LOGINSetengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kediaman Sterlling. Arka membukakan pintu mobil dan menjulurkan tangannya untukku.Aku menyambut hangat tangannya dan turun. Kak Adrian membuka bagasi dan dua pelayan laki-laki datang untuk membawa koper kami. Sekali lagi aku melihat mereka kesusahan membawa koper besar itu.Aku kembali melirik Arka sambil berjalan menaiki tangga sambil menggandeng tangannya. “Aku akan menyapa Tuan Victor terlebih dahulu, masuklah bersama Kakakmu dan Shiena,” ucapnya ketika sampai di ambang pintu.Aku melirik punggung mereka yang sudah masuk. “Kak,” panggilku.Kak Adrian dan Kak Shiena langsung menoleh.“Aku akan ikut Arka menyapa Paman Victor, aku sudah lama tidak bertemu dengannya,” sambungku.Mereka mengangguk setuju.“Kami akan menunggu di ruang keluarga,” ujar Kak Adrian.Aku mengangguk lalu kembali menatap Arka. “Ayo,” ajakku.Arka hanya mendengus pelan sambil tersenyum. Lalu kami berjalan ke samping kanan teras yang menjadi penghubung antara ruma
“Menikmatinya, Sayang?”Arka menatapku dengan tatapan yang sulit untukku baca.Wajahku seketika memanas. Suara bisikan seraknya yang mengalun di dekat telingaku langsung menyengat seluruh saraf kesadaranku.Dengan tergesa-gesa, aku mendorong dadanya dan kembali ke posisi dudukku semula sambil membetulkan letak pakaian. Aku memalingkan wajah ke luar jendela mobil, berpura-pura sangat tertarik melihat deretan pohon yang melintas di tepi jalan.“A-aku cuma hilang keseimbangan,” dalihku pelan dengan nada gengsi yang dipaksakan.Arka terkekeh rendah. Tawa tipis yang begitu renyah dan jarang ia perlihatkan pada orang lain. Dari sudut mataku, aku bisa melihat pria itu menyandarkan punggungnya santai, menatapku dengan binar penuh kemenangan.“Baiklah. Terserah padamu saja,” sahut Arka santai. “Tapi kamu memang menikmatinya kan?” ucap Arka di detik berikutnya. Aku memegangi kedua pipiku yang kian membara. Pria ini benar-benar tidak pernah kehabisan kata-kata untuk membuatku bungkam! Kami mel
Arka menatapku cukup lama sebelum akhirnya dia bertanya padaku. “Yakin mau ikut?” Aku menarik napas panjang lalu mengangguk. “Aku juga ingin memastikan apa orang itu ada di sana atau tidak.”“Maksudnya Dalang itu?” tanya Arka sambil menggeleng pelan. “Aku rasa dia tidak akan di sana.”Kami menatap Arka yang berbicara dengan penuh keyakinan itu.“Kenapa begitu?” tanya ayah penasaran.“Dari ikut pola pikirnya selama ini yang hanya mengikuti arah petunjuk dalam buku, dan sekarang… kita menunjukkan perlawanan kepadanya dengan membabat habis orang-orang yang mengikutinya tanpa ampun.” Arka menjeda kalimatnya.“Dia pasti akan tetap sembunyi. Akan berbahaya bagi dia jika keluar saat ini.”“Terus… soal kaki tangan yang kabur?” tanyaku kembali.Arka berbalik dan tertunduk menatapku. “Aku rasa dia akan muncul di pesta ini. Dia tidak cukup pintar untuk mengelabui kita.”“Baiklah kalau kamu yakin dalang itu tidak akan datang, Arka. tapi Paman dan Bibi minta satu hal padamu,” pinta ayah.Arka kem
Aku hanya diam, menyimak panggilan itu dari raut wajah Arka. Dia sadar aku memperhatikannya, wajahnya kembali hangat saat dia menatapku, lalu mengakhiri panggilannya. “Siapa?” tanyaku penasaran. “Tony,” jawab Arka cepat. “Dia bilang Eric sudah pulih dan mulai kembali ke interpol hari ini.”Aku memutar bola mataku ke atas. Tony? Eric? “Tony asistenku, Eric adikku,” ujar Arka cepat tepat sedetik sebelum aku membuka mulutku. Mulutku kembali hanya menganga dan pertanyaanku tergantung di udara tanpa sempat aku mengucapkannya. Aku memiringkan kepala, dan di detik berikutnya…“Ya, kamu mengenal mereka. Mereka orang-orangku dan mereka dapat dipercaya,” sambung Arka kembali.Ya Tuhan, pria ini benar-benar bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.Arka mendekatkan wajahnya. “Ada lagi yang ingin ditanyakan soal mereka?” bisiknya lembut.Aku menggeleng pelan sambil menatap ke dalam manik matanya yang hitam itu. Sebuah senyum tipis menawan terbit dari bibir Arka.Arka menarik tubuhnya lalu ke
Arka tersenyum tanpa ada niat melepaskan bibirnya yang menempel pada bibirku. Mataku terbelalak seketika. Aku mendorong dada Arka, sengaja membuat jarak dengan diriku dan berkedip maraton. “Ka-kamu… kenapa tidak menghindar?” ucapku gugup. “Kamu ambil kesempatan dalam kesempitan, Arka!” pekikku di detik berikutnya.“Buat apa? Dan… lihat diriku?” tanya Arka seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar. “Aku sama sekali tidak menyentuhmu. Aku tidak bergerak sedikitpun, justru kamu yang datang sendiri dan menciumku.”Aku menyadari posisi kami. Aku terjatuh dan duduk di pangkuannya?Bibir bawahku yang sedikit terbuka mendadak kaku, tanpa sanggup merangkai kata-kata setelah bibir kami bersentuhan begitu dekat. Belum sempat aku menarik diri, Arka justru kembali mendekatkan wajahnya. Jemarinya kini mulai merayap dan menahan pinggangku.“Aku bahkan rela jika tertimpa sepuluh kali lagi,” bisik Arka serak, sarat akan hasrat dan nada menggoda.Seketika darahku berdesir naik, membuat wajahku memana
Aku menatap Arka dengan mata menyipit tajam. Pria itu justru membalasnya lewat senyuman samar penuh kemenangan. Seakan menunjukkan 'Aku sangat puas melihat emosimu naik turun' tanpa bicara.Ingin sekali aku membalasnya. Usai sarapan, ayah mengajak kami ke ruang keluarga. Aku punya firasat, ayah pasti akan kembali membahas soal pernikahanku dengan Arka. “Duduk di sini, Nak,” ucap ayah menepuk-nepuk pelan sofa, menunjukan agar aku duduk di dekatnya. Aku mengangguk dan duduk di sebelahnya.“Jadi… kapan kamu siap menerima Arka?” sambung ayah menatapku. Pertanyaan ayah kembali membuat dadaku terasa penuh. Aku tidak langsung menjawab dan melirik ibu, berharap mereka bisa membelaku. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, ibu hanya tersenyum lembut padaku.“Ayah… bukan aku menolak, tapi…” Aku menggantungkan kalimat untuk mencari alasan. “Tapi bukan sekarang. Elypsium masih punya masalah yang harus diselesaikan,” ucapku pada akhirnya sambil tersenyum kaku. Ayah mengangguk pelan. “Benar juga, ta







