LOGINSiapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran.
Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan dingin. Rambut hitam legamnya terpotong rapi dengan sedikit poni yang jatuh ke dahi. Aura disiplin melekat padanya, seperti seseorang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun yang paling mencolok dari semua itu adalah tatapan Kyrran. Sepasang mata tajam yang selalu terlihat tenang, tapi juga… terlihat galak. Bukan galak karena berteriak atau marah-marah, melainkan jenis ketegasan yang cukup membuat orang lain langsung menyingkir dari jalannya. Sekali dia melirik saja, siswa yang ribut di sekitarnya langsung diam. Cowok itu tidak pernah tersenyum. Bahkan ketika berbicara, nada suaranya datar dan tegas, membuat setiap kata yang keluar terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak. Hampir semua siswi di Alveroz High diam-diam mengagumi Kyrran karena ketampanannya yang dingin itu. Tapi pada saat yang sama, tidak banyak yang berani benar-benar mendekat. Beberapa yang pernah menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah. Dari sana julukan ketos iblis disematkan padanya. Untuk Andrea, meski pernah berada di kelas utama yang sama saat tahun pertama dengan Kyrran, tapi dia dan cowok itu hampir tidak pernah berbicara. Terakhir kali Andrea berbincang panjang dengan Kyrran saat dia mewawancarai cowok itu setelah resmi dilantik jadi ketua OSIS. Di tahun kedua sekarang, mereka sudah di kelas utama yang berbeda—Kyrran di 11-A sedangkan Andrea di kelas 11-D. Di beberapa mata pelajaran mereka satu kelas dan tidak pernah saling bicara lagi. Kini, mereka bertemu secara tidak sengaja. Kyrran tampaknya baru selesai latihan. Bola basket tergeletak di dekat kakinya dan sebuah skateboard bersandar di pagar pembatas, sementara dia berdiri diam seolah sedang mengatur napas. Uap tipis keluar dari mulutnya di udara senja yang dingin. Tatapan mereka bertemu di tengah cahaya keemasan langit. Andrea yang masih setengah berjongkok pelan-pelan meluruskan punggung, tangannya terangkat merapikan rambutnya yang berantakan. Kyrran mengalihkan wajah dan membungkuk meraih skateboard dan bola basketnya. Buru-buru dia memasukkan kedua benda itu ke dalam ke semak-semak. Sementara itu, Andrea mengikuti punggung Kyrran dengan lirikan heran. Alih-alih menjawab pertanyaan Kyrran, gadis itu mau menyapa saja. Tangannya sudah terangkat setengah. "Hai—" Tapi, tangannya ditarik tiba-tiba oleh Kyrran. Mereka masuk ke dalam lemari penyimpanan yang sudah tak terpakai. Tubuh keduanya jadi merapat di ruang sempit itu. Jantung Andrea mendadak diisi suara sirine. Tak pernah Andrea menyangka akan ada hari di mana dia dan Kyrran berdekatan tanpa sekat seperti ini. "Kita ngapa—" lagi-lagi suara Andrea dicekat. Tangan Kyrran menutup mulutnya. Mata Andrea mengerjap bingung. Kyrran melirik ke arah celah lemari tepat saat Pak Handoko muncul di area itu. Andrea pun langsung menilai benar tindakan Kyrran yang menyeretnya masuk ke dalam lemari. Merasa guru biologi itu sudah pergi, Kyrran mendorong pintu lalu membawa tungkainya keluar. Andrea menyusul. Cowok yang tingginya seratus delapan puluh dua sentimeter itu berbalik tiba-tiba. Andrea tersentak kecil. "Dengar, aku gak tertarik dengan apa yang kamu lakuin sore ini. Jadi, mari kita buat kesepakatan sederhana," ujar Kyrran. Suaranya tenang, namun mengandung ancaman absolut. Andrea terpaku di tempat. Bayangan Kyrran yang menyesap rokok di lab tadi kembali terlintas. Cowok itu tidak sedang membela diri, dia sedang memberikan peringatan. Lebih baik tidak