MasukTOK! TOK! TOK!
Suara ketukan itu tidak terlalu keras, namun di telinga Chloe yang sedang tegang, bunyinya seperti ledakan bom. "Aaaa!" Chloe memekik tertahan, melompat mundur dari ranjang seolah kasur Jordan baru saja berubah menjadi bara api. Matanya melotot horor ke arah pintu. "I-ibu... maksudku Nyonya?! Mati aku! Aku harus sembunyi di mana? Kolong kasur? Lemari?" Jordan yang masih berbaring menatap kepanikan gadis itu dengan kening berkerut. Tangan kanannya perlahan turun dari balik bantal, menjauh dari pistolnya. Ketukan itu... dia kenal ritmenya. "Tenanglah, Gadis Bodoh," desis Jordan. "Siapa di sana?" teriak Jordan ke arah pintu. "Kiko, Tuan. Saya membawa berkas yang Tuan minta!" terdengar suara sahutan dari balik pintu. Bahu Jordan rileks seketika, sementara Chloe menghembuskan napas lega. "Aku pikir setan bersanggul." Chloe mengelus dada. Jordan menatap Chloe tajam. "Kamu dengar itu? Itu asistenku. Sekarang, rapikan bajumu yang kusut itu dan keluar dari sini. Aku muak melihat wajahmu." Chloe buru-buru merapikan seragamnya yang sedikit berantakan karena aktivitas pijat-memijat tadi. Dia mengambil nampan di nakas, tapi kemudian ingat sesuatu. Dia berbalik menatap Jordan dengan wajah sok profesional. "Tuan, sebelum saya keluar, tolong obatnya diminum. Jangan cuma dipajang. Ingat, kalau Tuan tidak minum, besok pagi Tuan bisa uring-uringan dan melempar bubur lagi. Sayang buburnya, Tuan. Mending buat saya." "Keluar!" "I-iya, Tuan," jawab Chloe, tak ingin menjadi bahan geprek lagi—ia buru-buru keluar. Saat Chloe membuka pintu, ia berpapasan dengan Kiko. Pria muda berwajah oriental itu menatap Chloe dari ujung kaki ke ujung kepala. Ekor matanya mengikuti gerakan Chloe yang berjalan cepat menyusuri lorong, memastikan gadis itu benar-benar pergi. Setelah Chloe menghilang di belokan, Kiko masuk dan menutup pintu rapat-rapat. "Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu," ucap Kiko, berjalan mendekat. "Laporan," perintah Jordan singkat, matanya menatap langit-langit kamar. "Sesuai dugaan Tuan. Nyonya Claudia memang benar-benar pergi ke Singapura malam ini. Pesawat Nyonya Claudia akan Take Off besok pagi jam sembilan," lapor Kiko sambil membuka tabletnya. "Sesuai Agenda, Beliau ada pertemuan dengan Mr. Liem terkait ekspansi properti. Tidak ada yang mencurigakan dari jadwalnya kali ini." Jordan hanya mengangguk-angguk pelan. Matanya terbuka, tapi pikirannya tidak di penjelasan Kiko. Pikiran Jordan melayang ke kejadian sepuluh menit yang lalu. Sensasi itu. Saat tangan kecil Chloe tadi mendekat ke area vitalnya—Kenapa ada respons secepat itu? Jordan menggeretakkan gigi. "Aneh," gumam Jordan pelan. Asetnya itu bukan tipe yang bangun tanpa alasan. Kadang berdiri sombong, kadang hibernasi tiga musim. Harus ada rangsangan yang tepat, tekanan yang pas, atau sentuhan yang terlalu berani untuk membuatnya bereaksi. Tapi tadi… hanya satu sentimeter sebelum menyentuh... Dan dor! Ada getaran kecil di saraf pusatnya. Itu bukan hal yang ingin Jordan akui. Terutama pada dirinya sendiri. 'Dokter bilang saraf sakralku rusak parah. Claudia sudah mencoba. Itupun musti lama. Tapi tadi... saat dia menekan, ada rasa yang aneh. Apa dia menekan titik akupunktur rahasia? Atau karena dia menekan dengan emosi?' Jordan mengangkat tangannya sendiri, menatap telapak tangannya. Dia mencoba mengingat tekstur sentuhan Chloe. Hangat, dan... hidup. "Tuan?" Suara Kiko membuyarkan lamunan Jordan. Jordan tersentak, menoleh ke samping. Kiko sedang melambaikan tangan di depan wajahnya dengan ekspresi bingung. "Tuan melamun? Apa Tuan mendengar laporan saya soal Mr. Liem?" Jordan berdehem keras, menutupi rasa malunya karena ketahuan melamunkan pijatan perawat barunya. "Ya, ya. Liem. Orang tua bangka yang licik. Biarkan saja Claudia main-main dengannya," jawab Jordan asal, lalu segera mengubah topik. "Kiko." "Siap, Tuan?" "Cari nyamuk." Kiko mengerjap. Dia menyodorkan telinganya, mengira salah dengar. "Maaf? Nyamuk? Maksud Tuan... alat penyadap suara mikro?" "Bukan, Bodoh! Nyamuk! Serangga! Binatang yang bunyinya ngiiing dan menghisap darah!" sembur Jordan tidak sabar. "Cari sebanyak mungkin. Hidup-hidup." Kiko melongo, mulut terbuka lebar. "T-tapi, Tuan... ini sudah jam