LOGINRibuan mil jauhnya dari perairan Maldives, suasana di Mansion Utama Arsenio di Madrid yang biasanya tenang, kini dilanda badai kepanikan. Kabar tentang penyerangan di pulau privat dan terkuncinya Chloe di dalam bungker titanium telah sampai ke telinga sang penguasa lama, Lorenzo Arsenio.Dona Carmen mondar-mandir di ruang kerja suaminya dengan wajah pucat pasi. Ujung gaun yang wanita itu kenakan bergemerisik gelisah menyapu karpet. "Lorenzo! Lakukan sesuatu! Jangan hanya duduk di belakang meja itu sambil menatap layar komputer!" desak Carmen, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Menantu dan calon cucuku terjebak di dalam peti mati! Aku tidak mau kehilangan penerusku lagi! Menantuku pasti saat ini begitu tersiksa. Segera hubungi koneksimu sekarang juga!"Lorenzo memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Ia sedang mengetik serangkaian kode otoritas tingkat tinggi. "Tenanglah, Honey. Jika kamu terus berisik dan mondar-mandir seperti itu, aku tidak bisa fokus. Aku sedang meng
DUAAAARRR!Dinding bungker bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi berskala tinggi. Pintu baja utama di ujung lorong seketika tertutup oleh lapisan pilar titanium padat setebal setengah meter. Logam raksasa itu turun dari langit-langit dengan suara hidrolik yang bergemuruh mengerikan. Tidak ada celah seukuran helaian rambut pun yang bisa mereka lewati. Lampu strobo telah mati, menyisakan lampu darurat berwarna merah darah yang berkedip lambat, memberikan nuansa neraka pada ruangan mewah yang kini telah berubah wujud menjadi peti mati paling mahal di dunia.Asap bius V-X9 masih mengepul, meski intensitasnya berkurang karena tertahan oleh sirkulasi udara yang kini mati total akibat protokol kiamat.Jerry mematung. Pria paruh baya itu masih mengangkat sebelah tangannya di udara, menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat."Apa ini? Mengapa kita disekap dalam kotak besi?" cicit Jerry dengan suara bergetar. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya."Papa baru
BRAK! CLANG!Pelat baja ventilasi itu akhirnya runtuh sepenuhnya, menghantam lantai bungker dengan dentuman keras. Dari balik lubang hitam yang menganga, sebuah tabung logam seukuran kaleng soda jatuh berdenting.Sssshhh!Tabung itu mendesis liar, memuntahkan gas putih pekat yang langsung mencekik udara."GAS BIUS! MUNDUR!" teriak Dokter Ryu, matanya membelalak panik.Di saat semua orang terlihat panik, Chloe justru berdiri tegak. Insting bertahannya bekerja. Ia telah memilih hidup bersama Jordan Arsenio untuk tahu bahwa panik adalah cara tercepat menuju liang lahat. "Nayla, Dokter Ryu, serbet teh!" raung Chloe dengan nada mutlak yang menjiplak persis ketegasan suaminya. Nayla segera menyambar tumpukan serbet di atas meja. "Ini Nyonya!" teriak Nayla seraya menyerahkan serbet tersebut.Chloe gegas meraup teko berisi teh chamomile panas, menyiramkannya secara brutal ke tumpukan serbet kain, lalu melemparnya ke arah mereka."Tutup hidung kalian pakai ini! Kain basah menyaring racun le
"Cepat putuskan kabel sialan itu, Yuri!" bisik Ivan kasar, suaranya menggema tertahan, beradu dengan cicitan air yang mengalir di dalam lorong drainase yang gelap, lembap, dan berbau logam berkarat."Aku sedang berusaha! Kau pikir membongkar segel titanium ini semudah memotong keju? Diamlah dan awasi belakang kita!" balas Yuri dengan napas terengah-engah. Peluh sebesar biji jagung menetes dari balik kacamata night vision yang Yuri kenakan, membasahi masker rebreather yang melekat di wajahnya.Kedua pria berseragam selam serba hitam itu bergelantungan di dalam terowongan sempit yang pengap, tepat di bawah fondasi utama vila Arsenio di Maldevis. Tangan Yuri yang terbungkus sarung tangan taktis dengan cekatan menggunakan alat las plasma mini, membuat percikan api biru kecil yang perlahan melelehkan engsel pelat baja ventilasi udara raksasa di hadapan mereka."Persetan dengan keju! Jordan Arsenio sedang mengamuk seperti iblis di atas sana, menghabisi regu pancingan di pantai!" geram Iva