berurusan lebih jauh dengan ketos iblis ini. Lagipula dia punya berita skandal yang lebih penting. Andrea menghela napas tipis, tatapannya terangkat ke iris hitam Kyrran. "Aku juga gak tertarik," imbuhnya lalu melengang jalan, meninggalkan Kyrran yang masih memicing penuh selidik. Sementara itu, Andrea mengepalkan tangannya yang masih memegang ponsel berisi rekaman skandal Pak Handoko. Dia baru saja lolos dari singa, tapi sekarang dia justru masuk ke kandang serigala. Andrea geleng-geleng kemudian memeriksa isi hapenya. “Sekarang waktunya memproses berita skandal di lab biologi.” Dia mengedikkan bahu sebelum memasukkan benda pipih itu ke dalam saku cardigannya. Begitu tiba dalam kamarnya di asrama putri, Andrea tidak langsung berganti pakaian, noda di wajahnya dibiarkan. Dia malah duduk di kursi belajar dan membuka laptop di meja lalu mengaktifkan benda itu. Dalam waktu singkat, Andrea menggerakkan kursor di monitor untuk memilih sebuah aplikasi notes. Tak menunggu lama, ia sudah mengetik pada keyboard. Namun setelah terbentuk enam paragraf, Andrea berhenti sejenak. Tatapannya terarah serius ke layar laptop. "Aku harus wawancara Kepala Sekolah.""Aku…"Andrea menelan salivanya berat. Jujur saja tak pernah ada di pikiran gadis itu untuk menikah muda. Terlebih saat ini, ia memang fokus ingin meraih cita-citanya menjadi jurnalis.Tetapi… ketika menatap Kyrran yang memelas ke arahnya, Andrea tak bisa menepis jika jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan cowok itu.Andrea mengangkat tatapannya menatap Tante Drassha dan Om Adriell secara bergantian lalu berbicara. "Aku mau…Tante, Om… Tapi sekarang aku masih berstatus sebagai tunangan Jasper dan seperti yang Om dan Tante sampaikan tadi… Kakek tidak setuju dan Opa Riovandra belum memberikan izin."Di sebelahnya, Kyrran menghela napas lega. Cowok itu menggenggam tangan mungil Andrea lebih erat. "Kita akan mengurus semua itu, satu per satu, Andrea."Andrea menatap iris hitam Kyrran lekat-lekat. Ia bisa melihat jelas pancaran keyakinan dari mata Kyrran. Hal itu memberi Andrea keyakinan sama.Om Adriell dan Tante Drassha saling memandang kemudian memberikan solusi untuk mereka berdua
Andrea terdiam di sebelah Kyrran. Gadis itu menoleh pada cowoknya yang tampak memproses semua pengakuan mama dan papanya—mengenai masa lalu Kyrran.Ruangan luas itu hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya Kyrran bersuara."Jadi intinya kakek Andrea gak merestui hubungan aku dan Andrea karena Beliau menyalahkan aku atas kepergian orang tua Andrea.""Lebih tepatnya cuma Ibu Andrea, Sayang. Karena Kakek Andrea juga gak merestui ayah Andrea menikah dengan Ibu Andrea," sahut Mama Drassha.Kyrran menoleh pada Andrea dan meraih tangan mungil gadis itu, menggenggamnya erat. "Maaf… aku—"Kalimat Kyrran terjeda lantaran Andrea segera menyela."Kyrran… kamu gak bersalah, bahkan sebelum kamu hilang ingatan aku gak pernah merasa kamu bertanggung jawab atas kepergian Ibu dan ayahku," ucap Andrea, meraih tangan Kyrran yang menggenggamnya dan mengusapnya pelan dengan Ibu jarinya.Kyrran menatap Andrea lama dan tiba-tiba saja ia meng
