Home / Romansa / Jerat Cinta Sang Mantan / Bab 4 Seporsi Kekalahan

Share

Bab 4 Seporsi Kekalahan

Author: BidadariAngel
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-24 14:02:23

Ethan mengangguk. "Gue minta maaf untuk semuanya. Maaf karena gue udah nyakitin lo, mempermalukan lo di depan semua orang, dan ngeremehin lo kayak orang yang nggak punya perasaan. Gue salah besar.”

Gilsha terkekeh pelan, tapi bukan karena lucu tapi lebih karena ironis. “Oh, jadi sekarang lo sadar gue punya perasaan? Dulu kayaknya enggak, deh.”

Ethan menelan ludah, matanya tetap terkunci pada Gilsha. “Gue bego, Gils. Waktu itu gue mikir lo cuma… ya, temen. Gue nggak nyadar kalau semua hal yang lo lakuin itu tulus. Gue sibuk sama image, sama omongan orang, dan itu bikin gue jadi cowok brengsek.”

Gilsha menatapnya lama, mencoba membaca apakah kata-kata itu tulus atau cuma basa-basi. “Dan lo pikir kata ‘maaf’ bisa nyembuhin semuanya?”

Ethan menggeleng. “Enggak. Gue cuma pengen lo tau… gue nyesel.”

Suara itu pelan, tapi jelas. Ada nada getir di sana, nada yang dulu tidak pernah Gilsha dengar dari Ethan.

Gadis itu menghela napas, lalu berdiri dari kursi tempatnya menunggu. “Gue nggak butuh lo nyesel, Than. Gue cuma butuh lo ngerti kalau gue udah nggak sama kayak dulu. Gue udah berdamai sama semuanya, termasuk sama lo. Jadi terima kasih, tapi lo telat.”

"Kasih gue kesempatan, Gils. I'll be better, I swear."

Gilsha tersenyum tipis dan menggeleng, "Cinta pertama nggak selamanya berhasil kan?"

Ethan terdiam. Wajahnya kehilangan semua kata. Gilsha melangkah pergi saat mobil jemputannya tiba. Sebelum masuk, ia menoleh sebentar, menatap Ethan dengan senyum tipis, senyum yang tidak lagi menyimpan rasa sakit.

"Gue bakal berusaha, Gils. Gue bakal merubah rasa benci di hati lo jadi cinta seperti dulu. Gue nggak bakal biarin cinta pertama gue gagal. Gue bakal meraih lo sekali lagi. Just wait and see," seru Ethan tanpa perduli jika sekarang ia menjadi pusat perhatian.

Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di lapangan SMP dulu, Ethan merasa kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Namun ia akan mendapatkannya lagi dan tidak akan melepasnya seperti dulu.

****

Bertahun-tahun kemudian

Drrttt...

Drrttt..

Suara dering dari ponsel yang berada diatas nakas membangunkan seorang pria dewasa yang tengah tertidur pulas. Dengan gerakan malas ia meraih ponselnya dan melihat id callernya. Nama Daniel sang sahabat terpampang dilayar ponselnya.

"Halo," kata Ethan dengan suara serak khas bangun tidurnya.

"Eh mana lu, nyet. Udah jam berapa ini?" omel Daniel membuat Ethan membuka mata dan menatap ke arah jam dinding yang berada diatas TV.

"Jangan sampai lu telat. Bangun cepet trus mandi," kata Daniel sebelum mematikan sambungan telfonnya.

Ethan meletakkan kembali ponselnya dan bangun dari tempat tidurnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dengan helaan nafas panjang. Langkahnya terhenti sejenak tatkala ia memandang setelan pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Ethan mengangguk sejenak sebelum melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.

***

Ethan memasuki altar sebuah gereja yang sudah banyak orang disana. Ia tersenyum kecil dan terus melangkahkan kakinya, acara akan segera dimulai. Dan benar saja saat ia sudah sampai, musik lembut yang dimainkan langsung oleh pianist menghiasi suasana gereja. Dan ia pun segera melangkah ke arah tempatnya.

