LOGINGilsha mematut penampilannya didepan meja rias. Seperti rencana Kai dan Ethan tadi bahwasanya mereka akan jalan-jalan di sekitar desa menggunakan kereta api sore ini. Karena kata Ethan, udara mungkin akan agak sedikit dingin maka Gilsha memutuskan untuk memakai coat dan scraf hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Gilsha meraih tasnya dan segera bergabung dengan kedua pria itu. Karena cuacanya sedang sangat bagus sekarang. Dan benar saja, Ethan dan Kai sudah siap di ruang tamu. Keduanya bercakap-cakap ringan seolah perdebatan tadi siang tidak pernah ada. "Udah siap?" tanya Ethan sambil berdiri. Gilsha mengangguk pelan. "Siap." Kai langsung berlari kecil menghampirinya. "Kita naik kereta, kan?" "Tentu," jawab Ethan seraya mengacak rambut bocah itu. Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju stasiun. Sinar matahari menyelimuti lembah, membuat padang rumput di sepanjang jalan tampak lebih hijau dari biasanya. Sesampainya di peron, Ethan membiarkan Kai menggeng
Ethan mendengus kesal. Kalau seperti ini, ia rasanya tengah berbicara dengan Kavi. Bedanya kalau Kavi beneran pasti akan ia gas tapi karena ini versi mininya jadi ia sabar aja."Yaudah, nanti Uncle pikirin. Kamu bobo siang gih nanti kamu ngantuk trus nggak nikmatin jalan-jalannya." Kai mencebikkan bibirnya. "Aku itu bukan anak-anak lagi yah. Aku udah 5 tahun." "Ya sama aja, 5 tahun itu masih anak-anak. Dan anak-anak itu harus banyak tidur supaya nggak suka rewel." "Aku nggak rewel," bela Kai. "Masa?" goda Ethan. Kai mendongakkan kepalanya menatap Ethan dengan ekspresi serius. "Iya, aku nggak rewel trus nggak manja juga. Aku ini cowok pemberani" Ethan terus melemparkan tatapan menggoda dan senyuman jahil membuat Kai kesal. Dan berakhir bibirnya bergetar pelan dan matanya mulai berkaca-kaca dan saat itulah suasananya berubah menjadi gawat. Dan raut wajah Ethan berubah menjadi panik. Jangan sampai Kai menangis beneran trus Gilsha dengar dan mengomelinya. "Eh, iya, ampun de
"Lo kenapa sih?" Gilsha melemparkan tatapan bertanya kepada Ethan yang sedang berdiri di sampingnya. Ia sedang menanam bunga geranium yang ternyata benar-benar dimasukkan oleh istri pemilik toko kemarin di dalam pesanan Ethan. "Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Gilsha mengambil pot. "Dari kemarin lo kalau ditanya jawabnya 'Nggak' mulu, kayak burung gagak." Gilsha mendelik kesal dan mengabaikan Ethan. Enak aja dirinya dibilang mirip burung gagak, secantik ini juga. "Oh karena ciu-" "Diem.. diem.." sela Gilsha cepat sambil membekap mulut Ethan. Ia bahkan melemparkan pot yang tadi dipegangnya. Ethan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian ia akhirnya mengerti, jadi Gilsha malu karena kejadian itu. "Diem.. nggak usah dibilang," ujar Gilsha lagi melepas bekapan tangannya. "Kenapa? Kan emang itu kejadiannya gitu?" tanya Ethan polos. Gilsha mendengus pelan. "Pokoknya nggak boleh, anggap aja kita lagi khilaf." "
Ethan tidak menjawab segera. Hanya membisu sambil menatap wajah Gilsha yang terlihat menghindari kontak mata dengannya. Bahkan tidak menatapnya sama sekali. Baru saja Ethan ingin membuka mulutnya. Suara Kai sudah lebih dulu memanggilnya membuat Ethan mau tidak mau harus menghampirinya segera. Gilsha akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Ethan sudah meninggalkan dapur. Kai memang penyelamatnya. Jika tidak ia pasti sudah bisa mati kutu dibawah tatapan tajam Ethan. Setelah mendapatkan kembali kewarasannya, Gilsha melanjutkan kegiatannya untuk membuat selai stroberi untuk Kai. ***"Kai mana, Gils?" tanya Anna pada layar ipad Gilsha. Wanita itu sedang bersantai di balkon kamarnya setelah membuat selai tadi. Tidak ada kegiatan berarti yang harus ia lakukan, mau nemenin Kai pasti ada Ethan. Mau jalan-jalan sendiri nanti kalau dia tersesat gimana. Jadi mending chills di balkon aja bareng teh dan camilan ditemani pemandangan indah Swiss. "Lagi di kandang sapi bareng Ethan. Ka
Ciuman tadi malam sangat membekas di ingatan Gilsha. Ia masih bisa merasakan deru nafasnya yang memburu, bagaimana bibir Ethan mencumbu bibirnya. Dan bagaimana ia tidak menolak sama sekali. Ia seolah hanyut dan memasrahkan dirinya. Ini bukan hal bagus bagi dirinya yang masih dalam proses perceraian dengan Nathan. Entah mereka sudah resmi bercerai atau belum, Gilsha tidak tahu. Ibunya belum memberikan kabar terkait itu, mungkin sedang proses sidang. "Aunty, aku keren nggak?" tanya Kai yang membuyarkan lamunan Gilsha. Pria kecil itu memakai kaos dibalut overall dan celana panjang lengkap dengan boots mini serta topi ala petani kecil. Sangat menggemaskan. Membuat Gilsha tanpa sadar tersenyum. "Mau foto?" tawar Gilsha. Kai mengangguk dengan semangat. "Bentar, aku ambil ember dulu." Gilsha terkekeh geli melihat tingkah Kai yang sedang berlari ke dapur minta ember yang katanya ingin ia jadikan sebagai wadah untuk susu yang akan ia perah nanti. Dan tidak butuh waktu lama bag
Ethan hampir tersedak winenya karena tertawa. Wajahnya bahkan memerah tanpa sadar. Setelah menenangkan diri, ia meletakkan kembali gelasnya dan menatap Gilsha. "Yah gimana enggak? Naveen sama Kavi kan mulutnya suka bocor, nggak bisa diem. Untung ada Daniel yang jadi temen waras gue kalau enggak gue bakal plenger juga kayak mereka," balas Ethan dengan senyum jenaka yang entah mengapa sangat indah di mata Gilsha. Efek wine. Ingat. "Tapi seru loh punya temen kayak mereka jadi suasana hidup mulu." Ethan mengangguk setuju. Di geng mereka, Naveen dan Kavi itu kayak badut sedangkan dirinya dan Daniel hanya penonton saja. "Bener sih, buktinya kita bisa temenan sampe sekarang." "Eh, tapi gue salut banget loh sama Naveen karena dia cintanya konsisten banget sama Meghan. Dari SMP," ujar Gilsha yang sudah larut dalam suasana. Sesekali ia masihmenyesap winenya dan Ethan akan menuangkannya lagi jika sudah habis. Pria didepannya menggeleng pelan. "Dari SD malah. Naveen bilang dia u







