เข้าสู่ระบบVio menggenggam kancing kemeja hitam itu hingga pinggirannya yang tajam menekan telapak tangan. Rasa perih itu nyata, dinginnya lantai kamar saat kakinya menyentuh ubin juga nyata. Dan bayangan pria di bawah sana yang menatap jendela kamarnya dengan tatapan lapar adalah kenyataan paling mengerikan yang harus ia hadapi, tidak seperti Kael yang biasa dilihatnya.
Malam itu, Vio tidak bisa kembali memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba berbaring, ia seolah merasakan jemari Kael masih menari di atas kulit lehernya. Hingga perlahan, waktu yang membuat gadis itu terlelap dengan sendirinya. Tak terasa pagi pun datang dengan suasana yang canggung dan menyesakkan. Vio turun menuju meja makan dengan langkah gontai, matanya sembab karena kurang tidur. Di sana, Kael sudah duduk dengan tenang, menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas di tablet. Pria itu tampak sangat segar, seolah kejadian penyusupan tengah malam itu hanyalah sebuah imajinasi Vio yang berlebihan. Ia mengenakan kemeja biru navy, rapi, dan terkancing sempurna. “Selamat pagi, Kak. Tidurnya nyenyak?” Suara bass Kael yang menyapa terdengar sangat santun, tetapi di telinga Vio itu terdengar seperti ejekan. Vio menarik kursi, mencoba menghindari kontak mata. “Ya, nyenyak. Hanya saja aku sedikit pusing.” “Mungkin karena memikirkan tawaran perjodohan Papa?” Kael meletakkan tabletnya, kini fokus sepenuhnya pada Vio. “Jadi, apa sudah ada jawaban?” Vio menggigit bibir bawahnya. Sifat manja yang biasanya muncul kini tertutup oleh rasa was-was. “Aku... aku belum tahu. Mungkin aku akan mencoba bertemu dengannya dulu. Om Surya orang baik, anaknya pasti—” BRAK! Kael meletakkan cangkir kopinya dengan hentakan yang cukup keras hingga isinya terciprat ke meja kayu. Tatapan Kael yang tadinya tenang mendadak berubah tajam, menusuk tepat ke dalam manik mata Vio. “Coba saja,” tantang Kael dengan suara rendah yang mengancam. “Tapi jangan salahkan aku jika pria itu tidak akan pernah sampai ke tempat pertemuan kalian nanti.” “Kael! Berhenti bersikap seperti ini!” Vio akhirnya meledak. “Aku ini kakakmu! Kenapa kamu harus mengatur hidupku sejauh ini? Dan juga kenapa kamu masuk ke kamarku semalam?!” Suasana seketika membeku. Vio menutup mulutnya dengan tangan, menyesali kalimat terakhirnya yang meluncur tanpa kendali. Kael tidak terlihat terkejut. Pria itu justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Vio berdiri. Kael bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja makan menuju tempat Vio duduk. Ia membungkuk, membuat Vio terperangkap di antara kedua lengannya yang kekar di sandaran kursi. Aroma maskulin yang sama dengan “mimpi” semalam kini seakan mengusik indra penciuman Vio. “Jadi Kakak sadar aku di sana?” bisik Kael di telinga Vio. “Baguslah. Aku khawatir Kakak terlalu terlelap sampai tidak merasakan betapa aku ingin menghancurkan siapa pun yang berani mengambilmu dariku.” Kael mengambil tangan Vio yang terkepal, membukanya perlahan, lalu mengambil kancing hitam yang sejak tadi disembunyikan Vio di sana. “Ini milikku. Terima kasih sudah menyimpannya di bawah bantalmu, Kak. Itu sangat manis.” Vio gemetar hebat. Ia merasa dipermalukan. “Kael, kita tidak bisa begini. Papa dan Mama…” “Papa dan Mama tidak tahu apa yang aku pikirkan setiap kali aku melihatmu menyisir rambut, Vio. Mereka tidak tahu apa yang aku bayangkan saat kamu memanggil namaku dengan nada manja itu.” Kael mengecup leher Vio sekilas, sebuah sentuhan