ログインKeheningan yang damai kini menyelimuti kamar perawatan VIP di kediaman Cameron. Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer.Di tengah ranjang besar yang nyaman, Viona berbaring dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan murni, meski sisa-sisa kelelahan dari perjuangan hidup dan mati semalam masih membekas di sudut matanya.Di dalam dekapannya, terbungkus kain bedong katun Swiss yang sempat diperdebatkan Davian, sesosok malaikat kecil tertidur dengan tenang.Alexander Samuel Cameron. Nama itu telah diputuskan sebagai identitas sang pewaris takhta. Saat bayi mungil itu sedikit menggeliat dan membuka matanya yang jernih, Viona terkesiap pelan.Alex memiliki mata yang besar dan teduh persis seperti miliknya, namun garis rahang yang tegas serta bentuk hidung yang sempurna adalah salinan identik dari Davian.Ia adalah perpaduan sempurna dari dua jiwa yang hampir hancur namun memilih untuk kembali menyatu.
Suasana di dalam ruang persalinan darurat yang telah disiapkan Davian kini terasa begitu mencekam. Bau antiseptik yang tajam berpadu dengan aroma ketegangan yang pekat.Setiap detik terasa seperti keabadian yang menyiksa. Davian, pria yang selalu tampil tak bercela dengan kontrol emosi yang sempurna, kini tampak hancur. Ia mengenakan baju operasi berwarna hijau yang tampak kedodoran di tubuhnya yang bergetar hebat.Davian berdiri di sisi kepala Viona, menggenggam tangan istrinya dengan kekuatan yang seolah ingin menyalurkan seluruh sisa hidupnya ke dalam tubuh wanita itu.Namun, setiap kali kontraksi hebat datang, Viona mencengkeram tangan Davian begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai kulit sang suami. Davian tidak peduli. Rasa perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan pemandangan mengerikan di depannya.“Tarik napas dalam, Nona Viona! Sedikit lagi! Kepalanya sudah mulai terlihat!” seru dokter senior yang memimpin persalinan, suaranya berusaha tetap tenang di tengah badai
Malam di perbukitan kediaman Cameron biasanya diselimuti oleh kesunyian yang menenangkan, namun beberapa hari menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), atmosfer di dalam rumah besar itu terasa seperti sebuah pusat komando militer yang sedang menunggu serangan fajar.Davian, sang penguasa bisnis yang biasanya mampu tidur tenang di tengah krisis ekonomi global, kini telah kehilangan kemampuan untuk memejamkan mata lebih dari dua jam.Ia terjaga dalam kewaspadaan yang akut, telinganya selalu terpasang tajam untuk menangkap setiap desahan napas atau rintihan kecil dari arah Viona.Persiapan yang dilakukan Davian benar-benar melampaui batas kewajaran.Di halaman belakang yang luas, sebuah helikopter medis dengan mesin yang telah dipanaskan secara berkala standby 24 jam, siap menerjang langit menuju rumah sakit pusat dalam hitungan menit.Tidak hanya itu, Davian mengubah salah satu sayap bangunan rumahnya menjadi paviliun medis darurat. Tiga tim dokter spesialis termasuk dokter kandungan, anast
Memasuki trimester ketiga, kediaman utama Cameron seolah berubah menjadi sebuah tempat suci yang didedikasikan sepenuhnya untuk kenyamanan Viona.Perut Viona kini telah membulat sempurna, melambangkan kehidupan yang sedang berdenyut kuat di dalamnya.Namun, seiring dengan semakin dekatnya hari persalinan, beban fisik yang harus ditanggung Viona pun mencapai puncaknya.Tidur nyenyak kini menjadi kemewahan yang sulit diraih; ia sering terbangun di tengah malam hanya untuk mencari posisi yang tidak menekan paru-parunya, sementara sakit punggung yang menusuk menjadi teman setianya setiap kali ia mencoba melangkah.Davian, yang kini telah menjelma menjadi suami paling siaga dalam sejarah keluarga Cameron, tidak membiarkan Viona melewati penderitaan itu sendirian.Setiap malam, setelah semua urusan kantor ia delegasikan secara total kepada Julian, Davian akan duduk di ujung ranjang yang dipenuhi bantal-bantal empuk.Dengan tangan yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak triliuna
Dua bulan telah berlalu sejak persidangan perdana yang mengguncang stabilitas publik, dan pagi ini, gedung Pengadilan kembali menjadi pusat gravitasi perhatian nasional.Langit tampak mendung, seolah-olah awan kelabu turut memberikan kesaksian atas jatuhnya sebuah nama yang pernah diagungkan.Di dalam ruang sidang utama, udara terasa sangat tipis dan dingin, namun kali ini bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.Setiap kursi di barisan pengunjung terisi penuh oleh para jurnalis, analis hukum, dan beberapa anggota dewan direksi yang ingin melihat akhir dari prahara dinasti Cameron.Davian Cameron duduk di barisan terdepan dengan postur yang tak tergoyahkan. Setelan jas hitam yang ia kenakan hari ini tampak lebih gelap dari biasanya, mencerminkan ketegasan keputusannya.Di sampingnya, kursi yang biasanya kosong kini diisi oleh Julian dan Axel yang tetap waspada.Viona sengaja tidak hadir atas permintaan Davian; ia tidak ingin istrinya y
Pagi di kediaman utama Cameron kini tak lagi diawali dengan dering telepon bisnis yang agresif atau tumpukan berkas yang harus segera ditandatangani. Sebaliknya, sinar matahari yang menembus celah gorden kamar utama disambut oleh ketenangan yang menyejukkan.Davian, pria yang dulunya menganggap setiap detik adalah uang, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Baginya, jam tangan mewah yang ia kenakan bukan lagi alat untuk mengejar tenggat waktu rapat direksi, melainkan pengingat jadwal nutrisi dan vitamin Viona.Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, dan Davian sudah membatalkan tiga pertemuan strategis dengan investor asing tanpa ragu sedikit pun.Sekretarisnya sempat panik, namun Davian hanya membalas dengan satu kalimat dingin namun tegas: “Kekaisaran bisnis ini tidak akan runtuh dalam sehari, tapi aku tidak akan melewatkan satu detik pun pertumbuhan anakku.”Davian membantu Viona bersiap dengan sangat telaten. Ia bahkan berlutut di lantai hanya untuk memastik
Di dalam galeri pribadi yang luas itu, aroma cat minyak dan terpentin memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang tenang namun penuh konsentrasi.Viona tengah berdiri di depan kanvas raksasanya, sapuan kuasnya bergerak dengan ritme yang lebih teratur dibandingkan kemarin.Fokusnya kini tertuju sepenu
Davian berhenti melangkah dan menatap Viona dengan napas yang memburu.“Aku hanya menjalani tanggung jawabku, Viona! Bukankah kau yang dulu bilang bahwa aku harus menjadi pria yang punya hati? Sekarang aku sedang menunjukkan hatiku, tapi kau justru menuduhku ingin kembali padanya!”“Hati yang kau
Pukul sepuluh malam, Davian melangkah masuk dengan bahu yang merosot, sisa aroma antiseptik rumah sakit masih menempel kuat di pori-pori kulitnya.Langkah kakinya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Viona yang meringkuk di sofa panjang.Wanita itu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman
Setelah menyelesaikan pertemuan panjang dengan jajaran direksi mengenai ekspansi Cameron Medical, dia kembali ke ruang kerjanya dengan langkah berat.Baru saja dia mendudukkan diri di kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.Marsha melangkah masuk. Wajahnya yang cantik dipoles denga







