Share

Bab 4 ~ Pembatas

Penulis: Pelangi Jelita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-24 10:48:28

Anaya berdiri di depan pintu kamar yang ditunjukkan Raka, matanya menyipit curiga.

Kamar itu besar, luas, bersih... tapi tetap saja, ...satu kamar, satu tempat tidur.

Dia harus berbagi dengan kadal buntung paling menyebalkan se-planet ini.

“Ini kamarnya,” ujar Raka santai sambil bersandar di pintu.

“Mulai malam besok, kita resmi jadi suami-istri. Setidaknya di mata Opa.”

Anaya melangkah masuk perlahan, lalu memutar badan sambil menunjuk ke tengah ranjang.

“Besok kita beli tali. Kita pasang di sini. Tengah-tengah. Pembatas. Garis demarkasi. Siapa yang lewat batas, kena sanksi.”

Raka menaikkan alis. “Serius amat. Kita nikah kontrak, bukan perang dunia.”

Anaya melipat tangan di dada.

“Laki-laki itu pada dasarnya pencuri ulung. Bisa saja kamu tiba-tiba menerkam aku pas aku tidur.”

Raka terkekek.

“Halah, mana nafsu lihat kemasan saset kayak kamu.”

Matanya mengarah ke tubuh Anaya sekilas.

“Itumu aja kecil… nggak selera.”

DEG.

Anaya melotot. “APA?! SIAPA BILANG?!”

Raka menyengir makin lebar.

“Ya aku yang bilang lah. Mau siapa lagi?”

Anaya mendekat, wajahnya memerah.

“Biar kecil, montok tahu! Berisi, padat terawat. Kamu aja yang buta!”

Raka tertawa geli.

“Masa? Nggak percaya.”

Anaya nyaris meledak.

“Makanya jangan nilai-nilai milik orang lain! Saya merawatnya tahu, pakai body lotion mahal!”

Raka masih asyik menggoda.

“Ih, kemasan saset aja bangga.”

“Sampai sini aku sabar!” teriak Anaya, lalu langsung menyerang Raka membabi buta mendorong, memukul pakai bantal, bahkan nyaris menampar.

Raka menahan dengan satu tangan, tapi karena Anaya terlalu semangat, mereka terpeleset dan jatuh ke atas tempat tidur.

Bruk!

Secara tidak sengaja, tangan Raka mendarat… tepat di atas buah pir gantung milik Anaya.

Keduanya membeku.

Sunyi. Hening. Canggung.

Raka masih terbaring, matanya melirik tangan yang secara tragis menangkup sesuatu yang seharusnya tidak disentuh.

“…Iya. Ukurannya ideal,” gumamnya pelan.

“Kadal Buntung Nggak Laku !!!”

Anaya langsung menjerit, wajah merah padam.

Ia bangkit, menyingkirkan tangan Raka, lalu berlari keluar kamar dengan napas memburu dan emosi campur malu.

Pintu kamar dibanting.

Raka masih tergeletak di kasur. Tangannya masih mengambang di udara. Mukanya… salah tingkah luar biasa.

“Wah... bisa gawat ini...” bisiknya pelan.

Di luar kamar, Anaya bersumpah dalam hati

"Besok, tali pembatas itu harus langsung dipasang, bahkan kalau perlu pake pagar listrik.

**

Anaya pamit siang itu, langkahnya cepat dan kesal.

“Dasar kadal buntung nggak laku!” gerutunya sambil menyandangkan tas ke bahu.

Raka hanya menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, dan entah kenapa... ruang tamu yang tadi terasa ramai, kini kembali hening.

Hampa.

Baru tiga hari dia mengenal Anaya. dalam tiga hari itu pula, hidupnya yang biasanya tenang, rapi, dan membosankan... jadi berwarna.

Raka menarik napas panjang, lalu turun ke dapur, berniat mengambil air minum. Namun matanya terhenti pada satu benda yang tergeletak di atas sofa.

HP Pink dengan gantungan lucu.

Milik kemasan saset.

"Kenapa sih, ini anak bisa seceroboh itu..." gumam Raka, lalu duduk dan mengambil ponsel itu.

Tak disangka, layar HP-nya tidak dikunci. Tanpa sandi, tanpa fingerprint dan tanpa Face ID.

"Yah... bukan salah aku kalau kebuka."

Raka membuka galeri. Di dalamnya, foto-foto Anaya memenuhi layar.

Ada Anaya selfie dengan pose duck face, di kampus, lagi nyoba pakai toga dan berpose dengan kucing oranye serta Anaya ketawa lepas bersama teman-teman kampusnya.

Cantik, natural dan bahagia.

