LOGINDua jam berlalu setelah gertakan maut Kael dikirimkan ke kubu lawan. Namun, alih-alih pengumuman bahwa nama baik PT Mahendra Karya dipulihkan, berita di televisi justru berganti dengan tayangan yang jauh lebih mencekam. Bagas tiba-tiba menerobos masuk ke kamar utama tanpa mengetuk pintu, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran. “Tuan Muda... gawat!” Bagas menyodorkan sebuah tablet dengan tangan gemetar. Kael, yang posisinya masih mendekap Vio, terpaksa melepaskan pelukannya perlahan. Dia menyambar tablet itu dengan kilatan mata murka karena momen intimnya diganggu. Namun, sedetik setelah membaca baris demi baris berita darurat di layar, tubuh tegap pemimpin klan Naga Hitam itu mendadak menegang. Vio yang merasakan perubahan drastis dari atmosfer tubuh Kael, ikut melongok ke arah layar. Jantung Vio seolah merosot ke lambung saat melihat judul utama berita. “Breaking News: Dugaan Korupsi dan Pencucian Uang Mega-Resort Anyer Menyeret Nama Violletta Mahendra. Kepol
Keheningan malam di kamar utama mansion Puncak itu terasa begitu mencekik setelah Kael melepaskan cengkeramannya. Kael mundur dua langkah, membiarkan Vio meraup pasokan udara yang mendadak terasa menipis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Kael berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu kayu ek yang tebal itu. Klik.Pintu itu kembali terkunci otomatis dari luar.Vio ambruk di atas lantai marmer yang dingin, tepat di balik pintu. Dia memeluk lututnya sendiri, membenamkan wajahnya di sana seiring dengan bahunya yang mulai berguncang hebat.“Brengsek,” ujar Vio di antara tangisnya yang pecah tanpa suara.Dia membenci Kael. Dia membenci takdir kotor yang melingkupi pria itu. Namun, yang paling dia benci adalah kenyataan bahwa separuh dari jiwanya justru merasa aman dan utuh saat berada di dalam dekapan pria egois itu. Sisi romantis dan kejam dari Kael Dirgantara adalah racun yang sudah telanjur menyebar ke seluruh aliran darahnya.Mansion Utama Dirgantara, Jakarta - Pukul 08.00 W
Markas Bawah Tanah Klan Naga Hitam - Pukul 00.15 WIBDua eksekutor suruhan Clara yang tersisa kini tergantung dengan rantai besi di tengah ruangan yang remang-remang. Bau anyir darah berasap di udara dingin. Kael berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan jemari tangannya sendiri yang masih bersih tanpa noda.“Bagas,” panggil Kael datar. “Seret jalang itu ke sini sekarang.”Bagas melangkah maju dengan wajah tegang, sebuah tablet digital berada di genggamannya. “Maaf, Tuan Muda. Rencana kita tersendat. Satu jam yang lalu, Nona Clara langsung mengamankan diri ke kediaman Pemimpin Besar. Kakek Anda... mengerahkan seluruh pasukan elite ring satu untuk menjaga Clara secara ketat.”Kael menyipitkan mata elangnya, rahangnya mengeras sempurna. Sialan. Kakeknya benar-benar menggunakan otoritasnya sebagai tameng demi melindungi pion kesayangannya itu. Kael tidak bisa melakukan serangan terbuka ke mansion utama kakeknya malam ini tanpa memicu perang saudara di dalam internal Klan Naga
Ancaman Clara lewat telepon tadi sore tidak membuat Vio gemetar. Sebaliknya, kata-kata beracun itu justru menguapkan seluruh sisa air mata di pipinya. Vio tahu, jika dia terus bersembunyi di kosan ini sambil meratapi nasib, Clara akan mengira ancamannya berhasil.Maka, tepat pukul delapan malam, Vio memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia harus mempersiapkan taktik baru untuk melindungi perusahaan ayahnya.Namun, takdir malam itu punya kejutan yang jauh lebih menegangkan.Baru saja sopir taksi menurunkan Vio di depan gerbang rumahnya yang megah di kawasan Jakarta Selatan, Vio langsung merasakan ada yang tidak beres. Gerbang rumahnya terbuka lebar. Dua satpam yang biasanya berjaga di depan, kini terkapar di atas rumput dengan tubuh gemetar, memegangi perut mereka yang tampaknya baru saja dihantam benda tumpul.Deg.Jantung Vio berdegup kencang. Firasat buruk langsung menyergap otaknya. Tanpa membuang waktu, dia berlari masuk ke dalam rumah.“Ayah! Ibu!” teriak Vio begitu mel
