LOGIN“N-Nara!”
Melihat Nara mendadak muncul di ambang pintu apartemennya, Abyan langsung memisahkan diri dari wanita di bawahnya dan dengan tergesa mengenakan pakaiannya seadanya.
Sementara itu, Nara yang berdiri di ambang pintu menatap pemandangan itu dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetar.
Peluh, hawa nafsu, dan ekspresi penuh gairah itu membuatnya merinding!
Jijik, sungguh menjijikkan!
Tidak mampu menahan rasa mual, Nara gegas berbalik untuk melangkah pergi. Namun, baru dua langkah dia ambil, tangannya sudah terlebih dulu ditahan seseorang.
“Ra, tunggu!”
Itu Abyan.
PLAK!
“Jangan sentuh!” seru Nara dingin seraya menepis genggaman Abyan. Sentuhan itu masih lembap oleh keringat, entah dari tubuh Abyan sendiri atau dari wanita lain, dan hal itu membuat seluruh tubuh Nara menggigil jijik!
“Aku bisa jelasin, Ra!”
Mengabaikan Abyan, tatapan Nara melirik sekilas ke arah wanita di belakang pria itu, yang kini sibuk menutupi tubuhnya dengan pakaian seadanya.
“Tidur dengan sekretaris. Aku kira hal seperti ini cuma ada di drama.” Nara kembali menatap Abyan dengan sorot mata getir. “Tapi ternyata di dunia nyata juga ada.”
“Ini nggak seperti yang kamu lihat! Aku—”
“Pembelaan klasik, Kak!” potong Nara, merasa muak dan mual. “Apa pun alasannya, aku nggak akan terima. Sudah terlalu jelas apa yang terjadi di depan mata.” Tanpa membuang waktu, Nara menambahkan, “Kita putus.” Lalu, dia pun berbalik untuk pergi ke lift dan meninggalkan tempat tersebut.
Namun, Abyan tidak menyerah. Dia tetap berusaha mengejar.
“Ra!”
“Nara, tunggu aku! Dengerin dulu!”
“NARA!”
Karena sudah berkali-kali memanggil tanpa digubris, Abyan pun merasa emosinya memuncak. “Kamu kira ini semua terjadi karena salah aku aja!? Ini juga salah kamu!”
Langkah Nara terhenti, dia pun menoleh dengan kening berkerut. Pria ini bilang apa?!
Berhasil menangkap perhatian Nara, Abyan menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi. “Kalau bukan karena kamu yang nggak mau tidur sama aku, kamu kira aku akan begini buat nuntasin nafsu!? Kamu yang sudah gagal menjadi kekasih, tahu?!”
Seketika, mata Nara membola. Ekspresinya berubah menjadi tidak percaya. “Apa?”
“Benar, ‘kan? Di antara teman-temanmu, cuma kamu yang menolak buat berhubungan sama pasangannya! Bahkan Wina dan Lusi aja udah melakukannya! Kamu terus pakai alasan orang tuamu yang konservatif, tapi orang tua mana sih yang nggak ngomong kayak gitu ke anaknya? Siapa yang tahu dulu pas mereka masih muda juga mereka udah duluan—“
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Abyan. Suaranya menggema di sepanjang lorong apartemen.
Abyan terhuyung ke belakang, memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut.
“P-Pak Abyan!” sekretaris yang tadi bersamanya—yang kini sudah mengenakan pakaian seadanya—bergegas mendekat, menahan Abyan agar tidak jatuh.
Dengan tatapan tajam dan penuh amarah, Nara pun berkata, “Jangan bawa nama teman-temanku, apalagi orang tuaku, dalam masalah ini, Kak.” Suaranya bergetar, tapi tegas. “Kakak hanya membuatku jijik!” makinya. “Kalau Kakak masih waras, harusnya Kakak sadar kalau kesalahan cuma ada satu, yaitu Kakak nggak bisa kontrol kelamin sendiri!”
Sejenak, keheningan menggantung, Abyan seakan terkejut dengan kalimat Nara yang begitu menusuk. Seumur-umur, ini pertama kalinya Nara memakinya, dan hal itu adalah pukulan besar bagi Abyan! Kekasihnya yang lembut, penurut, dan manis, ternyata bisa bersikap sekejam ini!