Entah dorongan dari mana, Raka menyentuh satu foto, Anaya duduk di bawah pohon sakura mini di taman kampusnya dan mengirimnya ke HP-nya sendiri.

Lalu dia menyimpan nomor Anaya di kontak dengan nama

"Istri Tersayang ❤️, dan tak lupa menulis nomornya dengan kontak Suami Terlove.

Raka tertawa sendiri, terpingkal-pingkal.

“Gila. Baru juga tiga hari, rasanya kayak udah tiga musim…”

Di rumahnya…

Anaya langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Ia mengempaskan tubuh ke kasur sambil menggerutu.

“Baru tiga hari kenal, udah ngajak nikah. Giliran ditolak, main gertak. Emang dasar kadal buntung nggak laku!”

Anaya mendengus kesal.

Besok, ia akan pindah ke rumah itu. Sekamar, seranjang dengan "si nyebelin itu".

“Pokoknya aku taruh semprotan merica di bawah bantal! Harus siap siaga!”

***

Keesokan Harinya, di KUA

Sesuai janji, mereka berdua datang ke KUA tepat waktu. Anaya dengan gamis putih polos dan ekspresi dingin. Raka dengan batik dan gaya setengah ogah.

Semua berjalan lancar. Tanda tangan, Ijab kabul dan…buku nikah sudah di tangan.

Orang tua Anaya menangis bahagia, Opa Hartono senyum lebar sampai giginya kelihatan.

“Akhirnya cucuku nikah juga... hidupku lengkap walau masih kontrak”

Anaya hanya menunduk, hatinya… tidak benar-benar rela. Ini bukan pernikahan yang ia impikan.

“Katanya kontrak …” bisik Anaya dalam hati.

“Tapi beneran dicatat di KUA… Nanti setelah tiga tahun, statusku jadi janda muda dong… di usia 25. Masa muda muda udah Jendes sih ..”

Ia melamun, menatap buku nikah di tangannya, hingga suara Raka memecah lamunannya.

“Eh, Saset. Ngapain melamun? Ntar kesambet lho…”

Anaya mendelik. “Kamu yang kesambet!”

“Baru juga kenal 3 hari, udah ngajak nikah segala. Aku sebel tahu nggak!”

Raka terkekeh, lalu mendekat pelan.

“Kalau sebel, kenapa nggak kabur aja kemarin?”

Anaya menoleh, tatapannya tajam tapi tak menjawab. Karena jawaban jujurnya… ia sendiri tak tahu.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 190 - Ending

    Anaya duduk di sofa ruang tengah, matanya tak lepas menatap Raka yang sedang menimang Raya.Bayi kecil mereka yang baru beberapa minggu lahir tampak nyaman di pelukan ayahnya. Setiap kali Raka berbicara lembut, bayi itu tampak menenangkan diri.Anaya tersenyum, merasa hangat sekaligus terharu melihat suaminya yang dulu dikenal serius dan kadang kaku, kini berubah total menjadi ayah yang penyayang, sabar, dan lembut.“Mas… makasih ya udah jadi papa terbaik buat Raya,” bisik Anaya pelan, suaranya hampir tercekat oleh perasaan haru.Raka menoleh, wajahnya yang biasanya penuh tawa kini serius tapi hangat.“Sayang… aku cuma ngelakuin apa yang aku rasain. Aku nggak bisa bayangin kalau nggak ada aku di samping kalian berdua,” jawabnya sambil menepuk lembut kepala Raya.Anaya menunduk, memandang suaminya dengan mata berbinar. Ia merasa jatuh cinta lagi, tapi kali ini cintanya lebih dalam dan tenang.Setia

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 189 - Kebahagiaan Sebagai Orangtua

    Malam itu sunyi, hanya terdengar suara angin dan detak jam dinding di kamar Raya.Matahari sudah lama tenggelam, tapi bagi Raka dan Anaya, malam masih penuh dinamika. Tepat tengah malam, suara tangisan kecil dari kamar bayi terdengar.Kali ini bukan tangisan biasa Raya bangun dengan suara yang nyaring, menandakan ingin sesuatu.Raka yang sudah berpengalaman beberapa malam terakhir langsung duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Tenang, Sayang… Papa siap,” gumamnya pada Anaya yang ikut terbangun. Anaya masih setengah terpejam, rambut acak-acakan, tapi matanya berbinar menatap suami.Dengan sigap, Raka mengambil bayi mungil itu dari crib. Raya yang masih merengek digendongnya dengan hati-hati.“Sabar ya, Nak… papa udah jago sekarang,” kata Raka sambil menepuk punggung Raya lembut.Anaya tertawa kecil dari samping.“Mas… serius jaga? Aku takut liat

