Início / Romansa / Jerat Tuan Pebinor / 41. Jangan Pergi.

Compartilhar

41. Jangan Pergi.

Autor: Butiran_Debu
last update Data de publicação: 2021-05-27 04:28:00

Dari arah lain Arlan datang dan langsung mendekati Arsen. Dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Lalu setelahnya, Arsen mengangguk sebelum melangkah ke dekatku.

Lebih heran lagi, kulihat Arlan pun mendekati Ferdy. Kemudian mereka berjalan bersamaan.

"Ayo." Arsen menarikku ke arah dalam rumah sakit itu.

Ada apa ini? Aku meliriknya dan Arsen hanya mengangguk seakan berkata, 'Ikut saja.' Lantas kupercayakan langkah kakiku padanya. 

D

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Peggi Makalalag
ceritanya bagus min tpi maaf menurutku ini kayak film di indosiar,, sosok nara sgt terkesan bodoh dan teraniaya. pokoknya di hajar dan ditindas terus,, gampang bgt dibikin babak belur entah yg mukul nara itu laki² ato perempuan. pokoknya yg mau mukul ya kek silahkan aja nara bakal diam🫢
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Jerat Tuan Pebinor   128. Happy Ending

    Setelah membersihkan diri lebih dulu, kududukkan diri di depan meja rias yang besar itu. Hari ini Arsen akan kembali dari luar kota, dan kupikir ingin menyambut suamiku dengan dandanan yang sedikit menarik. Dia pasti merindukanku, dan akan semakin senang dia melihatku nanti dengan riasan ini. Setelahnya, tak lupa kuganti pakaian dengan gaun yang baru kubeli siang tadi, memang sengaja aku membelinya demi menyambut Arsen kembali.Tepat setelah kupikir siap, pintu kamar diketuk dari luar sana. Hatiku melambung seketika itu juga, menduga suamiku akhirnya kembali. Dengan sedikit berjingkrak, kubuka handel pintu sembari menyambut suamiku dengan kedua tangan melintang.“Selamat datang suamiku ...!” seruku sangat girang.Tapi apa ini? Bukannya wajah Arsen, tapi Bi Ratna lah yang berdiri di depanku. Sedikit malu aku dengan tatapan lurusnya yang tertuju pada penampilanku.“Eh, Bi Ratna. Ada apa, Bi?” tanyaku menghilangkan rasa gugup.

  • Jerat Tuan Pebinor   127. Roda Itu Berputar.

    Sudah tiga hari ini Arsen harus pergi ke luar kota untuk mengurus beberapa pekerjaan yang diminta oleh papanya. Jujur, aku sudah sangat merindukan suami yang sangat manja dan bawel itu, sampai-sampai ketika menyusukan Joseph pun hanya wajahnya lah yang terbayang di mataku. Mungkinkah ini yang disebut dengan jatuh cinta sangat dalam? Seperti aku tidak bisa mengendalikan diriku dari rasa rindu yang menggetarkan jiwa.Ketika baru saja kuletakkan Joseph di atas boks tidurnya, ponselku sudah berbunyi di atas nakas. Beruntung suara nyaring itu tidak mengganggu tidur putraku. Hanya menepuk bokongnya beberapa kali, Joseph sudah kembali terlelap. Ah ... itu ulah Arsen. Ketika dia akan berangkat tempo hari, Arsen membuat nada ponselku sangat besar. Katanya agar aku tidak beralasan tidak mendengar suara ponsel ketika dia menghubungiku.Dan lihat siapa yang menelepon sekarang? Siapa lagi jika bukan dia. Lantas kugeser layar ponselku pada posisi menerima, dan wajahnya segera terlih

  • Jerat Tuan Pebinor   126. Mereka Pelayanmu.

    "Ini, makan lah yang banyak."Arsen meletakkan sangat banyak potongan daging dan sayuran di atas piringku.

  • Jerat Tuan Pebinor   125. Sayang, Aku belum ....

