Share

Bab 7. Janji Kencan

Author: Zara Kisaka
last update publish date: 2026-05-12 15:00:37

Vio menggenggam kancing kemeja hitam itu hingga pinggirannya yang tajam menekan telapak tangan. Rasa perih itu nyata, dinginnya lantai kamar saat kakinya menyentuh ubin juga nyata. Dan bayangan pria di bawah sana yang menatap jendela kamarnya dengan tatapan lapar adalah kenyataan paling mengerikan yang harus ia hadapi, tidak seperti Kael yang biasa dilihatnya.

​Malam itu, Vio tidak bisa kembali memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba berbaring, ia seolah merasakan jemari Kael masih menari di atas kulit lehernya. Hingga perlahan, waktu yang membuat gadis itu terlelap dengan sendirinya.

Tak terasa pagi pun datang dengan suasana yang canggung dan menyesakkan.

​Vio turun menuju meja makan dengan langkah gontai, matanya sembab karena kurang tidur. Di sana, Kael sudah duduk dengan tenang, menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas di tablet.

Pria itu tampak sangat segar, seolah kejadian penyusupan tengah malam itu hanyalah sebuah imajinasi Vio yang berlebihan. Ia mengenakan kemeja biru navy, rapi, dan terkancing sempurna.

“Selamat pagi, Kak. Tidurnya nyenyak?” Suara bass Kael yang menyapa terdengar sangat santun, tetapi di telinga Vio itu terdengar seperti ejekan.

​Vio menarik kursi, mencoba menghindari kontak mata.

“Ya, nyenyak. Hanya saja aku sedikit pusing.”

“Mungkin karena memikirkan tawaran perjodohan Papa?” Kael meletakkan tabletnya, kini fokus sepenuhnya pada Vio. “Jadi, apa sudah ada jawaban?”

​Vio menggigit bibir bawahnya. Sifat manja yang biasanya muncul kini tertutup oleh rasa was-was.

“Aku... aku belum tahu. Mungkin aku akan mencoba bertemu dengannya dulu. Om Surya orang baik, anaknya pasti—”

​BRAK!

​Kael meletakkan cangkir kopinya dengan hentakan yang cukup keras hingga isinya terciprat ke meja kayu. Tatapan Kael yang tadinya tenang mendadak berubah tajam, menusuk tepat ke dalam manik mata Vio.

“Coba saja,” tantang Kael dengan suara rendah yang mengancam. “Tapi jangan salahkan aku jika pria itu tidak akan pernah sampai ke tempat pertemuan kalian nanti.”

“Kael! Berhenti bersikap seperti ini!” Vio akhirnya meledak. “Aku ini kakakmu! Kenapa kamu harus mengatur hidupku sejauh ini? Dan juga kenapa kamu masuk ke kamarku semalam?!”

​Suasana seketika membeku. Vio menutup mulutnya dengan tangan, menyesali kalimat terakhirnya yang meluncur tanpa kendali. Kael tidak terlihat terkejut. Pria itu justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Vio berdiri.

​Kael bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja makan menuju tempat Vio duduk. Ia membungkuk, membuat Vio terperangkap di antara kedua lengannya yang kekar di sandaran kursi. Aroma maskulin yang sama dengan “mimpi” semalam kini seakan mengusik indra penciuman Vio.

“Jadi Kakak sadar aku di sana?” bisik Kael di telinga Vio. “Baguslah. Aku khawatir Kakak terlalu terlelap sampai tidak merasakan betapa aku ingin menghancurkan siapa pun yang berani mengambilmu dariku.”

​Kael mengambil tangan Vio yang terkepal, membukanya perlahan, lalu mengambil kancing hitam yang sejak tadi disembunyikan Vio di sana.

“Ini milikku. Terima kasih sudah menyimpannya di bawah bantalmu, Kak. Itu sangat manis.”

​Vio gemetar hebat. Ia merasa dipermalukan.

“Kael, kita tidak bisa begini. Papa dan Mama…”

“Papa dan Mama tidak tahu apa yang aku pikirkan setiap kali aku melihatmu menyisir rambut, Vio. Mereka tidak tahu apa yang aku bayangkan saat kamu memanggil namaku dengan nada manja itu.” Kael mengecup leher Vio sekilas, sebuah sentuhan panas yang membuat kaki Vio lemas. “Jangan pergi menemui pria itu. Ini peringatan terakhirku.”

Vio yang kesal bergegas pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan ia lebih memilih berangkat naik taksi daripada harus satu mobil dengan Kael.

​Hari itu atmosfer di kantor benar-benar terasa menyesakkan. Kael benar-benar membuktikan ucapannya untuk mengawasi Vio. Pintu penghubung kaca di ruangan mereka sengaja dibiarkan terbuka. Setiap kali Vio mengangkat telepon, ia bisa merasakan mata Kael tertuju padanya.

