ANMELDENAxel sudah melangkah lebih dulu memasuki lautan. Air laut setinggi dada itu terasa hangat menyentuh kulitnya.Pria itu menurunkan seluruh tubuhnya, tenggelam sepenuhnya di dalam air jernih selama beberapa detik sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan.Dengan satu gerakan santai, Axel menyapu sisa-sisa air laut di wajah tampannya, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menyisir rambut hitamnya yang basah ke belakang.Axel berdiri tegak di dalam air, membelakangi garis pantai.Cahaya bulan memantul sempurna pada kulit cokelatnya yang basah, memperlihatkan otot-otot punggungnya yang begitu lebar, tegap, dan perkasa.Setiap lekuk struktur tubuhnya menunjukkan kekuatan mutlak dari seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas segala hal.Di tepi pantai, Freya berdiri kaku di atas pasir putih yang halus. Kedua matanya tidak sanggup berpaling sedikit pun dari figur suaminya.Freya menelan ludahnya berulang kali, merasakan tenggorokannya yang mendadak kering.Bagaimana bisa ada pria y
Larut malam telah menyelimuti pulau privat dengan kesunyian yang amat pekat.Hanya terdengar gemuruh halus dari deburan ombak yang membentang di pantai luar, saling bersahutan dengan deru pendingin udara yang berembus pelan di dalam kamar utama vila megah tersebut.Freya berdiri mematung di dekat pintu kaca berukuran besar yang mengarah langsung ke teras dan pantai privat.Tubuh rampingnya hanya terbungkus oleh sehelai bathrobe dari kain sutra putih yang longgar, terikat seadanya di bagian pinggang.Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai menutupi sebagian punggungnya. Matanya menatap keluar, memandangi bayangan hitam lautan yang dipantuli sinar bulan purnama.Suasana di dalam ruangan beratap tinggi itu mendadak berubah menjadi sangat tegang dan padat saat pintu kamar mandi terbuka pelan.Axel melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu tidak mengenakan pakaian sehelai pun di tubuh bagian atasnya.Ia hanya melilitkan sehelai handuk putih tebal secara longgar
Malam tiba di pulau privat itu dengan membawa ketenangan yang pekat.Langit bersih tanpa awan membentang luas, dihiasi ribuan bintang yang berpendar terang di atas pasir putih pantai pribadi vila.Angin malam berembus perlahan, membawa aroma khas garam laut dan suara deburan ombak yang teratur menghantam bibir pantai.Di atas hamparan pasir yang bersih, sebuah meja makan bundar telah ditata secara anggun.Lilin-lilin aromaterapi dalam mangkuk kaca melingkupi meja, memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan menyebarkan wangi bunga melati yang menenangkan.Kelopak-kelopak bunga mawar segar ditaburkan secara halus di sekitar taplak meja putih.Di atas meja, deretan hidangan laut kelas atas dan bahan makanan premium impor tersaji dengan sangat rapi di dalam piring-piring porselen tebal.Terdapat wadah perak berisi caviar hitam di atas tumpukan es serut, dua ekor lobster samudra berukuran besar yang sudah dikukus dengan mentega herbal, serta potong olahan daging wagyu langka bertingkat ma
Roda jet pribadi mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu privat yang membentang di pinggir pantai pulau terpencil tersebut.Begitu pintu kabin terbuka, udara hangat khas tropis dan aroma segar garam laut langsung menyambut indra penciuman.Dari atas tangga pesawat, pemandangan memukau membentang luas: gradasi air laut berwarna biru jernih yang jernih hingga ke dasar, berpadu sempurna dengan garis pantai berpasir putih bersih tanpa noda.Sebuah mobil golf mewah tanpa pintu sudah menunggu di bawah tangga untuk membawa mereka menuju lokasi utama.Hanya memakan waktu lima menit melewati jalan setapak beraspal mulus yang diapit pepohonan hijau rimbun, kendaraan itu berhenti di depan sebuah vila kayu modern bergaya tropis.Bangunan megah berarsitektur minimalis dengan dominasi kaca dan kayu jati tua itu berdiri kokoh di tepi tebing karang, menghadap langsung ke arah samudra lepas.Seorang pria paruh baya berseragam putih bersih bersama dua staf lokal sudah berdiri berjejer di depan pi
Kesibukan di kediaman utama Leonardo sudah dimulai sejak matahari belum terbit sepenuhnya.Suasana di koridor lantai dua terasa sangat sibuk namun tetap tenang tanpa suara bising yang berlebihan.Para pelayan wanita berbaris keluar-masuk kamar utama, membawa beberapa koper berdesain elegan yang sudah terisi penuh dengan pakaian serta perlengkapan pribadi milik Freya.Rendy berdiri tegap di sudut ruangan dengan tablet di tangan kirinya. Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan para staf dengan sangat teliti.Ia memastikan tidak ada satu pun barang kebutuhan Nyonya rumah yang tertinggal atau diletakkan secara sembarangan.Pengawasan ketat itu mencerminkan instruksi langsung dari Axel yang tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun.Freya berdiri kaku di dekat jendela besar kamar, mengenakan gaun rajut santai berwarna krem yang membungkus tubuhnya dengan pas.Matanya memperhatikan lalu lalang para pelayan yang bekerja dengan efisiensi tinggi. Di dalam dadanya, rasa cemas dan pena
Axel menatap lurus ke dalam manik mata Freya. Tatapan yang semula sarat akan gairah mendadak berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan aura penyelidikan yang pekat."Freya," panggil Axel dengan suara rendah dan berat. "Apakah kau mengenal pria bernama Jonathan? Pemilik klub malam tempat pertama kali kita bertemu?"Pertanyaan itu menghantam Freya seperti lemparan air es. Tubuhnya mendadak menegang sempurna.Rona merah yang semula menghiasi pipinya melenyap seketika, berganti dengan warna pucat pasi. Nama itu berhasil memicu kenangan buruk yang selama ini berusaha keras ia kubur dalam-dalam.Freya terdiam cukup lama. Bibirnya gemetar tipis saat ia berjuang menemukan suaranya kembali."K-kenapa..." cicit Freya parau, menatap Axel dengan binar mata yang dipenuhi rasa bingung sekaligus kecemasan yang melonjak cepat."Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang pria itu? Kenapa kau harus membahas kejadian malam itu lagi, Axel?"Axel memperhatikan perubahan ekspresi istrinya dengan cermat.