sebelas malam. Di mana saya harus mencari nyamuk hidup? Di kebun belakang? Apakah saya harus menangkapnya satu per satu pakai jaring ikan?" "Itu urusanmu! Kamu itu asisten serba bisa. Mau kamu ternak mendadak atau kamu ambil dari selokan, aku tidak peduli!" perintah Jordan mutlak. "Setelah dapat, lepaskan semuanya ke dalam kamar perawat baru itu." "Nona Eva?" "Ya! Siapa lagi?!" "Dan satu lagi," tambah Jordan dengan senyum miring yang jahat. "Matikan akses AC di kamarnya dari sentral. Kunci jendelanya. Buat kamarnya sesejuk oven roti." Kiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tuan... apa Tuan sedang mengerjai gadis itu? Bukannya Tuan butuh perawat?" "Aku butuh perawat profesional, bukan komedian berisik yang sok tahu soal anatomi!" elak Jordan. "Aku ingin dia tidak betah. Aku ingin besok pagi dia menangis minta pulang. Cepat kerjakan!" Kiko menghela napas pasrah. "Baik, Tuan. Nyamuk dan sauna. Pesanan diterima." Jordan menunjuk ke arah nakas. "Dan sebelum kamu pergi berburu serangga, ambil obat yang diberikan perawatan itu. Buang ke toilet. Dan bantu aku pindah ke kursi roda. Antar aku ke Ruang Kontrol." "Tuan mau memantau saham malam-malam begini?" "Tidak. Aku ingin memantau mata-mata."Tanpa memedulikan penampilannya yang kacau balau, Jordan berlari kesetanan keluar dari kamarnya. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya. Dengan hanya mengenakan setelan piyama hitam yang sedikit terkoyak, bertelanjang kaki, dan wajah memar, pria itu melesat menuruni tangga. Ryu dan Jerry yang mengejarnya dari belakang sama sekali tak dihiraukan."Jordan! Tunggu! Biar aku yang menyetir!" teriak Ryu.Jordan tak peduli. Pria itu melompat masuk ke dalam mobil sport Koenigsegg hitamnya. Mesin menderu buas seperti auman singa terluka, sebelum akhirnya ban mobil berdecit keras, melesat membelah hutan pinus.Di balik kemudi, dada Jordan terasa seperti dihantam godam berduri berkali-kali. Udara di dalam mobil terasa mencekik. Pandangannya mengabur oleh air mata penyesalan yang tak terbendung. "Dia tidak ada niat sekalipun untuk membunuhmu. Justru dialah yang selama ini berusaha menyelamatkanmu..."Kata-kata Ryu terus bergaung di telinga, menampar kewarasan Jordan tanpa ampun. "Brengsek... baj
"Heh?! Siapa kamu?! Aku... di mana ini?" tanya Chloe, tubuhnya langsung menegang waspada. Tangannya yang bebas menarik selimut hingga menutupi dada.Wanita muda berparas ayu itu hanya tersenyum simpul. Dengan gerakan anggun namun terlatih, ia meletakkan nampan berisi sup dan segelas susu hangat di atas nakas, tepat di samping lampu tidur."Nona tenang saja. Nona berada di tempat yang aman," jawab wanita itu lembut dan sopan. "Sekarang, lebih baik Nona makan dulu. Tubuh Nona sudah saya obati dan beri salep di beberapa area keunguan. Pokoknya, Nona jangan berpikiran macam-macam dulu ya. Istirahat saja."Mendengar ucapan itu, mata Chloe membelalak tak percaya."Hah?! Tempat aman katamu?!" sungut Chloe, suaranya naik dua oktaf. "Aman dari mananya, Mbak?! Mbak-nya sehat? Waras? Coba lihat ini tangan saya digimanain! Dirantai kayak anjing rabies begini dibilang aman?!"Chloe menunjuk-nunjuk rantai besinya dengan wajah berang. "Saya ini habis diculik, dibekap kloroform, dilempar ke mobil van
DOR!Suara letupan peluru memecah ketegangan, menggema memekakkan telinga di dalam ruangan yang berantakan itu."AAAKHH! AMPUN!"Jerry berteriak histeris. Pria paruh baya itu langsung jatuh terduduk di atas lantai, menutupi telinganya dengan kedua tangan. Tubuh Jerry bergetar hebat, nyaris kejang karena teror yang tiba-tiba menyerang mentalnya yang belum sepenuhnya pulih.Tembakan itu ternyata tidak bersarang di kepala siapa pun. Peluru panas itu menembus lantai, hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatu Dokter Ryu. Asap tipis mengepul dari lubang bekas tembakan.Ryu mematung. Jantung dokter itu seakan baru saja anjlok ke dasar perut. Langkahnya terhenti seketika."Selangkah lagi kamu maju, kamu akan mati," desis Jordan dengan suara yang luar biasa dingin, sedingin bongkahan es di kutub utara. Moncong pistolnya kini masih berasap, terarah lurus ke dada sahabatnya itu. "Aku tidak segan-segan menarik pelatuk ini untuk kedua kalinya, Ryu. Pergi. Tinggalkan aku sendiri."Glek!
