ログインMalam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.
Vio menghela napas panjang, memeluk gulingnya erat-erat. Ada kebimbangan yang menyesakkan dadanya. Di satu sisi, ia menyadari usianya yang hampir menyentuh kepala tiga dan ketidakmampuannya dalam memilih pria karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan drama kencan yang rumit. Perjodohan Papa terdengar seperti solusi yang logis. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang aneh menjalar di hatinya. “Kalau aku punya suami, apa Kael akan menjauh?” batinnya getir. Ia benci mengakui bahwa bayangan tentang jarak yang akan muncul di antara dirinya dan Kael malah membuatnya merasa kehilangan arah. Meski ia tahu perasaannya pada Kael mulai melintasi batas yang berbahaya, hati kecilnya tetap berteriak ingin selalu dekat dengan pria itu. Ia merindukan Kael sebagai adik kecilnya yang manis, walau pria yang kini tidur di kamar bawah adalah sosok dominan yang sanggup melumpuhkan kewarasannya hanya dengan satu tatapan. Kelelahan mental akhirnya membawa Vio menuju alam bawah sadar. Ia jatuh terlelap di tengah kebimbangannya yang belum tuntas. Saat tengah malam, suhu udara di kamar Vio mendadak terasa berbeda. Di antara kondisi antara sadar dan tidak, Vio merasakan derit pintu kamarnya terbuka dengan sangat pelan bahkan hampir tak terdengar. Ia ingin membuka mata, tetapi rasa kantuk yang berat seperti merantai kelopak matanya. Samar-samar, Vio merasakan kehadiran seseorang di sisi ranjangnya. Aroma maskulin yang tajam, tetapi menenangkan, campuran parfum wangi sabun yang sangat ia kenal seakan menyerbu indra penciumannya. Vio menganggap ini adalah mimpi liar lainnya, seperti fantasinya di beberapa malam. Tiba-tiba, Vio merasakan sentuhan hangat di puncak kepalanya. Sebuah tangan besar dengan lembut membelai helaian rambutnya yang berantakan di atas bantal. Gerakan itu begitu pelan dan posesif. Vio meremang saat merasakan sebuah ibu jari mengusap garis rahangnya hingga turun ke leher. Lalu, sebuah kecupan mendarat di keningnya, sangat lama dan hangat. Vio ingin bersuara, tetapi tenggorokannya seolah terkunci. Antara mimpi dan nyata, ia mendengar suara berat yang berbisik tepat di samping telinganya, suara yang biasanya ia dengar dengan nada dingin, kini terdengar penuh dengan obsesi yang dalam. “Perjodohan itu tidak akan pernah terjadi, Kak,” bisik suara itu, serak dan penuh penekanan. “Aku sudah menunggumu selama lima tahun di negeri orang hanya untuk kembali dan memilikimu. Aku tidak akan membiarkan pria mana pun membawamu pergi dari sisiku. Tidak akan pernah.” Vio merasakan napas hangat orang itu menerpa kulit lehernya yang terbuka. Sentuhan tangan itu kini beralih, mengusap bahu Vio yang tersingkap dari balik selimut. Setiap sentuhan itu terasa sangat nyata, panas kulit yang bersentuhan dengan kulitnya mengirimkan gelombang kejut ke seluruh saraf Vio. “Ini bukan mimpi, Kael?” batin Vio meronta, tetapi tubuhnya terasa lumpuh karena kantuk yang aneh. Orang itu kembali berbisik, kali ini lebih rendah, nyaris seperti sebuah janji yang mengerikan. “Kalau kamu tidak bisa memilih laki-laki, biar aku yang menentukan. Dan pilihan itu adalah aku, Vio. Hanya aku.” Vio merasa bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya saat sebuah sentuhan berani mendarat di pinggangnya, menarik selimut Vio sedikit lebih turun. Jantung Vio berdebar sangat kencang, ia berjuang sekuat tenaga untuk membuka matanya, untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Dengan sisa tenaganya, Vio mencoba menggerakkan jarinya. Namun, tepat saat ia merasa akan berhasil terjaga sepenuhnya, ia merasakan kecupan terakhir di sudut bibirnya yang begitu singkat, tetapi penuh dengan rasa kepemilikan. Setelah itu, keheningan kembali menyergap. Derit pintu terdengar tertutup pelan. Vio tersentak bangun dengan napas memburu. Ia duduk tegak di ranjangnya, matanya membelalak menatap kegelapan kamar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia meraba keningnya, lalu menyentuh sudut bibirnya yang masih terasa sedikit hangat. “Mimpi?” gumamnya dengan suara pelan. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya. Pintu itu tertutup rapat, terkunci persis seperti saat ia hendak tidur tadi. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah efek dari percakapannya dengan Papa. Namun, saat Vio hendak kembali berbaring, matanya menangkap sesuatu di atas nakas, tepat di samping ponselnya. Sebuah kotak salep yang tadi dipakai Kael sudah berpindah tempat, dan di sampingnya tergeletak sebuah benda yang membuat darah Vio seketika membeku. Sebuah kancing kemeja hitam milik Kael tertinggal di atas sprei ranjangnya, tepat di tempat bayangan itu tadi duduk. Vio menatap kancing itu dengan tangan bergetar. Jika itu mimpi, kenapa benda nyata milik Kael ada di dalam kamarnya yang terkunci? Pikiran Vio buntu. Ia menoleh ke arah jendela, dan di sanalah ia melihatnya bayangan seseorang berdiri di halaman bawah, menatap lurus ke arah jendela kamarnya dengan mata yang menyala di tengah kegelapan malam.Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio menghela napas panjang, memeluk gulingnya erat-erat. Ada kebimbangan yang menyesakkan dadanya. Di satu sisi, ia menyadari usianya yang hampir menyentuh kepala tiga dan ketidakmampuannya dalam memilih pria karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan drama kencan yang rumit. Perjodohan Papa terdengar seperti solusi yang logis. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang aneh menjalar di hatinya.“Kalau aku punya suami, apa Kael akan menjauh?” batinnya getir.Ia benci mengakui bahwa bayangan tentang jarak yang akan muncul di antara dirinya dan Kael malah membuatnya merasa kehilangan arah. Meski ia tahu perasaannya pada Kael mulai melintasi batas yang berbahaya, hati kecilnya tetap berteriak ing
