Share

Hamil?

Author: Azzurra
last update Last Updated: 2025-10-15 08:00:31

Kening Angga mengkerut. “Maksudnya Kek?”

“Seorang pelayan mengabari istrimu muntah-muntah pagi ini.”

Angga mencari-cari gawainya, ternyata ada di kamar, di lihatnya beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari kepala pelayan. Kembali Angga menemui Anwar, “Aku pulang dulu Kek.” Pria ini meraih tangan Anwar menciumnya cepat.

“Jaga baik-baik calon cicit kakek.”

Angga tak menjawab, dia gegas masuk ke dalam mobil, menjalankan perlahan lalu melesat di jalan pagi yang masih sedikit lengang. Batinnya berkata, "Di sentuh saja belum sudah terbuahi, ada apa lagi ini."

Selama ini Angga tau ada orang kepercayaan kakeknya di rumahnya, tetapi Angga baru tau mata-mata Kakeknya begitu cepat memberi informasi.

Apakah kakeknya juga tau kalau mereka menikah karna perjanjian? Ah sudah pasti kakek tua itu tau. Pikir Angga lagi.

Setelah sampai di rumah, kaki jenjang lelaki ini menaiki anak tangga cepat, dia berdiri di ambang pint
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Permintaan.

    Lisa baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ketika pintu di belakangnya terbuka kasar. Ia bahkan belum sempat mengunci kenopnya. Bram berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya menatap Lisa tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” Nada suaranya dingin, tapi amarahnya terasa jelas. Lisa refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang. “Keluar sebentar,” jawabnya ringan. “Aku butuh udara.” Bram melangkah masuk dan menutup pintu dengan hentakan keras. “Keluar sebentar ke mana?” Lisa meletakkan tasnya, sengaja memperlambat gerakan agar terlihat biasa. “Ngopi. Ketemu teman.” “Teman siapa?” Bram mendekat satu langkah. Lisa menegakkan bahunya. “Teman lama. Apakah semua kegiatanku harus kamu ketahui?" Lisa menantang matahari Bram. Hening menggantung di antara mereka. Bram menatap Lisa lekat-lekat, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah yang kini terlalu berhati-hati. Matanya bergerak dari mata Lisa, ke bibir, lalu

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Memulai permainan

    Lisa menarik napas panjang sebelum mulai bicara. Tangannya masih saling menggenggam di pangkuan, jemarinya dingin. perlahan dia menatap Gerry, nafasnya menghela pelan. “Aku yakin kamu mengetahui kecelakaan Pak Angga adalah sabotase." Mereka saling tatap, Gerry masih tetap diam tak bergeming. Lagi Lisa menghela nafas. "Bram nyuruh aku masuk ke rumah tangga Kinanti,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih tapi jelas. “Bukan cuma buat cari celah … tapi buat menjebak mereka.” Gerry masih tidak menyela. Ia hanya berdiri di dekat jendela, menyandarkan tubuhnya, masih terus menatap Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian. “Dia pengin aku bikin Kinanti ragu terhadap Pak Angga.” lanjut Lisa. “Bikin Angga kelihatan bersalah. Pelan-pelan. Supaya rumah tangga mereka retak dari dalam.” Lisa menunduk. “Dan kalau sudah hancur … Bram mau ambil semuanya. Usaha, nama baik … bahkan hidup Kinanti. Dia tak mau berhenti, sepertinya dia benar-benar penuh obsesi.” Hening, tak ada tanggapan dari Ger

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Mencari Bantuan.