Langkah kaki Vio terasa begitu berat saat dia melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu. Kalimat bisikan Kael di ruang rapat tadi terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak, berputar tanpa henti dan mengacaukan seluruh sistem pertahanan yang telah dia bangun dengan susah payah selama dua minggu ini.“Tapi kamu tahu persis... siapa satu-satunya wanita yang punya hak untuk menelanjangi tubuhku.”Vio mencengkeram dadanya sendiri di dalam mobil. Jantungnya masih berdegup gila, berpacu dengan rasa sesak yang kian menghimpit. Dia heran, marah, sekaligus bingung setengah mati dengan sikap Kael yang terasa begitu ambigu. Pria itu melepaskannya lewat sepucuk surat dingin, bersanding dengan wanita lain di depan matanya, tetapi memberikan tatapan dan bisikan posesif seolah Vio masih menjadi miliknya yang paling berharga.Pertemuan tadi benar-benar membuat dunia Vio jungkir balik. Alih-alih pulang ke rumah orang tuanya, Vio meminta sopir taksi untuk mengantarkannya ke sebuah tempat ya
Dua minggu telah berlalu, takdir bergerak lebih cepat dari yang mereka duga. Sebuah proyek kerja sama reklamasi dan pembangunan mega-resort mewah di Anyer memaksa dua kekuatan besar bertemu. Keluarga Vio yang memegang hak kelola wilayah legal harus duduk satu meja dengan Dirgantara Group, raksasa korporat yang sebenarnya merupakan kedok legal dari gurita bisnis Klan Naga Hitam.Ruang rapat utama di gedung pencakar langit Jakarta itu terasa begitu tegang, bahkan sebelum pertemuan dimulai.Vio duduk di sebelah ayahnya, mengenakan setelan blazer abu-abu gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya diikat rapi, menyisakan leher jenjangnya yang kini bersih tanpa cela. Wajahnya datar, memancarkan aura profesionalisme yang dingin.Klek.Pintu ruang rapat terbuka. Langkah kaki yang tegas dan berwibawa menggema, seketika menarik perhatian semua orang.Jantung Vio seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang melangkah masuk. Kael Dirgantara. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal, tampa
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, pengaruh minuman merah muda itu tampaknya benar-benar telah meruntuhkan seluruh dinding pertahanan diri Vio. Racauannya tidak juga berhenti, melainkan semakin menjadi-jadi.Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Vio menurunkan wajahnya ke leher Kael. Dia m
Senin pagi hari suasana kantor dimulai dengan atmosfer yang sangat mencekam. Sejak jam delapan pagi, Kael sudah mengurung diri di dalam ruang rapat utama bersama jajaran direksi untuk membahas kelanjutan proyek ekspansi yang sempat tertunda. Bagi Vio, itu adalah berkah tersendiri. Setidaknya, se
Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah
Hari-hari menjelang pesta makan malam keluarga Mahendra terasa seperti siksaan berjalan bagi Vio. Di kantor, fokusnya buyar berulang kali. Setiap kali mengingat tatapan mata Kael di meja makan pagi itu, dimana tatapan itu dingin dan menyimpan rencana besar, jantung Vio berdegup dalam ritme yang tid







