Share

Bab 5 Kehilangan

Penulis: BidadariAngel
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 14:11:55

Ethan menegak whiskey di tangannya dengan sekali tegukan. Cairan itu membakar tenggorokannya, tapi rasa perihnya tidak sebanding dengan sakit di dadanya. Ia menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang tak karuan.

Lagu masih bergema pelan di seluruh ruangan, seolah dunia ikut mengolok-olok penyesalannya.

“Only know you love her when you let her go…”

Ethan menunduk, jemarinya meremas gelas kosong itu erat-erat. Kelopak matanya memerah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena semua memori masa lalu yang menyerbu tanpa ampun.

Bayangan Gilsha dengan gaun putihnya muncul lagi dalam benaknya, cara ia berjalan mantap menuju altar, senyum lembutnya, mata berbinar yang dulu pernah menatapnya dengan harapan tapi kini tak menyisakan sedikit pun ruang untuknya.

Daniel duduk di sebelahnya sambil menyandarkan punggung ke sofa. Mereka semua sedang ada dirumah Ethan yang ada mini bar dan tersedia banyak jenis minuman alkohol.

"Mau minum lagi?" tanya Daniel menatap Ethan yang terlihat berantakan setelah Gilsha resmi menikah dengan kekasihnya, Nathan.

Ethan tidak menjawab dan terus menuangkan whiskey ke gelasnya lalu menegaknya lagi. Berharap luka di hatinya bisa sembuh. Namun semakin ia menegaknya semakin ia mengingat hal tentang GilshaIa ingat lapangan sekolah, tatapan Gilsha waktu masih memandangnya dengan harapan, dan senyum yang dulu pernah ia sia-siakan. Lalu berubah menjadi senyum bahagia Gilsha dalam balutan gaun pernikahannya yang berjalan kearahnya. Bukan sebagai tujuan tapi hanya sebatas lewat seolah dirinya hanya angin.

Ethan meremas dadanya yang berdenyut. Rasanya sangat sakit dan perih. Tidak tertahankan. Seolah ada sesuatu yang mencengkeram jantungnya dari dalam. Napasnya tersengal, bukan karena alkohol, tapi karena kenyataan yang menampar terlalu keras. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan mini bar itu dengan mata yang mulai berkaca. Kepalanya berat, dadanya sesak, dan pikirannya penuh suara-suara masa lalu.

Tawa Gilsha saat dulu mereka bercanda. Tatapan kecewa di lapangan. Cara Gilsha berjalan melewatinya hari ini tanpa sedikit pun menoleh.

Daniel yang duduk di sebelahnya langsung mencondongkan badan. “Than, lo kenapa? Lo pucet banget.”

"Lo keracunan alkohol atau overdosis nih? Kita harus bawa Ethan ke rumah sakit," oceh Naveen berjalan mondar-mandir.

"Dokter manapun nggak bisa nyembuhin si Ethan. Kan obatnya udah diambil sama orang lain. Mana sekarang malam pertama lagi. Wadadidaw," timpal Kavi dengan nada meledek membuat Daniel menggeplak kepalanya. Sudah tahu Ethan lagi galau berat malah dikomporin lagi.

Ethan tidak menghiraukan ucapan konyol teman-temannya karena sekarang otaknya hanya penuh dengan Gilsha dan seluruh penyesalannya. Dunia di sekitarnya seperti mengecil, hanya suara musik, lampu remang, suara gelas beradu, bahkan candaan Naveen dan Kavi terdengar jauh, kabur, tidak penting. Yang jelas hanya satu: wajah Gilsha saat berdiri di altar, tertawa kecil pada pria di sampingnya. Bukan padanya.

Ethan menatap kosong ke arah botol whiskey di meja. Cahaya lampu neon memantul di permukaannya, tapi matanya justru menangkap bayangan masa lalu.

