MasukSinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar tidur utama, memantul di atas cermin tinggi berukir emas tempat Axel berdiri merapikan kemejanya.Kehangatan dan intensitas yang tercipta di atas ranjang semalam tidak serta-merta melenyapkan rasa penasaran dan ganjalan yang mengendap di dalam dada Freya.Luka atas pembatasan ruang gerak dan perlakuan Axel terhadap Thomas masih tertanam utuh, menuntut kejelasan yang jujur dari bibir suaminya.Freya bangkit dari tepi tempat tidur, merapikan gaun terusan sederhananya seraya mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.Langkah kakinya perlahan mengikis jarak, berhenti beberapa tapak di belakang tubuh tegap Axel yang sibuk memasang jam tangan kemewahannya."Axel..." sapa Freya pelan, suaranya bergetar halus namun sebisa mungkin diusahakan tenang dan sarat penuntutan.Axel tidak memutar tubuhnya, hanya melirik singkat pantulan bayangan Freya di cermin. "Ada apa, Freya? Kita harus segera turun untuk memeriksa sisa persiapan."Freya menel
Malam makin melarut di kediaman utama Leonardo, namun atmosfer di dalam kamar tidur utama terasa kian pekat oleh ketegangan tersembunyi.Sinar rembulan yang menembus jendela kaca raksasa hanya mampu menyinari keheningan yang kaku.Axel, yang berdiri di tepi jendela seraya menyesap wiskinya, menyadari sepenuhnya sikap dingin dan kebisuan Freya.Sejak insiden di dapur dengan Thomas, istrinya itu secara sengaja menarik diri, membangun dinding pertahanan yang begitu tebal dan tak tersentuh.Axel meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan denting halus. Pandangan mata elangnya mengunci sosok Freya yang sedang duduk mematung di tepi peraduan.Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis, memandangi jemarinya yang saling bertaut kencang di atas pangkuan.Rasa bersalah, cemburu yang masih tersisa, dan dorongan protektif yang besar bergolak sengit di dalam dada Axel. Pria itu tidak bisa lagi menahan jarak emosional yang menyiksa ini.Dengan langkah perlahan namun mantap, Axel mengik
Pagi harinya, Freya melangkah turun dengan gaun kasual yang sederhana, bermaksud melanjutkan persiapan akhir jamuan makan malam bersama Thomas.Namun, baru saja Freya mengikis jarak beberapa langkah ke dalam ruangan, ia seketika mematung.Perubahan drastis pada sikap Thomas menyengat penglihatannya dengan begitu nyata; pria yang kemarin sore teramat ramah, hangat, dan sarat akan canda tawa itu kini berdiri kaku bagaikan patung di balik meja olahan."Selamat pagi, Thomas," sapa Freya dengan lembut, lalu mencoba menyunggingkan senyum hangat seperti kemarin."Bagaimana dengan racikan saus kita hari ini?"Thomas tidak menatap matanya. Pria itu seketika menundukkan kepala dalam-dalam, menautkan kedua tangannya kaku di depan apron putihnya yang bersih tanpa cela."Selamat pagi, Nyonya Freya," jawab Thomas dengan suara datar, kaku, dan amat formal, begitu berjarak hingga rasanya seolah-olah mereka tidak pernah mengobrol leluasa kemarin sore."Semua persiapan akhir berada dalam kendali saya.
Di balik raut wajah kaku dan datar yang diperlihatkannya di ambang pintu dapur tadi, Axel melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dengan rahang mengeras dan napas yang tertahan penuh kekesalan.Pintu kayu jati tegap itu ditutupnya rapat-rapat.Rasa cemburu membakar dadanya, sebuah emosi asing dan pekat yang enggan ia akui, namun begitu hebat merajai pikirannya.Bayangan jemari Thomas yang mengusap pipi Freya dan tawa lepas istrinya yang belum pernah ia miliki terasa bagaikan sembilu yang menyayat ego dan dominasinya.Tak sampai lima menit kemudian, Axel menekan tombol interkom di meja kerjanya."Panggil koki pribadi baru itu ke ruang kerjaku sekarang. Sendirian. Jangan sampai Freya tahu," perintah Axel dengan nada dingin yang membekukan."Baik, Tuan Axel," sahut suara kepala pelayan dari balik speaker.Ketegangan berudara dingin seketika menyelimuti ruang kerja yang luas dan temaram itu saat pintu kembali terketuk.Thomas melangkah masuk dengan ragu, mendapati Axel berdiri teg
Sore mulai merambat turun menjadi malam ketika roda-roda mobil mewah Axel melintas mulus melintasi gerbang utama.Axel sengaja mempercepat kepulangannya, menyelesaikan rentetan urusan bisnis lebih awal hanya untuk kembali ke rumah ini.Langkah tegapnya bergema kaku di koridor utama yang hening. Mengikuti dorongan nalurinya, Axel memilih melintasi area dapur di lantai dasar guna memeriksa persiapan jamuan lusa.Namun, tepat di ambang pintu dapur yang terbuka separuh, langkah Axel terhenti mati.Pandangan mata elangnya seketika mengunci satu pemandangan yang menyengat dadanya.Di dekat meja marmer racik, Freya sedang berdiri sangat dekat di samping seorang pria muda berapron putih.Freya sedang tertawa lepas, sebuah tawa ceria yang amat leluasa dan belum pernah Axel saksikan seumur hidupnya, saat jemari Thomas terangkat halus, mengusap sedikit noda putih tepung di pipi mulus istrinya.Mata Axel menyipit tajam. Gelombang kejengkolan yang amat pekat, rasa terancam, dan amarah posesif seke
"Nyonya Freya, hidangan utama kita sudah selesai," ujar Thomas dengan nada suara yang begitu renyah.“Bagaimana kalau sekarang kita menangani bagian terbaik dari seluruh jamuan ini? Saya ingin mengajari Anda membuat sajian penutup favorit keluarga besar Leonardo."Freya mendongak, matanya yang semula redup oleh sisa-sisa kecemasan mendadak berbinar tertarik. "Sajian penutup favorit? Apa itu, Thomas?""Mousse cokelat hitam dengan sentuhan ektrak lavender," jawab Thomas seraya memindahkan mangkuk-mangkuk kaca dan batangan cokelat belgia kualitas tertinggi ke atas meja kerja mereka."Hidangan ini adalah tradisi wajib di meja makan keluarga Leonardo. Teksturnya harus sehalus sutra, dan perpaduan rasa pahit manisnya harus seimbang sempurna. Mau mencobanya?""Tentu saja! Tolong ajari aku," sahut Freya antusias, melangkah makin mendekat ke sisi Thomas tanpa ragu sedikit pun.Interaksi di antara mereka terjalin sangat erat dan penuh canda tawa di sore yang hangat itu.Thomas dengan telaten da