Di sisi lain, Nara merasa urusannya sudah selesai. Dia mengembuskan napas berat, lalu mengatakan satu kalimat terakhir dengan dingin, seolah meludahkannya dengan seluruh rasa jijik yang tersisa.
“Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi. Kita, sudah berakhir.”
Dan tanpa menunggu jawaban, Nara pun pergi meninggalkan Abyan, yang sekarang menjadi pusat perhatian sejumlah penghuni apartemen yang keluar untuk mengintip.
**
“Memang Abyan bajingan!”
Makian Wina terdengar lantang di tengah ruangan, membuat beberapa tamu bar di sekitar mereka menoleh. Musik yang berdentum pun seolah tak cukup keras untuk menutupi suaranya.
“Win! Suaramu! Malu dilihatin orang, tahu nggak?!” bisik Lusi cepat sambil menarik lengan sahabatnya, membuat Wina hanya terkekeh dengan ekspresi minta maaf setengah tulus.
Di sisi lain, Nara yang terduduk di antara Wina dan Lusi hanya memasang wajah sendu. Tatapannya sayu, pandangannya kabur oleh efek alkohol yang sedari tadi dia teguk.
“Wina nggak salah, kok. Kak Abyan memang bajingan,” ucapnya pelan, bibirnya membentuk senyum getir.
Setelah pertengkaran sengit di apartemen tadi, Nara langsung menghubungi kedua sahabatnya itu. Kebetulan, Wina dan Lusi sedang berada di bar dekat kampus. Tanpa berpikir panjang, Nara menyusul mereka ke sana, dan akhirnya, di sinilah ia sekarang, duduk di antara dua orang yang selalu menjadi tempatnya pulang, menumpahkan seluruh luka dan rasa hancur yang masih sulit ia cerna.
Tiba-tiba, Wina memeluk Nara erat dari samping. “Tenang aja, Nara. Kamu itu cantik, manis, dan pintar. Di kampus, siapa sih yang nggak tahu kamu itu murid berprestasi yang disukai banyak dosen? Semua orang kagum sama kamu! Bukan cuma cowok, cewek aja banyak yang ngidolain kamu!”
Wina menatap Nara sambil tersenyum lebar. “Jadi jangan takut, ya. Pasti gampang banget buat kamu dapetin pengganti bajingan kayak Abyan! Malah, kamu pasti dapat yang lebih baik, Sayang!”
“Win, lepasin. Lo nempel kayak cicak,” gerutu Lusi sambil menarik Wina menjauh dari tubuh Nara. Ia lalu menatap Nara lembut dan berkata, “Walau Wina mabuk, tapi dia benar, Ra. Memang nggak ada manusia yang sempurna, tapi di mataku, kamu itu sempurna dan luar biasa. Jangan takut, ya. Mungkin butuh waktu, tapi aku yakin kamu bakal bahagia lagi suatu hari nanti.”
Mendengar kata-kata itu, mata Nara perlahan memanas. Ia memeluk Lusi dengan erat seraya menangis, “Hueee, makasih, Lusi!!”
Lusi membalas pelukan itu sambil menepuk bahunya pelan dan tersenyum tipis, merasa simpatik kepada temannya tersebut.
Di saat itu, Wina tiba-tiba ikut memeluk keduanya dari samping dengan gaya berlebihan. “Sudah, jangan bersedih lagi, cayang-cayangku!” Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi sambil berseru, “Sekarang waktunya bersenang-senang untuk kembalinya Queen Nara ke kelompok para jomblo!”
“Yeaa!!” jawab Nara spontan, membuat ketiganya tertawa lepas.
Malam pun berlanjut dengan tawa dan gelas yang saling beradu. Karena alkohol perlahan mengaburkan kesadaran, rasa sesak di dada Nara pun sedikit mereda.
Namun, kemudian sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya, “Tapi… sebenarnya gimana sih seks itu?”
Pertanyaan itu membuat Lusi hampir menyemburkan minumannya. “Hah?”