Gilsha remaja dengan hoodie kebesaran, tersipu waktu ia pertama kali memanggil namanya. Gilsha di bangku penonton, meneriakkan namanya sekeras para anggota cheerleaders. Gilsha yang menatapnya dengan keberanian saat menyatakan cintanya. Gilsha yang menangis setelah ia permalukan.

Lalu… Gilsha hari ini. Cantik, anggun, dan tak lagi menyisakan ruang untuknya. Napas Ethan terseret keluar perlahan, dibarengi rasa sakit yang merambat hingga punggungnya. Jemarinya meremas rambutnya sendiri.

“Apa lo nggak cape nyiksa diri lo sendiri?” tanya Daniel pelan, berbeda dari nada bercanda sebelumnya.

Ethan tak menoleh. “Gue nggak tau harus apain rasa ini.”

Kavi mengusap wajahnya, mencoba tenang. “Than, dia udah nikah sama orang yang dia pilih sendiri. Lo nggak bisa terus-terusan begini.”

Ethan tertawa miris, suara yang bahkan tak mengandung tawa. “Justru itu masalahnya. Gue yang nyuruh dia pergi tanpa sadar. Gue yang bikin dia percaya kalau dia nggak berarti apa-apa. Sekarang… dia percaya.”

Naveen yang biasanya paling santai pun memilih diam. Kata-kata Ethan terlalu jujur untuk dibalas sekadar canda.

Ethan menegak lagi minumannya, tapi kali ini tak lagi terasa pahit karena pahit sebenarnya sudah ada di dadanya sejak lama.

“Gue kira perasaan itu bisa nunggu. Gue kira gue masih punya kesempatan buat benerin semua.”

Ia menunduk, menahan napas yang berat. “Gue salah. Ini semua salah gue.”

Suasana di meja mereka mendadak sunyi. Tak ada lagu yang bisa menenggelamkan kalimat terakhir Ethan bahkan suara sang penyanyi alias Passenger pun tak cukup keras untuk menyamarkan luka yang telanjur membuka dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, tanpa dramatisasi apa pun, Ethan berkata jujur bukan pada Gilsha, bukan pada semua orang, tapi pada dirinya sendiri bahwa Ia menyesal dan penyesalan itu tidak punya pintu keluar. Entah sudah berapa kali ia menyatakannya namun tidak ada lagi kata yang bisa mewakili perasaan Ethan sekarang.

"Eh, ayo kita ganti lagu yuk. Jangan ini mulu, nanti yang ada kita galau berjamaah," usul Naveen yang membuat Daniel dan Kavi menoleh kearahnya. Tumben bener.

Namun sebelum ada yang sempat menimpali, Naveen sudah merogoh ponselnya dan terkonek ke speaker di ruangan itu. Semua berharap lagu upbeat atau minimal sesuatu yang nggak merobek hati.

Tapi begitu nada pertama terdengar, Daniel langsung melotot. Suara piano lembut tapi menyayat langsung memenuhi ruangan. Gema lirik Korea yang sendu membuat atmosfer yang tadinya sudah berat berubah jadi kuburan batin.

“Anj—Nav!" seru Kavi. Naveen menyetel lagu G-Dragon-Untitled. Kavi menepuk jidat. “Gue kira lo mau ganti lagu, bukan nambal luka pake pisau tumpul.”

Naveen malah nyengir kecil, tapi jelas tatapannya ikut murung. “Lah gue mikir, sekalian aja dia keluarin semua. Daripada dipendem, mati muda dia ntar.”

Daniel berdecak tak percaya. “Gue usul lagu dangdut koplo juga masih lebih sehat daripada ini.”

Tapi Ethan tetap diam. Tidak protes, tidak marah, tidak bercanda. Tatapannya kosong, seperti suara lembut G-Dragon mengikis pertahanan terakhirnya. Tangannya yang sejak tadi mengepal mulai gemetar. Ethan mencoba menarik napas, tapi dadanya justru terasa makin sempit. Musik masih mengalun pelan, namun suara hatinya lebih bising dari apa pun.

