Home / Romansa / Jerat Posesif Adik Angkat Menawan / Bab 12. Seolah Melepas Rindu

Share

Bab 12. Seolah Melepas Rindu

Author: Zara Kisaka
last update publish date: 2026-05-14 22:12:31

Dunia seakan runtuh di bawah pijakan kaki Vio. Ia mematung di anak tangga terakhir, menatap pemandangan di ruang tamu yang terasa seperti mimpi buruk di siang bolong.

Di sana, di sofa keluarga yang biasanya hangat, Kael duduk dengan angkuh. Tangannya melingkar posesif di pinggang seorang wanita yang sangat Vio kenali, ya itu adalah Shasya. Wanita yang tempo hari menamparnya di kantor itu kini tersenyum manis seolah tak pernah terjadi apa-apa, mengenakan terusan merah ketat yang sangat provokat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 82. Jangan Sentuh Aku

    Ancaman Clara lewat telepon tadi sore tidak membuat Vio gemetar. Sebaliknya, kata-kata beracun itu justru menguapkan seluruh sisa air mata di pipinya. Vio tahu, jika dia terus bersembunyi di kosan ini sambil meratapi nasib, Clara akan mengira ancamannya berhasil.Maka, tepat pukul delapan malam, Vio memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia harus mempersiapkan taktik baru untuk melindungi perusahaan ayahnya.Namun, takdir malam itu punya kejutan yang jauh lebih menegangkan.Baru saja sopir taksi menurunkan Vio di depan gerbang rumahnya yang megah di kawasan Jakarta Selatan, Vio langsung merasakan ada yang tidak beres. Gerbang rumahnya terbuka lebar. Dua satpam yang biasanya berjaga di depan, kini terkapar di atas rumput dengan tubuh gemetar, memegangi perut mereka yang tampaknya baru saja dihantam benda tumpul.Deg.Jantung Vio berdegup kencang. Firasat buruk langsung menyergap otaknya. Tanpa membuang waktu, dia berlari masuk ke dalam rumah.“Ayah! Ibu!” teriak Vio begitu mel

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 81. Siapa yang Akan Hancur Duluan?

    Langkah kaki Vio terasa begitu berat saat dia melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu. Kalimat bisikan Kael di ruang rapat tadi terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak, berputar tanpa henti dan mengacaukan seluruh sistem pertahanan yang telah dia bangun dengan susah payah selama dua minggu ini.“Tapi kamu tahu persis... siapa satu-satunya wanita yang punya hak untuk menelanjangi tubuhku.”Vio mencengkeram dadanya sendiri di dalam mobil. Jantungnya masih berdegup gila, berpacu dengan rasa sesak yang kian menghimpit. Dia heran, marah, sekaligus bingung setengah mati dengan sikap Kael yang terasa begitu ambigu. Pria itu melepaskannya lewat sepucuk surat dingin, bersanding dengan wanita lain di depan matanya, tetapi memberikan tatapan dan bisikan posesif seolah Vio masih menjadi miliknya yang paling berharga.Pertemuan tadi benar-benar membuat dunia Vio jungkir balik. Alih-alih pulang ke rumah orang tuanya, Vio meminta sopir taksi untuk mengantarkannya ke sebuah tempat ya

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 80. Pertemuan Tak Terduga

    Dua minggu telah berlalu, takdir bergerak lebih cepat dari yang mereka duga. Sebuah proyek kerja sama reklamasi dan pembangunan mega-resort mewah di Anyer memaksa dua kekuatan besar bertemu. Keluarga Vio yang memegang hak kelola wilayah legal harus duduk satu meja dengan Dirgantara Group, raksasa korporat yang sebenarnya merupakan kedok legal dari gurita bisnis Klan Naga Hitam.Ruang rapat utama di gedung pencakar langit Jakarta itu terasa begitu tegang, bahkan sebelum pertemuan dimulai.Vio duduk di sebelah ayahnya, mengenakan setelan blazer abu-abu gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya diikat rapi, menyisakan leher jenjangnya yang kini bersih tanpa cela. Wajahnya datar, memancarkan aura profesionalisme yang dingin.Klek.Pintu ruang rapat terbuka. Langkah kaki yang tegas dan berwibawa menggema, seketika menarik perhatian semua orang.Jantung Vio seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang melangkah masuk. Kael Dirgantara. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal, tampa

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 79. Kamu Gila, Kael!

