LOGINPagi hari menjelang di kediaman utama Leonardo.Sesuai dengan perintah mutlak dari Axel sejak subuh, tidak ada seorang pun pelayan yang diizinkan melintasi area tersebut, menciptakan atmosfer privat yang benar-benar sepi dan terisolasi.Freya melangkah turun menelusuri anak tangga kayu dengan gerakan yang agak perlahan.Pakaian santai berupa kaus tipis bertangan pendek dan celana kain longgar melekat di tubuhnya.Setiap kali melangkah, rasa pegal dan linu yang mendalam di sepanjang persendian serta pangkal pahanya langsung menyengat kesadarannya, sebuah jejak nyata akibat gempuran gairah Axel yang tak berampun sepanjang malam lalu.Freya menyapu pandangannya ke arah meja makan kayu jati berukuran panjang yang dipenuhi hidangan sarapan.Di sana, Axel sudah duduk tegap di kursi utama.Pria itu mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu gelap dengan gulungan lengan sebatas siku, memamerkan otot lengannya yang padat.Freya menarik kursi di samping Axel lalu duduk perlahan. "Selamat pagi, A
"Berhati-hatilah dengan peran yang kau mainkan malam ini, Freya," ujar Axel dengan suara berat, dalam, dan bergetar penuh penekanan."Jika kau sudah memutuskan untuk menyerahkan dirimu secara penuh padaku... maka jangan pernah berharap aku akan melepaskanmu kembali seumur hidup. Kau tidak akan pernah punya jalan untuk mundur."Peringatan keras yang berbau penguasaan abadi itu menggetarkan ulu hati Freya.Namun, alih-alih melangkah mundur atau menunjukkan raut takut seperti yang biasa ia lakukan, Freya justru merespons dengan keberanian baru yang mengejutkan.Percakapan dengan Evelyn tadi siang serta tekad bulat yang mekar di dalam dadanya membuat Freya menatap lurus mata Axel tanpa ada sedikit pun keraguan."Aku tahu persis apa yang aku lakukan, Axel," sahut Freya dengan nada suara yang teramat tenang namun menghujam mantap.Tanpa jeda atau ragu-ragu sedikit pun, Freya menaikkan kedua tangannya ke belakang punggungnya.Jemari halusnya meraih ritsleting gaun rumahan berbahan sutra merah
Sore hari yang hangat menyambut kepulangan Freya ke kediaman utama keluarga Leonardo.Setelah menjalani serangkaian perawatan intensif dari ujung kepala hingga ujung kaki di klinik estetika milik Evelyn, penampilan Freya tampak makin segar, bercahaya, dan memikat.Kulit mulusnya terpancar halus, sementara rambut panjangnya terurai indah dengan aroma terapi lavender yang lembut.Namun, bukan sekadar penampilan fisiknya saja yang berubah.Dorongan dan tantangan dari Evelyn di klinik tadi benar-benar menanamkan benih keberanian baru di dalam dada Freya.Rasa kerdil, cemas, dan ketakutan akan penolakan yang selama ini membelenggunya perlahan terangkat, berganti dengan tekad kuat untuk mengambil posisi yang lebih nyata di samping suaminya.Saat malam makin larut, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di area carport.Tidak lama kemudian, langkah kaki yang tegap dan berirama mantap bergema menyusuri koridor lantai dua. Axel kembali dari kantornya.Pintu kamar utama terbuka perlahan
Sesi perawatan wajah yang berlangsung tenang itu perlahan berganti ke tahap pijat relaksasi di area leher dan bahu.Suasana di dalam ruang perawatan privat yang harum itu makin terasa hangat dan akrab. Tidak ada lagi ketegangan atau batasan kaku di antara Freya dan Evelyn.Evelyn mengamati pantulan wajah Freya di cermin besar di hadapan mereka.Sorot mata adik iparnya itu tampak begitu cermat, memperhatikan rona merah yang samar di pipi Freya serta ekspresi wajah wanita di hadapannya yang kini jauh lebih rileks.Evelyn menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Freya dengan senyuman jahil yang mengembang tipis."Freya, bisakah aku menanyakan sesuatu yang sedikit lebih spesifik?" tanya Evelyn dengan nada berbisik, memecah keheningan di dalam ruangan.Freya melirik Evelyn dari sudut matanya, membasahi bibirnya yang terasa agak hangat. "Tentu saja, Evelyn. Kau mau bertanya tentang apa?""Tentang hubungan kalian di balik pintu kamar," sahut Evelyn tanpa ragu, sorot
"Apakah... apakah orang tua kalian nantinya tidak akan sangat membenci atau menolaknya jika mereka tahu kebenarannya?" bisik Freya parau.Suaranya hampir tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan.Evelyn mengerutkan keningnya halus. "Kebenaran apa yang kau maksud, Freya?""Kebenaran bahwa aku hanyalah seorang wanita miskin," sahut Freya dengan raut wajah yang meredup, tak berani menatap langsung mata adik iparnya."Aku tidak punya latar belakang keluarga terpandang, tidak punya harta, dan... Axel memungutku dari sebuah klub malam di saat aku hampir kehilangan segalanya. Bagaimana jika orang tua kalian tahu dari mana asal-usulku yang sebenarnya?"Pertanyaan polos yang dipenuhi rasa takut mendalam itu meluncur tulus dari bibir Freya.Di dalam benaknya, sebuah keluarga bangsawan bisnis pasti akan murka melihat putra mahkota mereka menikahi wanita kelas bawah yang diselamatkan dari tempat hiburan malam.Namun, di luar dugaan Freya, respons yang ia dapatkan sama sekali tidak sesuai
Mobil sedan hitam yang dikendarai sopir pribadi Axel berhenti tepat di depan sebuah bangunan bergaya minimalis modern yang sangat megah.Papan nama bertuliskan Evelyn Aesthetic & Dermatology Clinic terpampang anggun dengan pencahayaan hangat.Ini adalah klinik estetika paling eksklusif di pusat kota, tempat berkumpulnya para wanita dari kalangan kelas atas.Freya melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk. Langkah kakinya terasa agak berat, dibayangi oleh instruksi kaku dan bayangan dingin Axel yang masih terngiang jelas di kepalanya.Seorang staf penerima tamu yang sudah mendapat pemberitahuan langsung membimbing Freya menuju ruang perawatan privat di lantai paling atas.Pintu kayu berukir halus itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan yang teramat luas, harum aroma terapi lavender, dan dilengkapi peralatan medis kecantikan tercanggih.Di sana, berdiri seorang wanita muda berparas sangat cantik dengan jas dokter putih yang melekat pas di tubuh rampingnya. Rambut hitamnya disa







