Se connecter[Iya semangat belajarnya ya sayang]
Andrea meletakkan ponselnya cepat dengan posisi terbalik setelah menekan tombol kirim.Wajahnya menghangat dan merah seperti kepiting rebus. Jelas bukan karena demamnya lagi.Lalu, sebuah ketukan di pintu menjeda momen gemasnya itu. Dia bahkan belum sempat melihat balasan Kyrran. Dia bangun, turun dari kasur. Ia menarik ujung piamanya sebelum melangkah, kemudian membuka pintu kamarnya.Staf asrama bernama Miss Rena berdirKeputusan finalnya Samuel dikeluarkan dari Alveroz High. Namun skandal cowok itu tidak diungkapkan sepenuhnya. Hanya disebutkan kalau Samuel telah melanggar privasi para siswi dengan menaruh kamera tersembunyi di beberapa tempat. Kyrran sudah meminta khusus pada Kepala Sekolah agar masalah yang menimpa Andrea tidak disebut. Mengingat gadis itu tidak mau ketahuan oleh kakeknya jika bersekolah di Alveroz High. Untung Kepala Sekolah menerima permintaan khusus Kyrran itu tanpa menanyakan alasannya. Di rooftop gedung utama sekolah, Andrea duduk di bangku kayu sambil membaca berita skandalnya mengenai Samuel yang telah dimuat di website sekolah. Andrea menghela napas lega, kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku. Gadis yang mengenakan sweter merah marun itu mendongak sejenak sambil memejamkan mata, membiarkan angin berembus dingin menerpa wajah beningnya. Tak berselang lama, orang yang mengajaknya bertemu di rooftop akhirnya datang. Siapa lagi kalau bukan Kyrran. Cowok itu m
Bugh! Bugh! Pukulan Kyrran mendarat bertubi-tubi pada Samuel. Meski cowok itu sudah babak belur, Kyrran terus menghantam dan menendang tanpa ampun. Suara pukulannya menyaingi deru ombak di luar gudang pelabuhan terbengkalai tersebut. Sejumlah anggota klub otomotif yang dipimpin oleh Vanko berbaris rapi menyaksikan kemarahan Kyrran yang berkobar seperti api di tong pembakaran. Untuk kesekian kalinya, Samuel terhuyung mundur karena kehilangan keseimbangan menerima hantaman. Di hadapannya, Kyrran berdiri dengan rahang mengeras dan tatapan sedingin es. "Ran, stop, aku menga—" ucapan Samuel tak sampai. Pukulan Kyrran berikan datang lagi. Derby, Jeremy dan Rasya sama-sama menelan ludah, menyaksikan sisi bengis Kyrran. Di sisi kanan gudang tepatnya lantai atas, Andrea berdiri bersama empat sahabatnya. Cassandra dan Elyse menutup mulutnya, seolah bisa merasakan tinju Kyrran pada Samuel.
Tak berselang lama, Derby, Jeremy, Rasya dan Vanko—menerobos masuk, disusul oleh Noela, Jolina, Elyse dan Cassandra—yang dipenuhi kepanikan."Rea, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Noela berlari menghampiri."Iya," sahut Andrea mengangguk. "Aku nggak apa-apa. Cuma hampir—" ucapannya tercekat, seolah susah untuk melanjutkan kalimat selanjutnya. Ia kemudian menarik napas panjang. Para sahabatnya mengerti."Untung kamu tadi sempat nelpon ke grup," celetuk Jolina."Begitu dengar suara kamu dan Samuel, kita langsung ke sini," sahut Elyse."Terima kasih ya," ucap Andrea, mengulas senyum tipis.Kyrran yang berdiri di samping Andrea, melirik ke arah para cowok."Urus dia." Pandangan cowok itu tertuju pada Samuel yang masih tidak sadarkan diri. Derby, Jeremy, Rasya dan Vanko langsung mengangguk. Kemudian iris dinginnya beralih kepada para cewek."Kalian cek area luar. Jangan sampai ada yang masuk ke sini. Jangan
Rencana yang sudah disusun rapi, seketika berantakan. Mungkinkah dari awal Samuel sudah tahu dan hanya ikut dalam arus misi? Andrea mundur selangkah demi selangkah. Sementara itu, Samuel terus mendekat, senyum di wajahnya membuat perut Andrea terasa mual. "Wah, hebat juga akting kamu. Hampir saja aku terus percaya," sinis cowok itu. Samuel mengangkat ponselnya. Andrea menyaksikan layar tersebut memunculkan rekaman Derby dan Kyrran yang sedang menggeledah kamar Samuel. Jadi pucat wajah gadis itu. "Ternyata kamu menipuku, Andrea. Kamu belum putus dari Kyrran dan kamu merencanakan ini dengan dia!" ungkap Samuel dengan mata tajam yang penuh amarah. "Kamu yang menipu!" suara Andrea bergetar. "Selama ini kamu pura-pura jadi orang baik. Padahal kamu bajingan!" Tersinggung dengan ucapan Andrea, Samuel mendekat cepat dan mendesak Andrea hingga punggung gadis itu menghantam dinding. "Ahh!"
