MasukDi pagi harinya di kediaman Leonardo.Freya menarik napas sejenak untuk memulai persiapan menyambut keluarga besar Axel yang akan datang besok.Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu dapur ketika aroma harum kaldu gurih dan irisan rempah segar menyambut penciumannya.Di tengah kesibukan beberapa asisten dapur yang berlalu-lalang, sosok pria asing berpostur tegap membelakanginya, sibuk menata bahan-bahan makanan segar di atas meja racik.Pria itu memutar tubuhnya saat mendengar derak halus langkah Freya, mengungkapkan paras tampan berusia sekitar tiga puluh tahun dengan garis wajah yang tegas namun dibingkai oleh senyuman yang amat hangat.Dialah Thomas, koki pribadi baru yang khusus disewa oleh manajemen kediaman Leonardo untuk mengeksekusi jamuan makan malam resmi lusa nanti."Maaf, apakah aku mengganggu aktivitas di sini?" sela Freya lembut, sambil menyatukan kedua tangannya di depan tubuh dengan canggung.Thomas sempat mematung sejenak, matanya mengerjap kaget menatap sos
Sementara di tempat pertemuan.Langkah kaki Axel yang mantap bergema kaku di atas lantai kayu ruang VIP sebuah restoran privat bergaya klasik di pusat kota tujuan bisnisnya.Di ujung ruangan yang temaram oleh pendar lampu gantung kristal, sosok Juan—pria paruh baya berwibawa tinggi dengan stelan jas buatan penjahit ternama London, duduk tenang di kursi kebesarannya.Di samping Juan, Verrel duduk bersedekap dengan gaun silk elegan, mengangguk tipis menyambut kedatangan sang kakak.Dinamika keluarga Leonardo yang dingin, formal, dan sarat akan dominasi seketika menyelimuti udara, membekukan setiap jengkal atmosfer di ruangan tersebut.Axel menarik kursi kayu di seberang ayahnya, lalu mendudukkan tubuh tegapnya tanpa mengumbar senyum sedikit pun."Semua dokumen pemindahtangan aset dan akuisisi enam puluh persen saham konsorsium sudah ditandatangani. Pihak lawan menyetujui seluruh klausul penalti yang kita ajukan tanpa syarat," buka Axel langsung pada intinya.Juan menyesap wiski di gelas
Suara langkah kaki Freya terdengar beradu halus dengan permukaan marmer dingin saat ia menyusuri koridor utama kediaman Leonardo."Apakah aku hanya sebuah tempat pelampiasan gairah baginya?" bisik Freya pelan pada dirinya sendiri, sembari meremas ujung gaunnya seraya menatap deretan lukisan megah di dinding koridor.Di tengah usahanya menata kembali puing-puing kewarasan dan menenangkan pergolakan batin yang kian menyiksa, denta nyaring telepon rumah di atas meja konsol ruang tengah mendadak memecah keheningan.Bunyi itu berdering berulang kali, terdengar menuntut dan memicu firasat buruk. Freya menghentikan langkahnya, menelan ludah dengan susah payah sebelum melangkah mendekat dan mengangkat gagang telepon hitam berukir emas tersebut."Halo, selamat pagi. Kediaman Leonardo di sini," ucap Freya mencoba menjaga intonasi suaranya agar tetap tenang dan teratur."Freya? Baguslah kalau kau sudah bangun," suara dari ujung saluran menyapa tanpa jeda.Suara itu terpatri dengan intonasi yang
Sinar matahari pagi menyusup tipis melalui celah tirai kamar utama, membiaskan pendar cahaya hangat di atas permukaan ranjang king-size.Freya bergerak perlahan di balik selimut tebal, mencoba membuka matanya yang berat.Kelopak matanya terasa mengantuk, sementara seluruh persendian, pangkal paha, dan tulang belakangnya menjerit lemas akibat gempuran gairah intens tanpa henti sepanjang malam lalu.Freya memutar tubuhnya yang kaku, menoleh ke sisi ranjang di sampingnya. Tempat itu sudah kosong.Bekas lekukan tubuh Axel masih terlihat di atas seprai sutra, namun permukaan kain tersebut sudah terasa dingin ketika tersentuh oleh jemari Freya.Pria itu sudah tidak berada di sana.Pandangan Freya yang masih sedikit buram kemudian tertuju pada meja nakas di samping tempat tidur.Di sana, tepat di sebelah gelas air putih, terletak selembar kertas catatan kecil (notes) berwarna putih. Freya mengulurkan tangannya yang lemas, meraih kertas tersebut.Di atas kertas itu, terukir goresan tinta hita
Malam makin larut menyelimuti seluruh area privat kediaman utama Leonardo.Kegelapan di luar seolah tak memberi pengaruh apa pun pada atmosfer di dalam rumah mewah tersebut yang kian membakar.Sepanjang dua puluh empat jam terakhir, eksplorasi gairah Axel seolah tidak memberi jeda sedikit pun bagi tubuh Freya.Sejak dari ruang makan pribadi, kolam renang dalam ruangan, hingga ke lorong privat lantai dua, Axel menguasai wanita itu dengan dominasi mutlak yang dibalut sentuhan-sentuhan posesif yang mengagungkan keindahan tubuh istrinya.Axel membimbing Freya yang setengah sadar dari lorong menuju sofa kulit panjang di dalam ruang santai privat mereka.Kain gaun malam tipis yang sempat dikenakan Freya kembali dilucuti tanpa ampun, dibiarkan tergeletak di atas lantai marmer yang dingin.Freya menyandarkan kepalanya yang terasa pening di atas bantal sofa.Otot-otot paha dan persendian tubuhnya menjerit kelelahan, namun gairah pekat yang terus ditiupkan Axel membuat sensasi nikmat itu selalu
Sore hari di kediaman utama Leonardo diselimuti suasana tenang.Area kolam renang dalam ruangan (indoor pool) yang terletak di sayap barat bangunan berdiri terisolasi dari dunia luar.Kaca-kaca tebal yang membentang tinggi membiaskan pendar cahaya keemasan matahari terbenam di atas permukaan air kolam yang jernih dan hangat.Di dalam air, Axel sedang berenang seorang diri untuk melepas ketegangan usai menyelesaikan tumpukan dokumen kantor yang ia garap sejak siang.Gerakan tangannya yang bertenaga membelah air dengan sempurna.Otot-otot punggung, bahu, dan dadanya yang basah membiaskan pantulan air yang berkilauan, memancarkan daya pikat maskulin yang begitu dominan.Di tepi kolam, pintu kaca tebal bergeser tanpa suara. Freya melangkah masuk ke dalam area kolam. Ia mengenakan bathrobe sutra tipis berwarna krem yang terikat melingkari pinggangnya.Rambut panjangnya diikat asal ke atas, memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus.Freya menghentikan langkahnya di tepi kolam, mem