Di sisi lain, Wina malah tertawa terbahak-bahak, sampai hampir menjatuhkan gelas.
“Nara! Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?” seru Lusi setengah panik sambil mengetuk kepala Wina karena ikut tertawa keras.
Nara menatap kosong ke arah meja, jari-jarinya memutar gelas di tangannya. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya bersuara, pelan tapi jelas.
“Kak Abyan bilang… ini salahku. Karena aku nggak mau tidur sama dia. Aku cuma… jadi penasaran aja.”
Tatapannya naik perlahan, menatap dua sahabatnya yang kini sama-sama diam mendengarnya.
“Apa… seks memang seenak itu sampai dia bisa menjadikannya alasan buat menghancurkan hubungan kami yang udah empat tahun?”
Sampai di rumah Nara, Aland dan Nara cukup terkejut melihat mobil Dikta masih terparkir disana. Aland memarkir mobilnya dan mengeluarkan kursi roda dari bagasi. Kali ini perlakuan terhadap Laudya semakin protektif. Nara membantu Laudya naik ke kursi roda lalu mendorongnya masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan Laudya yang tiba, Dikta juga keluar dari mobilnya. “Kak Dikta, kamu masih disini?” “Hey! Tadi setelah dari rumah sakit sempat mampir ketemu teman baru sampai disini 15 menit yang lalu.” ujarnya terdengar ramah. “Apa kata dokter? Boleh pulang?” Dikta menggali informasi. Nara mengangguk,”Mama ingin rawat jalan, aku bisa apa kak.” “Masuklah dulu Ta, “ ajak Laudya terlihat hangat perkataannya. Aland yang sedang membereskan barang dalam mobil melirik kurang suka. Nara mengangguk pelan menatap Dikta, lalu mereka masuk bersamaan. Aland mulai terlihat jealous, mukanya berubah muram. Ia juga tak setuju dengan sikap Nara, membiarkan laki-laki itu masuk ke rumahnya. Jelas-jelas pa
Mendengar kata “Rumah sakit” membuat Laudya bersikeras menolak. Ia tak mau kembali ke rumah sakit, karena merasa tertekan di sana. Ia terus menggeleng sebagai tanda penolakan, hingga napasnya makin tersengal-sengal terlihat nyaris kelelahan. “Nara, kita harus bawa Mamamu ke rumah sakit jangan sampai dia telat mendapat pertolongan.” tekan Dikta. Nara bingung, di sisi lain ia tahu ketakutan Mamanya selama di rumah sakit, namun ia juga butuh pertolongan segera. “Baik, kita bawa saja!” melihat Laudya mulai nampak lemas ia tak bisa menolak lagi, pertolongan pertama sangat di butuhkan. Mereka membawa Laudya dengan mobil ambulan, selama di perjalanan dia mendapat pertolongan darurat terlebih dulu. Nara mulai panik, melihat Mamanya begitu kesakitan. Ketika sampai di rumah sakit, Laudya ditangani di IGD. Nara dan Dikta menjaga jarak. Butiran air mata Nara tak dapat lagi dibendung, tiba-tiba mengucur begitu saja. Takut Laudya melihatnya ia mundur dan keluar. Beberapa perawat baru saja me
Nara sejenak mematung, lalu menoleh ke arah Mamanya. “Mama akan berumur panjang, untuk apa buat permintaan terakhir?” nadanya dingin namun dalam hatinya menyimpan kekhawatiran. “Kamu nggak mau dengar dulu?” Laudya bertanya pada Nara yang mulai mengalihkan matanya. “Nggak ah Ma, apaan sih-” “Tolong menikahlah selain dengan Aland.” terang Laudya, saat itu dunia Nara seolah berhenti sejenak. Diam dan berubah dingin. “Mama mau dibeliin apa makan malam? Biar aku pesankan.” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Itu firasat seorang Ibu Na-” “Nara belikan keluar dulu sebentar.” kentara sekali Nara berniat menghindar. Laudya menghembuskan napas pelan, ia paham pasti putrinya tak akan menerima. Ia memilih duduk di ruang makan. Nara memilih berjalan untuk sampai di kedai makanan. Langkahnya gusar, dengan pikirannya yang semrawut. Ia pikir hati Mamanya mulai luluh, nyatanya tidak semudah itu. Bisa-bisanya Mama buat permintaan terakhir seperti itu. Batinku, menggerutu. Ia mengambil sehelai d