    Pintu kamar tertutup keras di belakang Lisa. Bunyi hentakannya menggema singkat, lalu lenyap, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Lisa berdiri mematung beberapa detik, dadanya naik turun tak beraturan. Lisa mendengus kesal. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Langkahnya cepat, gelisah. Tangannya beberapa kali meremas rambut sendiri, seolah mencoba meredam pikiran yang berisik di kepalanya. Wajah Angga yang terbaring di rumah sakit kembali terlintas. Wajah Kinanti—kecewa, bingung, tapi tetap berusaha baik, saat Lisa menelponnya kemarin. “Apa yang aku lakukan…” gumam Lisa pelan. Ia berhenti di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri. Mata itu terlihat lelah. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena terlalu lama menipu diri sendiri. Lisa menyentuh wajahnya. "Sadar Lis. Jangan terperangkap oleh kedengkian," gumam Lisa. Bram bilang semuanya terkendali. Bram bilang tak akan ada k

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Terjerat.

    Mereka masih menikmati kebersamaan itu ketika ponsel Kinanti yang tergeletak di atas meja makan bergetar. Layar menyala, menampilkan satu nama yang langsung mengubah suasana. "Kamu masih berhubungan sama Lisa, Ki." Kinanti refleks melirik layar, lalu menatap Angga. Senyumnya memudar tipis. Angga juga melihatnya. Seketika, jidatnya melipat. Menatap penuh curiga pada Kinanti. Kinanti meraih ponselnya, ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Namun belum sempat ia menekan layar, suara Angga lebih dulu terdengar—tenang, tapi dingin. “Sejak kapan kamu kembali berhubungan sama Lisa?" Kinanti menoleh. Ada keterkejutan di matanya, bukan karena pertanyaannya, tapi karena nada suara Angga yang berubah. “Mas…” Kinanti menurunkan ponsel itu. “Cuma sesekali. Dia nanyain kabar kamu waktu di rumah sakit.” Angga kembali duduk, menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya lurus ke d

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Masih berhubungan

    Siang itu matahari masih bersinar, tapi angin yang berembus dari halaman membuat suasana rumah tetap sejuk. Angga berdiri di teras depan, satu tangannya bersandar pada pilar, sementara Gerry merapikan jasnya di dekat mobil. “Aku masih mau di sini seminggu, Ger,” kata Angga membuka pembicaraan. Suaranya tetap tenang. “Kamu urus dulu kerjaan di Jakarta.” Gerry mengangguk. “Iya.” Angga terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Gimana kabar Kakek?” “Kakek sehat, Bos,” jawab Gerry singkat. Angga mengernyit tipis. “Waktu aku belum sadar, katanya Kakek sempat ke sini. Kenapa nggak lama?” Gerry tersenyum kecil. “Non Kayla rewel di Jakarta. Nggak mau ditinggal lama. Jadi Kakek langsung pulang." Angga manggut-manggut pelan, seolah mengerti. “Terus… kabar Celina gimana?” Gerry menghela napas pendek. “Belum ada kabar lagi dari Non Celina.” Angga terdiam. Ia menatap halaman rumah yang lengang, pikirannya

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Jerat Obsesi.

    Setelah dari Rumah Sakit. Angga mengantar Kinanti sampai ke dalam kamar. Langkahnya pelan, mengimbangi langkah Kinanti. "Mau mandi dulu atau mau langsung istirahat?" Kinanti menatapnya sebentar. Ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dari mata Angga, tetapi ada kegelisahan di sana. "Aku mandi dulu aja, Mas." "Tadi udah mandi di Rumah sakit." “Istirahat ya,” ucap Angga lembut. “Jangan mikirin apa-apa dulu. Biar aku aja yang mikir, kamu bahagia aja biar dedek bayinya bahagia.” Kinanti mengangguk. “Kamu juga jangan kecapekan.” Angga tersenyum tipis. Ia mengecup kening Kinanti sebelum berbalik menuju pintu. Begitu pintu kamar tertutup, senyum itu menghilang. Wajahnya kembali dingin, sekeras pikirannya saat ini. Ia menuruni anak tangga dan menuju dapur. Darmi sedang berdiri di sana, tangannya sibuk membereskan gelas. “Mbok,” ujar Angga pelan tapi tegas, “Nanti kalau Gerry datang, antar langsung ke ruang kerja.” Darmi menoleh, menangkap keseriusan di mata majikannya. “Ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status