LOGINPagi itu, mentari merambat naik menyinari fasad kaca gedung tingkat dua milik Banyu Grafika. Dari luar, segalanya tampak normal, namun di dalam bangunan yang dingin itu, ketegangan merayap seperti arus listrik yang siap meledak kapan saja. Kabar kembalinya Abiyu Emran; sang pewaris tunggal dari Bina Group, yang merupakan pendiri Banyu Grafika setelah koma panjang telah menyebar ke setiap kubikel. Namun, desas-desus yang mengikuti jauh lebih liar: sang tuan muda kehilangan ingatannya.Bagi sebagian orang, amnesia Emran adalah peluang. Bagi yang lain, itu adalah ancaman.Pintu lobi terbuka otomatis. Adrian melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ia mengenakan kemeja putih slim-fit dan celana bahan warna charcoal grey yang melekat sempurna di tubuhnya yang kini tampak lebih tegap dan berisi, hasil dari disiplin fisik yang ia bawa dari kehidupannya yang dulu. Tidak ada lagi gurat kecemasan, pandangan kosong, atau sisa-sisa gaya hidup hura-hura yang biasanya menggelayuti wajah Emran. Sorot
Beberapa hari setelah aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan harum melati di kediaman Nafisa, Adrian merasa raganya mulai selaras. Memori Emran; si pemilik tubuh asli, kini tak lagi menyerangnya seperti badai, melainkan tersusun rapi seperti arsip di perpustakaan mentalnya. Namun, meski ingatan itu milik Emran, prinsip moral yang berdenyut di jantungnya tetaplah milik Adrian; tegas, tak kenal kompromi, dan penuh lindungan terhadap yang dicintai.Adrian memutuskan bahwa "Emran" yang lama harus mati sepenuhnya agar Emran yang baru bisa hidup. Ia tidak ingin Nafisa, wanita yang ketulusannya melampaui logika, terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.Ia meraih ponsel, jemarinya lincah mencari satu nama: Fajri.Fajri datang dengan raut wajah yang sulit diartikan; campuran antara cemas, sangsi, dan takjub. Sejak kecelakaan itu, ia melihat sahabatnya berubah drastis. Emran yang dulu labil, mudah disetir nafsu, dan sering meledak-ledak, kini berganti menjadi sosok yang tenang, bicarany
"Ana uhibbuka fillah..." ucap Nafisa dengan suara bergetar.Kalimat itu meluncur seperti bisikan malaikat di tengah keheningan kamar yang pengap oleh kecanggungan.Adrian tersentak. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Kalimat itu; susunan kata yang sama, intonasi yang serupa, dan ketulusan yang identik, hanya Yasmina yang pernah mengatakannya. Yasmina, istri kecilnya yang telah berpulang ke haribaan Sang Khalik, selalu menghiasi kesendirian Adrian dengan kalimat itu sebagai zikir cinta mereka.Adrian meragu. Dunianya serasa berputar. Apakah kalimat itu sebuah hal yang umum di sini? Di dimensi asal Yasmina? Ataukah Allah sedang mempermainkan logikanya?Tiba-tiba, sebuah serangan hebat menghantam tempurung kepalanya. Adrian merasakan sakit yang luar biasa, seolah-olah ada ribuan jarum panas yang menusuk saraf pusatnya. Ia mengerang kesakitan, mencengkeram kepalanya dengan urat-urat leher yang menonjol. Pandangannya mengabur, warna-warna di sekitarnya meleleh menja
Bagi Irdina Nafisa, masa remaja bukan hanya tentang perubahan fisik, melainkan tentang pertempuran identitas yang membingungkan. Di usia tiga belas tahun, fragmen memori yang asing mulai menyerbu mimpinya. Ia melihat wajah seorang laki-laki lembut bernama Fatih, ia mendengar tangisan dua bayi yang ia panggil "anakku", dan seorang laki-laki yang menatap penuh gairah bernama Adrian, padahal ia sendiri masih seorang siswi SMP.Awalnya, Nafisa remaja mencoba menolak. Ia menganggap itu hanyalah imajinasi liar atau pengaruh buku-buku roman yang dibacanya. Namun, saat ia secara tidak sadar mampu memasak masakan rumit khas Semarang yang tidak pernah diajarkan ibunya, atau saat ia fasih menyebutkan detail sudut kota yang belum pernah ia kunjungi, ego remajanya menyerah.Ia adalah Yasmina Nabila. Jiwa yang pernah hidup, menikah, memilik anak, dan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Namun, ia juga sadar bahwa ia pernah menjalani kehidupan lain sebagai Jasmine di dimensi antah-berantah
Malam di Yogyakarta selalu membawa hawa sejuk yang merayap masuk melalui celah jendela jati. Setelah shalat Isya berjamaah; di mana Adrian mengimami dengan suara bariton yang bergetar penuh penghayatan, Nafisa membantu suaminya naik ke atas tempat tidur. Gerakannya sigap namun penuh kelembutan, seolah raga Emran adalah porselen retak yang harus dijaga dengan segenap jiwa.Kini, mereka bertiga berada di atas satu tempat tidur luas. Dion kecil sudah terlelap di tengah, menjadi pembatas fisik sekaligus jembatan emosional antara dua orang dewasa yang jiwanya sedang bertolak belakang. Adrian merasa canggung yang luar biasa; sebagai pria berusia 50 tahun, tidur seranjang dengan wanita muda yang "asing" terasa seperti pelanggaran moral, namun di sisi lain, raga ini adalah milik suami wanita di sampingnya.Ia menatap langit-langit kamar, dadanya sesak. Setiap aroma tubuh Nafisa, setiap tarikan napasnya, hingga caranya membetulkan selimut Dion, selalu memicu memori tentang Yasmina."Tenanglah,
Dua hari kemudian, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan bau tanah basah dan asap kendaraan yang khas. Adrian Laksmana, dalam raga Abiyu Emran, akhirnya diperbolehkan pulang. Saat mobil melewati papan iklan yang bertuliskan "HUT Yogyakarta", jantung Adrian berdegup kencang.Ini adalah Indonesia. Negeri yang dulu hanya ia dengar lewat cerita dan kerinduan mendalam dari bibir mendiang istrinya, Yasmina. Di dunianya yang dulu, Yasmina sering bercerita tentang kota bernama Yogyakarta, tempat di mana waktu seolah melambat, di mana kuliner bernama Gudeg menjadi primadona, dan di mana keramahan penduduknya adalah udara yang dihirup sehari-hari."Aku berada di duniamu, Sayang," batin Adrian sambil menatap lamat-lamat gedung-gedung bernuansa tradisonal yang berjajar di sepanjang jalan.Keputusan Adrian sudah bulat. Meski raga ini milik Emran, ia memilih untuk pulang ke rumah di mana istri dan anak Emran menunggunya. Sebagai laki-laki yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga di masa la