Bahkan Vio merasa setiap gerak-geriknya tak lepas dari tatapan tajam Kael.

Hingga tepat pukul empat sore, ponsel Vio bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal muncul di layar.

Vio menatap layar ponselnya. Ternyata itu adalah pesan dari Adrian, putra rekan bisnis Papanya. Gadis itu merasa seakan sebuah tiket emas muncul untuk membantunya melarikan diri dari aura Kael yang semakin menyesakkan.

​[Vio, aku sudah di lobi. Kita bisa jalan sekarang?]

​Vio melirik ke arah pintu kaca yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Kael. Pria itu tampak sibuk, tetapi Vio tahu mata Kael selalu bisa menangkap gerakannya. Rasa kesal karena kejadian penyusupan semalam dan sikap posesif Kael di meja makan tadi pagi membuat nyali Vio bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar milik yang bisa diatur.

Vio berdiri, menyambar tasnya, dan melangkah masuk ke ruangan Kael.

“Kael, aku pulang duluan ya. Pekerjaanku sudah selesai dan aku sudah izin ke bagian HRD untuk ambil jam pulang cepat,” ucap Vio dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.

​Kael mendongak, matanya menyipit tajam. Ia meletakkan pulpennya perlahan.

“Pulang? Untuk apa? Kita biasanya pulang bersama, Kak.”

“Aku ada janji kencan dengan Adrian. Papa yang memintaku untuk lebih mengenalnya,” jawab Vio, memberikan senyum kemenangan yang tipis. “Jadi, jangan tunggu aku.”

​Vio langsung berbalik dan keluar sebelum Kael sempat mengeluarkan perintah atau larangan.

Vio bisa merasakan tatapan di punggungnya seperti dibakar oleh tatapan tajam Kael, tetapi ia tetap melangkah menuju lift dengan kepala tegak, tanpa tahu bahwa rencananya tidak akan berjalan seperti yang ia pikirkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 108. Kepingan Kecil Memori

    Langit sore di atas pantai privat yang tadinya cerah perlahan berubah menjadi kelabu pekat. Angin laut bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan pohon kelapa dan memicu gelombang ombak yang menghantam karang dengan suara gemuruh yang hebat.Vio sedang berdiri sendirian di dekat dinding kaca raksasa kamar utama, menatap hamparan laut yang kian menggelap. Sementara itu, Kael sedang berada di lantai bawah untuk menerima telepon singkat dari Bagas terkait pengamanan area perbatasan.Kilatan petir menyambar kencang di atas langit pantai, disusul suara gemuruh dahsyat yang menggelegar menembus dinding kaca.Deg.Sensasi dingin yang aneh seketika menjalar dari telapak kaki hingga ke ujung kepala Vio. Suara gemuruh petir yang memekakkan telinga itu mendadak bergema sangat asing di dalam benaknya, bercampur dengan gema samar yang menyerupai dentuman keras.Vio memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Dia memejamkan mata rapat-rapat saat sebuah bayangan samar yang sangat asing mendadak

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 107. Ruangan Apa Itu?

    Keheningan pagi di villa pantai terasa begitu menenangkan. Vio tidur sangat pulas di atas kasur sutra, warna merah muda alami sudah kembali menghiasi pipinya yang mulus. Panas tubuhnya benar-benar luntur sepenuhnya.Namun, di sudut lain villa tersebut, pikiran Kael sama sekali tidak tenang.Igauan Vio saat demam kemarin tentang suara tembak dan kegelapan itu terus bergema di kepala Kael bagaikan alarm bahaya. Kael sadar, sekecil apapun celah yang bisa memancing ingatan masa lalu Vio harus dimusnahkan tanpa sisa.Dengan langkah tegap dan raut wajah dingin, Kael menggeledah seluruh koper serta barang bawaan mereka dari rumah panggung. Pria itu mengumpulkan beberapa dokumen tua, sebuah rekaman cadangan, dan satu buah belati perak berukir lambang klan masa lalu yang tak sengaja terbawa.Kael melangkah cepat menuju ruang kerja pribadinya di ujung lorong lantai dua. Di balik rak buku mahoni yang tebal, terdapat sebuah pintu besi tersembunyi menuju ruang penyimpanan rahasia berlapis baja. Ka

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 106. Kael Sangat Panik

    ​Ciuman panjang dan dalam di atas meja bar tadi akhirnya mereda. Kael perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menatap Vio yang terkulai lemas di dalam dekapannya dengan napas naik turun yang berantakan.​Vio menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael, mendengarkan detak jantung suaminya yang bergemuruh kencang. Pikiran polosnya yang tadi dipenuhi pertanyaan tentang orang tua, perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat dan cinta murni yang selalu ditawarkan Kael.“Maafkan aku ya, Suamiku,” bisik Vio lirih, jemari kecilnya meremas kemeja putih yang dikenakannya. “Aku tidak akan bertanya yang aneh-aneh lagi. Aku tidak ingin membuat suamiku sedih.”​Mendengar bisikan itu, dada Kael serasa dihantam rasa bersalah yang luar biasa. Namun, rasa posesifnya dengan cepat meredam penyesalan itu. Kael mengecup puncak kepala Vio dengan amat lama, mengusap punggung halus istrinya penuh kasih sayang.“Kamu tidak salah, Sayang. Tidak perlu minta maaf,” balas Kael lembut, suaranya kembali tenang me

