Compartir

Bab 6. Halusinasi?

Autor: Zara Kisaka
last update Fecha de publicación: 2026-05-11 16:40:20

Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.

​Vio menghela napas panjang, memeluk gulingnya erat-erat. Ada kebimbangan yang menyesakkan dadanya. Di satu sisi, ia menyadari usianya yang hampir menyentuh kepala tiga dan ketidakmampuannya dalam memilih pria karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan drama kencan yang rumit. 

Perjodohan Papa terdengar seperti solusi yang logis. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang aneh menjalar di hatinya.

​“Kalau aku punya suami, apa Kael akan menjauh?” batinnya getir.

​Ia benci mengakui bahwa bayangan tentang jarak yang akan muncul di antara dirinya dan Kael malah membuatnya merasa kehilangan arah. Meski ia tahu perasaannya pada Kael mulai melintasi batas yang berbahaya, hati kecilnya tetap berteriak ingin selalu dekat dengan pria itu. Ia merindukan Kael sebagai adik kecilnya yang manis, walau pria yang kini tidur di kamar bawah adalah sosok dominan yang sanggup melumpuhkan kewarasannya hanya dengan satu tatapan.

​Kelelahan mental akhirnya membawa Vio menuju alam bawah sadar. Ia jatuh terlelap di tengah kebimbangannya yang belum tuntas.

​Saat tengah malam, suhu udara di kamar Vio mendadak terasa berbeda. Di antara kondisi antara sadar dan tidak, Vio merasakan derit pintu kamarnya terbuka dengan sangat pelan bahkan hampir tak terdengar. Ia ingin membuka mata, tetapi rasa kantuk yang berat seperti merantai kelopak matanya.

​Samar-samar, Vio merasakan kehadiran seseorang di sisi ranjangnya. Aroma maskulin yang tajam, tetapi menenangkan, campuran parfum wangi sabun yang sangat ia kenal seakan menyerbu indra penciumannya. Vio menganggap ini adalah mimpi liar lainnya, seperti fantasinya di beberapa malam.

​Tiba-tiba, Vio merasakan sentuhan hangat di puncak kepalanya. Sebuah tangan besar dengan lembut membelai helaian rambutnya yang berantakan di atas bantal. Gerakan itu begitu pelan dan posesif. Vio meremang saat merasakan sebuah ibu jari mengusap garis rahangnya hingga turun ke leher. ​Lalu, sebuah kecupan mendarat di keningnya, sangat lama dan hangat.

​Vio ingin bersuara, tetapi tenggorokannya seolah terkunci. Antara mimpi dan nyata, ia mendengar suara berat yang berbisik tepat di samping telinganya, suara yang biasanya ia dengar dengan nada dingin, kini terdengar penuh dengan obsesi yang dalam.

​“Perjodohan itu tidak akan pernah terjadi, Kak,” bisik suara itu, serak dan penuh penekanan. “Aku sudah menunggumu selama lima tahun di negeri orang hanya untuk kembali dan memilikimu. Aku tidak akan membiarkan pria mana pun membawamu pergi dari sisiku. Tidak akan pernah.”

​Vio merasakan napas hangat orang itu menerpa kulit lehernya yang terbuka. Sentuhan tangan itu kini beralih, mengusap bahu Vio yang tersingkap dari balik selimut. Setiap sentuhan itu terasa sangat nyata, panas kulit yang bersentuhan dengan kulitnya mengirimkan gelombang kejut ke seluruh saraf Vio.

​“Ini bukan mimpi, Kael?” batin Vio meronta, tetapi tubuhnya terasa lumpuh karena kantuk yang aneh.

​Orang itu kembali berbisik, kali ini lebih rendah, nyaris seperti sebuah janji yang mengerikan. 

“Kalau kamu tidak bisa memilih laki-laki, biar aku yang menentukan. Dan pilihan itu adalah aku, Vio. Hanya aku.”

​Vio merasa bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya saat sebuah sentuhan berani mendarat di pinggangnya, menarik selimut Vio sedikit lebih turun. Jantung Vio berdebar sangat kencang, ia berjuang sekuat tenaga untuk membuka matanya, untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

​Dengan sisa tenaganya, Vio mencoba menggerakkan jarinya. Namun, tepat saat ia merasa akan berhasil terjaga sepenuhnya, ia merasakan kecupan terakhir di sudut bibirnya yang begitu singkat, tetapi penuh dengan rasa kepemilikan.

​Setelah itu, keheningan kembali menyergap. Derit pintu terdengar tertutup pelan.

​Vio tersentak bangun dengan napas memburu. Ia duduk tegak di ranjangnya, matanya membelalak menatap kegelapan kamar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia meraba keningnya, lalu menyentuh sudut bibirnya yang masih terasa sedikit hangat.

​“Mimpi?” gumamnya dengan suara pelan.

​Ia menoleh ke arah pintu kamarnya. Pintu itu tertutup rapat, terkunci persis seperti saat ia hendak tidur tadi. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah efek dari percakapannya dengan Papa.

​Namun, saat Vio hendak kembali berbaring, matanya menangkap sesuatu di atas nakas, tepat di samping ponselnya. Sebuah kotak salep yang tadi dipakai Kael sudah berpindah tempat, dan di sampingnya tergeletak sebuah benda yang membuat darah Vio seketika membeku.

​Sebuah kancing kemeja hitam milik Kael tertinggal di atas sprei ranjangnya, tepat di tempat bayangan itu tadi duduk.

​Vio menatap kancing itu dengan tangan bergetar. Jika itu mimpi, kenapa benda nyata milik Kael ada di dalam kamarnya yang terkunci?

​Pikiran Vio buntu. Ia menoleh ke arah jendela, dan di sanalah ia melihatnya bayangan seseorang berdiri di halaman bawah, menatap lurus ke arah jendela kamarnya dengan mata yang menyala di tengah kegelapan malam.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 75. Singkirkan Tanganmu

    Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 74. Kamu Bilang Merindukanku

    Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 73. Kael dan Wanita Licik Itu

    Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 72. Apa Isi Surat Itu?

    Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 71. Rasa Gelisah

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 70. Malam Manis yang Menyakitkan

    ​Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.​Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.​Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 39. Permainan di Perpustakaan

    Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 35. Pengakuan di Pesta

    Hari-hari menjelang pesta makan malam keluarga Mahendra terasa seperti siksaan berjalan bagi Vio. Di kantor, fokusnya buyar berulang kali. Setiap kali mengingat tatapan mata Kael di meja makan pagi itu, dimana tatapan itu dingin dan menyimpan rencana besar, jantung Vio berdegup dalam ritme yang tid

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 34. Mengumumkan Pasangan

    “Konsekuensi itu adalah masalahku, bukan masalahmu. Tapi aku menyadari satu hal malam ini. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar menikmati hubungan ini selama kita masih berada di bawah bayang-bayang status keluarga. Selama kamu masih menganggap aku sebagai adik yang harus disembunyikan.”​Kael m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 33. Kenapa Berhenti?

    Perubahan arah emosi Vio ternyata jauh lebih kompleks dari yang Kael bayangkan. Saat bibir mereka bertemu, Kael merasakan Vio tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kerinduan yang diliputi rasa putus asa. Vio memang ketakutan, tapi ketakutannya bukan karena dia tidak ingin bersama Kael,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status