Semua tamu berdiri ketika pintu utama gereja terbuka dan menampakkan siluet pengantin wanita yang nampak bercahaya dibawah sinar matahari pagi. Perlahan siluet itu melangkah masuk kedalam gereja dan muncullah Gilsha dengan gaun pengantinnya yang panjangnya menjuntai. Ayah Gilsha menggandeng erat putrinya, wajahnya penuh kebanggaan dan sedikit haru. Setiap langkah yang mereka ambil membuat gaun putih Gilsha berkilau memantulkan cahaya yang masuk dari jendela kaca patri gereja.

Gilsha menunduk sedikit, menahan senyum sekaligus rasa gugup yang merayapi dadanya. Ia bisa merasakan tatapan semua orang yang beberapa kagum, beberapa terharu, dan mungkin ada yang masih tak percaya gadis yang dulu dikenal sebagai “nerd” itu kini berdiri anggun di hari pernikahannya.

Ketika jarak antara mereka semakin dekat dengan altar, pandangan Gilsha terhenti pada sosok di ujung lorong. Pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Senyum lembut pria itu membuat napasnya sedikit tercekat, senyum yang mengandung janji, kenyamanan, dan rasa aman yang selama ini ia cari.

Namun, di barisan tamu, Ethan berdiri mematung. Meski ia ikut tersenyum untuk menyamarkan isi hatinya, matanya tak lepas dari Gilsha. Sekilas ingatan masa lalu menyeruak, lapangan basket, tawa yang pernah ia remehkan, dan tatapan mata yang pernah ia sakiti. Kini, tatapan itu tak lagi miliknya dan ia tahu, kali ini, tak ada kesempatan kedua.Gilsha berjalan lurus di lorong altar melewati dirinya. Bahkan tidak meliriknya sedikit pun.

Semua perhatiannya tertuju pada calon suaminya yang merupakan kekasih Gilsha sejak kuliah. Saat ayah Gilsha menyerahkan tangan putrinya pada sang mempelai pria, Ethan merasakan sebuah rasa kehilangan yang aneh. Bukan cemburu yang membakar, tapi penyesalan yang dingin dan menusuk. Musik gereja mengalun lembut, tapi di telinganya, yang terdengar hanyalah suara hatinya sendiri berkata: Seandainya dulu aku lebih menghargainya.

Gilsha, tanpa menoleh ke arahnya, melangkah mantap menuju masa depan yang ia pilih tanpa Ethan di dalamnya. Ketakutan Ethan akan kehilangan Gilsha berakhir dengan ia benar-benar kehilangannya. Janji suci yang diikrarkan kedua mempelai itu menjadi momentum jika Ethan sudah kalah.

Bertahun-tahun ia habiskan untuk mengejar cinta Gilsha namun tidak berhasil. Gadis itu sudah jauh terbang dari genggamannya dan tidak bisa ia raih lagi. Ethan memalingkan wajahnya tatkala pasangan suami istri baru itu berciuman. Ethan turut bertepuk tangan seperti tamu yang lain.

Daniel menepuk pelan pundaknya untuk menyemangatinya. Ethan terlihat sangat terluka terbukti dari matanya yang memerah karena menahan tangis. Namun pria itu tetap tegar dan tersenyum manis ketika Gilsha dan sang suami alias Nathan tersenyum kearah para tamu sambil memamerkan cincin pernikahan mereka. Pasangan itu kemudian berjalan keluar gereja dengan suara riuh dari para tamu.

Suara tepuk tangan perlahan mereda, berganti dengan riuh rendah tamu yang mulai beranjak menuju luar gereja untuk bersiap ke acara resepsi. Ethan tetap duduk di bangkunya, menatap altar yang kini kosong, hanya menyisakan kelopak bunga yang jatuh dari buket Gilsha.