Kyrran pernah meyakinkan diri agar tidak mencintai atau dicintai oleh seseorang. Baginya ribet—dan tahu kalau umurnya tidak panjang. Namun, menyadari perasaannya pada Andrea, mengubah arah keyakinannya sendiri.Kyrran tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya sudah jarang merokok. Bungkus rokok yang biasanya habis tanpa terasa kini sering tergeletak berhari-hari di laci kamarnya. Bahkan beberapa batang masih utuh saat akhirnya dibuang sendiri oleh Kyrran. Demi Andrea agar tidak terus-menerus jadi perokok pasif karenanya.Berniat tidur berpelukan dengan Andrea pun Kyrran tidak ada niat terselubung untuk memanfaatkan kesempatan. Dia hanya mengingat hangat tubuh dan wangi gadisnya itu yang membuat Kyrran tenang serta bisa merasakan tidur nyenyak setelah sekian lama.Jadi siapapun yang mengusik Andrea, akan Kyrran beri pelajaran dan sekarang ia benar-benar ingin menghajar Samuel habis-habisan."Shit!" desis Kyrran.Saat menggeledah kamar
Kelopak mata Andrea terbuka perlahan, menyambut cahaya pagi yang lembut menyelinap dari sela tirai, membentuk garis-garis tipis keemasan di lantai kamarnya.Untuk beberapa detik Andrea hanya berbaring diam, masih sedikit terjebak dalam kantuk. Pandangannya bergeser ke sisi kasur dan sosok yang memeluknya hingga tertidur semalam tidak terlihat.Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, lalu melirik pintu balkon yang tertutup rapat.Sepertinya Kyrran menepati ucapannya yang ingin pergi dari kamar Andrea pada jam lima dini hari.Manik hazel gadis itu kemudian naik ke jam dinding. Masih cukup pagi ternyata. Alih-alih kembali tidur, Andrea mengusap wajahnya sebentar sebelum bangkit dari kasur.Ia kemudian mengambil handuk yang tergantung di dekat lemari dan berjalan keluar menuju kamar mandi.Hari ini, dia dan geng OTTD punya misi penting.Beberapa saat setelahnya, penampilan Andrea jauh lebih rapi. Dia mengenakan kemeja put
"Kuberi tahu kau sekali lagi, Kyrran. Jangan mengganggu sahabatku," tekan Noela. Kilat matanya setajam pisau yang baru diasah. Gadis berambut sebahu itu menyimpulkan tangannya kembali di depan dada. "Cari cewek lain saja, banyak yang menyatakan cinta padamu di sekolah. Kau tinggal
Layaknya lagu favorit yang terjebak di kepala dan berulang tanpa henti, sosok Andrea terus muncul di benak Kyrran. Iris hitam cowok itu menembus kaca tebal, menyorot ring di bawah sana—tempat dua petinju yang saling menghantam tanpa ragu. Tetapi, yang terus terputar di pikirannya cuma satu untuk
"Silakan kalau kamu mau menempelkan foto itu di mading, silakan kamu sebar semau kamu," kata Andrea lagi, suaranya pecah beriringan dengan tangisnya. "Aku gak peduli," gumamnya serak sambil mengusap air matanya dengan kasar. Gadis itu berbalik cepat, berniat pergi
"Dia cetak berapa banyak sih," gerutu Andrea. Ia langsung bangkit dari kursinya. Tangan Andrea bergerak cepat mengumpulkan buku-buku Kyrran. Setelah itu dia merampas kardigan yang tergantung di stand hanger. Beberapa menit kemudian, Andrea berlari keluar asrama sambil memeluk buku-buku Kyrran







