Masuk"Aku tanya sekali lagi," tekan Jordan. "Sebenarnya, apa niatmu? Kamu dikirim untuk membunuhku, huh?"
Mendapatkan ancaman moncong pistol di dahi dan kesalahpahaman ini, membuat otak Chloe berputar lebih cepat daripada gasing. Menangis? Tidak berguna. Memohon? Klise. Jordan Arsenio akan memakan rasa takut sebagai camilan. Chloe harus menggunakan satu-satunya senjata yang dia punya: Logika. "Huff! Chloe membuang napas. "Tuan ... Tolong turunkan benda yang Tuan pegang—" "Katakan!" "Oke. Oke. Jadi ... Secara teknis..." cicit Chloe, suaranya bergetar tapi dagunya terangkat sedikit demi memberi jarak pada pistol itu. "Kalau aku datang untuk niat membunuh, aku akan membekapmu dengan bantal Bukan mencolek... itu-mu dengan jari telunjuk." Hening. Mata Jordan menyipit. Cengkeramannya di pergelangan tangan Chloe tidak mengendur, justru semakin kuat hingga perban di tangan Chloe terasa sesak. "Mencolek?" ulang Jordan, nada suaranya penuh ketidakpercayaan. Cengkeramannya mengeras. "Kamu meraba selangkanganku saat aku tidur dan menyebutnya mencolek?" "Itu palpasi medis!" "Diam!" bentak Jordan, ia memajukan wajahnya, seringai jijik terukir di bibirnya yang tegas. "Istriku baru saja melangkah keluar dari pintu depan. Jejak parfumnya bahkan belum hilang dari ruangan ini," desis Jordan tajam, menusuk harga diri Chloe. "Dan kamu pikir karena ranjang di sebelahku kosong, kamu bisa diam-diam menyelinap masuk?" Chloe ternganga. "Tunggu, Tuan salah paham—" "Apa kau pikir aku seputus asa itu?" potong Jordan kejam. "Mengira karena kakiku lumpuh, ritsleting celanaku akan terbuka untuk perawat gadungan sepertimu yang ingin naik status sosial lewat jalur pintas? Kamu pikir kamu bisa menghangatkan ranjangku menggantikan Nyonya Arsenio?" Wajah Chloe memerah padam. Rasa takutnya sesaat diganti oleh rasa tersinggung. "Itu pelecehan verbal, Tuan! Aku tidak berniat menggantikan istrimu atau menghangatkan kasurmu! Demi Tuhan, selera humormu sama buruknya dengan tuduhanmu!" "Lalu apa? Kamu mau bilang kamu tersesat di selangkanganku?" Chloe menelan ludah, berusaha mengembalikan logikanya yang berantakan di bawah todongan moncong pistol itu. "Gini ya, Tuan. Nyonya Claudia bilang tubuh bagian bawahmu mati total. Sebagai calon tenaga medis, aku... aku hanya skeptis!" seru Chloe defensif. "Aku ingin mengecek refleks Bulbocavernosus—otot yang berada di area panggul! Aku ingin tahu apakah saraf Parasimpatis Tuan masih merespons stimulus taktil! Aku penasaran pada anatomimu, bukan pada hartamu apalagi pada itumu!" Alis tebal Jordan terangkat satu. Pistol itu mundur satu sentimeter, masih mengarah lurus ke titik di antara kedua mata Chloe. "Refleks Bulbocavernosus?" Jordan mendengus, sudut bibirnya terangkat sinis. "Kamu mengetes refleks sarafku dengan meremas pipa-ku? Universitas mana yang mengajarkan metode itu? Bilang saja kalau kamu itu cabul!" "Aku tidak meremasnya! Aku hanya mengecek densitas jaringan!" "Densitas jaringan," ulang Jordan lagi, seolah menimbang-nimbang kebodohan argumen itu. "Dan apa kesimpulan medismu, Nona Perawat?" Wajah Chloe memanas, tapi mulutnya yang sering kali lebih cepat dari otaknya sudah menyusun jawaban ilmiah untuk menutupi rasa malunya. "Kesimpulannya..." Chloe menelan ludah, memberanikan diri menatap mata kelam Jordan. "Kesimpulannya adalah Tuan bohong. Atau setidaknya, diagnosis dokter Tuan yang salah besar." Alis Jordan menukik tajam. "Apa maksudmu?" "Tumesensi," jawab Chloe cepat, melempar istilah medis seperti perisai. "Ada pembengkakan jaringan. Sangat minim, tapi ada. Kalau Tuan benar-benar lumpuh total dengan kerusakan saraf permanen, seharusnya di sana layu total. Seperti... balon kempes. Tapi punya Tuan..." Chloe menghentikan kalimatnya, matanya melirik sekilas ke bawah selimut lalu kembali ke wajah Jordan. "...Punya Tuan merespons sentuhan. Tadi saat aku menekannya. Hmm ... maksudku, mempalpasinya—ada reaksi resistensi. Itu artinya aliran darah di corpora cavernosa Tuan lancar jaya!" seru Chloe. "Jadi, selamat Tuan! Aset masa depan Tuan masih bisa diselamatkan!" Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Hanya terdengar deru napas mereka yang berpacu. Jordan menatap gadis di depannya dengan tatapan tak terbaca. Di balik kemarahannya, ada gelombang syok yang menghantam dadanya. Gadis ini benar. Jordan merasakannya. Jauh di kedalaman tubuhnya yang mati rasa, ada denyutan samar. Bukan rasa sakit, tapi rasa hangat yang asing. Rasa yang sudah enam bulan hilang, kini terpercik kembali hanya karena argumen konyol dan sentuhan tangan kasar gadis bar-bar ini. Perlahan, Jordan menurunkan pistolnya. Moncong besi dingin itu menjauh dari dahi Chloe. Chloe menghela napas lega yang panjang, bahunya merosot lemas. "Syukurlah... Tuan percaya, kan? Jadi bolehkah aku pergi sekarang? Jantungku rasanya mau copot." Namun, harapan Chloe hancur seketika. Bukannya melepaskan cengkeramannya di tangan kiri Chloe, Jordan justru menarik tangan gadis itu dengan sentakan kasar. "Ah!" pekik Chloe saat tubuhnya terhuyung ke depan, menubruk dada bidang Jordan sekali lagi. Jordan tidak membiarkannya mundur. Tangan besarnya yang bebas kini mencengkeram dagu Chloe, memaksa gadis itu mendongak. Tatapan Jordan berbahaya. "Kamu bilang dia cuma tidur, kan? Kamu bilang dia masih bisa diselamatkan?" bisik Jordan serak, napasnya menerpa bibir Chloe. "I-itu teori medis..." gagap Chloe, matanya membelalak panik melihat perubahan aura Jordan. Jordan membawa tangan Chloe—yang masih dicengkeramnya—turun kembali ke atas selimut. "Kalau begitu, buktikan," tantang Jordan dingin. Chloe membeku. Di bawah telapak tangannya, ia bisa merasakan denyutan itu semakin nyata. "B-buktikan apa, Tuan?" Jordan menyeringai miring, sebuah senyum iblis yang menjanjikan bahaya. "Berikan sentuhanmu, Perawat Eva," perintah Jordan mutlak. "Kalau kamu gagal membuktikannya dalam lima menit, aku akan menganggap analisis medismu tadi hanyalah bualan, dan peluru ini akan kembali ke dahimu." Jordan melepaskan dagu Chloe, tapi menahan tangan gadis itu tetap di posisinya. "Waktumu dimulai dari sekarang." BERSAMBUNG ...."Tapi, Tuan, ini salah. Terapi cabul yang waktu itu saya lakukan juga sudah melanggar kode etik," jawab Chloe kikuk, matanya menatap nanar ke arah pangkuan Jordan yang menuntut untuk diduduki. "Saya... saya perawat, Tuan. Bukan—""Bukan apa?" potong Jordan tajam, alis tebalnya terangkat menantang. "Bukan wanita penghibur? Buktikan."Puk, puk!Jordan menepuk pahanya lagi, kali ini lebih tegas. "Duduk saja. Aku tidak memintamu menari striptis. Hanya duduk. Kecuali kamu takut kalau tubuhmu sendiri yang akan mengkhianatimu?"Tantangan itu mengenai egonya. Namun lebih dari itu, ancaman tersirat tentang Jerry selalu berkecamuk di dalam benak Chloe. 'Jangan tergoda. Ingat, wanita belalang sembah itu sedang memantau. Dan Papa Jerry masih di tangan wanita itu. Ah ... Gimana, ya? Aku sudah setuju bekerja dengan pasangan gila ini. Patuh pada Wanita stres itu. Dan juga harus patuh oleh pria gila ini juga.' batin Chloe, bimbang. Setelah beberapa saat menimbang, Chloe akhirnya melangkah maju. "Ba
"Dengar baik-baik, anak sialan," desis Claudia, napasnya menerpa wajah Chloe. Cengkeraman di rahang Chloe menguat, kuku-kukunya yang panjang nyaris menembus kulit. "Jangan karena suamiku menyebutmu peliharaan, kamu jadi merasa di atas angin.""S-sakit, Nyonya..." rintih Chloe, mencoba melepaskan diri tapi tenaganya kalah tela dari wanita jelmaan iblis ini. "Sakit?" Claudia tertawa pendek, tawa yang lugas terdengar gila. "Rasa sakit di pipimu itu belum seberapa dibanding dengan apa yang akan kurasakan pada Jerry-mu kalau kamu berniat melanggar perintahku."Tubuh Chloe membeku seketika. "Nyonya ... tolong jangan sakiti Papa lagi.""Makanya pasang telingamu!" sentak Claudia, mengguncang wajah Chloe kuat-kuat. "Dan sadar diri dengan posisimu. Jordan itu cuma memanfaatkamu untuk memanas-manasiku. Dia tahu aku cemburu pada apapun yang bergerak di dekatnya. Jadi jangan GR. Di matanya, kamu itu cuma seonggok barang yang tak berguna. Sama sepertimu di mataku. Ngerti!" Iya, Nyonya. Saya tahu.