Tanpa aba-aba, bahunya tiba-tiba bergetar.

Daniel yang duduk di sampingnya refleks menoleh. “Than…?”

Ethan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Awalnya hanya suara napas berat, tapi beberapa detik kemudian isakannya mulai terdengar pelan, tertahan, lalu pecah tanpa bisa ia kendalikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 51 Jalan-jalan

    Gilsha mematut penampilannya didepan meja rias. Seperti rencana Kai dan Ethan tadi bahwasanya mereka akan jalan-jalan di sekitar desa menggunakan kereta api sore ini. Karena kata Ethan, udara mungkin akan agak sedikit dingin maka Gilsha memutuskan untuk memakai coat dan scraf hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Gilsha meraih tasnya dan segera bergabung dengan kedua pria itu. Karena cuacanya sedang sangat bagus sekarang. Dan benar saja, Ethan dan Kai sudah siap di ruang tamu. Keduanya bercakap-cakap ringan seolah perdebatan tadi siang tidak pernah ada. "Udah siap?" tanya Ethan sambil berdiri. Gilsha mengangguk pelan. "Siap." Kai langsung berlari kecil menghampirinya. "Kita naik kereta, kan?" "Tentu," jawab Ethan seraya mengacak rambut bocah itu. Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju stasiun. Sinar matahari menyelimuti lembah, membuat padang rumput di sepanjang jalan tampak lebih hijau dari biasanya. Sesampainya di peron, Ethan membiarkan Kai menggeng

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 50 Rencana Jalan-jalan

    Ethan mendengus kesal. Kalau seperti ini, ia rasanya tengah berbicara dengan Kavi. Bedanya kalau Kavi beneran pasti akan ia gas tapi karena ini versi mininya jadi ia sabar aja."Yaudah, nanti Uncle pikirin. Kamu bobo siang gih nanti kamu ngantuk trus nggak nikmatin jalan-jalannya." Kai mencebikkan bibirnya. "Aku itu bukan anak-anak lagi yah. Aku udah 5 tahun." "Ya sama aja, 5 tahun itu masih anak-anak. Dan anak-anak itu harus banyak tidur supaya nggak suka rewel." "Aku nggak rewel," bela Kai. "Masa?" goda Ethan. Kai mendongakkan kepalanya menatap Ethan dengan ekspresi serius. "Iya, aku nggak rewel trus nggak manja juga. Aku ini cowok pemberani" Ethan terus melemparkan tatapan menggoda dan senyuman jahil membuat Kai kesal. Dan berakhir bibirnya bergetar pelan dan matanya mulai berkaca-kaca dan saat itulah suasananya berubah menjadi gawat. Dan raut wajah Ethan berubah menjadi panik. Jangan sampai Kai menangis beneran trus Gilsha dengar dan mengomelinya. "Eh, iya, ampun de

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 49 Kenapa sih?

    "Lo kenapa sih?" Gilsha melemparkan tatapan bertanya kepada Ethan yang sedang berdiri di sampingnya. Ia sedang menanam bunga geranium yang ternyata benar-benar dimasukkan oleh istri pemilik toko kemarin di dalam pesanan Ethan. "Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Gilsha mengambil pot. "Dari kemarin lo kalau ditanya jawabnya 'Nggak' mulu, kayak burung gagak." Gilsha mendelik kesal dan mengabaikan Ethan. Enak aja dirinya dibilang mirip burung gagak, secantik ini juga. "Oh karena ciu-" "Diem.. diem.." sela Gilsha cepat sambil membekap mulut Ethan. Ia bahkan melemparkan pot yang tadi dipegangnya. Ethan mengerjapkan matanya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian ia akhirnya mengerti, jadi Gilsha malu karena kejadian itu. "Diem.. nggak usah dibilang," ujar Gilsha lagi melepas bekapan tangannya. "Kenapa? Kan emang itu kejadiannya gitu?" tanya Ethan polos. Gilsha mendengus pelan. "Pokoknya nggak boleh, anggap aja kita lagi khilaf." "

