LOGINPROTOKOL PERMAISURI HITAMLift baja itu meluncur turun melampaui kedalaman yang masuk akal bagi sebuah bunker militer standar. Bunyi desing mesin hidrolik di luar ruang logam itu berubah dari raungan kasar menjadi dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga...whiiieee. Di dalam kotak logam yang sempit, cahaya merah darurat telah padam, berganti dengan pendar neon putih kebiruan yang keluar dari celah dinding lift, seolah-olah teknologi di level ini jauh melampaui zamannya.Valencia tersungkur di lantai lift yang dingin. Kemeja hitam Ragnar yang menyelimutinya kini terasa seperti beban yang sangat berat. Namun, rasa perih di pahanya, bekas jahitan yang dibuka paksa oleh Ragnar tadi mendadak lenyap. Rasa nyeri itu berganti dengan sensasi kesemutan yang aneh, seolah ada ribuan jarum es yang mengalir melalui pembuluh darahnya, menjalar dari pangkal paha menuju tulang belakang, lalu meledak di belakang matanya."Valencia? Tatap mataku," suara Ragnar terdengar seperti datang dari ba
GERBANG DARAH DAN PINTU NERAKAGuncangan kedua menghantam fondasi bunker dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan kewarasan...BAMMM!. Langit-langit beton di atas ruang medis mulai retak, menjatuhkan debu putih serupa salju maut yang menyelimuti rambut Valencia dan kemeja hitam Ragnar yang compang-camping. Kabel-kabel sirkuit yang terputus menjuntai dari plafon, mengeluarkan percikan bunga api kebiruan dengan suara bzzzt-pletak yang mengerikan di tengah kegelapan yang kian pekat."Liftnya, Ragnar! Sekarang atau kita terkubur bersama rahasia ini!" teriak Wirya. Suara pria tua itu tidak lagi tenang; ada retakan kepanikan yang mulai merayap di balik otoritas suaranya yang angkuh.Ragnar tidak membuang detik. Ia menyambar pinggang Valencia, merapatkan tubuh wanita itu ke dadanya yang keras bagai baja, dan menerjang tumpukan puing menuju lorong rahasia di balik altar. Valencia merasakan perih yang luar biasa menjalar dari lipatan pahanya, jahitan yang baru saja diselesaikan Ragnar kini dipa
BAYANG SANG ARSITEKKegelapan seketika menyapu bersih sisa-sisa keamanan di dalam bunker saat Ragnar menekan tombol pemutus arus utama. Ruangan medis yang semula steril kini berubah menjadi gua beton yang mencekam, di mana satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar biru pucat dari monitor keamanan, cahaya dingin yang memahat garis wajah Ragnar menjadi siluet yang tidak lagi mengenali belas kasih. Keheningan yang menyusul terasa begitu padat, seolah udara telah mengkristal menjadi beban yang menyesakkan paru-paru Valencia.Valencia merasakan jemari Ragnar, yang beberapa menit lalu menyentuhnya dengan presisi medis yang hangat, kini melingkar di bahunya dengan cengkeraman protektif yang nyaris melukai kulit. Ia masih terbungkus kemeja hitam Ragnar yang terlampau besar; kain katun kasar itu bergesekan dengan paha polosnya, menimbulkan suara sret yang lirih namun terdengar seperti teriakan di tengah kesunyian itu. Di balik kain tersebut, jahitan di lipatan pahanya berdenyut ritmis, seiram
SARANG HANTU DI PUNCAK SUNYISUV tua itu meraung rendah, menanjak membelah kabut pegunungan yang pekat sebelum akhirnya berhenti tepat di hadapan dinding granit yang tampak buntu. Ragnar tidak membuang waktu. Jemarinya yang berlumur debu mesiu menekan panel pemindai di balik dasbor. Detik berikutnya, suara bzzzt-gruduk yang berat menggetarkan permukaan tanah saat mekanisme hidrolik menggeser gerbang batu, menampakkan mulut bunker yang gelap dan dingin.Udara pegunungan yang segar seketika tergilas oleh aroma pengap sirkulasi udara mekanis, pelumas mesin, dan logam tua yang menusuk indra penciuman. Ragnar mematikan mesin. Sunyi menyergap—jenis kesunyian yang jauh lebih mengancam daripada desing peluru di jalanan tadi.Di jok penumpang, Valencia masih mematung. Telapak tangannya yang mencengkeram pistol terasa licin oleh keringat dingin. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri; dug-dug-dug yang tak beraturan, beradu dengan gemetar hebat di ujung jemarinya. Begitu adrenalin surut, ras
LABIRIN KABUT DAN TIMAH PANASDeru mesin SUV tua yang dikemudikan Ragnar memecah keheningan jalur pegunungan yang berkelok tajam. Di luar sana, kabut tebal merayap turun dari puncak bukit, menelan aspal basah hingga menyisakan jarak pandang yang sangat terbatas. Wiper mobil bergerak ritmis dengan suara swish-swish yang monoton, mencoba menghalau guyuran hujan yang semakin deras menghantam kaca depan.Valencia mencengkeram sabuk pengamannya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menatap tajam ke arah spion samping yang mulai menangkap pendar lampu halogen dari arah belakang. Ada tiga pasang lampu yang bergerak cepat, membelah kabut dengan keberanian yang hanya dimiliki oleh mereka yang terlatih untuk membunuh. Dug-dug-dug! Jantung Valencia berdentum hebat, suaranya seolah beradu dengan gemuruh petir yang sesekali menyambar di langit hitam."Ragnar, You harus melakukan sesuatu! Mereka semakin dekat," desis Valencia dengan suara yang bergetar namun tetap membawa nada otoritas CEO-nya.
PENYAMARAN DI BALIK UAP ONSENTruk kontainer itu akhirnya berhenti dengan guncangan pelan di sebuah area peristirahatan tersembunyi yang dikepung kegelapan hutan jati di pinggiran Jakarta. Di dalam ruang logam yang pengap dan berbau besi, Valencia mencoba merapikan sisa-sisa blus sutranya yang telah koyak menjadi serpihan tak berarti akibat keganasan Ragnar sebelumnya. Kulit paha dalamnya masih terasa berdenyut panas, meninggalkan jejak mengilap yang menjadi saksi bisu atas klaim absolut sang Kapten di atas lantai truk yang dingin."Pakai ini. Jangan biarkan satu pasang mata pun melihat apa yang sudah menjadi milikku," perintah Ragnar dengan suara rendah yang berat dan tidak mentoleransi penolakan.Ia menyampirkan jaket militer hitamnya yang besar ke bahu Valencia sebelum menendang pintu kontainer hingga terbuka dengan suara brak yang kasar. Valencia menatap Ragnar dengan sisa-sisa harga diri CEO yang kini terasa sangat rapuh; ia merasakan hawa terbakar yang masih berdenyut di titik p