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 188 - Cucu Pertama Keluarga Anaya

    Suasana di rumah Raka terasa hidup sekali pagi itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyoroti ruang keluarga yang dipenuhi mainan bayi, boneka, dan selimut lembut.Raya, bayi perempuan mungil yang baru berusia beberapa bulan, tengah terbaring di bouncer-nya, matanya yang bulat mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.Anaya duduk di sofa, masih sedikit mengantuk tapi tersenyum lembut melihat tingkah anaknya. Ia mengusap lembut rambut Raya, yang sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah ingin meraih dunia.“Tuh kan, manis banget,” kata Anaya sambil tersenyum,“kayak mamanya, polos dan lugu.”Raka yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, tapi matanya tak bisa lepas dari bayi mungil itu.“Iya, tapi jangan lupa, dia juga ada darah bandel papanya,” godanya sambil mengedip nakal ke arah Anaya.Belum sempat Anaya menanggapi, terdengar ketukan di pintu. Mama Anaya masuk dengan senyum lebar, diikuti Papa Anaya yang tampak b

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 187 - Cicit Kesayangan

    Malam itu, rumah Raka–Anaya tampak semakin hidup dari biasanya.Lampu-lampu hangat menyoroti ruang tengah yang penuh dengan tawa, suara canda, dan aroma makanan ringan yang baru saja disiapkan oleh Bik Onah.Di tengah keramaian, Opa Hartono berdiri sambil menggendong Raya dengan penuh perhatian. Tangannya yang sudah keriput namun lembut itu menahan tubuh kecil bayi perempuan mereka, sementara matanya menatap penuh kasih sayang.“Cicit sayang…” suara Opa terdengar lembut namun bersemangat, seolah bayi mungil itu benar-benar mengerti setiap kata yang diucapkannya.“Kamu harus tau ya… karena campur tangan Opa, mama dan papamu bisa bersatu. Jadi, kamu lahir di keluarga yang penuh cinta ini.”Raka berdiri di samping, menatap ayahnya dengan wajah setengah geli, setengah terharu.“Opa… jangan terlalu lebay. Nanti Raya jadi terbiasa sama drama keluarga besar kita,” ujarnya sambil terseny

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 186 - Opa Mendominasi

    Malam itu suasana di rumah Hartono terasa hangat luar biasa.Lampu gantung di ruang keluarga menyala lembut, memantulkan bayangan hangat ke dinding, sementara aroma kue hangat dari dapur membuat semua orang merasa nyaman.Opa Hartono duduk di sofa, Raya kecil dalam pelukannya, tertawa kecil sambil mengangkat tangan mungilnya.“Nah kan… berkat opa, kalian punya cicit cantik sekarang!” serunya dengan suara keras namun hangat.Tawa lebar langsung pecah di seluruh ruangan. Raka yang duduk di samping Anaya ikut tersenyum lebar, memandang putrinya yang lucu sambil menggeleng.“Opa… keterlaluan deh. Tapi… iya, makasih, Opa,” Anaya berkata, pipinya memerah.Bik Onah dan sopir yang biasa ikut menjaga rumah pun ikut tertawa. Mereka melihat Raka dan Anaya yang sibuk bergantian menatap Raya, sementara Opa sesekali menggelitik pipi cucunya.“Aduh, lihat ini, imut banget! Opi seneng banget!” Opa berseru sambil tertawa ngakak.Raka menghela n

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 185 - Buka Rahasia

    Suasana sore itu begitu hangat. Matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya keemasan melalui jendela ruang keluarga besar, sementara tawa dan obrolan hangat masih mengisi udara.Raya tidur di gendongan Anaya, yang duduk di sofa dengan Raka di sampingnya.Semua anggota keluarga berkumpul, mulai dari Opa Hartono dan Ibu, hingga Pak Herlambang dan Bu Nia, orang tua Anaya. Bahkan sepupu-sepupu Raka ikut menyela dengan komentar kocak mereka.Tiba-tiba, Opa Hartono yang sejak tadi duduk sambil menimang Raya berdiri dan menepuk tangan.“Baiklah, sepertinya momen ini tepat untuk aku buka rahasia lama,” ujarnya sambil tersenyum misterius. Semua mata tertuju padanya, termasuk Raka dan Anaya yang saling berpandangan, penasaran.Ibu Hartono menimpali dengan senyum kecil,“Iya, ini sebenarnya sudah lama ingin kami ceritakan. Semuanya bermula dari ide gila Opa…” Suara Ibu sedikit serak menahan tawa, membuat semua oran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status