Share

Bab 62. Jadi... Vio?

Author: Zara Kisaka
last update publish date: 2026-06-15 19:41:52

Matahari pagi di langit Jakarta naik tanpa membawa kehangatan bagi Kael. Sinar yang menerobos celah gorden ruang kerjanya justru terasa menyengat, memaksa matanya yang sembap dan merah untuk terbuka dengan rasa sakit yang luar biasa. Kepalanya berdenyut hebat, efek dari sisa alkohol dosis tinggi yang dia tenggak semalaman suntuk sebagai pelampiasan rasa frustrasinya.

Kael mencoba bangkit dari lantai tempatnya terkapar sejak semalam. Tubuhnya limbung, dan saat dia bertumpu pada tangan kanannya,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 65. Di Sebuah Pulau

    Kembali ke dalam mobil sport hitamnya, Kael mencengkeram kemudi dengan napas yang memburu. Bagas yang duduk di kursi penumpang depan bergerak secepat kilat dengan laptopnya, meretas sistem pemantauan radar maritim swasta yang sempat melintasi wilayah pesisir subuh tadi.Suasana di dalam kabin mobil begitu tegang, hanya diiringi suara ketikan jari Bagas yang berpacu dengan waktu.“Dapat, Pak!” seru Bagas tiba-tiba, memutar layar laptopnya ke arah Kael. “Ada satu sinyal kapal cepat hitam yang tidak menyalakan radar, tapi tertangkap oleh radar satelit cuaca karena kecepatannya yang tidak wajar. Mereka bergerak lurus menuju ke arah gugusan pulau terluar di perbatasan laut internasional.”Kael melirik layar tersebut. Sebuah titik merah berkedip, menunjukkan arah pelarian yang dituju oleh Rio dan Vio. “Ke pulau mana mereka mendarat?”Bagas menelan ludah, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat pucat saat membaca data koordinat geografis yang muncul di layarnya. Tangannya yang memegang lap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 64. Pernah Melihat Wanita Ini?

    Kembali ke Jakarta, suasana di ruang kerja apartemen Kael terasa begitu mencekam. Setelah menyadari bahwa hilangnya Vio, Gisella, dan Rio secara bersamaan bukanlah pelarian biasa melainkan sebuah skenario penculikan yang rapi, Kael tidak lagi membuang waktu dengan botol-botol alkohol.Predator di dalam dirinya telah terbangun. Siapa pun yang telah berani menyentuh miliknya, harus bersiap menghadapi murka yang paling mengerikan. “Bagas,” panggil Kael tanpa menoleh. Kedua matanya yang memerah dan lelah menatap tajam ke arah papan tulis kaca di ruang kerjanya yang kini dipenuhi coretan garis kronologi semalam.Bagas yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan segera melangkah maju. “Ya, Pak Kael?”“Lupakan pelacakan rekening bank Vio atau Rio. Seseorang yang bisa melenyapkan dua orang saksi dalam waktu satu jam di titik buta CCTV Jakarta pasti sudah menyiapkan jalur pelarian yang bersih.” Suara Kael berat, tenang, tetapi menyimpan ancaman yang amat dingin. “Siapa pun dalang di balik

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bba 63. Tarik Ulur

    Di belahan bumi yang lain, matahari pagi menyiram vila mewah di tepi pantai itu dengan cahaya keemasan. Namun bagi Vio, kilau itu tak ubahnya jeruji besi yang memantulkan keputusasaan.Vio masih setia meringkuk di sudut lantai dingin di samping jendela kaca besar, mengenakan pakaian sisa dua hari lalu yang kini tampak kusut. Bibirnya yang memutih dan pecah-pecah menjadi bukti nyata bahwa sejak dia menginjakkan kaki di pulau terkutuk ini, tidak ada setetes air pun yang melewati kerongkongannya. Rasa perih yang membakar lambungnya akibat mogok makan tidak lagi dia pedulikan.Namun, air mata yang terus mengalir di pipi Vio bukan lagi karena meratapi pengkhianatan Kael. Justru sebaliknya. Sejak otaknya berhasil menyatukan semua kepingan teka-teki kemarin, Vio didera rasa bersalah dan penyesalan yang teramat sangat. Dia sudah tahu bahwa Kael tidak bersalah. Kejadian di hotel malam itu murni jebakan licik yang dirancang oleh pria psikopat di hadapannya. ‘Kael... maafkan aku... aku sudah s

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 62. Jadi... Vio?

