MasukKael mematung sejenak, tetapi perlahan rahangnya yang kaku mulai mengendur. Sebuah senyum tipis menyerupai seringai predator yang baru saja menemukan mangsa untuk dipermainkan, perlahan terukir di wajah tampannya.Kael menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang dingin, lalu menoleh perlahan ke arah Shasya. Matanya yang tajam menatap wanita di sampingnya dari ujung rambut hingga kaki, seolah sedang membedah setiap inci kebohongan yang baru saja wanita itu lontarkan.“Hamil?” Kael mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan dengan rayuan, tetapi mematikan. “Shasya aku tidak menyangka kamu seberani ini.”Shasya yang melihat senyuman Kael merasa mendapat angin segar. Ia segera menghapus air matanya, berusaha memasang wajah paling menyedihkan yang ia miliki. “Kael, aku juga takut. Tapi ini kenyataannya. Aku sedang mengandung anakmu, dan aku tidak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah.”Kael terkekeh rendah. Tawa yang terdengar sangat hambar dan ke
Vio panik luar biasa. Ia berusaha sekuat tenaga mendorong dada Kael, tetapi pria itu seperti tembok yang tak tergoyahkan. Bukannya menjauh, Kael justru sengaja mengeraskan otot lengannya, mengunci Vio dalam dekapan yang sangat rapat tepat saat suara engsel pintu balkon berderit terbuka.Adrian berdiri di sana, tetapi ia tidak bisa melihat siapa wanita yang sedang didekap Kael. Posisi tubuh Kael yang menjulang tinggi membelakangi pintu, secara sempurna menutupi seluruh tubuh Vio yang mungil. Bagi Adrian, ia hanya melihat punggung Kael yang sedang memojokkan seorang wanita di pagar balkon.“Kael? Kamu di sana?” Suara Adrian terdengar ragu, langkah kakinya semakin mendekat.Vio gemetar hebat. Ia mendongak, menatap mata Kael dengan tatapan memohon. “Kael, pergilah! Aku mohon, menjauh sekarang,” bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.Kael tidak bergerak. Alih-alih menjauh, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, mengurung Vio hingga punggung gadis itu mene
Dunia seakan runtuh di bawah pijakan kaki Vio. Ia mematung di anak tangga terakhir, menatap pemandangan di ruang tamu yang terasa seperti mimpi buruk di siang bolong. Di sana, di sofa keluarga yang biasanya hangat, Kael duduk dengan angkuh. Tangannya melingkar posesif di pinggang seorang wanita yang sangat Vio kenali, ya itu adalah Shasya. Wanita yang tempo hari menamparnya di kantor itu kini tersenyum manis seolah tak pernah terjadi apa-apa, mengenakan terusan merah ketat yang sangat provokatif. “Vio! Sini, Sayang, turun,” panggil Mama dengan nada canggung. “Ini Shasya datang bersama Kael. Kael bilang mereka ingin menjalin hubungan serius.”Vio melangkah mendekat dengan kaki yang terasa berat. Matanya terpaku pada tangan Kael yang masih merangkul pinggang Shasya. Kael mendongak, menatap Vio dengan tatapan datar yang sangat asing. Tidak ada lagi binar memuja, hanya tatapan yang kosong dan dingin.“Ma, aku rasa sudah waktunya Shasya diperkenalkan secara resmi sebagai calonku,” ucap
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan suasana yang terasa begitu sunyi, hanya deru mesin dan isak tangis tertahan Vio yang mengisi kekosongan. Vio menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena air mata. Hatinya terasa remuk, bayangan Kael yang tertawa di antara kerumunan wanita seksi itu terus berputar, mengoyak harga dirinya sebagai seorang kakak dan juga sebagai wanita.“Sudah, Vio. Jangan menangisi pria seperti itu. Dia sama sekali tidak menghargaimu,” ucap Adrian lembut, sebelah tangannya melepas kemudi sebentar untuk menepuk bahu Vio dengan gerakan menenangkan.“Aku cuma tidak menyangka dia bisa seliar itu, Adrian. Dia adikku, aku yang menjaganya selama ini,” isak Vio, masih terjebak dalam penolakan bahwa Kael telah berubah total.Adrian memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Vio. Suasana kompleks sudah sepi karena jam menunjukkan pukul dua dini hari. Adrian mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Vio. Matanya me
Vio tertegun melihat Kael yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Harapannya melambung tinggi, mengira Kael akan menunjukkan sikap dinginnya pada wanita asing itu seperti biasanya. Namun, kenyataan menghantam Vio lebih keras dari tamparan mana pun.Kael melangkah mantap, lalu dengan santai mendaratkan lengannya di pinggang wanita seksi itu. Ia menarik wanita itu mendekat, memamerkan keintiman yang belum pernah Vio lihat sebelumnya.“Ayo berangkat. Aku sudah pesan meja di The Nightfall Bar,” ucap Kael dengan suara yang datar. Ia sempat melirik Vio sekilas, sebuah tatapan kosong seolah gadis itu hanyalah pajangan yang tidak berarti. “Kak, aku tidak akan pulang malam ini. Jangan menungguku.”Vio mengepal kencang. “Kael, apa-apaan ini? Kamu baru saja—”“Bukan urusanmu, Kak,” potong Kael dingin sebelum membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Deru mesin mobil SUV hitam itu menjauh, meninggalkan Vio yang mematung di depan gerbang dengan rasa panas yang menjalar di dadanya.Vio kembali
Ponsel di genggaman Vio bergetar hebat, menampilkan wajah Papa di layar dalam panggilan video. Jantung Vio nyaris meloncat keluar. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia mendorong dada bidang Kael sekuat mungkin.“Kael, menjauh! Papa telepon!” bisik Vio panik.Kael mendengus, tetapi ia memberikan sedikit ruang. Vio segera merapikan rambut dan kerah bajunya yang sedikit berantakan sebelum menekan tombol terima. Layar menampilkan wajah Papa dan Mama yang tampak ceria di ruang tengah rumah mereka.“Vio! Wah, lagi di luar ya? Gimana kencannya dengan Adrian? Dia laki-laki yang baik, kan?” Suara Papa terdengar penuh harap.Vio berusaha tersenyum semanis mungkin, meski hatinya sedang kacau.“Iya, Pa. Ini Vio baru mau pulang.”Namun, di saat Vio sedang berjuang menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat normal di depan kamera, Kael mulai beraksi. Merasa kakaknya sedang lengah dan terikat oleh tatapan orang tua mereka, Kael mulai bersikap nakal. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vio, lalu jemari