    Bau anyir darah segar menyengat indra penciuman di dalam paviliun yang terkunci. Clara masih berdiri membeku di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi. Dia menatap tidak percaya pada Kael yang kini bersandar di kaki sofa dengan napas memburu, tangannya dengan tenang dan santai mencabut pisau itu dari pahanya sendiri.Darah mengalir makin deras, tapi sepasang mata elang Kael justru menatap Clara seperti iblis yang siap mencabik mangsanya.“Panggil... Bagas…” ucap Kael, suaranya rendah dan serak, tetapi sanggup membuat lutut Clara gemetar. “Atau malam ini, tubuhmu yang akan menggantikan posisiku di lantai.”Clara yang ketakutan setengah mati langsung berlari membuka pintu rahasia dan memanggil Bagas. Tak butuh waktu lama, Bagas masuk bersama tim medis pribadi Kael. Bagas nyaris berteriak melihat luka tusuk di paha tuannya, tetapi Kael memberikan kode mata agar Bagas tetap diam.Sembari dokter menjahit lukanya tanpa bius karena Kael menolak agar sisa obat perangsang di tubuhnya bisa dilaw

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 78. Obat Per*ngsang

    Kael masih menatap layar monitor saat pintu ruang kerjanya diketuk dengan tergesa-gesa. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap salah satu tangan kanan kepercayaan kakeknya melangkah masuk dan membungkuk hormat.“Tuan Muda Kael, Tuan Besar meminta Anda untuk segera datang ke paviliun utama. Ada hal sangat penting yang ingin beliau bicarakan,” ucap pria itu.Kael mematikan layar tabletnya dengan berat hati, menyimpan kembali separuh jiwanya ke dalam laci meja yang terkunci. Dia bangkit berdiri, merapikan jas hitamnya yang kaku, lalu melangkah tanpa ekspresi mengikuti utusan tersebut.Di paviliun utama yang bernuansa klasik, sang kakek sudah duduk di kursi kebesarannya, ditemani kepulan asap cerutu yang pekat. Begitu Kael masuk dan duduk di hadapannya, pria tua itu langsung meletakkan cerutunya dan menatap cucu tunggalnya dengan pandangan menuntut.“Bagaimana pelantikanmu semalam, Kael? Takhta sudah di tanganmu. Sekarang, sudah saatnya kita membahas masa depan klan yang sebenarnya. Aku i

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 77. Mati Rasa

    Mansion Klan Naga, Bogor - Pukul 21.00 WIB Kael masih berada di posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Di dalam ruang kerjanya yang remang-remang, dokumen-dokumen penting klan naga hitam terabaikan begitu saja di atas meja. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari dalam kamar Vio di Jakarta. Alis Kael seketika bertaut erat saat melihat pintu kamar di layar itu terbuka. Vio melangkah masuk. Namun, penampilannya malam ini membuat Kael refleks menegakkan punggungnya dengan tegang. Vio terlihat sangat lesu. Langkah kakinya gontai, dan bahunya tampak merosot ke bawah seperti menahan beban fisik yang teramat berat. Tanpa ekspresi, wanita itu mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kael menunggu dengan cemas yang mulai menggerogoti dadanya. Dua puluh menit kemudian, Vio kembali keluar setelah membersihkan diri. Jantung Kael serasa berhenti berdetak saat kamera tersembunyi ber-resolusi tinggi miliknya menangkap detail tubu

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 39. Permainan di Perpustakaan

    Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 35. Pengakuan di Pesta

    Hari-hari menjelang pesta makan malam keluarga Mahendra terasa seperti siksaan berjalan bagi Vio. Di kantor, fokusnya buyar berulang kali. Setiap kali mengingat tatapan mata Kael di meja makan pagi itu, dimana tatapan itu dingin dan menyimpan rencana besar, jantung Vio berdegup dalam ritme yang tid

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 34. Mengumumkan Pasangan

    “Konsekuensi itu adalah masalahku, bukan masalahmu. Tapi aku menyadari satu hal malam ini. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar menikmati hubungan ini selama kita masih berada di bawah bayang-bayang status keluarga. Selama kamu masih menganggap aku sebagai adik yang harus disembunyikan.”​Kael m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 33. Kenapa Berhenti?

    Perubahan arah emosi Vio ternyata jauh lebih kompleks dari yang Kael bayangkan. Saat bibir mereka bertemu, Kael merasakan Vio tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kerinduan yang diliputi rasa putus asa. Vio memang ketakutan, tapi ketakutannya bukan karena dia tidak ingin bersama Kael,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status