Untuk pertama kalinya, Ethan benar-benar menyadari bahwa beberapa kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang pergi tapi tentang seseorang yang tetap hidup, namun tak lagi mengundang kita masuk dalam dunianya.

Dan itu, pikir Ethan, adalah kehilangan yang paling sunyi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 51 Jalan-jalan

    Gilsha mematut penampilannya didepan meja rias. Seperti rencana Kai dan Ethan tadi bahwasanya mereka akan jalan-jalan di sekitar desa menggunakan kereta api sore ini. Karena kata Ethan, udara mungkin akan agak sedikit dingin maka Gilsha memutuskan untuk memakai coat dan scraf hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Gilsha meraih tasnya dan segera bergabung dengan kedua pria itu. Karena cuacanya sedang sangat bagus sekarang. Dan benar saja, Ethan dan Kai sudah siap di ruang tamu. Keduanya bercakap-cakap ringan seolah perdebatan tadi siang tidak pernah ada. "Udah siap?" tanya Ethan sambil berdiri. Gilsha mengangguk pelan. "Siap." Kai langsung berlari kecil menghampirinya. "Kita naik kereta, kan?" "Tentu," jawab Ethan seraya mengacak rambut bocah itu. Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju stasiun. Sinar matahari menyelimuti lembah, membuat padang rumput di sepanjang jalan tampak lebih hijau dari biasanya. Sesampainya di peron, Ethan membiarkan Kai menggeng

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 50 Rencana Jalan-jalan

    Ethan mendengus kesal. Kalau seperti ini, ia rasanya tengah berbicara dengan Kavi. Bedanya kalau Kavi beneran pasti akan ia gas tapi karena ini versi mininya jadi ia sabar aja."Yaudah, nanti Uncle pikirin. Kamu bobo siang gih nanti kamu ngantuk trus nggak nikmatin jalan-jalannya." Kai mencebikkan bibirnya. "Aku itu bukan anak-anak lagi yah. Aku udah 5 tahun." "Ya sama aja, 5 tahun itu masih anak-anak. Dan anak-anak itu harus banyak tidur supaya nggak suka rewel." "Aku nggak rewel," bela Kai. "Masa?" goda Ethan. Kai mendongakkan kepalanya menatap Ethan dengan ekspresi serius. "Iya, aku nggak rewel trus nggak manja juga. Aku ini cowok pemberani" Ethan terus melemparkan tatapan menggoda dan senyuman jahil membuat Kai kesal. Dan berakhir bibirnya bergetar pelan dan matanya mulai berkaca-kaca dan saat itulah suasananya berubah menjadi gawat. Dan raut wajah Ethan berubah menjadi panik. Jangan sampai Kai menangis beneran trus Gilsha dengar dan mengomelinya. "Eh, iya, ampun de

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 49 Kenapa sih?

    "Lo kenapa sih?" Gilsha melemparkan tatapan bertanya kepada Ethan yang sedang berdiri di sampingnya. Ia sedang menanam bunga geranium yang ternyata benar-benar dimasukkan oleh istri pemilik toko kemarin di dalam pesanan Ethan. "Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Gilsha mengambil pot. "Dari kemarin lo kalau ditanya jawabnya 'Nggak' mulu, kayak burung gagak." Gilsha mendelik kesal dan mengabaikan Ethan. Enak aja dirinya dibilang mirip burung gagak, secantik ini juga. "Oh karena ciu-" "Diem.. diem.." sela Gilsha cepat sambil membekap mulut Ethan. Ia bahkan melemparkan pot yang tadi dipegangnya. Ethan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian ia akhirnya mengerti, jadi Gilsha malu karena kejadian itu. "Diem.. nggak usah dibilang," ujar Gilsha lagi melepas bekapan tangannya. "Kenapa? Kan emang itu kejadiannya gitu?" tanya Ethan polos. Gilsha mendengus pelan. "Pokoknya nggak boleh, anggap aja kita lagi khilaf." "

