dan segera bergabung dengan kedua pria itu. Karena cuacanya sedang sangat bagus sekarang. Dan benar saja, Ethan dan Kai sudah siap di ruang tamu. Keduanya bercakap-cakap ringan seolah perdebatan tadi siang tidak pernah ada. "Udah siap?" tanya Ethan sambil berdiri. Gilsha mengangguk pelan. "Siap." Kai langsung berlari kecil menghampirinya. "Kita naik kereta, kan?" "Tentu," jawab Ethan seraya mengacak rambut bocah itu. Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju stasiun. Sinar matahari menyelimuti lembah, membuat padang rumput di sepanjang jalan tampak lebih hijau dari biasanya. Sesampainya di peron, Ethan membiarkan Kai menggeng

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 50 Rencana Jalan-jalan

    Ethan mendengus kesal. Kalau seperti ini, ia rasanya tengah berbicara dengan Kavi. Bedanya kalau Kavi beneran pasti akan ia gas tapi karena ini versi mininya jadi ia sabar aja."Yaudah, nanti Uncle pikirin. Kamu bobo siang gih nanti kamu ngantuk trus nggak nikmatin jalan-jalannya." Kai mencebikkan bibirnya. "Aku itu bukan anak-anak lagi yah. Aku udah 5 tahun." "Ya sama aja, 5 tahun itu masih anak-anak. Dan anak-anak itu harus banyak tidur supaya nggak suka rewel." "Aku nggak rewel," bela Kai. "Masa?" goda Ethan. Kai mendongakkan kepalanya menatap Ethan dengan ekspresi serius. "Iya, aku nggak rewel trus nggak manja juga. Aku ini cowok pemberani" Ethan terus melemparkan tatapan menggoda dan senyuman jahil membuat Kai kesal. Dan berakhir bibirnya bergetar pelan dan matanya mulai berkaca-kaca dan saat itulah suasananya berubah menjadi gawat. Dan raut wajah Ethan berubah menjadi panik. Jangan sampai Kai menangis beneran trus Gilsha dengar dan mengomelinya. "Eh, iya, ampun de

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 49 Kenapa sih?

    "Lo kenapa sih?" Gilsha melemparkan tatapan bertanya kepada Ethan yang sedang berdiri di sampingnya. Ia sedang menanam bunga geranium yang ternyata benar-benar dimasukkan oleh istri pemilik toko kemarin di dalam pesanan Ethan. "Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Gilsha mengambil pot. "Dari kemarin lo kalau ditanya jawabnya 'Nggak' mulu, kayak burung gagak." Gilsha mendelik kesal dan mengabaikan Ethan. Enak aja dirinya dibilang mirip burung gagak, secantik ini juga. "Oh karena ciu-" "Diem.. diem.." sela Gilsha cepat sambil membekap mulut Ethan. Ia bahkan melemparkan pot yang tadi dipegangnya. Ethan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian ia akhirnya mengerti, jadi Gilsha malu karena kejadian itu. "Diem.. nggak usah dibilang," ujar Gilsha lagi melepas bekapan tangannya. "Kenapa? Kan emang itu kejadiannya gitu?" tanya Ethan polos. Gilsha mendengus pelan. "Pokoknya nggak boleh, anggap aja kita lagi khilaf." "

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 48 Menghindar

    Ethan tidak menjawab segera. Hanya membisu sambil menatap wajah Gilsha yang terlihat menghindari kontak mata dengannya. Bahkan tidak menatapnya sama sekali. Baru saja Ethan ingin membuka mulutnya. Suara Kai sudah lebih dulu memanggilnya membuat Ethan mau tidak mau harus menghampirinya segera. Gilsha akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Ethan sudah meninggalkan dapur. Kai memang penyelamatnya. Jika tidak ia pasti sudah bisa mati kutu dibawah tatapan tajam Ethan. Setelah mendapatkan kembali kewarasannya, Gilsha melanjutkan kegiatannya untuk membuat selai stroberi untuk Kai. ***"Kai mana, Gils?" tanya Anna pada layar ipad Gilsha. Wanita itu sedang bersantai di balkon kamarnya setelah membuat selai tadi. Tidak ada kegiatan berarti yang harus ia lakukan, mau nemenin Kai pasti ada Ethan. Mau jalan-jalan sendiri nanti kalau dia tersesat gimana. Jadi mending chills di balkon aja bareng teh dan camilan ditemani pemandangan indah Swiss. "Lagi di kandang sapi bareng Ethan. Ka

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 47 After kiss

    Ciuman tadi malam sangat membekas di ingatan Gilsha. Ia masih bisa merasakan deru nafasnya yang memburu, bagaimana bibir Ethan mencumbu bibirnya. Dan bagaimana ia tidak menolak sama sekali. Ia seolah hanyut dan memasrahkan dirinya. Ini bukan hal bagus bagi dirinya yang masih dalam proses perceraian dengan Nathan. Entah mereka sudah resmi bercerai atau belum, Gilsha tidak tahu. Ibunya belum memberikan kabar terkait itu, mungkin sedang proses sidang. "Aunty, aku keren nggak?" tanya Kai yang membuyarkan lamunan Gilsha. Pria kecil itu memakai kaos dibalut overall dan celana panjang lengkap dengan boots mini serta topi ala petani kecil. Sangat menggemaskan. Membuat Gilsha tanpa sadar tersenyum. "Mau foto?" tawar Gilsha. Kai mengangguk dengan semangat. "Bentar, aku ambil ember dulu." Gilsha terkekeh geli melihat tingkah Kai yang sedang berlari ke dapur minta ember yang katanya ingin ia jadikan sebagai wadah untuk susu yang akan ia perah nanti. Dan tidak butuh waktu lama bag

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 46 Kissing

    Ethan hampir tersedak winenya karena tertawa. Wajahnya bahkan memerah tanpa sadar. Setelah menenangkan diri, ia meletakkan kembali gelasnya dan menatap Gilsha. "Yah gimana enggak? Naveen sama Kavi kan mulutnya suka bocor, nggak bisa diem. Untung ada Daniel yang jadi temen waras gue kalau enggak gue bakal plenger juga kayak mereka," balas Ethan dengan senyum jenaka yang entah mengapa sangat indah di mata Gilsha. Efek wine. Ingat. "Tapi seru loh punya temen kayak mereka jadi suasana hidup mulu." Ethan mengangguk setuju. Di geng mereka, Naveen dan Kavi itu kayak badut sedangkan dirinya dan Daniel hanya penonton saja. "Bener sih, buktinya kita bisa temenan sampe sekarang." "Eh, tapi gue salut banget loh sama Naveen karena dia cintanya konsisten banget sama Meghan. Dari SMP," ujar Gilsha yang sudah larut dalam suasana. Sesekali ia masihmenyesap winenya dan Ethan akan menuangkannya lagi jika sudah habis. Pria didepannya menggeleng pelan. "Dari SD malah. Naveen bilang dia u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status