ANMELDENMatahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata
Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge
Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m
Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap
Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K
Kapal milik Kael tidak membawa mereka kembali ke hiruk-pikuk Jakarta. Atas perintah Kael langsung, kemudi diputar menuju sebuah pulau privat kecil lainnya sebuah vila peristirahatan tersembunyi milik klan naga hitam yang jauh dari jangkauan siapa pun.Sebelum kapal merapat, Kael sempat menghubungi sang kakek melalui jalur telepon satelit yang aman. Di bawah langit subuh yang remang, Kael mengabaikan sisa harga dirinya demi memohon satu hal terakhir.“Beri aku waktu, Kek.” Suara Kael terdengar sangat berat, penuh dengan keputusasaan yang melelahkan. “Kondisinya kritis. Izinkan aku merawatnya di vila sampai dia benar-benar pulih dan siap berdiri di atas kakinya sendiri. Setelah itu... aku akan datang ke Bogor, memakai cincin pertunangan itu, dan pergi dari kehidupannya untuk selamanya.”Di seberang telepon, sang kakek sempat terdiam, sebelum akhirnya terkekeh rendah. Pria tua itu tahu cucunya tidak akan ingkar janji setelah takhta mafia dilepaskan untuknya. “Baik. Aku akan menunggumu.
Kembali ke Jakarta, suasana di ruang kerja apartemen Kael terasa begitu mencekam. Setelah menyadari bahwa hilangnya Vio, Gisella, dan Rio secara bersamaan bukanlah pelarian biasa melainkan sebuah skenario penculikan yang rapi, Kael tidak lagi membuang waktu dengan botol-botol alkohol.Predator di d
Di belahan bumi yang lain, matahari pagi menyiram vila mewah di tepi pantai itu dengan cahaya keemasan. Namun bagi Vio, kilau itu tak ubahnya jeruji besi yang memantulkan keputusasaan.Vio masih setia meringkuk di sudut lantai dingin di samping jendela kaca besar, mengenakan pakaian sisa dua hari l
Matahari pagi di langit Jakarta naik tanpa membawa kehangatan bagi Kael. Sinar yang menerobos celah gorden ruang kerjanya justru terasa menyengat, memaksa matanya yang sembap dan merah untuk terbuka dengan rasa sakit yang luar biasa. Kepalanya berdenyut hebat, efek dari sisa alkohol dosis tinggi ya
Di Jakarta, malam yang diguyur hujan deras itu telah berubah menjadi neraka bagi Kael.Mobil sport hitamnya berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga di depan gedung kosan Vio. Kael melompat keluar tanpa mempedulikan air hujan yang langsung membasahi kemejanya yang berantakan. Dia berla