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 48 Menghindar

    Ethan tidak menjawab segera. Hanya membisu sambil menatap wajah Gilsha yang terlihat menghindari kontak mata dengannya. Bahkan tidak menatapnya sama sekali. Baru saja Ethan ingin membuka mulutnya. Suara Kai sudah lebih dulu memanggilnya membuat Ethan mau tidak mau harus menghampirinya segera. Gilsha akhirnya bisa bernafas dengan normal saat Ethan sudah meninggalkan dapur. Kai memang penyelamatnya. Jika tidak ia pasti sudah bisa mati kutu dibawah tatapan tajam Ethan. Setelah mendapatkan kembali kewarasannya, Gilsha melanjutkan kegiatannya untuk membuat selai stroberi untuk Kai. ***"Kai mana, Gils?" tanya Anna pada layar ipad Gilsha. Wanita itu sedang bersantai di balkon kamarnya setelah membuat selai tadi. Tidak ada kegiatan berarti yang harus ia lakukan, mau nemenin Kai pasti ada Ethan. Mau jalan-jalan sendiri nanti kalau dia tersesat gimana. Jadi mending chills di balkon aja bareng teh dan camilan ditemani pemandangan indah Swiss. "Lagi di kandang sapi bareng Ethan. Ka

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 47 After kiss

    Ciuman tadi malam sangat membekas di ingatan Gilsha. Ia masih bisa merasakan deru nafasnya yang memburu, bagaimana bibir Ethan mencumbu bibirnya. Dan bagaimana ia tidak menolak sama sekali. Ia seolah hanyut dan memasrahkan dirinya. Ini bukan hal bagus bagi dirinya yang masih dalam proses perceraian dengan Nathan. Entah mereka sudah resmi bercerai atau belum, Gilsha tidak tahu. Ibunya belum memberikan kabar terkait itu, mungkin sedang proses sidang. "Aunty, aku keren nggak?" tanya Kai yang membuyarkan lamunan Gilsha. Pria kecil itu memakai kaos dibalut overall dan celana panjang lengkap dengan boots mini serta topi ala petani kecil. Sangat menggemaskan. Membuat Gilsha tanpa sadar tersenyum. "Mau foto?" tawar Gilsha. Kai mengangguk dengan semangat. "Bentar, aku ambil ember dulu." Gilsha terkekeh geli melihat tingkah Kai yang sedang berlari ke dapur minta ember yang katanya ingin ia jadikan sebagai wadah untuk susu yang akan ia perah nanti. Dan tidak butuh waktu lama bag

  • Jerat Cinta Sang Mantan    Bab 46 Kissing

    Ethan hampir tersedak winenya karena tertawa. Wajahnya bahkan memerah tanpa sadar. Setelah menenangkan diri, ia meletakkan kembali gelasnya dan menatap Gilsha. "Yah gimana enggak? Naveen sama Kavi kan mulutnya suka bocor, nggak bisa diem. Untung ada Daniel yang jadi temen waras gue kalau enggak gue bakal plenger juga kayak mereka," balas Ethan dengan senyum jenaka yang entah mengapa sangat indah di mata Gilsha. Efek wine. Ingat. "Tapi seru loh punya temen kayak mereka jadi suasana hidup mulu." Ethan mengangguk setuju. Di geng mereka, Naveen dan Kavi itu kayak badut sedangkan dirinya dan Daniel hanya penonton saja. "Bener sih, buktinya kita bisa temenan sampe sekarang." "Eh, tapi gue salut banget loh sama Naveen karena dia cintanya konsisten banget sama Meghan. Dari SMP," ujar Gilsha yang sudah larut dalam suasana. Sesekali ia masihmenyesap winenya dan Ethan akan menuangkannya lagi jika sudah habis. Pria didepannya menggeleng pelan. "Dari SD malah. Naveen bilang dia u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status