    “Sayang, aku tidak melihat gelas kopinya!”Arsen berseru dari dapur, menghentikanku yang baru saja akan membuka baju.“Itu ada di laci atas kepalamu, Sayang. Mendongak lah dan buka lacinya!” balasku tak kalah kencang.“Laci yang mana? Aku tidak melihatnya!”Ini tidak akan berhasil. Jika aku terus berteriak, Joseph akan terbangun dari tidurnya yang belum lima belas menit. Lantas kubenarkan lagi letak pakaianku sembari mendatanginya ke dapur.Dia memang selalu begitu. Apa pun tak pernah terlihat oleh matanya. Entah karena malas mencari atau memang dia tak bisa menemukan sebuah barang dengan benar, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.“Di mana itu? Di mana gelas kopinya?”Kulihat Arsen tengah membuka-buka laci di atas kepalanya tapi tidak juga melihat gelas yang dia cari. Astaga ....Mengambil posisi berdiri di sebelahnya, kuraih salah satu gelas dari dalam laci dan menyera

  • Jerat Tuan Pebinor   124. Joseph-ku Bahagiaku. END

    Sejak pagi masih terbilang samar, semua orang sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menjemput Joseph ke rumah sakit. Ini terlalu membahagiakan sampai kami tidak sabar menunggu hari sedikit lebih siang.Lihat lah Papa Sudrajat yang sangat bersemangat menuruni anak tangga. Beliau lah yang lebih sibuk sejak tadi dan beliau pula yang lebih lama berbenah, seakan cucunya sudah bisa menilai penampilan seseorang.Aku tersenyum melihat papa mertua yang biasanya tak pernah absen berangkat ke kantor itu, kini seperti seorang anak kecil yang tidak menunggu diajak jalan-jalan.“Kalian belum siap? Sudah pukul sebelas, kita harus berangkat sekarang.”“Siapa yang sangat lama turun dari kamarnya? Kurasa kami sudah menunggu tiga puluh menit di sini,” sahut Mama Riana menimpali perkataan suaminya.“Kenapa tidak memanggilku jika begitu? Aku pikir kalian belum siap.”Aku dan Arsen hanya tertawa mendengar perbincangan dua orang

  • Jerat Tuan Pebinor   123. Aku Sangat Bahagia.

    Tak dapat kuhindarkan pacuan jantung yang memicu sangat cepat kala mendengar perkataan dari papa mertua. Telapak tangan segera berkeringat dan dudukku tak bisa tenang sekarang. Bayangan buruk segera menghampiri kepala ini, membuat dugaan-dugaan buruk di dalam sana. Apakah Joseph mengalami penurunan? Tak sabar aku ingin mendengar penjelasan dari Papa Sudrajat. Dengan sedikit memajukan tubuh, aku lantas bertanya pada beliau. “Jo-Joseph? Apa yang terjadi pada Joseph?” Arsen segera memeluk dan memberikan kata-kata penenang untukku. Tapi suaranya seakan menghilang oleh pikiran buruk yang sudah lebih dulu merasuki pikiran ini. Tak sabar kutunggu papa mertua melanjutkan perkataannya yang tertunda. “Papa Mertua, katakan ada apa dengan Joseph-ku?” “Sayang, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh seperti ini,” peringat Arsen, meremas pundakku tempat tangannya bertengger. Kemudian dia berbicara pada papanya. “Biar aku antar Nara ke atas, nanti papa bisa berbic

  • Jerat Tuan Pebinor   58. Aku Gila Karenamu.

    "Kau sudah siap?"Aku melonjak ke depan Arsen dan memeluk lengannya erat. Kuabaikan para tukang rias yang menungguku dengan sabar. Aku hanya ingin menyambut Arsen yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar ini.Dia melihatku dengan sebelah alisnya yang menukik. Ada keterkejutan di waja

  • Jerat Tuan Pebinor   57. Rahasia Kelam Arsen.

    "Nara ..." panggil Tante Riana. Dia tak langsung melanjutkan perkataannya justru kulihat mengusap wajah. "Semua ini salah wanita itu. Dia yang membuat Arsen menjadi pribadi yang buruk."Apa katanya? Pribadi Arsen yang buruk berasal dari kesalahan wanita bernama Nara itu? Aku tak bisa mengar

  • Jerat Tuan Pebinor   56. Sebagai Seorang Wanita.

    Matanya yang sayu membuktikan Arsen sedang berhasrat sekarang. Aku baru saja membuat masalah pada lelaki ini, oleh rasa ingin tahuku yang menggebu. Jujur aku takut pada Arsen, tapi hatiku mengganjal sebelum mendengar penjelasan darinya."Maaf, kita akan menikah sebentar lagi. Menurutku, kau

  • Jerat Tuan Pebinor   52. Tunggu Aku Membalas Perasaanmu.

    Aku terduduk di sisi ranjang di kamar kami. Pernyataan Arsen tentang cinta sangat menyakitiku sampai ke relung hatiku yang terdalam. Meski kuakui bahwa cinta memang sangatlah menyakitkan, tapi tetap saja aku masih tak mampu membayangkan pernikahan tanpa cinta.Maksudku ... jika hubungan yan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status