เข้าสู่ระบบ"Aku memang selalu peduli dengan reputasiku," jawab Kyrran dingin.
Andrea mengalihkan tatapannya dari iris hitam cowok itu. Sebal melihatnya. Kyrran kemudian menoleh pada sebuah jendela kecil yang berada dekat langit-langit. Jendela itu sempit, tetapi cukup besar untuk dilewati seseorang. "Keluar lewat sana saja," kata Kyrran. Andrea mengikuti arah pandangan Kyrran. "Kamu serius?" "Daripada menunggu sampai besok pagi."Brooooooommmm…Brooooooommmm…Kyrran terus menekan pedal gas lebih dalam dan kencang. Mesin mobil sport miliknya meraung nyaring, memecah keheningan malam di Yoseviano International Circuit—sirkuit pribadi milik keluarga pihak papanya yang terletak di pinggiran kota.Jarum speedometer terus bergerak naik. Angin menghantam bodi mobil dengan keras saat kendaraan itu melesat di lintasan lurus sebelum menikung tajam ke tikungan berikutnya.Kedua tangan Kyrran yang terbalut sarung tangan balap mengunci kemudi erat. Jemarinya menegang di balik material hitam itu, seolah seluruh emosinya tertumpah pada genggaman tersebut.Sudah dua hari sejak kedua orang tuanya memberi tahu soal risiko operasi yang bisa menyembuhkan Kyrran. Dan setiap kali memejamkan mata, ia selalu teringat soal kehilangan ingatan yang akan dialami jika ia menerima melakukan operasi itu.Kenapa bayaran kesembuhannya harus dengan kehilangan semua yang pernah membentuk d
Makan malam keluarga besar Alveroz akhirnya tiba. Kediaman utama keluarga itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Lampu-lampu kristal menyala hangat menyertai suara percakapan memenuhi ruang makan panjang yang mampu menampung puluhan orang sekaligus.Sudah cukup lama sejak seluruh keluarga Alveroz berkumpul selengkap ini.Mereka datang terutama karena ingin bertemu Kyrran setelah kepulangannya dari Valkenburg dan ingin mendengar langsung perkembangan pengobatannya.Kyrran sendiri duduk di sisi meja bersama Noela. Di hadapannya, para paman, bibi, sepupu, dan opa oma dari pihak mamanya sibuk mengobrol.Topik pembicaraan berganti-ganti. Mulai dari bisnis keluarga, rencana liburan, prestasi para generasi keempat sampai kemenangan tim basket sekolah Kyrran beberapa waktu lalu.Namun suasana hangat itu perlahan berubah ketika Opa Riovandra meletakkan sendoknya. Ruangan mendadak lebih tenang."Kondisi Kyrran bagaimana sekarang?"
Dua minggu berlalu sejak Kyrran kembali dari Valkenburg. Namun kepulangannya itu bukan berarti rangkaian pengobatan selesai. Justru sejak kembali ke negaranya, jadwal Kyrran semakin padat. Dokter Armand yang menanganinya di dalam negeri terus berkomunikasi dengan tim medis dari Valkenburg. Hasil pemeriksaan yang dibawa Kyrran dari luar negeri dipelajari ulang, sementara beberapa pemeriksaan tambahan dilakukan untuk memastikan kondisi tubuhnya cukup kuat apabila nantinya menjalani terapi. Hampir setiap beberapa hari, Kyrran melakukan konsultasi. Kadang secara langsung atau melalui panggilan video bersama dokter Sebastian dari Valkenburg. Dan selama menunggu keputusan akhir, Kyrran memilih menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tidak mau waktunya hanya dihabiskan di rumah sakit. Ia makan malam bersama dua keluarga besarnya. Bertemu sahabat-sahabatnya. Menghabiskan waktu dengan Darell dan Noela yang masih saja suka mengganggunya. Dan tentu saja, bersama Andrea sang kekasih. Bahkan
Bagaimana cara membuat Kyrran berhenti marah saat ini? Andrea juga bingung.Ciuman yang didominasi sendiri oleh cowoknya tadi ternyata sama sekali tidak mempan juga meredam amarahnya. Kyrran masih memasang wajah dingin, tatapannya bahkan tak sedikit pun melunak.Andrea mengembuskan napas pelan. Kalau begini terus, mereka tidak akan selesai.Ia kemudian menjinjit, berusaha menyamai tinggi cowoknya itu di depannya, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Kyrran."Jangan marah lagi dong, Baby Ran," pintanya lirih. "Kita lama gak ketemu, harusnya kita lepas kangen aja."Cowok itu terdiam. Tatapannya turun menatap Andrea yang kini bergelayut manja di lehernya."Kalau begitu… block dan hapus permanen chatnya dia," ujar Kyrran datar. Biasanya kalau Andrea mendekat, tangannya akan merengkuh pinggang Andrea, namun kali ini kedua tangan Kyrran masih lurus di sisi tubuh tingginya.Andrea mengerucutkan bibir sebentar, lalu berkat
"Kamu chattingan lagi sama Jasper?" Suara Kyrran begitu tajam sampai membuat jantung Andrea berdetak tak nyaman. Andrea menelan salivanya berat, lalu melangkah buru-buru menghampiri Kyrran. Napasnya masih sedikit tersengal saat ia menjatuhkan diri di sisi kasur, tepat di sebelah cowoknya itu. "Baby Ran, aku niat mau cerita soal dia setelah kamu kembali," kata Andrea dengan suara yang sangat lembut. "Tadi kita bicarakan hasil pemeriksaan kamu dulu, jadi aku belum sempat bahas soal Jasper." Andrea memegang pundak cowoknya itu dengan kedua tangan. "Sekarang kita bahas, oke, Sayang?" Kyrran memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh pada Andrea. Rahangnya mengeras dan tatapannya menancap lurus ke wajah gadis itu. Andrea bisa merasakan sorot mengintimidasi dari iris hitam cowok itu. "Please…" pinta Andrea, memamerkan puppy eyes di kilat matanya. Kyrran tidak menjawab sama sekali. Namun sorot mata tajamnya sudah menjadi sinyal untuk dia segera menjelaskan. "K
Andrea mengulum bibirnya bingung. Kalau ia tidak balas lagi chat Jasper, apakah cowok itu akan melaporkan Andrea yang sekolah di Alveroz High ke Kakek Dedrick? Pasalnya hal itu masih jadi rahasia Andrea yang tersimpan rapi dari kakeknya. Ia kemudian menghela napas sebelum membalas pesan Jasper seadanya. Seperti kabar baik dan rencana kuliah. Andrea akan memberitahu Kyrran setelah pacarnya itu kembali. Terakhir kali Andrea laporkan soal Jasper, Kyrran marah besar. Sekarang, ia mau Kyrran fokus pada pemeriksaannya dulu dan tidak memikirkan hal lain. Hidup Andrea kembali berjalan seperti biasa. Kelas, tugas, rapat klub jurnalistik, festival di sekolah, jalan bersama para sahabatnya—semuanya berjalan berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah dua minggu sejak Kyrran berangkat ke German. Selama berada di Valkenburg, Kyrran dan Andrea tidak pernah kehilangan kontak. Hampir setiap pagi ada pesan singkat. Kadang mereka hanya bertukar foto makanan atau Kyrran mengirimkan pemandangan kota
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