Setelah makan malam tersebut selesai, Drassha berdiri lebih dulu."Pa, ikut aku sebentar," ucap Drassha dengan suaranya yang manis.Adriell mengernyit. "Sebentar, Ma. Papa juga perlu bicara dengan Andrea dan Kyrran."Drassha menarik napas panjang sembari mengangkat sudut bibirnya. "Sekarang, A-d-r-i-e-ll…"Nada lembut itu terdengar seperti perintah mutlak dan mendengar namanya disebut di depan putra mereka, membuat Adriell tidak punya pilihan lain selain mengikuti sang istri.Beberapa saat kemudian keduanya menghilang ke lantai dua. Sementara Kyrran dan Andrea mulai membereskan meja makan.Jari-jari Drassha melingkar di lengan suaminya. Ia membawa Adriell melewati ruang keluarga hingga ke balkon. Drassha menarik pintu kaca geser pelan sebelum akhirnya menutupnya rapat. Hembusan angin malam dan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan menyambut keduanya.Wanita itu lalu melepaskan lengan Adriell dan menatap suaminya dengan sorot mata tajam."Apa yang terjadi sebenarnya, ingatan putra kita
"Justru tante yang ingin meminta maaf dengan kamu secara langsung, Andrea…" ujar Mama Drassha.Andrea mengerjap bingung menatap mama Kyrran yang entah kenapa justru minta maaf padanya. "Maksud Tante Drassha… apa?""Tante tahu kamu mencintai Kyrran, tapi saat kakek kamu mengetahui soal kamu yang sekolah di Alveroz High dan berpacaran dengan Kyrran, Tante gak bisa apa-apa selain mengikuti semua skenario dari papanya Kyrran dan papa Tante," jelas Mama Drassha pelan.Andrea meraih tangan wanita cantik itu dan mengusapnya lembut. "Aku mengerti, Tante. Dan… Tante Drassha gak perlu minta maaf soal itu. Pertama, karena bohong dengan kakek memang salahku. Dan aku sempat salah paham dengan Kyrran karena perempuan yang pernah menggantikan posisi aku di Mirelle High, Tante."Andrea menarik napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Sekarang aku gak mau melepaskan Kyrran lagi, Tante. Soal tunangan aku… aku akan bicara dengan dia dan juga pelan-pelan memberitahu kakek."Mama Drassha meraih pundak
Andrea masih menunggu di kamar Kyrran. Pandangan gadis itu beberapa kali melayang ke arah pintu. Sudah cukup lama cowok itu bicara dengan Tante Drassha, membuat pikiran Andrea berkelana ke mana-mana.Jangan-jangan Kyrran dimarahi? diomeli karena membawa Andrea ke sini?Atau…Kyrran diminta meninggalkan Andrea karena Andrea sudah bertunangan dengan Jasper dan kakeknya tidak akan pernah merestui hubungan mereka?Andrea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat membayangkan skenario buruk yang berputar di kepalanya itu.Lalu, pintu kamar terbuka perlahan. Kyrran muncul dari balik panel kayu walnut berwarna gelap tersebut, sosok tinggi itu memenuhi ambang pintu.Andrea yang duduk di tepi ranjang segera berdiri dan menghampirinya."Mama kamu marah?" tanya gadis itu hati-hati.Tatapan Kyrran melembut. Cowok itu mengangkat kedua tangannya dan meraih wajah cantik Andrea. Telapak tangannya yang hangat menangkup pipi gadisnya itu."Enggak, Baby Rea," bantah Kyrran dengan suara berat yang lembut. Lanta
"You want me so bad, don’t you?" tutur Kyrran."Hmmh… i do, Baby Ran…" timpal Andrea yang akhirnya berhasil menyingkap kemeja hitam Kyrran. Jemari lentiknya kini meluncur turun perlahan dari dada bidang Kyrran, lalu ke perut kotak-kotak cowok itu.Sungguh tubuh Kyrran tambah kekar di banding saat mereka sekolah. Padahal baru satu tahun lebih berselang, tapi Kyrran makin proporsional tubuhnya. Andrea menyukainya.Kyrran tentu tidak tinggal diam juga, tangan pria itu bergerak menyentuh salah satu gundukan kembar Andrea, memijat benda kenyal itu dengan gerakan yang membuat Andrea menggeliat."Empp… hhghh…"Di sela pertukaran saliva yang begitu intens, Kyrran mengangkat Andrea duduk ke pangkuannya sembari menurunkan kardigan yang dikenakan gadisnya itu."Argh… Baby Rea…" geram Kyrran sembari memperbaiki posisi Andrea. Bahkan ia sengaja mengarahkan miliknya yang mengeras di balik celana agar menekan milik Andrea yang masih dilapisi ka
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