panas yang membuat kaki Vio lemas. “Jangan pergi menemui pria itu. Ini peringatan terakhirku.” Vio yang kesal bergegas pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan ia lebih memilih berangkat naik taksi daripada harus satu mobil dengan Kael. Hari itu atmosfer di kantor benar-benar terasa menyesakkan. Kael benar-benar membuktikan ucapannya untuk mengawasi Vio. Pintu penghubung kaca di ruangan mereka sengaja dibiarkan terbuka. Setiap kali Vio mengangkat telepon, ia bisa merasakan mata Kael tertuju padanya. Bahkan Vio merasa setiap gerak-geriknya tak lepas dari tatapan tajam Kael. Hingga tepat pukul empat sore, ponsel Vio bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal muncul di layar. Vio menatap layar ponselnya. Ternyata itu adalah pesan dari Adrian, putra rekan bisnis Papanya. Gadis itu merasa seakan sebuah tiket emas muncul untuk membantunya melarikan diri dari aura Kael yang semakin menyesakkan. [Vio, aku sudah di lobi. Kita bisa jalan sekarang?] Vio melirik ke arah pintu kaca yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Kael. Pria itu tampak sibuk, tetapi Vio tahu mata Kael selalu bisa menangkap gerakannya. Rasa kesal karena kejadian penyusupan semalam dan sikap posesif Kael di meja makan tadi pagi membuat nyali Vio bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar milik yang bisa diatur. Vio berdiri, menyambar tasnya, dan melangkah masuk ke ruangan Kael. “Kael, aku pulang duluan ya. Pekerjaanku sudah selesai dan aku sudah izin ke bagian HRD untuk ambil jam pulang cepat,” ucap Vio dengan nada yang dibuat sedatar mungkin. Kael mendongak, matanya menyipit tajam. Ia meletakkan pulpennya perlahan. “Pulang? Untuk apa? Kita biasanya pulang bersama, Kak.” “Aku ada janji kencan dengan Adrian. Papa yang memintaku untuk lebih mengenalnya,” jawab Vio, memberikan senyum kemenangan yang tipis. “Jadi, jangan tunggu aku.” Vio langsung berbalik dan keluar sebelum Kael sempat mengeluarkan perintah atau larangan. Vio bisa merasakan tatapan di punggungnya seperti dibakar oleh tatapan tajam Kael, tetapi ia tetap melangkah menuju lift dengan kepala tegak, tanpa tahu bahwa rencananya tidak akan berjalan seperti yang ia pikirkan.Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl
Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata
Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge
Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m
Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap
Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K
Senin pagi hari suasana kantor dimulai dengan atmosfer yang sangat mencekam. Sejak jam delapan pagi, Kael sudah mengurung diri di dalam ruang rapat utama bersama jajaran direksi untuk membahas kelanjutan proyek ekspansi yang sempat tertunda. Bagi Vio, itu adalah berkah tersendiri. Setidaknya, se
Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah
Ketegangan malam itu di ruang tengah kediaman Mahendra menyisakan jarak yang semakin lebar di antara Kael dan Vio. Hingga keesokan harinya, atmosfer dingin di rumah terbawa hingga ke koridor kantor. Namun, bagi Vio, kehadiran Gisel perlahan menjadi benteng pertahanan terbaiknya untuk menghindar da
Nama Rio dan bumbu perjodohan terselubung yang dibawa Gisel membuat pipi Vio merona. Sudah lama sekali dia tidak merasakan interaksi normal layaknya wanita muda yang dikagumi pria lain secara sehat. Selama ini, dunianya hanya dipenuhi oleh dominasi gelap Kael yang menakutkan.“Ah, masa sih, Gisel?