Crang!Pecahan kaca berhamburan di udara, memantulkan cahaya api dari kejauhan sebelum jatuh bergemerincing ke atas dek kayu.Jordan tidak bergeming sedikit pun. Ibu jarinya perlahan naik, menyeka darah segar yang menetes dari pelipisnya. Pria itu menatap noda merah di ujung jarinya, lalu sebuah tawa rendah dan serak meluncur dari bilah bibir Jordan. Bukan tawa panik, melainkan tawa murni seorang psikopat yang baru saja dibangunkan dari tidurnya."Mereka baru saja merusak wajah tampanku," gumam Jordan teramat tenang.Jordan menekan earpiece di telinganya. "Mogi. Mata ganti mata. Temukan penembak jitu bajingan itu dan buat dia buta selamanya.""Angin arah barat laut, jarak seribu dua ratus meter," lapor Mogi dari ujung saluran komunikasi, suaranya sedatar mesin pembunuh. "Target terkunci, Bos."Dor!Sebuah letusan senapan laras panjang kaliber .50 membelah langit dari arah menara utara vila.Hanya jeda dua detik, lalu terlihat siluet salah satu penembak di atas speedboat terdepan ter
"Makasih." Chloe menerima kelapa dingin itu dengan senyum yang kembali mengembang. Ia menyedot air kelapa itu perlahan, membiarkan rasa manis dan segar membasahi tenggorokannya. "Enak?" tanya Jordan lembut, jemarinya menyisir rambut panjang Chloe yang tertiup angin pantai. "Banget," gumam Chloe puas. "Tahu begini, dari kemarin-kemarin kita liburan ke sini. Udaranya enak, tenang." Jordan hanya membalas ucapan istri itu dengan senyum simpul. Tepat saat ibu jari pria itu mengusap pipi istrinya, sebuah suara mendesak memecah keheningan di telinga kanannya melalui earpiece. "Bos! Darurat!" Suara Leo terdengar terburu-buru. "Kapal pesiar putih itu tiba-tiba menyalakan mesin ganda. Mereka melaju dengan kecepatan penuh, memotong jalur langsung menuju perairan kita!" Gerakan tangan Jordan di pipi Chloe terhenti. Rahangnya seketika mengeras. "Berapa lama sampai batas ranjau?" gumam Jordan sangat pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibirnya. "Kurang dari empat puluh detik! Tapi Bos
"KIKO! KIKO! Ke mana anak sialan itu?!" Suara bariton Ryu menggelegar memecah ketegangan di lorong vila. Ia baru saja keluar dari ruangan Jordan dengan napas memburu dan wajah menahan emosi. "Hais, merepotkan sekali si Jordan ini. Seharusnya aku tidak peduli. Lagian, dia pria dewasa yang sudah je
BRAAAKKK!Jeep Rubicon hitam itu menghantam tanah berbatu dengan brutal setelah menabrak pembatas lalu melompati gundukan hutan. Pegas suspensi mobil Rubicon itu menjerit, memantulkan badan mobil seberat dua ton itu ke udara sebelum bannya kembali mencengkeram bumi.Brak!"Awww! Hei! Kamu gila?!"
Sinar mentari pagi menembus jendela besar ruang makan Mansion Arsenio, meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah. Namun, Chloe yang berdiri di samping kursi kosong Tuan Rumah justru menatap hamparan makanan itu dengan horor.Tubuh Chloe yang ringkih masih terasa linu di sana-sini. Semalam adala
"Jangan pedulikan lukaku!" bentak pria bertopeng Oni itu dari balik alat pengubah suara yang terdengar berat dan mekanis."Bagaimana aku tidak peduli? Darahmu mengalir deras sekali! Kamu bisa kehabisan darah sebelum kita sampai ke jalan raya!" bantah Chloe, menarik lengannya."Dengar, Nona! Untuk s