“Sial, kenapa aku baru tahu sih!” Aland merasa pacarnya pasti memiliki masalah tapi enggan bercerita dengannya. Saat itu ponselnya bergetar kencang, tanda panggilan masuk. Terlihat nama pacarnya yang menelpon. “Selamat malam Aland!” sapanya terdengar ceria. Mendengar suara nara yang ringan dan renyah membuat Aland lupa segalanya. Lupa dengan apa yang ia tahu dan pendam. “Selamat malam juga sayang...” Nara menerima jawaban dari sapanya terdengar merinding tiap kali ia mendengar kata lembut Aland dengan panggilan sayang. Dari balik telepon terkadang ia masih salah tingkah sendiri. Wajar, dari status teman kecil tiba-tiba berubah menjadi kekasih. Siapapun pasti kikuk. “Sibuk ya?” tanya Nara. “Nggak, lagi nungguin balasan dari pacarku aja. Kelihatannya dia lagi sibuk deh.” ujarnya menarik kesimpulan sepihak. Nara menahan tawa, ia hanya bisa tersenyum dengan membasahi bibirnya. “Maaf deh... tadi lagi asyik gambar. Aku fotoin ya, wait!” Tanpa mengakhiri panggilan, Nara mengirim seb
Pada akhirnya, ia hapus lagi ketikannya. Kelak pertanyaan ini akan ia tanyakan lain waktu saja. Aland sampai di apartemen. Sebelum ke kamar untuk membersihkan diri ia menyiapkan bahan masakan yang akan ia masak malam ini. Ketika membuka kulkas, ada banyak buah stroberi yang masih utuh seperti terakhir kali ia beli. Seingatnya itu ia siapkan sebelum kabar buruk menimpa keluarga Nara. Aland pikir Nara akan sering ke apartemennya meski hanya untuk makan camilan atau mengerjakan tugas bersamanya. Di hidupnya apa yang ia pikirkan tak selamanya berjalan sesuai rencananya. Stroberi itu nyaris busuk. Rasanya sayang karena pemiliknya belum pernah memakannya. Aland terpaksa membuangnya. Ponselnya tersambung pada kabel charger. Notifikasi berkelipan karena sedari tadi ponsel Aland mati. Aland membersihkan diri dulu sekitar 10 menit, rasanya otaknya kembali fresh. Ia membuka ponsel, ada salah satu pesan yang ia nanti. Jangan lupa makan tepat waktu. Pesan Nara masuk pada ponselnya mem
Dikta memarkir mobilnya di lobi dan buru-buru menelpon Tari. “Ya Ta?” “Maa? Nara ke kantor? Sama tante Laudya?” “Ehem, kenapa?” “Kenapa nggak bilang dari awal? Tahu gitu-” bicara Dikta tercekat, ia ragu meneruskannya. “Tahu gitu kenapa?” Tari menantang. Namun Dikta memilih akan mendatanginya ke kantor. Dikta membuka pintu ruangan CEO. Wajah Dikta tampak murung, mamanya merahasiakan kedatangan Nara bersama Mamanya. Tari merasa geli melihat wajah putra satu-satunya merajuk. “Lagian, Nara lo nggak ikut masuk ke kantor. Laudya dibantu stafnya naik dan turun ke lobi. Apa iya kamu mau nyamperin Nara di lobi?” Meski kecewa Dikta tampak berpikir ulang. Dan berakhir Yasudahlah. Di belahan bumi lain Aland sedang berada di lokasi proyek kampus. Ia meninjau material yang datang hari itu. Semalam, ia memutuskan tak mampir pulang ke rumah orang tuanya. Ia takut akan menyulut kecurigaan orang tuanya terlebih Papanya. Matahari tak kenal malu, sinarnya nyaris membakar para kuli bangunan ya