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama menelepon, mereka akan berbincang bertiga, menciptakan suasana keluarga yang hangat meski kini status keluarga itu terasa mulai bergeser di hati Vio.“Halo, Pa,” sapa Vio. “Vio, Sayang. Bagaimana kabarmu? Kael menjagamu dengan baik, kan?” Suara berat Papa terdengar ke seluruh penjuru kamar.Vio melirik Kael yang masih berada di depannya. Pria itu kini sedang memijat bahu Vio dengan sangat lembut, jemari besarnya menekan titik-titik lelah di pundak kakaknya. “Baik, Pa. Kael menjaga Vio dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik,” jawab Vio sambil menahan desis nikmat karena pijatan Kael yang terasa sangat pas.“Syukurlah. Kael, Papa titip kakakmu ya. Jangan biarkan dia keluyuran tidak jelas,” pes
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang terkurung meski tak ada sentuhan fisik. Vio yang masih merasa sedikit pusing akibat tamparan Shena di kantor tadi, merasa sesak. Ia seakan butuh oksigen lenih dan juga butuh waktu untuk menenangkan diri. “Kael, berhenti sebentar di minimarket itu. Aku mau beli minum,” ucap Vio pelan, nyaris berbisik. Itu adalah alasan klasiknya agar tidak perlu terjebak lebih lama dalam situasi yang terasa penuh intimadasi itu. Kael hanya mengangguk kaku. Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah minimarket yang tampak sepi. “Tunggu di sini, aku cuma sebentar,” ucap Vio lugu sebelum turun dan menghilang di balik pintu kaca. Kael tidak menjawab, tetapi matanya yang gelap tak lepas menatap punggung Vio
Vio merasakan matanya panas. Bukan karena rasa perih di pipinya yang mulai membiru, tapi karena cengkeraman tangan Kael di pergelangan tangannya terasa begitu dingin. Pria yang tadi pagi bersikap seolah ingin menjaga dan melindunginya, kini justru berdiri menjadi tameng bagi wanita yang baru saja merendahkannya.“Kael, dia malah menamparku,” bisik Vio dengan suara bergetar.Wanita itu, yang belakangan diketahui bernama Shena, langsung bergelayut di lengan Kael dengan manja. “Sayang, lihat! Sekretaris barumu ini sangat tidak sopan. Dia mengancam mau panggil security! Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.”Kael tidak menatap Shena. Matanya tetap terkunci pada wajah Vio yang memerah. “Masuk ke ruangan, Violleta. Sekarang.”“Tapi dia—”“Masuk!” bentak Kael pendek.Vio melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Kael. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah masuk ke ruang kerja adik angkatnya itu, membanting pintu kaca hingga bergetar. Di dalam, ia hanya bisa terduduk lemas, melihat
Vio masih terpaku di kursinya bahkan setelah Kael meninggalkan ruangan. Kalimat ‘Hanya aku yang boleh melakukannya’ terus terngiang dalam pikiran, menciptakan getaran aneh di perut bawahnya yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya.Baru saja ia hendak menarik napas panjang, telepon di mejanya berdering.“Vio, segera ke lantai paling atas. Ke ruangan CEO yang baru. Beliau meminta berkas administrasi proyek Golden City diserahkan secara pribadi,” suara atasannya terdengar tegang.Vio mengernyit. Lantai atas? Itu adalah area eksklusif yang jarang ia pijak sebagai karyawan biasa. Dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman, Vio merapikan rok span-nya yang sedikit kusut, memoles lipstik tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat, lalu melangkah menuju lift.Sesampainya di depan pintu kayu jati yang cukup mewah, Vio langsung mengetuk pelan.“Masuk.”Suara itu membuat Vio menelan ludah. Ia mendorong pintu dan mendapati Kael sedang duduk dibalik meja besar dengan
“Jangan berhenti, Kak. Aku suka kakak menyentuh bagian itu.”Violletta Mahendra tak pernah menyangka di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, dia malah harus dihadapkan pada masalah perasaan yang baginya tak masuk akal. Selain terpaksa harus tinggal dengan adik angkat tampan yang baru saja pulang dari luar negri, ia pun kelabakan saat setiap malam mimpi bercinta dengan sang adik angkat. Pagi itu masih seperti biasa, Vio terbangun dengan keringat dingin bercucuran. Ia menatap kedua telapak tangannya, membayangkan mimpi semalam dimana dirinya menyentuh setiap jengkal bagian tubuh Kael sang adik angkat. Vio mengacak rambut dengan kasar, berusaha menjernihkan pikirannya. “Nggak! Dia adik angkatmu Vio! Papa Mama percaya sama dia buat menjagamu bukan buat kamu jadikan fantasi liar.” Vio mengoceh sendiri, sesekali menepuk kepalanya demi mengembalikan kewarasan. Setiap kali terbayang mimpi semalam, bulu kuduknya mendadak berdiri, ada sebuah sensasi yang tak bisa diungkapkan. Suara ket