"Aku sudah bilang CUKUP!" sentak Jordan. Kepala Claudia terdongak paksa. Ia menahan sakit akibat jambakan kuat tangan suaminya. Mata Cludia yang tadi terpejam penuh ambisi kini membelalak, bertabrakan langsung dengan manik mata hitam suaminya."Apa kamu sinting, Jo? Memperlakukan istrimu seperti ini?" tersungut-sungut Cludia meringis. Sungguh kentara tak ada bias gairah di dalam sepasang netra hitam Jordan. Yang ada hanyalah tatapan jijik. "Menyedihkan," desis Jordan. Suaranya datar, tanpa emosi. "Rasanya hambar, Cludia." Jantung Claudia serasa berhenti berdetak sedetik. "A-apa...?""Kamu bahkan mendengar perkataanku dengan sangat jelas," Jordan mempererat cengkeramannya pada rambut istrinya, memaksa wajah wanita itu mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Kamu pikir dengan menggoyang-goyangkan lidahmu seperti yang kamu lakukan untuk menjebakku, benda mati ini akan bangkit? Kamu pikir aku ini anjing yang akan mengibaskan ekor hanya karena kamu lemparkan tulang?""Kamu.
"Tuan, Nona Eva tidak ada di klinik dokter Ryu. GPS yang dipasang di handphone Nona Eva juga di acak." lapor Kiko manakala sambungan terhubung. Hening beberapa saat. "Hmm... Jadi harimau dapur itu sedang menemui majikannya," terdengar suara Jordan melalui earpiece di telinga Kiko. Kiko menelan ludah. Bagaimana Tuannya bisa tahu jika Eva saat ini bersama istrinya? Padahal, titik lokasi di layar tabletnya pun hanya menampilkan layar statis berwarna abu-abu dengan tulisan 'ENCRYPTION ACTIVE'. Tidak ada petunjuk visual sedikit pun di sana."Tuan aku ..." "Kamu pikir jammer enkripsi ganda itu dijual di pasar loak, Kiko?" sela Jordan mencemooh, seolah bisa membaca isi kepala asistennya. "Itu teknologi yang kubeli tiga tahun lalu untuk keamanan direksi. Dan sekarang, hanya satu orang yang memegang kendali penuh atas frekuensi itu selain tim IT pusat."Kiko terkesiap, otaknya langsung bekerja. "Nyonya Claudia...""Tepat," sahut Jordan. "Hanya Claudia yang cukup paranoid untuk menyalakan
PLAK! Suara tamparan itu terdengar renyah, dan tentu saja menyakitkan. Kepala Chloe tersentak ke samping, rambutnya menutupi sebagian wajah. Rasa perih langsung menyergap. "Apa kamu pikir waktuku hanya untuk menunggumu, hah?! Darimana saja kamu?" bentak si wanita bermake-up tebal, Cludia. Chloe tidak langsung menjawab. Dia menunduk, bukan karena takut setengah, melainkan karena sedang menyumpah serapah di dalam hatinya. 'Sialan! Pipiku! batin Chloe menjerit, tangannya mengepal menahan emosi. Hei, Nenek Sihir! Asal kamu tahu ya, pipi ini aset masa depan! Saat ini, kamu bisa melakukan kekerasan padaku. Lihat saja nanti, kalau aku bisa membuktikan di obat itu ada racun, aku bakal seret kamu ke penjara!' runtuk Chloe dalam hati. Oh jelas, Chloe harus bermain aman selagi ayahnya masih berada digenggaman wanita ini, ia tak bisa melakukan perlawanan selain mengikuti kemauan wanita anomali ini. Alias ibunya sendiri. Perlahan, Chloe mengangkat wajah. Gegas, ia memasang ekspresi me
"Temui aku di sini!" Chloe membaca pesan wawa dari ibunya setelah sambungan telepon terputus, ada link lokasi yang dikirim. Dengan degup jantung berpacu, Chloe menekan peta lokasi itu. "Muara Utara? Ngapain?! Itu kan tempat pembuangan lama,” gumam Chloe, napasnya tercekat. " "Gudang-gudang mati. Area tanpa kamera publik." Jarinya gemetar di atas layar. Detik berikutnya, pesan lain masuk."Jangan membawa siapa pun. Jangan terlambat."Chloe menelan ludah. Dadanya sesak, seolah kota itu menyempit hanya untuknya. Ia mematikan layar, menyelipkan ponsel ke saku, lalu bangkit dengan langkah terburu-buru."Aku harus memberi alasan apalagi sama Dokter Ryu? Kan Tuan memintaku tetap di sini. Sementara wanita nggak ada hati ini mengancam dengan membawa-bawa Papa. Dasar pengecut!" rutuk Chloe. Chloe kembali ke teras dengan napas memburu. Dia harus segera pergi sebelum Ryu bertanya macam-macam, tapi gadis yang memiliki belah manggis itu harus punya alasan yang masuk akal di telinga dokter itu.