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 48 Menghindar

    Ethan tidak menjawab segera. Hanya membisu sambil menatap wajah Gilsha yang terlihat menghindari kontak mata dengannya. Bahkan tidak menatapnya sama sekali. Baru saja Ethan ingin membuka mulutnya. Suara Kai sudah lebih dulu memanggilnya membuat Ethan mau tidak mau harus menghampirinya segera. Gilsha akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Ethan sudah meninggalkan dapur. Kai memang penyelamatnya. Jika tidak ia pasti sudah bisa mati kutu dibawah tatapan tajam Ethan. Setelah mendapatkan kembali kewarasannya, Gilsha melanjutkan kegiatannya untuk membuat selai stroberi untuk Kai. ***"Kai mana, Gils?" tanya Anna pada layar ipad Gilsha. Wanita itu sedang bersantai di balkon kamarnya setelah membuat selai tadi. Tidak ada kegiatan berarti yang harus ia lakukan, mau nemenin Kai pasti ada Ethan. Mau jalan-jalan sendiri nanti kalau dia tersesat gimana. Jadi mending chills di balkon aja bareng teh dan camilan ditemani pemandangan indah Swiss. "Lagi di kandang sapi bareng Ethan. Ka

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 47 After kiss

    Ciuman tadi malam sangat membekas di ingatan Gilsha. Ia masih bisa merasakan deru nafasnya yang memburu, bagaimana bibir Ethan mencumbu bibirnya. Dan bagaimana ia tidak menolak sama sekali. Ia seolah hanyut dan memasrahkan dirinya. Ini bukan hal bagus bagi dirinya yang masih dalam proses perceraian dengan Nathan. Entah mereka sudah resmi bercerai atau belum, Gilsha tidak tahu. Ibunya belum memberikan kabar terkait itu, mungkin sedang proses sidang. "Aunty, aku keren nggak?" tanya Kai yang membuyarkan lamunan Gilsha. Pria kecil itu memakai kaos dibalut overall dan celana panjang lengkap dengan boots mini serta topi ala petani kecil. Sangat menggemaskan. Membuat Gilsha tanpa sadar tersenyum. "Mau foto?" tawar Gilsha. Kai mengangguk dengan semangat. "Bentar, aku ambil ember dulu." Gilsha terkekeh geli melihat tingkah Kai yang sedang berlari ke dapur minta ember yang katanya ingin ia jadikan sebagai wadah untuk susu yang akan ia perah nanti. Dan tidak butuh waktu lama bag

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 46 Kissing

    Ethan hampir tersedak winenya karena tertawa. Wajahnya bahkan memerah tanpa sadar. Setelah menenangkan diri, ia meletakkan kembali gelasnya dan menatap Gilsha. "Yah gimana enggak? Naveen sama Kavi kan mulutnya suka bocor, nggak bisa diem. Untung ada Daniel yang jadi temen waras gue kalau enggak gue bakal plenger juga kayak mereka," balas Ethan dengan senyum jenaka yang entah mengapa sangat indah di mata Gilsha. Efek wine. Ingat. "Tapi seru loh punya temen kayak mereka jadi suasana hidup mulu." Ethan mengangguk setuju. Di geng mereka, Naveen dan Kavi itu kayak badut sedangkan dirinya dan Daniel hanya penonton saja. "Bener sih, buktinya kita bisa temenan sampe sekarang." "Eh, tapi gue salut banget loh sama Naveen karena dia cintanya konsisten banget sama Meghan. Dari SMP," ujar Gilsha yang sudah larut dalam suasana. Sesekali ia masihmenyesap winenya dan Ethan akan menuangkannya lagi jika sudah habis. Pria didepannya menggeleng pelan. "Dari SD malah. Naveen bilang dia u

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status