    Matahari pagi di langit Jakarta naik tanpa membawa kehangatan bagi Kael. Sinar yang menerobos celah gorden ruang kerjanya justru terasa menyengat, memaksa matanya yang sembap dan merah untuk terbuka dengan rasa sakit yang luar biasa. Kepalanya berdenyut hebat, efek dari sisa alkohol dosis tinggi yang dia tenggak semalaman suntuk sebagai pelampiasan rasa frustrasinya.Kael mencoba bangkit dari lantai tempatnya terkapar sejak semalam. Tubuhnya limbung, dan saat dia bertumpu pada tangan kanannya, rasa perih yang tajam seketika menyengat sarafnya.Dia menunduk, menatap buku-buku jarinya yang rusak, dilapisi darah yang kini telah mengering dan menghitam akibat hantamannya ke dinding beton semalam. Namun, pemandangan luka itu sama sekali tidak membuatnya peduli. Luka di tangannya tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya setiap kali bayangan wajah Vio yang menangis histeris di kamar hotel kembali melintas.Di tengah kekacauan batinnya, ego dan rasa cinta Kael masih berbentur

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 61. Rasa Frustasi

    Jam demi jam berlalu di Jakarta tanpa membawa setitik pun kejelasan. Di dalam ruang kerja apartemennya yang megah, tetapi kini terasa seperti kuburan, Kael duduk di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Setelan jas rapi yang biasanya menjadi kebanggaannya kini entah ke mana. Kemeja putih yang dia kenakan tampak kusut, kancing atasnya terbuka berantakan, dan dasinya sudah tergeletak di sudut ruangan.Di sekelilingnya, beberapa botol alkohol tingkat tinggi berserakan dalam kondisi kosong. Bau tajam minuman itu memenuhi udara, bercampur dengan aroma keputusasaan yang pekat.Kael meneguk sisa cairan dari gelas di tangannya hingga tandas, merasakan sensasi membakar yang menjalar di tenggorokannya. Namun, rasa terbakar itu sama sekali tidak mampu mematikan rasa sakit dan hancur yang terus menggerogoti dadanya sejak malam terkutuk di hotel itu.“Bodoh, b*jingan!” umpat Kael pada dirinya sendiri, suaranya parau dan bergetar hebat karena pengaruh mabuk dan tangis yang tertahan.Setiap ka

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 60. Kamu dimana, Vio?

    ​Di Jakarta, malam yang diguyur hujan deras itu telah berubah menjadi neraka bagi Kael.​Mobil sport hitamnya berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga di depan gedung kosan Vio. Kael melompat keluar tanpa mempedulikan air hujan yang langsung membasahi kemejanya yang berantakan. Dia berlari menaiki anak tangga menuju kamar nomor dua belas, lalu menggedor pintu kayu itu dengan kalap.“Vio! Vio, buka pintunya! Ini aku, Kael!” teriaknya, suaranya parau beradu dengan suara gemuruh petir di langit.​Tidak ada jawaban. Kael tidak sabar lagi. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci cadangan gedung kosan miliknya, dan memutar kenop pintu dengan paksa.​Klek.​Kamar itu kosong. Sunyi, rapi, dan dingin. Aroma parfum vanila khas Vio masih tertinggal tipis di udara, tetapi pemiliknya telah lenyap. Kael mengacak rambutnya frustrasi, melangkah mundur dengan dada yang terasa sesak luar biasa.​Dia kembali merogoh ponselnya, mencoba menghubungi nomor Vio untuk yang keseratus kalinya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status