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 105. Sebuah Pertanyaan

    ​Sinar matahari pagi menerobos dinding kaca raksasa, membiaskan warna keemasan di atas meja makan kayu yang menghadap langsung ke hamparan laut biru. Suara deburan ombak yang tenang dan aroma kopi hangat mengisi keheningan villa yang privat itu.​Vio sedang duduk di kursi tinggi dekat meja bar dapur, mengenakan salah satu kemeja putih milik Kael yang kebesaran hingga menutupi separuh pahanya. Pria itu baru saja memanjakannya dengan kecupan-kecupan hangat di pergelangan tangan sebelum sibuk membuatkan sarapan omelet untuk mereka berdua.​Melihat Kael yang begitu telaten membolak-balikkan masakan, dada Vio dipenuhi rasa hangat yang membuncah. Namun, di tengah ketenangan itu, ada satu ruang kosong di benaknya yang mendadak terusik sejak beberapa hari terakhir.​Vio meletakkan cangkir tehnya perlahan. Manik matanya yang jernih dan polos menatap punggung tegap Kael yang membelakanginya.“Suamiku,” panggil Vio pelan.“Iya, Sayang?” sahut Kael lembut tanpa berbalik, mengulas senyum manis kar

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 104. Malam Panas di Rumah Baru

    Mesin mobil menderu kencang menembus kegelapan malam. Hujan deras dan petir menyambar di luar, membasahi kaca mobil yang sudah dirancang khusus tahan peluru.Di kursi belakang yang luas dan bernuansa kulit mewah, Kael duduk bersandar. Keagresifan dan emosi Kael yang meletup-letup sejak kejadian tadi belum benar-benar mereda. Pria itu tidak membiarkan Vio duduk di kursinya sendiri. Sejak awal mobil bergerak, Kael sudah menarik Vio ke dalam pangkauannya.Kael merangkul pinggang ramping istrinya sangat erat, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Vio. Napasnya hangat dan memburu, menyesap aroma tubuh Vio berulang kali bagaikan pria yang sedang kecanduan.“Suamiku,” ucap Vio lembut, memegang bahu lebar Kael. Pipi Vio merona merah sempurna di bawah remang lampu interior mobil. “Jangan memelukku terlalu kencang, nanti lukamu makin sakit.”Vio memegang kapas bertotol alkohol dan perban kecil di tangan kirinya. Dengan telaten Vio berusaha mengobati luka robek di sudut bibir dan buku-bu

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 103. Lepaskan Istriku!

    ​Angin malam yang biasanya sejuk mendadak berubah menjadi badai buatan. Suara baling-baling helikopter begitu memekakkan telinga, menerbangkan dedaunan dan membuat debu berhamburan.​Vio yang baru saja melangkah keluar dengan balutan gaun tidur putih tipisnya dan sebuah kardigan rajut, terpaksa menyipitkan mata dan menghalangi wajahnya dengan tangan. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan mulai merayap di dadanya yang lugu.“Suamiku, kamu di mana?” panggil Vio dengan suara bergetar, nyaris tenggelam oleh suara bising baling-baling.​Dari balik pepohonan yang tersorot lampu helikopter, sesosok pria berjaket kulit melangkah cepat mendekati pekarangan. Itu bukan Kael. Pria itu adalah Rey, dengan wajah tegang dan luka tembak di dadanya yang belum sepenuhnya pulih.​Melihat Vio berdiri di teras dengan raut ketakutan, Rey bernapas lega. “Violletta! Akhirnya aku menemukanmu!” panggil Rey seraya berlari menaiki tangga teras kayu.​Vio tersentak kaget. Secara refleks, naluri bertahannya beker

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 6. Halusinasi?

    Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.​Vio men

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 5. Tiba-tiba Manja

    Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 2. Tunangan?

    Vio masih terpaku di kursinya bahkan setelah Kael meninggalkan ruangan. Kalimat ‘Hanya aku yang boleh melakukannya’ terus terngiang dalam pikiran, menciptakan getaran aneh di perut bawahnya yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya.​Baru saja ia hendak menarik napas panj

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 1. Mimpi yang Mendebarkan

    “Jangan berhenti, Kak. Aku suka kakak menyentuh bagian itu.” Violletta Mahendra tak pernah menyangka di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, dia malah harus dihadapkan pada masalah perasaan yang baginya tak masuk akal. Selain terpaksa harus tinggal dengan adik angkat tampan yang baru saja pula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status