"Halo?! Chloe?! Sayang!! Hei, siapa kalian?! JANGAN SENTUH ANAKKU! CHLOE!! PANGGIL PAPA JIKA KAMU MASIH MENDENGAR!" Jeritan histeris Jerry menggelegar memenuhi ruang tengah rumah Dokter Ryu. Pria paruh baya itu menatap nanar layar ponsel pemberian Ryu di tangan yang panggilannya baru saja terputus secara sepihak. "Tidak... tidak! Chloe!" Jerry meremas kepalanya dengan kedua tangan, kakinya yang pincang nyaris ambruk ke lantai jika Ryu tidak segera berlari keluar dari ruang kerjanya dan menangkap tubuh pria itu."Astaga! Pak Jerry! Ada apa ini?! Kenapa Bapak berteriak-teriak? Apa kaki Bapak sakit?!" seru Ryu panik, memapah Jerry kembali ke sofa. "Dokter Ryu! Tolong saya, Dok! Tolong anak saya!" tangis Jerry pecah, ia mencengkeram jas putih Ryu dengan tangan bergetar hebat. "Chloe diculik, Dok! Ada orang jahat yang menyergapnya! Saya dengar sendiri dia berteriak minta tolong dan suara laki-laki kasar menyeretnya!"Alis Ryu menukik tajam. "Hah? Diculik? Tunggu, tunggu, Pak. Bapak tena
Dor! Dor! Dor!Suara rentetan tembakan senapan mesin tiba-tiba meledak memecah keheningan kamar hotel VIP yang berantakan.Di atas ranjang king size yang seprainya sudah kusut masai, Kiko tertidur pulas tanpa busana. Mulut asisten pribadi itu masih asyik mengenyot salah satu dada dari wanita sewaannya, persis seperti bayi besar yang kelaparan. Semalaman penuh Kiko baru menyelesaikan 'ritual pembasuh pedang' hingga tenaganya terkuras habis.Dor! Dor! Dor!"Duh! Siapa sih yang menelepon pagi-pagi buta begini?!" gerutu Kiko dengan mata masih terpejam.Kiko melepaskan mulutnya dari putik dada wanita yang masih terlelap itu. Nada dering ponsel Kiko memang sengaja ia setel dengan suara tembakan bar-bar.Tujuan Kiko hanya satu: agar ketika ia sedang di alam mimpi sekalipun, insting bertahan hidupnya langsung menyala dan memaksanya siaga satu.Dengan mata setengah terbuka dan nyawa yang belum sepenuhnya berkumpul, Kiko mengelap air liur yang menetes di sudut bibirnya menggunakan punggung tan
BAM!Pintu ditutup rapat, suara daun pintu berdebum terdengar bagaikan ketukan palu vonis yang menghakimi seluruh kewarasan Jordan.Pria itu terdiam mematung di tengah kamarnya yang berantakan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Dadanya yang bidang naik-turun dengan beringas. Keheningan fajar yang tadinya terasa bagai kepingan surga, tiba-tiba berubah menjadi udara beracun yang mencekik paru-paru Jordan. Aroma manis khas tubuh Chloe masih tertinggal di udara, di seprai yang robek, dan di kulitnya sendiri. Hal itu membuat Jordan nyaris gila."Arrrrgghh!!" Jeritan putus asa Jordan menggelegar membelah kesunyian villa. Ia bukan lagi seorang boss, saat ini Jordan hanyalah seorang pria yang baru saja dicabik jantungnya.Pria itu berlari ke arah cermin setinggi tubuhnya yang menempel di sudut ruangan, lalu melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh. "SIAL!" PRANG!!Cermin tebal itu pecah seribu. Kepingan-kepingan tajamnya berterbangan ke segala arah, memantulkan sinar ment







